Seorang gadis berjalan santai menikmati segarnya udara dipagi hari. Tak ada yang lebih nikmat dari kopi susu dan sebungkus roti coklat untuk sarapan dipagi hari. Ia menghirup dalam-dalam udara kemudian menghembuskannya, membebaskan beban pikiran yang telah menghilangkan jati dirinya selama bertahun-tahun lamanya.
Awan mendung tiba-tiba menari-nari di atas, meniup dan menggeser awan putih. Ia mendongkak keatas kemudian tersenyum tipis. Selain kopi susu dan roti coklat, ia juga menyukai bau air hujan yang bercampur dengan tanah, sangat unik baunya.
Perlahan rintik kecil berubah menjadi hujan lebat. Dulu ia takut dengan hujan tapi sekarang ia sangat menyukai hujan, dulu ia sangat membenci petir tapi sekarang petir bagaikan melody dalam dirinya.
Sekarang ia lebih kuat dan lebih berani melawan apapun juga. Menentang orang tua adalah santapan sehari-harinya, tak peduli ia mendapat gelar sebagai 'anak durhaka' oleh asisten rumah tangganya, karena hanya mereka yang tahu kehancuran keluarganya. Mereka menganggap bahwa keluarganya adalah keluarga yang paling bahagia, mereka bahkan ingin menjadi bagian dari keluarganya. Tapi, mereka tidak tahu kalau orang tuanya dan dirinya hanya memakai topeng, berpura-pura untuk bahagia padahal HANCUR.
namanya, Cahaya Bulan Eddara, mereka biasa memanggil dengan nama Aya atau Bulan. Orang-orang lebih sering memanggilnya Bulan. Dirinya introvert, susah bergaul, cuek dan tidak suka kebisingan. Banyak orang yang ingin berteman dengannya, tapi ia terlalu cuek soal teman. Bukan karena sombong atau apa, ia tidak mau kejadian yang sama terulang kembali, sudah cukup ia terpuruk dengan masa-masa itu.
Suara petir menggelegar, ia tertawa senang mendengar suara itu. Lebih baik ia mendengar suara itu daripada mendengar makian, hinaan dan bentakan dari dari mulut kedua orang tuanya. Ia meneduh disebuah warung, bajunya telah basah kucup.
"Neng! Neng kehujanan?"tanya seorang wanita paruh baya pada Bulan.
Bulan mendongkak, menatap wanita itu sebentar. Ingin mengumpat tapi tidak tega, wanita ini terlihat peduli padanya.
"Iya,"jawabnya datar.
"Mau bibi buatin susu atau teh? Hujan-hujan begini enaknya minum-minuman hangat,"kata wanita itu lagi.
"Tidak usah Bi."
"Haduh neng, nanti masuk angin,"ucap wanita itu terlihat sangat khawatir.
"Kalau masuk angin juga, tidak akan ada yang peduli."
"Neng anaknya pak Ednan dan ibu Dara kan?"tanya wanita itu penasaran.
"Maaf, saya tidak punya orang tua,"jawab Bulan kemudian berlari menembus derasnya air hujan.
Diana berdiri di tengah-tengah lapangan yang cukup luas. Air yang menggenang direrumputan,
Menenggelamkan kakinya. Ia kedinginan, sedari tadi ia berada dibawah derasnya air hujan, angin kencang seakan menghempaskan dirinya keudara.
"Hei! Bulan! Kenapa lo hujan-hujanan?"
Bulan membalikan badannya. Menatap seseorang dengan antusias sekaligus kaget.
"Alter? Kenapa lo disini?"tanya Bulan.
"Gue nanya lo, kenapa lo nanya balik!"dengus Alterio.
Bulan menatap Alterio datar sedangkan Alterio terkekeh lucu. Baru dua kali Bulan bertemu dengan Alterio tapi mereka sudah akrab seperti kenal bertahun-tahun.
"Ayo, berteduh ntar lo sakit."Alterio menarik lengan Bulan, mencari tempat berteduh.
OoO
Bulan mempunyai daya tahan tubuh yang kuat, buktinya walaupun dia berlama-lama dibasahi air hujan, ia tak sakit sama sekali. Ia selalu kesepian, dirumah maupun di sekolah tapi semenjak ia mengenal Alterio, sungguh senyumnya ini akan muncul ketika terbayang wajah Alterio.
Pertemuan pertama terjadi saat dirinya tengah menangis di taman. Hari itu seharusnya hari dimana ia memperkenalkan diri sebagai siswa baru tapi karena ia mendengar orang tuanya berteriak kencang, ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke sekolah baru.
Ia termenung, mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Alterio.
Taman adalah tempat terbaik untuk mengutarakan kesedihannya. Hanya sendiri, ia benar-benar sendirian, tak ada orang yang berlalu lalang karena warna langit mulai menghitam.
Ia kaget, tiba saja seseorang menepuk bahunya. Ia pun menoleh, melihat orang yang menepuk bahunya.
"Lo siapa?"tanya Bulan ketika melihat seorang laki-laki menatapnya kaget.
"Maaf, gue kira lo temen gue,"jawab laki-laki itu.
"Oh... iya, ngak pa-pa,"lirihnya.
Lelaki itu duduk disebelah Bulan. Memandang lurus kedepan tanpa menoleh kearahnya sedikitpun. Bulan menatap lelaki itu bingung, siapa dia? Kenapa dia tiba-tiba duduk disebelahnya?
"Ini udah malem, gak baik perempuan sendirian diluar rumah,"kata lelaki itu yang masih menatap lurus kedepan.
"Udah biasa."
Lelaki itu menatap Bulan dengan seksama, tatapannya seolah mengatakan kalau dia tidak sedang main-main.
"Kalo lo mau curhat, curhat sana sama tuhan jangan sama benda mati, percuma aja mereka gak bakalan denger!"
"Jangan sok tahu deh!"ketus Bulan.
"Gue punya temen eh bukan! Dia sahabat gue, sama kayak lo, suka curhat sama Bintang, Bulan atau langit."
Bulan terdiam sesaat, ia bertanya-tanya dalam hati. Apakah orang yang yang dimaksud lelaki ini sama dengannya? Sama-sama mempunyai penderitaan.
"Eh, btw, lo sama gue satu sekolah? Seragam lo sama kayak gue,"ucap lelaki itu melihat baju seragam Bulan yang sama dengannya.
Bulan menggeleng. "Gue pindahan, tadinya gue mau hari ini masuk sekolah tapi mungkin besok atau lusa atau mungkin minggu depan."
"Kenapa gak besok aja?"
"Lo gak perlu tahu."
Lelaki itu mengangguk-ngangguk mengerti, kemudian menyodorkan tangannya. "Kenalin, nama gue Alterio panggil aja Alter."
Bulan tersenyum, membalas jabatan tangan lelaki bernama Alter itu. "Cahaya Bulan, panggil gue Bulan."
Entah kenapa saat Alterio memperkenalkan diri, ia malah ikut memperkenalkan diri. Kedua sudut bibir Bulan terangkat membentuk senyuman manis. Ia merasa aman dan nyaman saat berada didekat Alterio, itulah faktanya.
"Bulan! Nak kamu dimana?"
Mamahnya, ia yakin itu pasti suara mamahnya. Suara itu serak, seperti suara sehabis menangis. Dengan cepat ia keluar dari kamarnya, berlari-lari mencari sosok yang memanggilnya tadi.
"Bulan!"
"Mamah,"lirih Bulan memeluk erat mamahnya.
"Maafin Mamah sayang, Mamah rasa, Mamah gak bisa tinggal lagi sama papah,"ucap Dara-mamah Bulan.
Bulan mengelengkan kepalanya pelan. Tidak! Ia masih menginginkan keluarganya yang lengkap. Bulan melepaskan pelukannya, tangannya terulur menghapus air mata Dara yang terus mengalir.
Ia tidak boleh egois, percuma saja orang tuanya hidup dalam satu atap tapi hanya ada pertengkaran batin dan fisik. Disini, mamahnya lah yang paling menderita, bukan dirinya apalagi papahnya.
"Tapi--Bulan?"
"Bulan kamu ikut Mamah ya sayang? Kamu mau kan ikut Mamah?"
Inikah akhir dari semua perjuangannya? Berusaha mempertahankan agar mereka tidak berpisah tapi usahanya sia-sia tidak ada lagi yang bisa dipertahankan disini.
"Tidak bisa! Bulan tinggal sama saya!"
Ednan, itu suara Ednan-papah Bulan. Suara itu menggelegar bagai petir yang menyambar-nyambar bukan petir lagi, suara ini mirip seperti suara keledai yang kehausan, ia benar-benar membenci itu.
"Kamu boleh pergi! Tapi ingat! Jangan pernah bawa Bulan pergi dari sini dan juga jangan pernah menemui Bulan lagi!"tegas Ednan.
Dara membatingkan vas bungga yang berada didekatnya. Bulan ketakutan, tangan dan kakinya bergetar karena terus-terusan melihat pertengkaran orang tuanya.
"DIA ANAK AKU! AKU YANG MENGANDUNGNYA! JADI AKU PUNYA HAK ATAS BULAN!"teriak Dara.
Ednan menggeram marah, rahangnya mengeras. Tangannya terangkat, bersiap untuk menampar Dara.
"CUKUP MAH! PAH! KALIAN UDAH BUAT BULAN GILA!"
"Kalian pikir aku bahagia? Ngeliat papah sama mamah setiap hari berantem? Kalian pikir cuma kalian yang menderita disini? Aku mah! Pah, aku juga sama menderita!"
"Pernah gak sih Mamah sama Papah nanyain tentang sekolah Bulan! Nanyain tentang Bulan punya temen atau ngak! Atau kalian ngucapin aku selamat tidur? Kalian cuma bisa bikin aku gila!"
"Mah sekarang aku ngak akan ngelarang Mamah pergi lagi, silahkan pergi, Mamah boleh kok kapanpun ngunjungi aku, tapi itupun kalau Mamah gak sibuk dan--"
"Pah! Aku sayang papah, papah bisa kan, ngizinin Mamah untuk nemuin Bulan. Bulan masih butuh mamah, Bulan masih butuh Papah, seandainya kalian akur, mungkin Bulan akan menjadi orang yang paling bahagia."
Ednan dan Dara sama-sama terdiam, meresapi kata demi kata yang terlontar dari mulut Bulan. Dara menatap Ednan sendu, kemudian menarik kopernya.
"Maaf Bulan, Mamah gak bisa jadi Mamah yang terbaik buat Bulan. Kamu baik-baik ya sama papah, nanti Mamah akan sering-sering kesini."
Bulan menatap jengah kepergian sang Mamah. Setelah Dara bener-benar tak terlihat lagi, ia menatap Ednan sekilas.
"Selamat sore Pah, Bulan sayang papah."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Ilan Irliana
yah....alter bs dilema milih diana a/ bulan..
2020-03-24
1