Hari senin adalah hari yang horor menurut murid di sekolah ini, bukan karena banyak hantu ataupun cerita mistis dihari senin tetapi dihari senin, upacara bendera dilaksanakan dan hal yang paling murid benci adalah amanat dari sang kepala sekolah yang bertele-tele hingga memakan waktu yang cukup lama untuk mendengarkan ocehan kepala sekolah.
Banyak siswa yang berpura-pura pingsan untuk menghindari ceramah kepala sekolah. Umpatan-umpatan kecil lolos begitu saja dari mulut para siswi tepat di sebelah Diana. Ia tidak mengetahui nama mereka, ia hanya mengenal melalui wajahnya, melalui wajah ia bisa mengetahui bahwa segerombolan siswi disebelahnya ini adalah teman satu angkatannya.
Saat kepala sekolah menutup ceramahnya, para murid bersorak dan menjawab salam dengan kompak serta mengucap syukur kepada tuhan yang maha esa. Tak lama setelah itu, para murid dibubarkan.
"Star!"panggil Alterio ditengah-tengah kerumunan para siswa.
"Iya?"
"Kamu mau kemana?"tanyanya.
"A-aku mau ke kamar mandi,"jawab Diana.
"Mau diantar? Aku takut kamu kenapa-kenapa."
Diana tersenyum manis. "Ga-gak usah Lang, A-aku bisa sendiri."
"Kamu serius?"tanyanya tak yakin.
"I-iya, yaudah Langit aku duluan ya,"jawab Diana kemudian berlari ke kamar mandi.
Alterio selalu memberikan perhatian padanya. Ia takut, jika hal ini terjadi secara terus-menerus ia akan merasakan jatuh pada cinta. Selama ini ia selalu berusaha tidak mencintai orang karena ia tahu, tidak akan ada yang menyukainya. Jangankan untuk menyukainya, berteman dengannya saja mereka enggan. Hanya Alterio yang mau berteman dengannya.
Diana menyipitkan matanya, melihat orang yang ingin menyiram tanaman di lantai 2. Matanya kembali turun menangkap seorang wanita yang sedang bermain handphone tepat dibawah tanaman yang ingin disiram.
Ia berlari, berniat untuk mendorong wanita itu supaya tidak terkena siraman air. Ingin bersuara tapi ia tidak bisa, ia takut akan mengeluarkan suara gagapnya itu.
Diana menarik wanita itu, sebelum air benar-benar turun keatas tanah. Wanita itu kaget, mengelus-ngelus dadanya sambil melirik sinis pada orang yang sedang menyiram tanaman.
"Makasih banyak, kalau gak ada kamu mungkin aku udah basah kuyup,"ucap wanita itu sambil menggenggam tangan Diana.
Diana mengangguk.
"Nama kamu siapa? Nama aku B--"
Belum sempat wanita itu memperkenalkan diri, Diana langsung lari pergi meninggalkan wanita itu. Wanita itu bengong, ada apa dengannya? Apa dirinya membuat kesalahan?
"Aneh,"gumamnya.
OoO
"Siapa lo? Nyasar?"
"Anak baru ya?"
"Kenalan dulu dong, masa anak baru langsung duduk aja."
"Songong bener!"
Alterio mendongkak, menatap wanita asing duduk begitu saja tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Sepertinya dia bukan wanita asing, dari gaya dan warna rambut wanita itu, ia merasa kalau ia mengenali wanita itu.
"Bulan?"panggil Alterio.
Yang merasa dipanggil pun menoleh, menatap kaget Alterio. "Alter?"
Bulan menghampiri Alterio dengan rasa antusias. Alterio diam, tidak melangkah sedikitpun.
"Lo kelasnya disini?"
"Iya, gue juga gak tau kalau ternyata disini ada lo hmm--"ucap Bulan sambil melirik orang yang sedang menenggelamkan wajahnya.
"Dia siapa?"lanjutnya.
"Sahabat gue,"balas Alterio.
Diana mendongkak, merapihkan rambut yang menutupi wajahnya. Bulan menghampiri Diana, ia ingin menanyakan namanya. Tadi saat ia ingin memperkenalkan namanya, dia malah langsung lari.
"Ka-kamu?"
"Kamu kenapa sih! Kenapa kamu takut gitu sama aku, aku ini manusia sama sepertimu!"kata Bulan kesal pasalnya wajah Diana yang sudah banyak keringat, seperti takut melihatnya.
"A-aku bu-bukan ta-takut t-t-ta--"
Alterio meraih telapak tangan Diana kemudian menggenggamnya erat. Membisikan Diana sesuatu melalui batinnya, ia yakin kalau Diana akan mengerti.
Diana menghembuskan nafas kasarnya. "A-aku nga-ngak takut sama kamu tapi suara aku, nanti ka-kamu ketawain aku!"
Bulan berdecak. "Lah! Emang ada yang lucu? Orang kayak kamu tuh unik, anggap aja orang yang ngetawain kamu itu sedang iri sama kamu."
Ada yang lucu
Ada yang lucu
Ada yang lucu
Kalimat itu pernah diungkapkan Alterio, sewaktu pertamakali mereka bertemu. Kemarin-kemarin Alterio, dan sekarang Bulan, apakah mereka turun hanya untuk melindunginya? Ia menggeleng, selalu saja pikiran aneh memenuhi otaknya.
"Ka-kamu beneran?"
Bulan menatap Alterio sebentar kemudian beralih menatap Diana.
"Ya beneranlah! Eh, nama kamu siapa?"
"Di-diana."
"Hanya Diana?"
"Diana Starla Saskia."bukannya Diana yang menjawab, Alterio malah langsung menjawabnya.
"Stars, aku akan memanggilmu Star,"kata Bulan dibalas senyuman oleh Diana.
"Ngak bisa! Cuma gue yang boleh manggil dia Stars,"tandas Alterio.
Bulan mencebik. "Yaudah! Bintang, kita keren ya pake nama benda-benda langit."
Diana terkekeh lucu. "De-dengan kamu nyebut benda-benda langit, ada yang terpanggil tau,"ucap Diana.
"Siapa?"
Diana menunjuk Alterio. Bulan menatap Diana keheranan, kenapa dia menunjuk Alterio?
"Alterio Langit, tapi asal lo tahu! Lo ngak boleh manggil gue langit kecuali Star,"kata Alterio sedikit tegas.
OoO
"Ter, gue mau nanya sesuatu sama lo?"tanya Bulan setelah beberapa siswa keluar dari kelas.
"Hmm?"
"Seberapa kenal lo sama Bintang?"
"Udah lama, kenapa?"
"Gak kenapa-kenapa sih, gue cuma pengen kenal deket sama Bintang."
"Serius? Nanti lo mewek lagi denger cerita tentang dia,"ucap Alterio mengejek.
"Ya serius lah, hei tuan Alterio yang terhormat, gue ini bukan tipe cewe yang gampang nangis!"balas Bulan sambil mengibaskan rambutnya.
Alterio memutar bola matanya malas. Bingung dengan sifat Bulan, keorang lain dia cuek, dingin dan acuh tapi kalau sedang bersama dirinya atau Diana, dia berubah menjadi cerewet.
"Lo aneh!"
"Aneh? Maksud lo?"
"Ke orang lain aja dingin tapi kalau sama gue hmm cerewet bener."
Bulan mendelik. "Gue ke Bintang juga kayak gini."
"Yaudah iya."
"Alter! Ceritain tentang Bintang ke gue, please,"ucap Bulan memohon.
"Diana mempunyai gangguan bicara sejak dia berusia 5 tahun, karena dia susah untuk berbicara dia juga dijauhi oleh teman-temannya, sd, smp bahkan sekarang dia tidak mempunyai teman. Teman-temannya selalu membullynya, memakinya, menjadikannya bahan tertawa,"cerita Alterio, dia teringat akan senyuman Diana ketika dia dibully, "dia selalu tersenyum tapi siapa sangka dibalik senyumnya itu adalah tangisan, tangisan yang amat menyedihkan."lanjutnya.
Bulan benar-benar menyimak cerita Alterio. Banyak pertanyaan yang berkeliaran meminta jawaban pada Alterio tapi, ia masih ingin mendengarkan lanjutan kisah Diana.
"Saat dia berumur 9 tahun, orang tuanya meninggalkannya, bukan karena meninggal tapi karena mereka malu mempunyai anak seperti Diana... berulang kali Diana mencoba untuk mengakhiri hidupnya sendiri dan berulang kali juga gue ngehentiin dia. Gue emang temenan sama dia dari kecil, maybe dia gak tahu kalau gue temen kecilnya. Gue juga sama kayak lo, gue disini itu murid baru."
"Orang tua ***!"umpat Bulan.
"Diana lebih menyedihkan dibanding gue,"lirih Bulan.
Alterio tersenyum tipis. "Lo seharusnya lebih bisa bersyukur, mungkin kalau lo jadi Diana lo udah jadi pasien rumah sakit jiwa."
Bulan memukul bahu Alterio kesal. Sedikit bergeser kesamping, menjauhi Alterio menatap Alterio seakan-akan Alterio adalah musuhnya. Ternyata selain motivator, Alterio juga orang yang sangat menjengkelkan.
"Bintang tinggal sendirian Ter?"
"Iya, gak punya saudara juga,"jawab Alterio.
"Bintang kerja?"
Alterio menggeleng, Diana sempat bercerita padanya kalau dia ingin bekerja supaya dia tidak ketergantungan pada uang orang tuanya. Walau tak semuanya dia pakai tapi sama saja, dia merasa tidak berguna.
"Siapa sih orang tua Diana! Pengen gue maki-maki deh rasanya!"
"***!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Rull N
waw
2020-04-01
0