Malam Kia sayang."
Yang disapapun tersenyum. "Ma-malam juga Mah,"balas Diana.
"Bagaimana sekolahmu hari ini Dear?"tanya Mamah sambil menyendokan nasi ke piring Diana.
"Baik Mah,"jawab Diana lembut.
"Kamu ngak dibully lagi kan? Jujur aja sama Mamah."
Diana menggeleng, matanya berair karena terharu. Andai saja didepannya ini adalah Bundanya, pasti ia akan merasa senang yang luar biasa. Ada banyak kisah seorang ibu tiri yang jahat, yang memberlakukan anaknya bagai pembantu tapi, kisahnya malah berbanding tebalik. Ibu kandung seperti ibu tiri dan ibu tiri seperti ibu kandung.
Miris
"Kamu kenapa nangis sayang? Mamah salah ya sama kamu?"
"Hiks... Mah, Mamah... kenapa Mamah mau tinggal sama aku. Seharusnya Mamah, benci aku! Bu-bunda sama ay-ayah juga benci aku hiks...."
Mamah bangun dari kursi dan langsung memeluk Diana. Diana mendongkak, merasakan kenyamanan berada dipelukan Mamah. Matanya terpejam sesaat kemudian melepaskan pelukannya.
"Buktikan sayang, buktikan kepada mereka kalau kamu itu bisa! Buktikan kalau kamu bisa lebih dari mereka,"kata Mamah sambil menghapus air mata Diana.
"Ma-makasih Mah,"ucap Diana.
"Kita makan lagi okey? Kamu jangan sedih, ada Mamah sama kak Revan disini."
OoO
Bulan berdecak kesal. Saat ini, ia dikelilingi oleh orang-orang seumuran dengan papahnya. Kalau bukan papahnya yang memaksa untuk ikut, ia tidak akan pernah mau. Ia malas sekali menampilkan senyum sok manisnya pada teman bisnis papahnya.
Jika ada yang mengajaknya ngobrol, ia akan menjawab singkat jelas dan padat tak perlu bertele-tele dan langsung pada intinya saja. Biarkan saja mereka tahu sikap aslinya, toh memang ini adanya.
Jarinya sibuk menggeser-geser layar Handphone, padahal tidak ada notif penting satupun yang masuk. Lagi dan lagi Bulan hanya bisa berdecak kesal, berharap papahnya menghentikan acara ngobrolnya.
"Arkan! Kenapa kamu lama?"
"Maaf Dad, tadi Arkan kejebak macet."
"Wah! Ini anak kamu Hen? Sudah besar ya?"tanya Ednan terkagum-kagum.
"Iya, Ed... ini anak aku namanya Arkan dan Arkan ini temen Dad namanya Ednan."
Ednan menangguk. "Oh iya Arkan, ini anak Om,"ucap Ednan menggantung, mengelus puncuk rambut Bulan.
Bulan mendongkak, menatap malas orang bernama Arkan ini. Ia berdiri membalas jabatan tangan Arkan yang sedari tadi tangannya menggantung diudara.
"Bulan,"ucap Bulan singkat.
"Hanya Bulan?"tanyanya.
Bulan memutar bola matanya malas. "Cahaya Bulan Edara,"balas Bulan sedikit ketus.
"Kalo gue--"
"Gak nanya!"potong Bulan cepat, kemudian kembali duduk.
"Bulan! Yang sopan dong!"tegas Ednan.
"Ya,"cetus Bulan.
"Maafin sikap anak Om ya Arkan,"ujar Ednan merasaa bersalah pada Arkan.
Arkan menggeng pelan. "Gak papa Om, lagian dia kayak gitu karena bosan."
"Dih, dari dulu juga gue udah kayak gini!"gumam Bulan.
"Yaudah, kalian kenapa gak jalan-jalan aja? Siapa tahu kalian bisa jadi temen atau lebih,"canda Hendra-papah Arkan.
"Iya tuh bener, nanti kita bisa besanan ya kan Hen?"sambung Ednan kemudian tertawa.
"Makin tua kok makin gaje!"batin Bulan kesal.
"Yu, kita berangkat,"ajak Arkan pada Diana.
Bulan tersenyum, ide pintar terlintas di otaknya. Ini adalah alasan yang tepat untuk kabur dari ini, sudah muak ia terus-terusan berlama-lama bersama orang-orang tua yang mengerti bisnis.
"Yo!"sahut Bulan bersemangat.
Bulan terlihat sangat antusias untuk pergi bersama Arkan, padahal Bulan senang karena terbebas dari papahnya. Ia tertawa dalam hati, melihat Arkan yang sangat senang karena dirinya mengiyakan ajakan Arkan.
