Sudah 3 jam Revan menunggu Diana pulang. Matanya meneliti satu persatu foto yang tertempel di dinding. Seketika mulutnya berdecih melihat wajah kedua orang itu tertempel di dinding, rasanya sangat muak.
Berpuluh-puluh papernote tertempel di bingkai foto keluarga. Satu-persatu ia membaca tulisan tangan Diana, ia tidak lelah karena tulisan itu berisi kebeciannya pada ayah dan bundanya.
I Hate
I Hate
I Hate
I Miss Bunda Ayah
I Love Bunda Ayah
Hanya kata-kata itu, seluruh sisi bingkai dipenuhi oleh kata-kata itu. Kata-kata itu berdominan, 'I Hate' baguslah, biar saja adiknya membenci mereka.
"O-om siapa?"
Revan berbalik, mendapati seorang wanita berbaju seragam. Ia bisa menyimpulkan kalau orang yang ada dihadapannya ini adalah adiknya. Ia menarik lengan wanita itu kedalam dekapannya, wanita itu berontak, mendorong dada Revan.
"Om siapa!?"
Revan tersenyum saat adiknya dua kali memanggilnya dengan 'Om' apakah dirinya setua itu? Sampai-sampai dipanggil 'Om'.
Diana menatap Revan bingung, ditanya malah tersenyum. Aneh, pikirnya.
"Aku kakakmu,"jawab Revan lembut.
Diana menggeleng sambil menutup matanya. "Ngak! Aku ngak punya ka-ka."
"Kita satu ayah, Diana,"balas Revan.
Diana menatap Revan sekali lagi, mencari-cari kebohongan dimata Revan tapi tidak ada, dia serius saat mengatakan itu. Revan berbalik badan, menunjuk-nunjuk sebuah foto yang tertempel di dinding.
"Ini aku Diana, kamu adikku."Revan mengambil sebuah foto dan menyodorkannya ke Diana.
Diana mengambil bingkai itu, mengamati secara detail fotonya sesekali ia melihat kearah Revan. Mirip memang, dari mata, hidung serta sebuah lesung pipit disebelah kanan.
"Kamu percaya?"
Diana mengangguk tapi sedetik kemudian dia menggeleng membuat Revan yang tadinya senang menjadi murung kembali. Sebenarnya Diana percaya atau tidak?
"A-aku pe-percaya. Tapi maaf, kalau kamu kesini cu-cuma mau menghina aku, sebaiknya kamu pergi aja."
Revan memegang kedua telapak tangan Diana. "Hei! Aku tidak seperti orang tuamu, aku juga baru tahu kalau ternyata aku itu mempunyai seorang adik yang sangat cantik. Andai saya kakak tahu kamu dari dulu, kakak akan datang kesini, menemanimu, memberikanmu semangat."
Diana mengantupkan bibirnya rapat, tak sanggup untuk menatap orang dihadapannya lebih lama lagi. Mendengar suaranya saja, ia sudah yakin kalau dia tidak berbohong. Mati-matian ia menahan air mata yang hendak keluar tapi sebisa mungkin ia menahannya.
"Maaf kakak baru datang, maaf kakak gak bisa jadi superhiro kamu, maaf--"ucap Revan menggantung.
"Karena kakak kamu menangis."lanjutnya.
Diana memeluk Revan. Ia menangis sekencang-kencangnya dipelukan Revan. Tangan Revan mengelus rambut Diana, bukan hanya Diana yang menangis tapi Revan juga menangis. Mendengar Diana menangis, membuat hati Revan sangat sakit.
"Jangan menangis, nanti bintangnya gak punya cahaya lagi,"bisik Revan.
Diana tersenyum, menghapus air matanya. Satu persatu orang yang peduli padanya datang, ia berdoa semoga mereka tidak pergi.
Revan menyudahi pelukannya, menghapus air mata yang masih mengalir dimata adiknya. Padahal ia tahu kalau adiknya sudah menghapusnya, tapi tetap saja air mata itu mengalir.
"Satu air mata sama dengan jarum yang menusuk dihati kakak, jadi kalau kamu mau nyakitin kakak, nangis aja terus ya,"canda Revan.
Diana tersenyum kembali. Ia berjinjit, berusaha menghapus air mata Revan. "Ka-kakak ju-juga jangan menangis, satu tangisan kakak sa-sama dengan sa-satu jarum yang menusuk hati aku,"ucap Diana mencoppy ucapan Revan.
Revan tertawa kemudian mengacak-ngacak rambut Diana dengan gemas. "Dilarang menyalin ucapan orang!"tegasnya.
Diana tertawa begitupun Revan. Mereka pun kembali berpelukan, walau hari ini hari pertama kali mereka bertemu, hubungan batin memang kuat.
OoO
"Kia?"
"Kia!?"
Sedari tadi Revan memanggil Diana, sebagian ruangan telah ia periksa mulai dari kamar Diana, ruang tamu, ruang keluarga dan gudang tapi ia tidak menemukannya.
"Saskia?"
Dapur, disinilah dirinya sekarang. Tak menyangka, sepagi ini adiknya sibuk berkutat di dapur dan sendirian. Ia merasa bangga, adiknya sangat pemberani dan juga pinta. Ya, pintar menutupi kesedihannya.
"Ka-kak?"kagetnya.
"Kamu ngapain disini?"tanya Revan melihat nasi goreng yang sudah tersusun rapih dipiring.
"Ma-masak kak,"jawab Diana.
"Sendirian? Mana Bi Rani?"
"Lagi ke rumahnya kak, anaknya lagi sakit."
"Oh... gak takut?"
"U-udah biasa kak,"jawab Diana sambil meletakan beberapa piring dimeja makan. "Ayo kita makan kak,"lanjutnya.
Revan duduk berhadapan dengan Diana. Menatap sebentar Diana kemudian menyendok nasi goreng dan memasukannya kedalam mulutnya. Matanya melotot merasakan hal luar biasa yang mengaduk-ngaduk dalam mulutnya. Tak butuh waktu lama, nasi goreng yang ada dipiring sudah habis tak tersisa. Cara ia makan seperti tidak makan selama berhari-hari, sangat lahap.
Diana menatap jengah piring kosong Revan, dia lapar atau suka? Nasi yang ada dipiringnya saja, baru habis setengahnya dan dia sudah bersih.
"Ka-kak lapar?"
"Enak! Masakan kamu enak! Kamu belajar dari mana?"
"In-internet. Kalau kakak mau, aku bisa bikinin kakak setiap hari,"jawab Diana.
"Makasih."
Untuk pertama kalinya, ada orang yang memuji masakan Diana. Ia sangat senang, rasanya ia ingin terbang ke awan karena pujian Revan. Senyuman dibibirnya tak luntur begitu saja, aura kebahagian terpancar diwajahnya bagai pancaran cahaya.
"Kia, kamu mau ngak tinggal sama kakak di London,"tawar Revan ragu.
Diana tersedak. "Ap-apa kak?"
"Kamu mau kan tinggal di London?"tawarnya sekali lagi.
Diana diam. Kalau ia pergi ke London, itu artinya ia tidak akan bertemu Alterio dan Bulan lagi. Karena mereka lah dirinya bisa sekuat dan setegar sekarang, sungguh, ia tidak ingin berpisah dengan mereka.
"Kamu pasti gak mau ya?"tebak Revan.
"Hmm... Kia, bu-bukannya gak mau kak. Tapi, hm..."
"Gak papa Kia, kalau kamu ngak mau kakak ngak bakal maksa kamu. Biar kakak aja yang tinggal disini,"potong Revan.
"Ta-tapi kak, mama kakak?"
"It--"
Ting Nong
Baru saja Revan hendak berbicara, suara bel rumah berbunyi. Diana bangkit dari duduknya.
"Be-bentar kak, a-aku lihat dulu."
"Eh tunggu! Biar kakak aja!"Revan tergesa-gesa bangun dari kursi dan berjalan cepat menuju pintu rumah.
Diana menggelengkan kepalanya. Ia yakin, yang datang kesini kalau bukan Alterio ya Bulan. Hanya mereka berdua yang setia bulak-balik kerumahnya, tak ada tamu ataupun tetangga yang mengahampiri rumahnya.
"STARLA!"panggil Revan.
Diana menoleh kesumber suara menampilkan Revan yang sedang menyengir, menunjukan deretan giginya. Ia bingung, siapa yang datang tadi? Kalau itu adalah Bulan, pasti dia sudah menerobos masuk dan kalau saja itu Alterio, dia akan menunggu diluar dengan gaya coolnya sambil menunggu Diana sendiri yang datang menghampirinya.
Tiba saja, ada seorang wanita paruh baya muncul dibalik badan Revan yang tinggi. Wanita itu melempar senyum kearahnya, imut dan cantik itulah hal yang pertama kali orang pikirkan saat melihat wanita itu. Diana benar-benar membeku, tak berucap ataupun bergerak sedikitpun. Pandangannya kini tertuju pada lantai.
"Hai sayang,"sapa wanita itu memeluk Diana.
"Ini Mamah, kamu ngak kangen?"
Mamah? Ini Mamah Revan kah? Ia ingin membalas pelukannya tapi, apakah wanita ini akan menjauh ketika tahu semua tentang dirinya. Ia bergerak tak nyaman, berniat untuk mengakhiri acara pelukannya.
"Ini Mamah kakak Ya. Kamu gak usah takut, Mamah udah tahu kok semua tentang kamu,"ujar Revan seakan tahu pikirannya.
"Iya Kia, kamu ngak usah takut Mamah gak kayak Bunda dan Ayah kamu kok. Mamah sayang sama kamu,"sambung wanita itu.
"Be-beneran?"
"Iya sayang, Mamah beneran,"jawab wanita itu sungguh-sungguh.
Diana langsung memeluk wanita itu. Wanita itu tersenyum kearah Revan kemudian mengusap-usap rambut Diana lembut.
"Jangan nangis... Mamah marah kalau kamu nangis!"ancam wanita itu.
Refleks Diana menghapus air matanya. Sementara Revan dan wanita itu tertawa lucu. Satu oranh yang menyayanginya datang lagi, apakah hal ini akan berlanjut atau malah sebaliknya? Semoga saja, hal seperti ini akan terus berlanjut.
"Ki, Ayahmu masih mengirim uang?"tanya Revan.
Diana melepaskan pelukannya kemudian mengangguk.
"Semua kebutuhan kamu, sekarang kakak yang akan tanggung. Jadi, uang yang dikirim oleh ayahmu tidak akan berguna lagi."
"Kalau kamu dapat kiriman apapun lagi dari orang tuamu, buang saja! Kalau bisa, kirim balik!"tegas Revan.
Wanita itu merangkul Diana. "Sekarang ada kami, kami akan mengurusmu dan menyayangimu. Kami tidak mau kamu berlarut-larut dalam kesedihan,"ucap wanita itu.
"Hari ini juga kita akan pindah Rumah, kakak gak mau kamu terus mengingat-ngingat masa lalumu disini."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments