Langit

Rumah yang lumayan besar hanya dihuni oleh Diana dan 2 orang asisten rumah tangga. Diana merasa sangat sendirian, tak ada yang bisa ajak ngobrol ataupun bercanda gurau bersamanya. Lagipula, siapa yang ingin mengobrol dengannya? Bahkan orang tuanya pun kabur karena tak sanggup menahan malu karena suaranya.

Dirinya tidak berguna! Dirinya hanya bisa menyusahkan banyak orang saja! Tidak seharusnya dirinya masih ada didunia ini. Ia melihat dirinya sendiri di balik pantulan cermin, menepuk-nepuk kedua pipinya keras.

Selucu itukah dirinya sampai membuat orang tertawa?

Tok. Tok. Tok

Suara ketukan pintu kamarnya terdengar, ia menoleh dan membuka pintunya, melihat siapa yang mengetuk pintunya malam-malam seperti ini.

"Non, ini ada paket katanya paket ini buat non,"ucap Asiaten rumah tangga padanya sambil menyodorkan kotak kecil berbungkus kertas coffe.

Diana mengambil kotak itu kemudian tersenyum, sebagai ucapan terimakasih.

"Yaudah Non, Bibi masuk kedalam kamar bibi dulu ya"

Ia tersenyum sedari menutup pintu kamarnya. Mengamati sebuah kotak kecil berwarna hitam dengan pita merah yang mengikat anggun kotak itu. Apa kotak itu ada hubungannya dengan bunga mawar yang ia dapat? Karena penasaran, ia membuka kotak itu.

Alahkah terkejutnya Diana melihat isi dalam kotak itu. Sebuah gantungan kunci berbentuk bintang yang terbuat dari kayu. Tanpa sengaja ia tersenyum, mengambil secarik kertas berwarna biru muda dibawah gantungan kunci.

Tersenyumlah, senyummu indah

Bagai bintang yang memancarkan cahayanya...

Tersenyumlah, kuingin melihat senyum tulusmu...

Gelapnya langit ingin melihat senyummu, apakah kau bersedia tersenyum untuknya?

Aku disini bersamamu, jangan kau pikir kau sendirian...

Lihatlah keluar aku selalu bersamamu...

                           -Sang langit malam

Diana tersenyum bahagia, langit, bulan dan bintang, mereka akan menemaninya. Ia menggenggam erat gantungan bintang kemudian menempelkan kedada-nya. Kakinya melangkah menuju balkon, disurat itu, ia diperintahkan untuk keluar, melihat gelapnya langit.

Diatas langit ada bulan dan bintang. Bulan hanya satu, tetapi tanpa bulan dunia ini akan menjadi gelap gulita, beda halnya dengan bintang, bintang jumlahnya sangat banyak tetapi seberapapun banyaknya bintang tidak akan bisa menyaingi bulan. Ada keistimewaan dari bintang, yaitu memancarkan cahayanya sendiri tanpa bantuan siapapun sedangkan bulan, dia mendapatkan cahaya dari matahari.

Ia tersenyum tersenyum bahagia, memandang keatas langit.

"Ma-ma-makasih L-l-l-langit."lirihnya setelah itu ia masuk kedalam kamar.

Makasih langit, engkau telah membuatku tersenyum tanpa kepalsuan.

Dibawah sini, seseorang sedang mengamati pergerakan Diana. Orang itu tersenyum tipis, sangat tipis, jika ada yang melihatnya mungkin mengira kalau itu bukan senyum melainkan smirk.

"Stars, Langitmu segera datang."

OoO

Pagi haripun tiba, rasa ketakutan yang menjalar keseluruh tubuh tiba-tiba menyerang dirinya. Sekolah, adalah tempat untuk mencari ilmu dan mendapatkan ilmu tapi bagi dirinya sekolah adalah neraka.

Pandangan hanya tertuju pada sepatu hitam bertalinya, sesekali ia mendongkak itupun hanya untuk melihat kearah mana ia harus belok.

Tiba saja langkahnya terhenti, ia melihat sepatu bukan! Tapi seseorang yang sedang berdiri dihadapannya. Kepalanya mendongkak, menatap sekilas wajah orang itu kemudian ia lari begitu saja tanpa ada kata-kata sedikitpun. Terlihat tidak sopan memang, tapi pikiran negatifnya selalu muncul kepada siapapun tanpa terkecuali. Semua orang itu sama saja, semua orang didunia ini jahat kecuali pak Jen, semua orang akan menertawakan kelemahannya. Ia benci, ia sangat membenci orang yang menindas kelemahannya.

"Yayaya, kau pikir kau bisa lepas dari Dessintha Humayra huh!?"

Sial! Baru saja ia ingin bersembunyi di kolong meja, Dessi sudah menemukannya dengan cepat. Diam dan menundukan kepala, itulah hal yang dilakukan Diana saat berhadapan dengan orang.

"A-a-apa ma-ma-m-maumu Des!!!!"tanyanya dengan terbata-bata.

Dessi mengibaskan rambutnya, berjalan mendekati Diana. "Baca puisi!"

Diana menggeleng keras, siapa dia berani memerintahnya? Mentang-mentang dirinya seperti ini, dia berani menindasnya? Demi tuhan, orang seperti Dessi ini seharusnya dihilangkan saja dari bumi.

Karena kesal, Dessi menjambak rambut Diana. Diana meringis kesakitan, jambakan Dessi benar-benar kuat hingga beberapa helai rambutnya rontok.

"Lo berani sama gue!?"

"I-iya a-a-aku b-b-baca"

Dessi tersenyum, melepaskan jambakannya. Dia menyerahkan secarik kertas kepada Diana dan dengan ragu, Diana pun mengambilnya.

"Baca! nanti gue vidioin!"

"Ja-ja-jangan D-des."

"CEPET!!!!!"teriak Dessi.

"Selamat pagi kak, maaf menganggu, saya ingin menyampaikan sesuatu pada kak Dessi kalau bu Nindi ingin bertemu dengan kakak"ucap seseorang yang baru saja datang.

Dessi melirik sinis Diana. "Kali ini lo lolos! Tapi nanti, gue gak akan biarin lo lolos!"

Lagi dan lagi keberuntungan berpihak kepadanya, disaat Dessi ingin memulai aksinya, ada saja hal yang membuat Dessi mundur. Ia berdoa semoga saja, hal ini selalu terjadi padanya.

-OoO-

Diana mencoret-coret hasil hitungan matematika. Setelah Dessi keluar dari ruang kelas tadi, ia malah menyibukan diri dengan bab matematika yang akan dipelajari di bab selanjutnya. Di jam pertama, sebenarnya pelajaran Kimia tapi menurut info yang ia dengar kalau guru kimia sedang tidak masuk dikerenakan sakit. Murid bersorak bahagia, sementara dirinya tidak! Bagaimana ia bisa bahagia kalau gurunya sudah beberapa kali tidak masuk kekelas ini? Kelas lain sudah mencapai bab baru dan kelas ini benar-benar tertinggal.

"Assalamualaikum!"

Mendengar suara guru masuk kekelas ini, semua orang panik. Suara gaduh hampir saja memecahkan gendang telinganya. Diana sebal! Bukannya langsung duduk rapih ditempat duduknya masing-masing ini malah teriak-teriak tidak jelas seakan ruang kelas ini adalah kamarnya.

"DIAM SEMUA!!!"

hening. Tak ada yang bersuara lagi, ketika bu Nindi marah semua orang akan diam tidak berani berkata sepatah katapun dihadapan bu Nindi.

"Sekarang pelajaran apa?"tanya bu Nindi.

"Kimia bu,"jawab serempak.

"Gurunya sakit, tidak bisa masuk jadi ibu kesini hanya ingin memberikan tugas dari bu Iren dan satu lagi-"ucap bu nindi menggantung.

Seorang pria berambut hitam pekat dengan alis sedikit tebal dan hidung mancung, masuk kedalam kelas. Semua orang terbengong-bengong melihat ketampanan orang itu terkecuali Diana, Diana malah menatap was-was pada orang itu.

Pria itu menyalimi bu Nindi kemudian menatap para siswa siswi kelas XI Mipa 2.

"Hari ini kita murid baru di kelas ini. Ayo silahkan Alter, perkenalkan diri kamu,"jelas bu Nindi.

"Selamat pagi semua, perkenalkan nama saya Alterio Langit, kalian bisa memanggil saya Alter atau Rio. Terimakasih,"ucap orang itu memperkenalkan dirinya.

"Baiklah Alter, kamu bisa duduk dikursi kosong. Kebetulan disini ada dua buah kursi kosong, kamu bisa pilih dengan siapa kamu akan duduk"kata Bu Nindi pada Alter.

Alter tersenyum tipis. "Terimakasih Bu,"ucap Alter sambil melangkahkan kakinya, mencari-cari tempat duduk kosong.

Diana terlihat gelisah saat anak baru itu hendak menghampiri kursi kosong yang ada disebelahnya. Tidak tidak! Dia tidak boleh duduk disini, ia takut jika dia akan membulynya ketika dia tahu dirinya itu 'gagap'

Ia menunduk, tatapan teman-teman sekelasnya tertuju pada dirinya. Diana menelan saliva kasarnya, dengan santainya Alterio duduk dikursi kosong yang ada disebelahnya.

"Perhatian semua! Tugas yang diberikan bu Iren, harus dikumpulkan hari ini juga dan setelah selesai nanti, ibu harap tidak ada yang keluar-keluar kelas!"tegas Bu Nindi setelah itu keluar kelas.

"Eh Alter! Jangan deketin dia! Dia gagap,"ejek seorang wanita berambut sebahu sambil melirik Diana.

Alterio mengangkat sebelah alisnya bingung, kemudian dia menatap Diana sejenak.

"So?"

"Dia cuma bisa malu-maluin lo doang! Kalau lo duduk bareng dia!"pungkas Dessi.

"So? Apa urusan lo?"

Skak. Ucapan Alterio membuat Dessi bungkam. Tidak biasanya ada orang yang mau berdekatan dengan Diana setelah orang itu tahu fakta tentang Diana.

"Gue yakin lo pasti nyesel duduk sama dia," ucap Dessi penuh penekan.

Alterio berdecak. Dia tidak memperdulikan ucapan-ucapan sampah dari orang, tidak seharusnya ucapan itu dilontarkan padanya, karena dirinya selalu menjujung tinggi nilai kemanusian. Semua orang itu mempunyai kekurangan dan kelebihan, disetiap kekurangan yang kita punya pasti ada sedikit kelebihan yang tersembunyi dan kelebihan yang tersembunyi itu harus segera dikeluarkan untuk menutup kekurangannya.

"Hai, nama aku Langit"

Langit

Langit

Langit

Langit

Nama itu tiba-tiba terngiang-ngiang dikepala Diana. Kenapa bisa Alterio mengenalkan kepada dirinya sebagai Langit? Kenapa tidak dengan Alterio? Ia jadi teringat dengan sosok langit yang selalu mendengarkan curhatannya.

Diana membuka bagian belakang buku, menuliskan beberapa kata di buku itu dan menyerahkannya pada Alterio. Alterio mengambil buku itu dan langsung membacanya.

Kamu lebih baik pindah, karena aku ini gagap. Sebelum kamu mencaciku lebih baik kamu pergi dari meja ini!

"Lalu kenapa? Aku punya hak untuk duduk disini"

Diana mengambil bukunya dari tangan Alterio, kemudian menulis lagi. Alterio mengintip Diana menulis, kata demi kata pun dapat ia baca.

Aku ini gagap!! Kamu tahu! Kamu pasti akan tertawa mendengar suaraku

"Bersuaralah, jika aku memang tertawa bahkan untuk sedikitpun maka aku pergi dan jika aku tidak  tertawa maka aku bisa duduk disini, bagaimana?"tanya Alterio.

Diana mengigit bibir bawahnya. Alterio memang keras kepala, anak ini tidak mau pindah sebelum tahu sendiri kalau dirinya ini gagap. Ia yakin setelah dia mendengar suaranya, dia akan pindah ketempat duduk Shila.

"Kamu tidak perlu mencari kata apa yang ingin kamu ucapkan, cukup beritahu namamu saja"

"N-na-nama a-a-aku Di-d-d-diana"

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

Diana tidak melihat Alterio tertawa malahan dia menatap lembut kearah dirinya. Ia menggeleng, mungkin saja Alterio tidak mendengar saat ia berbicara jadi dia tidak tertawa.

"Ke-ke-kenapa ka-kamu t-tidak t-tertawa?"tanya Diana.

Alterio mengerutkan keningnya. "Untuk apa aku tertawa? Emang ada yang lucu?"

Alterio berbeda. Ia tersenyum, meneteskan air matanya. Inikah langit berwujud manusia?

"L-l-l-langit?"

Terpopuler

Comments

Erpinna Waty

Erpinna Waty

Diana 💖💖💖 Langit mu telah datang
tersenyumlah...

2020-01-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!