Promise

Diana menatap Bulan, antara kesal dan senang. Senang karena ia mempunyai teman baru dan kesal karena dia telah berhasil membuat kamarnya seperti kapal pecah. Ia memijit kepalanya, duduk tepat dipinggiran kasurnya.

Bulan meloncat-loncat, menari-nari bak penari jaipong. Melempar-lempar bantal keatas, setelah jatuh dia melemparnya kembali. Bulan menghentikan aksinya, menatap Diana kemudian menyengir tanpa dosa.

"Maaf ya, aku seneng banget soalnya,"katanya duduk disebelah Diana.

"I-i-iya gak papa."

"Hmm, bye the way, kamu tinggal sendirian disini?"tanya Bulan dibalas anggukan oleh Diana.

"Orang tua kamu?"

"Meninggal,"jawab Diana.

"Maaf ya,"ucap Bulan merasa bersalah.

"Gak papa."

Bulan berfikir, kenapa bisa Diana berbohong kepadanya. Padahal ia tahu dari Alterio bahwa orang tua Diana itu pergi meninggalkan Diana dan mungkin mereka masih hidup. Lebih baik ia tidak mencari tahu lebih dalam tentang kehidupan Diana. Bisa saja Diana akan merasa tidak nyaman dengannya karena Diana sangat sensitif pada masalah keluarganya.

Seminggu sudah Bulan mengenal Diana tapi tak pernah sedikitpun Diana merasakan bahagia didekatnya, wajahnya tampak biasa saja tak menunjukan ekspresi apapun. Berulang kali dia melakukan hal bodoh hanya untuk membuat Diana tertawa, lagi dan lagi Diana tidak menampakan ekspresi lucunya.

Biar saja dia menderita jangan ada orang lain yang menderita karena kasus orang tua. Diana dibenci semua teman sekolahnya, Diana tidak mempunyai saudara, orang tua Diana pergi meninggalkan Diana dengan alasan malu mempunyai anak yang memiliki gangguan bicara atau kata lain 'gagap', dan masih banyak lagi kesedihan Diana yang belum dia ketahui.

Mulai hari ini, esok dan seterusnya, ia akan bertekad untuk membuat Diana tertawa. Ya. Ia dan Alterio akan bersatu untuk membuat Diana Starla Saskia bahagia. Entah dari mana dorongan tersebut muncul, sebuah tekad yang belum pernah ada dalam dirinya. Kini, karena ada Alterio dirinya benar-benar berubah, berusaha untuk menjadi cahaya dihidup Diana sama seperti Alterio.

Bulan bangkit dari duduknya, menyembunyikan sebelah kakinya dibalik selimut yang terjatuh dilantai. Ia berlari, kemudian dengan sengaja ia terjatuh. Yup, Bulan terjatuh karena sengaja. Alasan apalagi selain Diana, membuat Diana tertawa itulah tujuannya.

Diana panik, dia jongkok melihat kondisi Bulan yang masih dalam posisi sama, yaitu telungkup.

"Ka-kamu ngak papa?"

Bulan mendengus, bangun dari posisi telungkup. Ia menatap Diana dengan kesal, apa actingnya terlalu bagus hingga Diana tidak tertawa. Demi apapun Bulan ingin sekali mencakar-cakar wajahnya sendiri, sorot khawatir yang dipancarkan dari wajah Diana membuatnya merasa tidak tega.

"Emm, ngak papa kok,"sahut Bulan sambil merapihkan rambutnya yang berantakan.

"Ka-kamu be-beneran gak papa?"tanya Diana sekali lagi, merasa tak yakin kalau Bulan baik-baik saja.

"Iya beneran Bintang,"geram Bulan kesal.

Bagaimana Bulan tidak kesal coba, ia itu tadi hanya beracting jatuh dan itu bukanlah sungguhan. Berharap Diana tertawa tapi malah seperti ini jadinya.

"Hati-hati ya,"ucap Diana menepuk bahu Bulan.

"Diluar hujan ya?"alihnya.

Diana berlari melihat kebalkon kamarnya dan ternyata benar diluar sana sedang hujan. Diana berbalik badan menatap Bulan yang sedang berloncat-loncat kesenangan, entah apa yang membuatnya bergembira.

"Ka-kamu kenapa Bul?"

"Kita hujan-hujanan yuk?"

Bulan loncat dari kasur. Tanpa aba-aba lagi, Bulan menarik lengan Diana, mengajaknya untuk pergi kehalaman rumah.

Hujan turun dengan sangat lebat, bulan ini memang sering sekali hujan turun dan saat-saat ini adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh seorang gadis bernama Cahaya Bulan Edara.

"Kamu mau ikutan main air hujan?"tanya Bulan mejulurkan tangannya agar terkena percikan air hujan.

Diana menggeleng pelan. "Ja-jangan hujan-hujanan Bul, nan-nanti sakit."

"Kamu tunggu disini aja ya, aku mau hujan-hujanan dadah,"kata Bulan langsung menerobos derasnya air hujan.

Diana menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Bulan berputar-putar sambil berteriak kencang. Merasa diperhatikan Bulan melambai-lambaikan tangan kearah, mengajaknya untuk bergabung bermain air hujan.

Ia tersenyum, antara ragu dan ingin, ia memilih untuk bergabung bersama Bulan. Ikut meloncat-loncat, berteriak dan bergandengan tangan, menumpahkan semua kesedihan yang terus saja menjalar didiri mereka.

Langit?

Kemudian Bulan?

Apa mereka berdua telah mendengar suara hatinya, mereka datang seakan menjadi kekuatannya,

Bisakah ia bersedih saat setitik-titik kebahagian menyorobot masuk kedalam dirinya?

Bisakah ia berbahagia dalam kondisinya yang masih setengah terluka.

Jangan pergi Langit,

Jangan pergi Bulan,

Temani aku

Buatlah aku bahagia dengan tingkah lucu mu

Diana tersenyum bahagia, menatap wajah Bulan tanpa sepengetahuan Bulan. Bulan tertawa lepas begitupun Diana, tidak ada hal untuk ditertawakan tapi melihat Bulan tertawa, mulutnya ingin terbuka menyamakan suara Bulan. Bulan memeluk Diana, memeluknya erat, bagaikan adik yang memeluk kakaknya.

Diana diam membeku.

"Bulan?"batinnya.

                           OoO

Setelah Bulan dan Diana puas bermain air hujan. Kini mereka sedang menonton film horor ditemani dengan sepiring kentang goreng dan juga secangkir kopi susu, bukan untuk Diana melainkan untuk Bulan.

Bulan tampak biasa saja menikmati hantu-hantu yang berkeliaran dalam film tersebut, lain halnya dengan Diana, dia berteriak ketakutan saat hantu muncul ataupun suara backsound film yang terdengar menyeramkan. Selain menikmati filmnya, Bulan juga menikmati suara teriakan Diana yang sangat lucu menurutnya.

Diana sangat pokus pada layar televisi, ini adalah kesempatan terbaik untuk menjaili Diana, kapan lagi coba?

Bulan terkekeh, tangannya bersiap untuk menepuk punggung Diana dan---

"Aaaaaa...."

Lepas sudah tawanya, ia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Diana menatap Bulan horor, bagai kuntilanak yang siap untuk menerkam mangsa. Eh, tapi, memangnya bisa kuntilanak menerkam? Diana menggeleng, merubah kembali pemikiran yang menyamakan dirinya dengan kuntilanak seharusnya dirinya disamakan dengan superhiro yang bersiap mencabik-cabik wajah penjahat.

"Aku minta maaf,"sesalnya.

"Aku kaget!"ketus Diana.

"Yaudah jangan ngegas dong!"ucap Bulan tambah nyolot.

"Aku gak bisa ngomong kalo gak ngegas!"

" iya iya Bulan tahu."

Diana tertawa terbahak-bahak. Bulan bingung, apa yang sedang Diana tertawakan. Tapi, syukurlah karenanya Diana tertawa.

"Bintang, kamu adalah sahabat pertamaku. Aku pengen berbagi cerita sama kamu, suka ataupun duka aku begitu juga sebaliknya, kamu gak boleh ngerasa sendirian lagi, sekarang aku ada disini, siap denger keluh kesah kamu, siap untuk membantu memikul beban sama-sama."

"Kamu tahu ngak? Aku ini anak broken home, semua orang aku jauhi karena aku berpikir sebelum mereka menjauh, lebih baik aku menjauh terlebih dahulu dari mereka."

Diana dapat merasakan kesedihan yang mendalam saat Bulan berbicara. Ia memeluk Bulan, memberikannya semangat walau hanya setetes dalam lubuk hati Bulan.

Bulan melepaskan pelukannya.

"Berjanjilah Bintang, bahwa kamu akan selalu ada disamping aku dan aku akan selalu berada dalam suka ataupun duka."Bulan menunjukan jari kelingkingnya.

Diana tersenyum. Menyatukan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Bulan.

"Promise!"

Hanya hal kecil tapi membuat mereka bahagia. Bahagia karena mereka dipertemukan, nama Bulan dan Bintang terias didinding kamar Diana.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!