Episode 10

Kita mau nyanyi lagu apa?"tanya Alterio pada Diana.

Diana terdiam, menyanyi? Bahkan untuk bersuara pun ia sangat kesusahan apalagi bernyanyi. Ia menggeleng, ia tidak bisa bernyanyi. Ia tak peduli jika ia tidak akan mendapatkan nilai, hanya satu nilai tak akan membuatnya tidak naik kelas.

"A-aku ngak bi-bisa nyanyi,"lirihnya.

"Kamu pasti bisa Star, yang penting kamu usaha dulu. Bisa atau ngak itu urusan nanti,"ujar Alterio.

"T-tapi-"

"Kamu bisa! Aku yakin kamu bisa!"potong Alterio merasa yakin.

"A-aku beneran gak bisa nyanyi!"

"Kamu bisa!"

Diana melotot. "Ngak!"

"Bisa!"

"Gak!"ketus Diana sambil menodongkan pulpen kearah Alterio.

Alterio mengangguk pasrah. "Oke--"ucap Alterio menggantung. "Kita latihan besok di rumah aku gak ada penolakan!"

                           OoO

Di sekolah Diana tidak merasa kesepian karena ada Alterio tapi lain halnya jika di rumah, ia benar-benar merasa kesepian. Tidak ada yang menghiburnya dan juga tidak ada yang menemaninya.

Ia termenung di balkon kamarnya. Seperti biasa, ia memandang langit yang indah bersama bintang-bintang dan bulan. Pikirannya masih bertumpu pada penilaian seni budaya. Bagaimana caranya ia bernyanyi, ia sangat bingung. Sudah sangat lelah rasanya jika teman-temannya mengejek serta mentertawakannya. Saat kedatangan Alterio dihidupnya, ia merasa malu ditertawakan oleh teman-temannya, biasanya ia akan bersikap biasa saja.

Alterio selalu bersikap manis padanya tapi berbeda sikap pada semua orang, yang akan menjadi dingin ataupun ketus jika berhadapan dengan Alterio. Ia sempat bingung pada sikap Alterio padanya, apakah ia ini orang spesial bagi Alterio. Dengan cepat ia menggeleng, mana mungkin orang sepertinya ini bisa menjadi orang spesial bagi Alterio yang terlalu sempurna dimatanya.

Memang benar, tidak ada makhluk sempurna di dunia ini. Hanya tuhanlah yang sempurna tapi ia benar-benar tak melihat celah keburukan dalam diri Alterio. Hanya kelebihan, kelebihan dan kelebihan yang ia dapat.

Ting

Sebuah pesan whatsaap masuk, lamunannya buyar seketika. Ia melihat siapa yang mengirim pesan.

Langit

Besok aku jemput ya?

                                                     Diana

                                                    Aku gak bisa nyanyi

 

 

Langit

Astaga Star, aku kan bisa ngajarin kamu menyanyi.

 

 

                                                      Diana

                                                     Serius langit! Aku gak bisa

 

 

Langit

Besok pagi aku jemput kamu😉

 

 

Diana

Bodo lah

 

 

Langit

Tidur sana! Jangan liat langit terus, nanti besok juga ketemu.

 

 

Diana

🙄apaan sih,

 

 

Langit

Lah emng bener, aku kan langit

 

 

Diana

Iya nanti pas aku keluar rumah, aku udh liat langit diatas.

 

 

Langit

Aku gk bisa terbang🌠 jadi aku gk bisa diatas.

 

 

Entah kenapa, saat Alterio mengirimkan emoticon itu senyumnya tiba-tiba terukir. Emot itu seperti ada maksud tertentu, mungkin hanya dirinya yang tahu.

 

 

   Diana

Good night

 

 

Langit

Halus banget nyuruhnya, yaudah good night Star.

 

 

Diana terkekeh, tahu saja kalau dirinya mengucapkan selamat tidur karena ia menyelesaikan percakapan dan tidur.

 

 

"L-l-langit,"panggilnya sebelum ia menutup mata.

 

 

                           OoO

 

 

"Non Kia, ada abang-abang paket dateng!"teriak bi Rani didepan pintu.

 

 

Diana membuka kelopak matanya cepat kemudian bangun dari tidurnya. Ia menguap, melihat kearah jam bekker yang masih menujukan pukul 7 pagi.

 

 

Ia mendengus kesal. Abang-abang paket itu telah menganggu tidurnya, seharusnya ia tadi masih berada di alam mimpi tapi gara-gara abang-abang paket dan terutama bi Rani itu ia harus bangun.

 

 

Dengan langkah gontai ia keluar dari kamarnya. Masa bodo dengan penampilan yang masih acak-acakan, suruh siapa dia menganggu tidurnya.

 

 

Mulutnya tak berhenti-berhenti menguap, mata terpejam membuka pintu.

 

 

"Apa benar anda Diana Starla?"tanya orang yang sedari tadi menunggu Diana.

 

 

Diana mengangguk pelan, menatap kurir tersebut malas.

 

 

"Ini ada paket, silahkan tanda tangan disini,"kata kurir sambil menyerahkan bolpoint dan juga sebuah kertas.

 

 

Diana segera menandatangan bukti penerimaan barang dan setelah itu mengambil paket tersebut. Ia mengusap wajahnya gusar, ini pasti paket dari orang tuanya. Tumben sekali mereka mengirim kado, padahal ini bukan hari ulang tahunnya. Orang tuanya akan mengirim paket berupa kado, hanya pada hari ulang tahunnya.

 

 

Saat setahun setelah orangtuanya pergi meninggalkannya. Mereka memberikan sebuah paket dan itu berisi sebuah kata-kata umpatan yang menyuruhnya untuk tidak mencari mereka. Ia benar-benar sakit hati, berjanji bahwa ia tidak akan pernah membuka paket apapun yang dikirim oleh orang tuanya.

 

 

"Ma-makasih."

 

 

Diana tersenyum, senyum yang sangat terpaksa. Ia menatap paket itu dengan tatapan lelah. Lelah karena merasa percuma, mereka menyediakan apa yang ia butuh tapi mereka malu mempunyai anak sepertinya. Kenapa tidak sekalian saja mereka membunuhnya? Mereka malu kan? Tapi kenapa mereka tak membunuhnya atau dibiarkan berkeliaran di jalanan.

 

 

Ting nong

 

 

Diana menghembuskan nafasnya. Ia berbalik, kembali membuka pintunya.

 

 

"Ada apa lagi sih!"batinnya kesal.

 

 

Diana terdiam, sedikit terperangah. Ia pikir yang datang ke rumah itu kurir penghantar barang lagi tapi ternyata Alterio dengan senyum khasnya. Ia mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali, matanya mungkin salah masa abang kurir bapak-bapak berubah menjadi lelaki tampan, eh.

 

 

"Kenapa? Ganteng? Diliatin terus."

 

 

"I-ini beneran la-langit? K-kok mirip abang paket,"ucap Diana sambil menepuk-nepuk pipinya.

 

 

Alterio mendengus kesal. Sudah ganteng-ganteng begini masa dikira abang kurir.

 

 

"Kita latihannya di rumah kamu aja ya."

 

 

"Kenapa?"tanya Diana.

 

 

"Ada temen-temen kakak aku lagi kumpul,"jawab Alterio.

 

 

Diana mengangguk. "A-ayo masuk,"ajaknya.

 

 

Alterio masuk kedalam rumah Diana untuk yang kedua kalinya. Seperti biasa, rumahnya sepi seperti tidak berpenghuni. Ia duduk di sofa.

 

 

"A-aku ma-mandi dulu ya,"ujar Diana.

 

 

"Kamu belum mandi?"tanya Alterio dibalas gelengan oleh Diana.

 

 

"Ka-kamu mau mi-minum apa? Biar bi-bi Rani yang bu-buatin."

 

 

"Air putih aja Star."

 

 

"A-air pu-putih aja? Gak mau yang la-lain?"

 

 

"Iya air putih aja."

 

 

"Oke,"ujar Diana kemudian pergi.

 

 

Setelah Diana pergi. Alterio bangkit dari duduknya, melihat-lihat foto yang terpajang di dinding ruang tamu. Seketika senyum Alterio muncul ketika melihat foto Diana kecil, kira-kira umurnya mungkin 5 tahun.

 

 

Matanya beralih pada sebuah foto keluarga, dipinggir bingkai terdapat banyak paper note yang menempel. Ia yakin itu adalah tulisan Diana.

 

 

I love Ayah Bunda❤

 

 

I hate you

 

 

I Miss you

 

 

I hate

 

 

I hate

 

 

I hate

 

 

I miss

 

 

I hate

 

 

I miss

 

 

Hatinya teriris membaca paper note yang tertempel di bingkai foto keluarga. Betapa sedihnya Diana dibenci dan ditinggalkan oleh orang tuanya sendiri. Wajar saja Diana merasa benci terhadap orang tuanya tapi ia sangat yakin dilubuk hati Diana, dia sangat merindukan orang tuanya.

 

 

Ia beralih pada foto selajutnya, foto yang berisi orang tua Diana dan seorang anak laki-laki. Siapa dia? Yang ia tahu Diana tidak mempunyai seorang adik ataupun kakak. Diana adalah anak tunggal dikeluarga ini tapi, siapa anak itu?

 

 

"La-langit?"

 

 

Alterio menoleh, mendapati Diana yang sudah berpakaian rapih. Terlihat tatapan Diana yang menatap Alterio bingung.

 

 

"Ka-kamu lagi nga-ngapain?"tanya Diana.

 

 

Alterio mendekat kearah Diana. "Oh, ngak, aku cuma ngeliat-liat foto kamu,"jawab Alterio santai.

 

 

"Hm, Stars?"

 

 

"Apa?"

 

 

"Laki-laki itu?"tanya Alterio sambil menunjuk kearah seorang anak laki-laki didalam foto.

 

 

Diana menggelengkan kepalanya pelan, jangankan Alterio, ia saja tidak tahu dia itu siapa? Entah sepupu atau siapa, yang jelas dia bukanlah kakaknya.

 

 

"Ak-aku tidak tahu."

 

 

"Bagaimana bisa?"

 

 

"Me-mereka ti-tidak mem-memberitahuku."

 

 

Alterio mengangguk, jika ia terus mengingatkan Diana pada kedua orang tuanya, Diana pasti akan sedih. Entahlah, pria itu sama sekali tak penting bagi dirinya ataupun Diana.

 

 

"Ayo, kita mulai saja latihannya,"ajak Alterio mengalihkan pembicaraan.

 

 

"La-langit, suara aku?"

 

 

Alterio tersenyum, mengenggam telapak tangan Diana erat. Diana sontak kaget yang tiba-tiba saja Alterio menggenggam tangannya. Alterio mengangkat genggaman tangannya dan tangan Diana keatas.

 

 

"Anggap saja aku adalah kekuatanmu dan anggap saja jika kau menggenggam tanganku kutukan itu hilang.

 

 

"Aku akan menjadi kekuatanmu, kapanpun kamu membutuhkannya."

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terpopuler

Comments

Rull N

Rull N

uwu

2020-04-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!