"Kita mau kemana?"tanya Arkan pada Bulan.
"Pulang,"jawab Bulan jutek.
"Gak baik kalo ngebohongin orang tua,"ujar Arkan pokus pada kemudi yang ia kendalikan.
Bulan menaikan sebelah alisnya. "Bohong? Gue gak bohongin, siapa yang ngajak keluar? Bukan gue kan?"tandas Bulan.
"Ok, rumah lo dimana?"
OoO
Tepat pukul 09.30 Diana terbangun dari tidurnya. Tenggorokan yang kering mengharusnya untuk pergi ke dapur mengambil segelas air putih. Ia tidak mengira bahwa persedian air di kamarnya telah habis, mau tidak mau ia harus pergi ke dapur.
Saat melewati sebuah kamar berpintu putih. Ia menghentikan langkahnya, pintunya tidak tertutup dengan rapat, menyisakan sedikit cela.
Rasa penasaran muncul, saat ada suara-suara pelan dalam kamar itu. Suara itu adalah suara Revan dan--Mamah.
"Mamah tahu kamu sayang sama Kia, tapi bukan berarti kamu meninggalkan tanggung jawab kamu dalam mengelola bisnis. Kamu ngak usah khawatir, Mamah disini yang akan mengurus Kia."
"Bukan Revan gak percaya sama Mamah tapi Revan... gak mau ninggalin Kia."
"Revan, dengerin Mamah. Kamu udah ngejalanin semua ini dari nol, banting tulang sampai sukses dan kini setelah sukses kamu mau nyia-nyiain?"
"Andai aja Kia mau tinggal di London sama kita."
"Kita tunggu sampai Kia mau sayang, kita gak bisa memaksakannya."
Diana merenung. Lagi-lagi ia telah menyusahkan orang lain. Ia tidak percaya pada Revan, dia memilih bersama dirinya daripada mengurus bisnis yang sudah maju dan berkembang pesat. Dengan sedikit keberaniannya, ia masuk ke dalam kamar Revan.
"Kia!?"
"Ma-maaf Mah, kak Rev, Ak-aku gak sengaja denger obrolan kalian. Ak-aku gak maksud untuk menguping,"ujar Diana dengan penuh rasa bersalah.
"Bener kata Mamah kak, kakak sebaiknya ke London untuk mengurus bisnis kakak. Ak-aku udah terbiasa sendiri kak."lanjutnya.
"Tapi Mamah dan Kia disini, masa iya kakak tega ninggalin kalian,"sela Revan.
"Ma-mamah sama ka-kak pindah aja, ak-aku udah terbiasa sendiri kok,"kata Diana menyakinkan Revan dan Mamah.
"KIA!"teriak Revan dan Mamah.
"Gak sayang, Mamah mau disini, Mamah mau nemenin kamu disini,"ucap Mamah.
"Ta-tapi kak Revan?"
"Kakak bakal kesini sebulan sekali, bagaimana?"tawar Revan menaik turunkan alisnya.
"Mamah nanti kangen gimana?"tanya Diana lagi.
"Kan bisa vidiocall,"jawab Revan diangguki oleh Mamah.
Diana memeluk Mamah. "Makasih Mah,"ucap Diana.
"Kok Mamah doang yang dipeluk?"dengus Revan kesal.
"Yee... sirik aja!"ketus Mamah.
Diana terkekeh, melepaskan pelukan Mamah kemudian beralih ke Revan. Revan mengacak ngacak rambut Diana, rasanya senang sekali mempunyai seorang adik perempuan, bisa mengacak ngacak rambutnya soalnya. Dulu ia sangat ingin mempunyai seorang adik dan sekarang, ia mempunyai seorang adik yang cantik dan baik. Ia sangat bersyukur.
Rangkaian-rangkaian kata kebahagian tersusun dalam otaknya. Ada kakak dan Mamah yang meyayanginya dengan tulus disini. Walau bukan benar-benar saudara kandung tapi, mereka tetap menyayangi dirinya.
Andai saja aku seringan kapas,
Mungkin aku sudah terbang terbawa oleh angin.
Ibarat semut yang mendapat limpahan gulali manis.
Ibarat orang yang sedang berpuasa mendengar suara azan maghrib.
Itu semua diriku,
hidupku yang hitam pekat dihadiri oleh beberapa orang yang memberikan bercak-bercak warna-warni dalam hidupku.
Kiniku di atas,
Semoga selalu seperti ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments