Sebuah kilat merah menyambar dari permukaan tanah ke langit. Sesuatu yang hanya bisa dibuat oleh Witcher dan
Brandon tahu benar pemilik kilatan merah tersebut. Eden telah memberinya kode untuk bergerak setelah sekitar satu jam dia menunggu. Pria itu segera mengencangkan ikat pinggang, menangkupkan tudung jubah hitamnya, dan melompat di antara dahan pohon.
Brandon mendarat dengan pelan di salah satu lantai mansion, nyaris tanpa suara. Menjadi Black Witcher membuat
pergerakannya begitu lincah. Seperti sebuah kain yang terbawa angin, begitulah yang dirasakan Brandon sekarang ketika dirinya bergerak.
Mata merahnya menyebarkan pandangan. Napasnya pelan dengan embusan asap yang sesekali mengudara. Brandon berjalan melewati koridor gelap. Tangannya merogoh tas pinggang yang diberikan Eden sebelum mereka melewati portal. Serbuk yang entah apa namanya digenggamnya. Brandon menyebarkan serbuk itu ke udara, membuat kerlip yang menuntunnya ke sebuah pintu.
“Clara,” gumamnya.
Pria itu membuka pintu di depannya hingga suara derit terdengar. Tidak ada seorang pun di sana, kecuali seorang perempuan yang tengah terbaring di ranjang. Kelompok Jasper sudah pasti mengejar kawanan Black Witcher saat ini dan itu membuka ruang bagi Brandon untuk segera membawa jiwa istrinya kembali.
Brandon menghampiri ranjang dan duduk di sisi Clara. Tangannya terulur, menyentuh wajah istrinya dengan gemetar. Hatinya bergemuruh sekejap, miris melihat kondisi Clara kini. Sekian detik kemudian, Brandon menghela napas. Dia tidak boleh menangisi keadaan Clara sekarang dan harus segera membawa istrinya pergi dari sana. Dengan cepat, Brandon menggendong tubuh lemah Clara. Namun, seseorang menahan langkahnya dari arah pintu.
“Kamu pikir aku bodoh?”
Brandon meneguk liur. Dia mengenal suara tersebut. Pria itu berbalik dan menampakkan mata merahnya yang berkilat.
Pria berambut hitam di pintu menyeringai. “Apa yang kamu pikirkan hingga ingin membawa istriku pergi dari sini?” tanyanya dengan wajah datar.
“Bangunlah, Jasper,” ucap Brandon. “Dia bukan istrimu.”
BRAK!
Jasper menggebrak daun pintu. Mata birunya memelotot ke arah pria bertudung di depannya. Telunjuknya terulur
pada pria tersebut.
“Kamulah yang harusnya bangun dari mimpi burukmu, Black Witcher berengsek!”
Brandon segera melompat saat Werewolf itu mengayunkan kepalan tangan ke arahnya dan menyebabkan pukulan
memar di tembok dekat ranjang. Pria itu mengecek Clara yang digendongnya. Perempuan itu belum sadar. Secepat mungkin Brandon harus membawa Clara pergi dari sini.
“Maaf, Tuan Jasper,” ucapnya lantang. “Tapi aku tidak bisa berlama-lama bermain denganmu. Waktuku sudah habis.”
Jasper mengerutkan kening. Dia memelotot ke arah Brandon dengan pupilnya yang mulai terbentuk vertikal seperti
mata para Werewolf pada umumnya. Kemarahannya makin memuncak ketika Black Witcher yang dilihatnya melemparkan serbuk ke udara dan membuat portal hitam sebelum akhirnya dia kabur dari sana.
“K-kau ….”
Aungan Jasper memuncak. Memenuhi seluruh wilayah kekuasaannya. Pria itu mendekati jendela. Tangannya
meremas tepi jendela hingga mencabik serat kayu dengan kuku-kuku tajamnya. Sepersekian detik selanjutnya, Jasper melompat dengan wujud serigala hitamnya. Mata birunya berkilat tersorot temaram sang Luna. Dia mengaung keras dan panjang, membuat setiap yang mendengarnya akan langsung bergidik.
“Kamu tidak akan bisa lari dariku ….”
***
Brandon muncul di sebuah segel di permukaan tanah yang telah disiapkan oleh teman-temannya sebelumnya. Eden telah memperingatkannya soal menggunakan portal untuk teleportasi yang akan menguras energinya. Namun, sepertinya Brandon terlalu bersemangat kabur dan tidak ingin memperpanjang masalah dengan pria Werewolf itu.
Pria itu muntah darah. Tentu saja, hal ini baru baginya yang baru saja bergabung menjadi anggota Black Witcher beberapa jam yang lalu. Brandon meninggalkan tubuh fisik Clara, menitipkannya pada sang ibu, dan pergi menemui Anne. Kini, pria itu berakhir di tempat yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya, dengan jiwa Clara yang tengah
digendongnya.
Brandon menoleh ke segala arah, mengecek jika ada musuh yang berhasil mengikutinya. Dia harus segera bergerak menuju tempat yang sudah ditunjukkan oleh Eden sebelum mereka menjalankan misi ini. Namun, sesuatu tampak melompat dan mendarat di depan Brandon seketika.
Liur pria itu tertelan sempurna ketika mendapati seekor serigala setinggi dua meter bersiaga di depannya. Bulu-bulu hewan itu hitam berkilat. Mata birunya menatap tajam. Mulutnya menyeringai, menampakkan sangir dengan liur yang menetes.
Brandon berdecak pelan. Bulan sabit terukir di salah satu sudut bibirnya. “Apa kamu menggunakan portal juga, huh? Cepat sekali!”
Brandon tahu bahwa candaan itu tidak akan memengaruhi Jasper Owen. Pria yang kini berubah sepenuhnya menjadi serigala itu seolah telah kehilangan kontrol diri. Di dalam pikirannya hanyalah merebut Clara, itu saja.
“Kamu ingin merebutnya dariku?” Brandon mengacungkan Clara sejenak. “Rebutlah sebisamu.”
Serigala itu menggeram, lalu mengaung sejenak. Dia menatap tajam ke arah Brandon, sontak melompat dengan
cepat. Namun, gerakannya tercekal dan sesuatu membuatnya terpental seketika hingga menabrak dan mematahkan sebuah pohon.
Kilat merah menyambar dan tertarik kepada sesosok pria bertudung. Dia memberi kode pada Brandon. Pria berambut blonde itu menyeringai membalas. Dia melompat ke dahan pohon, melebur di kedalaman hutan.
Sementara itu, sosok dengan kilat merah tadi membuka tudung dan memperlihatkan mata heterochromia-nya. Dia
tersenyum pada serigala besar di depannya.
“Apa kamu mengingatku, Jasper Owen?”
“Eden Moriez!”Jasper sebenarnya berbicara, tetapi siapa yang bisa memahami bahasa serigala selain rekan satu rasnya? Pria di depannya bahkan tidak paham soal ink—teknik komunikasi antar Werewolf.
“Mau sampai kapan kamu terus begini, Jasper?” Eden berkata dengan suara lantang. “Kamu sudah menjadi budak
cinta istrimu sendiri.”
Jasper menggeram. Ucapan Eden membuat adrenalinnya meningkat. Kuku-kuku jarinya memanjang perlahan.
“Yah. Begitulah dirimu,” lanjut Eden. Mata heterochromia-nya menatap Jasper penuh arti. “Siapa lagi yang
akan menjadi korbanmu setelah Clara … dan juga adikku, hm?”
“Diam kau!”Jasper menggertak. Taringnya makin jelas terlihat. “Mereka sendiri yang datang padaku.”
“Omong kosong!”
Eden mengibaskan tangan hingga kilat merah menyambar ke arah Jasper. Serigala hitam itu berhasil menghindar
dengan cepat. Jasper tersentak karena pria itu memahami teknik komunikasinya. Sial! Berapa lama dia belajar menjadi Black Witcher hingga mengerti bahasa komunikasi serigala? Hebat sekali!
Jasper melompat ketika Eden menyambarkan kilat merah ke arahnya. Serigala itu mendesis. Matanya memicing.
Apalagi ketika melihat Eden tertawa keras seolah meledeknya.
“Jangan lupa kalau aku Black Witcher yang sudah berusia ratusan tahun, Jasper.” Salah satu mata Eden yang
berwarna biru terlihat memesona tersorot temaram sang Luna. “Apa kamu lupa kalau Clara adalah reinkarnasi dari Elana sampai kamu terus mengincarnya, huh?”
Geraman Jasper terdengar keras. “Aku tidak peduli mereka reinkarnasi atau bukan,” ucapnya.
“Oh, ya, tentu. Sampai kamu harus memisahkan mereka dengan orang terkasihnya,” sahut Eden dengan nada
mengejek.
“Tapi Selena yang menentukan—”
“Dan kamu yang menjalaninya, Jasper!” Eden berteriak, membuat serigala di depannya sedikit bergetar dengan
geraman teredam.
“Sepertinya aku salah menilaimu waktu itu, Eden.”
Keduanya saling bersitatap amat lama. Sebuah aura magis tampak bersemu di sekujur tubuh Eden, berwarna merah. Jasper tahu jika tujuannya kali ini hanyalah merebut Clara dan dia tidak ingin orang di depannya yang merupakan bagian dari masa lalunya itu mengganggunya. Jasper segera melompat, masuk ke hutan dan mengabaikan Eden.
“Hei!!!” Eden mengibaskan jubah hingga aura merah itu lenyap. Dia melompat ke dahan pohon, mengejar
serigala hitam tersebut.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments