"Hai Bulan,"sapa Diana saat masuk ke dalam kelas.
"Hai juga Bintang,"Balasnya tanpa menoleh ke belakang.
Bulan terlihat sibuk mencari-cari sesuatu, mulai dari kolong meja siswa, meja guru dan lemari yang ada di kelas dia acak-acak. Diana meletakan tasnya di kursi, menatap Bulan yang masih sibuk mencari-cari sesuatu.
"Ka-kamu nyari apa sih?"tanya Diana.
Bulan berhenti dari aktifitasnya. "Ini Bin, buku diary aku ilang kayaknya ketinggalan deh,"ucapnya gelisah.
"Yaudah aku bantu cari,"kata Diana merasa sangat bersalah.
"Maaf Bulan, aku udah baca selembar kertas kamu tapi sumpah aku ngak baca bukunya"batinnya berteriak.
Diana mencari-cari buku Diary Bulan dibagian lain yang belum sempat Bulan cari. Diam-diam ia mengambil Diary Bulan didalam tasnya, ia menoleh menunggu saat yang tepat untuk mengembalikan buku itu.
"Bu-Bulan! Aku nemu ini!"teriak Diana sambil mengangkat buku diary itu atas-atas.
Bulan berlari kearahnya dan langsung memeluknya erat. "Makasih Bintang, ini buku aku."
Diana tersenyum, terus-terusan meminta maaf dalam hati. Sungguh ia tidak berniat untuk melakukan kebohongan ini, mempermainkan sahabatnya.
"Makasih makasih makasih Bintang, buku ini sangat berharga banget buat aku,"ucap Bulan melepaskan pelukannya.
"Sama-sama Bulan,"balas Diana sambil tersenyum tipis.
"Ada apa?"
Diana dan Bulan menoleh secara bersamaan mendapati Alterio yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Kepo!"ketus Bulan menarik lengan Diana untuk duduk kembali ke tempatnya.
OoO
5 menit yang lalu bu Shana memberikan amanat kepada Diana untuk memanggil Bulan dan Alterio ke ruang TU. Tapi saat hendak memanggil mereka berdua di dalam kelas, mereka berdua hilang bak ditelan bumi.
Perpustakaan
Mereka berdua pasti pergi ke sana. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya menuju perpustakaan yang letaknya berserbangan dengan kelasnya. Sesampainya di depan pintu perpustakaan, ia melihat Bulan dan Alterio sedang tertawa. Entah kenapa ada rasa sakit dalam dirinya ketika melihat Alterio dekat dengan Bulan, kepalanya menggeleng cepat, ia tidak boleh seperti ini. Biarkan mereka bersatu, mereka telihat sangat cocok. Wanita cantik dan pintar dengan pria tampan dan pintar juga, sangat serasi.
Diana tersenyum. Ia tidak boleh bersedih karena hal sepele seperti ini. Sedih akan memperburuk ganguan bicaranya, ia harus bahagia. Perlahan lahan ia menghembuskan nafasnya pelan, lagi dan lagi, mencoba untuk tenang.
Ia mengetikan sebuah pesan untuk Alterio. Walau tidak bertemu langsung tapi amanat harus tersampaikan.
To: Langit
Kamu sama Bulan dipanggil bu Shana di ruang TU
Send
Sebelum meninggalkan perpustakaan, Diana kembali tersenyum. Senyum itu mempunyai arti, merelakan.
OoO
"Lo oon banget sih Ter!"ucap Bulan kesal sambil memukul Alterio dengan buku novel yang tebalnya 320 halaman, kira-kira.
"Arghh, sakit Bul."Alterio meringis mengusap-usap bahunya.
"Lagian! Mana mau Bintang baca buku kayak gitu!"kesal Bulan.
Alterio berdecak. "Gue ngajak lo ke sini cuma mau tanya, buku yang disukai Diana itu buku tentang apa. Lo malah ketawa-ketawa! Gue nunjukin buku ini malah dibilang oon!"cerocos Alterio.
"Lo beneran mau ngasih buku perpus ke Diana?"
Alterio berdecak lagi. "Gue mau lo tunjukin bukunya, setelah itu gue beli di toko buku."
"Di sini gak ada, mending ke toko bukunya aja langsung. Nanti gue kasih tau deh,"ucap Bulan.
"Lo mau nganterin gue?"tanya Alterio dibalas anggukan oleh Bulan.
"Ah... dari tadi kek!"kesal Alterio.
"Ya siapa suru gak ngajak, gue mah mau-mau aja."
"Ke KUA mau?"
Bulan terdiam.
"Mau ya?"ledek Alterio.
"Apasih Ter, makin hari makin gaje aja lo!"ujar Bulan kesal.
Alterio tertawa, begitupun Bulan. Bulan tertawa bukan karena lucu tapi melihat Alterio tertawa rasanya senang dan ingin tertawa juga.
"Lo ngak baperan kan orangnya?"tanya Alterio tiba-tiba.
"Ngak lah!"sergahnya.
Beda ucapan mulut beda ucapan hati. Mulutnya mengatakan tidak tapi hatinya iya.
"Syukur deh! Gue gak mau tanggung jawab soalnya."
"Hm... gue perhatiin lo suka ya sama Bintang?"tanya Bulan tiba-tiba membuat Alterio terdiam.
"Eh-"
Ting
Sebuah suara notifikasi pesan masuk, memotong ucapan Alterio. Alterio membuka HP dan membaca pesannya.
Starsla🌠
Kamu sama Bulan dipanggil bu Shana di ruang TU
Alterio memasukan kembali handphonenya ke saku celananya.
"Kita dipanggil bu Shana di TU,"ucap Alterio.
OoO
Diana menyembunyikan semuanya, ia berusaha menutup rapat-rapat kesedihannya. Ia, Alterio dan Bulan berbicara seperti biasanya. Tak ada rasa canggung sedikitpun, anggap saja ia tidak pernah mengenal cinta.
Pertengkaran-pertengkaran kecil Bulan Alterio selalu ia dengar setiap harinya, itu hal yang membuat mereka semakin dekat dan dirinya semakin sakit. Benar kata Revan, cinta hanya membuat orang sakit.
Akankah ia terus seperti ini, terus-terusan bersembunyi untuk melindungi perasaan Alterio dan Bulan. Ia lihat, mereka sepertinya saling mencintai dan lagi-lagi kata serasi itu muncul dibenaknya.
Ia tidak membenci atau menyalahkan Bulan. Sesungguhnya cinta datang dengan sendirinya dan juga tak bisa dipaksakan. Ia meruntuki kebodohannya, kenapa bisa ia mencintai Alterio yang tergolong hampir sempurna sementara dirinya tidak. Alterio baik, tidak kepadanya tetapi banyak orang. Alterio adalah matahari, matahari untuk semua orang.
Ia tersenyum melihat Bulan, sedang tertawa karena candaan dari Alterio. Senang melihat mereka bahagia, lebih baik merasakan sakit sendiri daripada membuat orang tersakiti karenanya.
"Eh! Lo mau kemana Bulan?"tanya Alterio menarik lengan Bulan.
"Ya pulang lah! Masa mau ngindep di sini!"dengus Bulan.
"Lo ngak inget? Masuk mobil gue cepet!"perintah Alterio.
"Inget lah, gue naik mobil sendiri aja kalau naik mobil lo, mobil gue mau dikemanain!"
"Bulan. Masuk!"
Bulan mendengus kesal kemudian masuk ke dalam mobil Alterio. Diana terdiam, memperhatikan gerak-gerik Alterio. Alterio menatap Diana.
"Masuk Diana,"perintah Alterio lembut.
Diana menangguk kemudian masuk ke dalam mobil. Ia bersampingan dengan Bulan di belakang. Alterio menatap tidak percaya pada Diana dan Bulan, mereka pikir dirinya supir?
"Kalian pikir gue supir huh?! Stars! Pindah ke depan!"
"Eh, Bulan aja deh, aku pengen di belakang,"balas Diana.
"Stars... pindah ke depan, gue males deket Bulan,"ucap Alterio gemas pada Diana.
Diana melirik Bulan yang tengah dilanda emosi. "Langit jangan gitu!"
"Bintang pindah sana! Kalau kamu ngak pindah, abang supir gak bakalan jalan,"sindir Bulan melirik sinis Alterio.
"Gak denger!"pungkas Alterio.
Diana keluar dan masuk ke mobil Alterio, kali ini ia duduk di samping Alterio. Alterio tersenyum tipis kemudian menjalankan mobilnya.
Di perjalanan Bulan terus-terusan menggerutui Alterio, sesekali menatap sinis Alterio. Walau tak berhadapan, Alterio sudah tahu ada penampakan yang terlihat di kaca spion.
"Bintang lo tahu ngak? Supir yang ada di samping lo suka garuk-garuk pantat,"kata Bulan ke Diana.
Diana menoleh ke Alterio kemudian terkekeh. Memangnya Bulan suka memperhatikan ya kalau Alterio suka garuk-garuk pantat.
"Fitnah gue terus Bul! Fitnah aja sampe lo mampus!"sakras Alterio.
"Dih, siapa lagi yang ngatain lo. Orang supir yang ada di samping Bintang sih! G-R banget, najis!"balas Bulan.
Alterio menurunkan kaca yang ada di samping Diana. Terlihat angkot berwarna biru yang sedang di kendarain oleh seorang bapak-bapak. Ia mengangguk-ngangguk, semakin seru untuk bersilat lidah dengan Bulan.
"Segitu merhatiinnya lo ke supir itu. Jangan-jangan lo suka ya sama supir itu,"ledek Alterio.
"Bulan sukanya juga sama kamu Lang,"batin Diana.
"Diem Al, mulut lo bau azab neraka,"ucap Bulan sambil menutup hidungnya.
Diana dan Bulan tertawa sedangkan Alterio hanya diam, menyiapkan hal apa saja yang harus dilakukan untuk membasmi Bulan.
Alterio berdecih. "Kayak yang tau aja, bau azab neraka."
Diana tertawa lagi. Bulan dan Alterio bagai tikus dan kucing yang tak mau akur, ada saja yang mereka ributkan walau hanya hal kecil sekalipun.
"Mungkin Bulan pernah ke Neraka Lang,"sahut Diana.
"BINTANG!"teriak Bulan tak terima.
"Bagus Stars, lanjutkan."
"Ma-maaf Bul,"lirih Diana.
"Sans ae Bin, aku seneng liat kamu ketawa,"balas Bulan.
Diana tersenyum. Bulan baik, itulah hal pertama kali saat melihat Bulan. Tak lama, mobil Alterio berhenti di depan gerbang rumah Diana. Ia turun dari mobil begitupun Bulan, dia turun untuk pindah tempat.
"Hati-hati ya,"ucap Diana sambil tersenyum.
"Iya Bin, kalau gitu kita pergi ya,"ucap Bulan dibalas anggukan oleh Diana.
Mobil Alterio telah pergi menjauh sampai pada akhirnya menghilang dari pandangannya. Diana masih diam di tempat, rasanya setelah kepergian mereka berdua, dunia seakan datar kembali.
"Bulan sama Langit mau pergi kemana ya? Kenapa berbanding terbalik dengan rumah Bulan?"gumamnya pelan, kemudian masuk ke dalam rumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments