Hari ini hari libur, tidak ada kegiatan lain selain belajar, merenung dan mengkhayal. Mengkhayal, kalau orang tuanya akan kembali. Jujur saja, Diana sangat merindukannya, merindukan pelukan dari mereka. merindukan kasih sayang mereka tapi apakah mereka merindukannya? Sepertinya tidak dan tidak mungkin, kalau saja mereka rindu, mereka bisa kesini kapan saja.
Sikap Alterio benar-benar membingungkan, dia menertawakannya, dia yang membuatnya menangis tapi, dia juga yang membuatnya tersenyum bahagia. Kemarin, disaat hujan, Alterio memeluknya, dia melarang dirinya untuk pergi dari dunia ini.
Pelukan itu, betapa berharganya pelukan itu baginya. Disaat dirinya benar-benar rapuh, Alterio datang dan memberikannya kekuatan. Ia mengambil handphonenya, memastikan kalau Dessi tidak menyebar vidio itu ke media sosial.
Nafasnya tercekat, Live IG kelas ternyata tersimpan. Dengan sangat ragu, ia pun melihat Live-annya. Otaknya kembali terputar, saat dirinya dipaksa untuk membaca puisi didepan kelas dan berakhir dengan ditertawakan oleh Alterio. Tawa itu sangat menyakitkan baginya, saat ia ingin memencet close pada layar handphone, disitulah terjadi hal yang sama sekali tidak diketahui olehnya. Dimana Alterio menyiram Dessi dan Zeila secara bergantian.
Tes
Alterio membelanya, Alterio menjadi monster hanya untuk membelanya, Alterio mampu melawan Dessi yang memang anak dari pemilik sekolah. Ia benar-benar salah, ia menyesal karena tidak mempercayai Alterio. Isak tangis keluar dari mulutnya, Langitnya kini telah hadir.
"La-la-langit"lirihnya.
Di lain tempat, Alterio sedang mengendarai mobilnya. Sedari tadi ia hanya berdecak, melihat Live Instragram kejadian kemarin masih tersimpan. Berulang kali ia men-DM admin kelasnya, berulang kali ia meneror nomor admin tapi usahanya sama sekali tak membuahkan hasil, nomornya tidak aktif.
Yang khawatirkan saat ini adalah Diana, bagaimana reaksinya kalau dia melihat postingan ini. Ia khawatir kalau Diana akan takut padanya dan nanti dia akan menjauh. Ia menggeleng pelan, tidak! Ini tidak boleh terjadi, biarkan Diana tahu kalau ia ini langitnya hanya langitnya bukan monster.
Ia ingin kerumah Diana, memastikan kalau gadis itu baik-baik saja sekarang, dan ia harap gadis itu tidak mencoba untuk bunuh diri lagi.
Sesampainya dirumah Diana, memakirkan mobilnya di pekarangan rumah Diana. Rumahnya lumayan luas kalau hanya dihuni oleh satu orang dan 2 ART. Ia turun dari mobilnya, melangkahkan kakinya ke depan pintu rumah.
Tak lama setelah Alterio memencet bel, pintu terbuka, seseorang berpakaian seragam tersenyum ramah pada Alterio.
"Maaf mas cari siapa ya?"
"Kenalin Bi, saya Alter temannya Diana, saya kesini mau ketemu Diana,"ucap Alterio sambil menyodorkan tangannya.
"Eh Den, Aden benar temannya non Kia? Ayo Den silahkan masuk"
Alterio tersenyum getir, menggembalikan tangannya yang sempat melayang diudara tadi. Sempat kesal pada ART disini, setidaknya balas saja jabatan tangannya, tidak perlu mempermalukan dirinya. Ia berusaha untuk tenang, ia melihat sekeliling rumahnya, terdapat banyak foto didalamnya. Sebuah foto menarik perhatiannya, itu adalah foto keluarga Diana, refleks tangannya mengepal melihat wajah orang tua Diana. Orang tua mana, yang tega meninggalkan anaknya karena alasan 'malu'. Andai saja ia bisa bertemu dengan orang tua Diana, mungkin setidaknya luka memar tehias diwajah mereka.
"Den, non Diana lagi ada disana lagi nangis,"ujar Art sambil menunjuk ruang tamu.
"Baiklah Den, saya permisi dulu,"pamitnya.
Alterio mengangguk, tatapannya tak lepas dari Diana yang sedang menangis memeluk sebuah foto. Rasanya sakit sekali melihat Diana menangis, ia bertanya-tanya dalam hati, apakah ia sanggup ada diposisi Diana.
"Star?"panggil Alterio.
Diana menoleh, tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Ada Alterio di rumah ini. Tidak, tidak! Mungkin ia sedang berhalusinasi-batinnya.
"La-la-Langit?"
"Iya"
"La-Langit?"
"Iya ini aku, Langit,"
"Ka-kamu be-belain a-aku?"
"Kamu liat?"
Diana mengangguk.
"Kamu takut?"tanya Alterio dibalas anggukan lagi oleh Diana.
"Kamu ngak usah takut, aku ngak akan nunjukin sifat asli aku ke kamu kok, kamu tenang aja ya"
"I-iya la-la-langit, ma-ma-makasih ban-banyak,"
Alterio melirik foto yang dipegang Diana. "Itu orang tua kamu?"tanyanya.
Diana mengangguk samar, bagaimana pun mereka adalah keluarganya, meski ia telah dibuang.
"Kamu merindukannya?"tanya Alterio dibalas anggukan oleh Diana.
Alterio duduk disamping Diana. "Kamu ingin bertemu dengan orang tuamu?"
Diana mengangguk lagi.
"Kalau begitu, ayo kita kesana, ke orang tua kamu,"ajak Alterio.
