Istirahat pertama, seperti biasa Diana tidak pergi kekantin. Setiap hari Bi Nari selalu menyiapkannya bekal, jadi ia tidak perlu repot-repot mengeluarkan suaranya untuk memesan makanan.
"Star? Kamu ngak kekantin?"tanya Alterio pada Diana.
Diana terdiam sesaat mendengar Alterio memanggilnya dengan nama 'Star' ia merasa tidak pantas dipanggil bintang, sedangkan ia tidak bisa berdiri tanpa bantuan orang lain. Tangan kanannya berusaha untuk mengambil buku di kolong tapi Alterio menahannya.
"Kamu bisa ngomong tapi kenapa kamu nulis? Ngomong aja, ini aku Langit bukan orang lain,"ucap Alterio.
"Hmm-ka--"
"Santai oke, kamu sebenarnya bisa kok ngomong lancar kayak aku, tapi kamu harus sabar dan pelan-pelan,"jelas Alterio.
"L-l-langit"
"Kamu bisa! Aku yakin kamu bisa! Mulai hari ini kamu latihan nyebut nama aku berulang kali"
"T-t-tapi Lang-lang-langit"
"Kamu tahu Star? Teman kakakku dulu itu seperti kamu, tapi sekarang dia sudah menjadi pengacara yang handal, dia bisa karena dia bertekad untuk bisa! Semua yang terlihat mustahil itu, akan ada didepan mata jika terus berusaha."Cerita Alterio sambil menggenggam tangan Diana.
Hangat. Kehangatan dari ucapan Alterio membuatnya tersenyum. Memberikan sedikit semangat untuk menjalani hari-harinya. Tak disangka, ada orang yang seperti dirinya dan sekarang dia? Apakah ia bisa seperti orang itu? Bisa sukses dengan kondisinya yang seperti ini?
"L-langit k-k-kamu ke-kenapa m-mau ng-ngobrol s-s-sama aku?"tanya Diana dengan susah payah.
"Karena dimana ada Bintang disitu ada Langit."canda Alterio.
Diana menepuk bahu Alterio pelan. Walau Diana memukul Alterio pelan, Alterio tetap meringis kesakitan.
"Eh, maaf a-aku ke-ke-kerasan ya?"tanya Diana.
"Aduh duh, ini sakit banget."keluh Alterio sambil mengusap-usap bahunya.
"Bo-b-bohong! A-aku g-gak ke-keras kok t-tadi muk-mukulnya,"elak Diana.
"Emang bohong sih."
Alterio tersenyum, ia mengusap-usap bahunya. Padahal disana ada luka gores yang baru saja kering, tapi ia sengaja berbohong agar Diana tidak merasa bersalah.
"T-t-tuh kan!"kesalnya.
Alterio tertawa, kemudian menatap kotak bekal Diana. "Kamu bawa bekel kok ngak dimakan?"
Diana mendengus kesal, bagaimana ia bisa makan kalau terus-terusan di ngobrol.
"I-ini mau dim-m-makan."
"Boleh minta?"
"K-k-kamu m-mau?"
Alterio mengangguk. Diana membuka kotak makannya, disana ada dua buah potong sandwich. Ia memberikan sepotong sandwich itu ke Alterio.
"Makasih,"kata Alterio sambil mengambil sandwich dari tangan Diana.
Diana mengangguk lalu tersenyum. Mereka menyantap sandwich itu dengan lahap, rasanya biasa saja memang, tapi bagi Diana ini adalah suatu moment yang sangat spesial.
"Kita teman,"ucap Alterio menunjukan jari kelingkingnya.
Diana menatap Alterio, bertanya-tanya dalam hati, apakah ini benar? Kejadian seperti ini sudah lama sekali terjadi. Sejak ia berumur 5 tahun, tidak ada seorang pun yang ingin berkenalan dengannya atau menganggapnya teman. Ia tersenyum, mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Alterio.
"Ki-ki-kita t-teman."
Senyum Diana luntur seketika, melihat Dessi yang sedang berjalan kearahnya. Ada sorot mata kemarahan dari mata Dessi, ia takut, ia melirik kearah Alterio tapi sayangnya dia sedang asik makan. Dessi menarik lengan Diana kuat, mengajak Diana ke depan kelas. Pandangan semua orang, kini terpokuskan Pada Diana dan Dessi.
Ingin rasanya ia memaki orang-orang yang bahagia di atas penderitaannya tapi ia lagi-lagi harus menerima kenyataan pahit kalau dirinya diciptakan untuk selalu ditindas.
"Lanjutin yang tadi!"cetus Dessi.
Diana menatap Alterio, berharap Alterio mau membantunya. Alterio membalas tatapan Diana, mereka saling bertatapan dari jarak jauh. Alterio tersenyum kecil, kembali mengunyah sandwich yang tersisa.
"Perhatian semua!! Hari ini ada yang mau baca puisi nih, kalian harus dengerin ya!"kata seorang perempuan disamping Dessi.
"Dan satu lagi, penampilan dari dia ini akan diabadikan di IG SMA kita dan juga live langsung di IG kelas,"tambahnya.
Terdengar suara tepuk tangan dari semua murid kelas. Ia tidak tahu harus apa sekarang ini, Dessi benar-benar mempermalukannya lebih sadis lagi sekarang. Diana menatap Alterio lagi, ia masih berharap kalau anak itu membantunya sekarang, tapi sepertinya tidak, bahkan Alterio memberikan tepuk tangan untuknya.
Tangannya gemetar, membuat kertas yang ia pegang ikut bergetar. Lidahnya kelu sekali, tidak bisa digerakan karena saking gugupnya.
"A-a-aku ad-ad-adalah a-abu g-ge-gelap d-da-dan--"
Mereka tertawa terpingkal-pingkal medengarkan Diana membaca puisi. Diana tersenyum manis kepada mereka, biarkan mereka puas menertawakan penderitaannya.
"D-d-dan hi-hi-hi-hitam--"belum sempat Diana melanjutkan puisinya, seseorang tertawa begitu keras hingga semua orang tertuju pada sumber suara.
Diana menatap sendu kearah Alterio. Suara tawa itu berasal dari Alterio. Ternyata benar didunia ini semua manusia itu sama saja! Sama-sama senang diatas penderitaan orang lain. Air mata Diana mengalir begitu saja, pertama kali, pertama kali ia menunjukan tangisannya pada mereka semua. Ntah kenapa, ditertawakan orang yang sudah ia percaya lebih sakit dari seribu orang yang menertawakan.
Diana tidak kuat lagi. Ia berlari keluar kelas sambil menangis. Semua murid terbengong-bengong, tidak biasanya Diana menangis seperti ini.
Alterio masih saja tertawa, ia bangkit dari duduknya. Sebelah tangannya mengambil air mineral, dibukanya botol mineral itu dan menuangkan isi dalam botol kekepala Dessi.
"Alterio!!! Lo apa-apaan huh!?"teriak Dessi.
Alterio masih saja tertawa, tertawa seperti layaknya orang tidak waras. Alterio tidak menjawab pertanyaan dari Dessi, ia malah mengambil sebotol air yang berada dimeja guru dan langsung menuangkan air itu pada kepala perempuan disamping Dessi.
"Lo pikir, dia tidak punya hati!!!"bentak Alterio sambil melempar botol kesembarang arah.
"Kalian pikir dia gak punya hati!!"bentaknya lagi.
Semua orang terdiam, seperti orang yang sedang dimarahi orang tuanya. Alterio menendang pintu dengan keras, meluapkan emosi yang ia pendam dari tadi.
"Jawab ***!! Kalau kalian ada diposisi Diana, kalian mau di perlakukan seperti ini!"
"Kalian itu bego apa tolol sih!?"teriak Alterio,"kalau kalian berani lagi, bully pacar gue! Siap-siap aja sekolah ini bakal hancur, sehancur hancurnya sampai rata!"ancam Alterio.
Terlihat memang seperti candaan tapi ucapan Alterio sungguh serius. Tapi kalau dipikir-pikir memangnya siapa yang berani menghancurkan sekolah ini? Toh sekolah ini bukan milik dia, sekolah ini milik orang tua Dessi.
"Siapa lo! Berani ngancurin sekolah milik bokap gue?"
Alterio tersenyum miring. "Bokap lo? Tanya lagi sono, siapa pemilik asli sekolah ini,"ucap Alterio sambil terkekeh.
Dessi mebelalakan matanya, tak percaya pada ucapan Alterio. Sudah jelas, sekolah ini milik ayahnya, lalu kenapa Alterio menyuruhnya bertanya lagi?
"Matiin ponsel lo, kalau ngak gue yang matiin lo!"ancam Alterio sambil menunjuk seseorang yang sedang merekam kejadian tadi.
Orang itu gelagapan, segera mematikan handphonenya begitupun menghapus semua vidio tadi.
"Kalian aman kalau Diana gak diganggu ataupun dibully lagi!"desis Alterio kemudian pergi dari hadapan mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Norhamsyah
ceritanya bagus,lanjut thor
2020-05-16
1
Ilan Irliana
wiihhj langit hebat..
2020-03-24
0