Bukan tandingan

Alterio benar-benar merasa bingung dimana keberadaan Diana sekarang. Sudah hampir malam, ia belum juga menemukan ujung batang hidung Diana. Seluruh penjuru sekolah sudah ia cari tapi tidak ketemu, kemudian tak sampai di sekolah saja, ia mencarinya ke luar sekolah, di rumah Diana dan daerah sekitar perumahan Diana sama saja, hasilnya nihil.

Ia menundukan kepalanya, bukan karena ia lelah dan putus asa mencari Diana tapi perasaan khawatir lah yang mendomisi pikirannya. Matahari sedikit demi sedikit mulai turun, warna langit yang semula bewarna jingga kini menjadi hitam. Matanya tak lelah mencari-cari Diana di sepanjang jalan.

Alterio menghentikan mobilnya, menajamkan pengheliatannya ke seorang perempuan yang sedang duduk di atas tanah. Itu Diana, matanya tak mungkin salah. Perempuan itu mengenakan baju seragam yang sama dengannya, dan juga sendirian. Siapa yang mau duduk di atas tanah malam-malam begini, apalagi perempuan.

Alterio turun dari mobilnya, melangkahkan kakinya ke arah perempuan itu berada. Perempuan itu menangis sambil menatap gelapnya langit. Bahunya pun bergetar hebat, mungkin karena dia terlalu lama menangis.

Ia menepuk bahu perempuan itu pelan. Perempuan itu menoleh, matanya yang sembab dan berair menatap Alterio sendu. Alterio kaget, ia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak menyangka.

"Lo siapa?"tanya perempuan itu.

Alterio menatap perempuan itu. "Maaf, gue kira lo temen gue,"kata Alterio pada perempuan itu.

"Oh... iya, ngak pa-pa,"lirihnya.

                         OoO

Alleo, ia sedang di dalam mobil. Menelponi semua teman-teman adiknya. Hari sudah semakin gelap tetapi adik satu-satunya itu tidak pulang. Dia tidak mengabarinya dan sekarang, handphone dia malah tidak aktif.

Alleo berdecak kesal, ia khawatir pada Alterio. Kalau sampai terjadi  sesuatu pada Alterio, ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, menyalahkan dirinya sendiri yang tidak becus dalam mengurus adiknya.

Ia turun dari mobil, menunjukan sebuah foto Alterio pada warga-warga setempat. Siapa tahu, mereka melihat Alterio.

Hasilnya tidak memuaskan, para warga yang ia tanyai tidak tahu dan bahkan acuh terhadapnya, pura-pura masuk ke dalam rumah, seakan dirinya adalah seorang penagih hutang atau peminta sumbangan.

Alleo berdecak kesal. Selama ini ia besikap baik pada semua orang tapi malah tidak dihargai, berusaha sabar dan tidak mengeluarkan sisi jahatnya kepada siapapun juga. Saat hendak masuk ke dalam mobil, ia melihat sesosok perempuan pingsan, jarak antara dirinya dan perempuan itu kira-kira 10 meter, lumayan jauh tapi ia masih bisa mengenali perempuan itu.

Ia berlari, mendekati perempuan itu. Tidak salah memang, dia adalah perempuan yang disukai oleh adiknya. Dia pingsan, ia segera mengangkat perempuan itu dan membawanya masuk ke dalam mobil.

                          OoO

Diana membuka matanya pelan, melihat keadaan sekitar yang sangat asing baginya. Dengan cepat ia bangun, menyadari kalau dirinya ada di tempat asing. Sebuah kamar bercat putih biru, luasnya sama persis seperti luas kamarnya. Ia berada disini, disebuah kamar yang belum pernah ia lihat.

"Kamu sudah bangun?"tanya seseorang membuatnya tersentak kaget.

Seorang pemuda memakai pakaian formal datang membawa semangkuk bubur beserta minumnya di nampan yang dia pegang. Diana ketakutan, takut orang ini adalah orang jahat.

"Jangan takut, saya tidak jahat,"ucap pemuda itu sambil duduk disebelah Diana.

"Kamu tahu Alterio?"tanyanya.

Diana mengangguk.

"Saya kakaknya, kamu tadi pingsan di pinggir jalan."

Diana bergerak tak nyaman, walau ia sekarang tahu kalau Alleo adalah kakak Alterio, tetap saja, ia merasa sangat takut. Keningnya berkeringat, telapak tangannya mengepal menahan ketakutan yang mendera dirinya.

Ia harus mengucapkan terimakasih pada Alleo. Bagaimana pun, Alleo sudah menolongnya saat ia pingsan di jalan. Tapi, lagi-lagi suaranya menghentikannya untuk membuka mulut.

Selalu tenang dan pikirkan kebahagian

Ucapan Alterio selalu mengingatkannya, agar ia selalu tenang dalam berbicara. Semakin gugup, ia akan semakin susah untuk berbicara.

"T-terimakasih!"

Lega, sudah mengucapkan kata terimakasih. Usahanya tidak sia-sia, ia bisa mengucapkan kata itu walau sedikit susah.

Alleo tersenyum tipis. "Sama-sama,"balas Alleo.

Ceklek

Pintu terbuka, menampilkan seseorang yang menatap Alleo keheranan setelah itu menatap Diana. Dia masuk, wajah lelah terpancar diwajahnya.

"Abang mencarimu Ter, handphonemu kenapa tidak aktif?"tanya Alleo khawatir pada orang itu.

"Aku lelah bang,"lirih Alterio melirik Diana sekilas.

"Kenapa? Jangan bikin abang khawatir Ter!"ucap Alleo sedikit kesal, adiknya ini suka sekali bermain teka-teki dan mempersulit kata.

"Tero nyari orang tapi ternyata orangnya lagi disini,"kata Alterio sinis.

Alleo menoleh kearah Diana. "Diana tadi pingsan di jalan, jadi abang bawa kesini."

"Yaudah, abang keluar dulu, awas! Jangan macem-macem!"ujar Alleo sebelum pergi meningalkan mereka.

Alterio duduk disebelah Diana. Baru beberapa jam kehilangan Diana saja membuatnya khawatir sampai keubun-ubun apalagi Diana sampai benar-benar menghilang, sudah hilang akal sehatnya, mungkin.

"Aku tahu kok kamu sedih gara-gara ucapan manusia itu, tapi tolong kamu jangan buat aku khawatir,"ucap Alterio.

"A-aku ngak papa kok."

Alterio menghela nafas kasarnya. "Kamu pingsan Star, kalau aja bukan kakak aku yang nolongin kamu, kamu ngak bakal ada disini Star."

Benar, kalau bukan karena Alleo, entah apa yang akan terjadi padanya. Ia sadar, kalau ia hidup hanya untuk menyusahkan orang lain, ia tidak berguna, tidak ada yang mau dekat dengannya, jika pun ada, tidak akan bertahan lama.

Adanya sosok Alterio dalam hidupnya, membuatnya semangat, membuatnya selalu tersenyum dalam menjalani setiap luka. Ia pergi tadi pagi, karena ia tidak mau Alterio mendapatkan ejekan dari teman-temannya, Alterio akan malu jika terus bersamanya.

"Aku ada disini, aku akan terus disamping kamu. Mau kamu senang ataupun susah,"

Diana menunduk. "Aku gak mau kamu deket-deket sama aku,"

Sebelah alis Alterio terangkat. "Kenapa? Kamu malu deket-deket sama aku?"tanya Alterio.

Diana menggeleng ribut, Alterio salah mengartikan ucapannya padahal bukan itu maksudnya.

"Bukan! A-aku gak mau k-kalau kamu malu gara-gara de-deket sama aku,"ucap Diana cepat.

"Yaudah, kamu makan dulu ya,"ajak Alterio sambil mengambil sebuah mangkuk berisi bubur.

Diana menggeleng. "A-aku ma-mau pulang!"

"Makan kemudian pulang,"

Alterio sangat bersemangat menyuapi Diana sedangkan Diana, dia menerima perlakuan Alterio tanpa penolakan sedikitpun. Ingin melarang Alterio untuk menyuapinya tapi mulutnya menolak untuk menghentikan Alterio.

Mata Diana tak berhenti-berhenti melihat secara detail wajah Alterio. Baru kali ini ia memandang wajah Alterio secara dekat seperti ini. Wajahnya berwarna putih bersih, hidung mancung, halis yang sedikit tebal dengan rambut berwarna hitam memperpadukan betapa tampannya wajah Alterio.

Suapan terakhir, tak sengaja Alterio menatap mata Diana. Tatapan mereka beradu membuat suara debaran aneh terdengar dikeheningan malam. Diana meruntuki kebodohannya, kalau seperti ini ia seperti maling yang tertangkap basah saat mencuri. Ketahuan yang diam-diam menatap Alterio.

"Ya aku tahu kok, aku tampan."

Diana memutar bola matanya malas. Terdengar jiji saat mendengar ucapan Alterio tadi. Tapi, memang benar sih Alterio tampan.

"A-apasih Lang,"dengus Diana.

Alterio tertawa kemudian mengacak-ngacak rambut Diana. Lagi-lagi Diana mendengus kesal, memangnya mendapat perlakuan seperti itu tidak membuat baper apa? Pasti yang melihat pun baper jika melihat Alterio mengacak-acak rambutnya, termasuk dirinya.

"Please, jangan cinta! Langit itu bukan tandingan aku"batinnya.

 

 

 

 

 

 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!