Diana menggeleng pelan, percuma saja dirinya menghampiri kedua orang tuanya, toh ujung-ujungnya ia akan diusir. Mereka malu mempunyai anak sepertinya, mereka tak mau melihat wajahnya. Ia tak bisa lagi, mendengar kata-kata kasar dari orang tuanya, mentalnya tak cukup untuk itu.
"Kenapa?"
"Me-me-mereka ngak ma-mau li-li-liat wajah a-a-aku... me-mereka ma-ma-malu pu-punya an-an-anak ka-kayak ak-aku...."
Alterio benar-benar merasakan kesedihan yang dirasakan Diana secara langsung. Tangannya terangkat untuk menghapus air mata Diana, tapi ia urungkan, menyembunyikan tangannya kebelakang.
"Kamu mau ikut?"
Diana mendongkak, menghapus air matanya. "I-i-ikut?"
"Kita jalan-jalan, kamu mau kan?"
Diana menggeleng, bukan karena ia tidak ingin, ia hanya tidak ingin Alterio merasa malu ada disampingnya.
"Ayo! Aku akan mengembalikan suara tawamu."
Tanpa aba-aba Alterio menarik lengan Diana keluar dari rumah. Semua kata-kata Alterio menghangatkannya, membuat senyum terukir diwajahnya. Diana diam-diam menatap wajah Alterio, sesekali menunduk saat Alterio menyadari kalau Diana sedang menatapnya.
"Kamu punya sepeda?"tanya Alterio, menghentikan langkahnya.
"Pu-punya, bu-bu-buat a-apa?"
"Mana?"
"D-di ga-ga-garasi"
"Dimana garasinya?"
Diana menggeleng cepat. "Bi-bi-biar ak-aku ya-yang am-ambil,"ucap Diana setelah itu berlari menuju garasi.
OoO
"Kamu tahu ngak? Bintang itu asalnya bukan dari Langit?"tanya Alterio menggoes sepeda Diana.
Diana hanya diam, menunggu Alterio kembali bersuara dan memberikan jawabannya.
"Bintang itu berasal dari sini, di kota ini, di negara ini, di bumi dan sekarang ini, Bintang lagi sama Langit,"
Bluss
Rona merah merona diwajah Diana, lagi-lagi ia tersenyum karena ucapan Alterio.
"A-a-apaan s-sih Lang"
"Gimana udah seneng belum?"
"U-udah"
"Seriusan? Belum apa-apa loh,"ucap Alterio dengan nada candaan.
"Ap-apaan sih!"cetusnya sambil memukul bahu Alterio.
"Star kamu cantik,"
"Ma-ma-makasih,"balas Diana malu-malu.
"Iya cantik! Kalau ganteng itu aku."
"Ka-kamu nge-ngerasa?"
"Iyalah, kan aku cowo masa aku cantik,"jawabnya.
"Iyain!"
Alterio terkekeh lagi, ia sangat suka ketika Diana berbicara. Semakin Diana banyak berbicara, ia yakin Diana akan menjadi terbiasa berbicara dan setelah itu kutukan itu hilang selamanya dari diri Diana.
Selama perjalanan Diana lebih banyak diam, sebenarnya ia ingin banyak bertanya tentang Alterio tapi berbicara seperti ini membuatnya lelah. Ditanya oleh Alterio pun ia jawab dengan singkat, bukan apa-apa ia hanya lelah dengan semua ini.
Sesampainya disuatu tempat, sebuah rumah yang luas memanjang, seperti layaknya sebuah sekolah, berada didepan mereka sekarang. Diana melihat sebuah gapura bertuliskan 'Sekolah Luar Biasa Melati 1'. Ia mengangguk, ternyata tempat ini adalah sekolah, sekolah khusus untuk orang Disabilitas.
Alterio mengajak Diana untuk masuk kedalam sekolah, banyak siswa yang berlalu lalang dibantu oleh pengurus mereka. Mereka sangat luar biasa, dengan keadaan mereka yang seperti itu, mereka tetap bersemangat untuk sekolah. Tanpa terasa air matanya mengalir, mereka lebih menderita dibandingkan dirinya, walau begitu mereka tetap menampilkan tawanya saat seorang guru mengeluarkan lawakannya.
"Kamu tahu dia Stars?"tanya Alterio sambil menunjuk anak perempuan yang sedang mengikuti senam irama bersama yang lain.
"Itu Zavina, dia itu tidak bisa berbicara,"lanjutnya.
Perempuan itu tampak senang, dia bersemangat, gerakannya saja sangat lincah. Ia merasa malu, betapa malunya ia melihat anak perempuan itu, ia sama sekali tak melihat kesedihan dimatanya. Anak perempuan itu tahu kalau sedang diperhatikan, dia pun melambai-lambaikan tangannya kearah Alterio dan Diana.
Alterio membalas lambaian tangan Zavina, setelah itu kembali menatap Diana.
"Liat yang disana,"ucap Alterio sambil menunjuk seorang laki-laki yang kira-kira berumur 9 tahunan.
"Dia tidak bisa melihat, dan kau tahu? Hobi dia itu membaca buku,"
Diana memperhatikan seorang laki-laki itu sedang duduk diatas karpet sambil membaca buku, dengan meraba kata demi kata mengunakan jarinya. Terharu, jelas saja ia terharu, siapa yang tidak terharu melihat pemandangan ini.
Alterio duduk kursi panjang begitu juga Diana. Alterio menatap lekat Diana, memandang wajah Diana dalam-dalam. Awan gelap mulai bergumpalan di Langit, begitupun angin mengoyang-goyangkan rambutnya.
"Kenapa menangis? Ini bukan malam?"sakras Alterio.
"A-aku--"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments