Turunnya Bulan Bintang?

Malam sabtu kembali hadir, waktunya Diana menumpahkan kesedihannya bersama bulan dan bintang. Di atas karpet ia tidur, memandang indahnya pemandangan malam hari. Ia memejamkan matanya, disekitar karpet sudah tergenang air matanya.

Kepalanya pusing, ia memegangi kepalanya. Terlalu banyak menangis membuatnya pusing dan juga menangis tidak baik untuk kesehatan. Sudah berhari-hari ia sengaja memendam semua rasa sakitnya untuk ia tunjukan pada bintang dan bulan di malam sabtu.

'Bunda, Ayah, kalian pasti malu mempunyai anak seperti Sasa ini. Saking malunya kalian pergi ninggalin Sasa sendirian dirumah, kalian tidak jahat kok kalian baik telah mengirimkan semua kebutuhan Sasa tapi sebenarnya Bun, yah, Sasa membutuhkan kasih sayang kalian' batinnya.

Waktu berumur 9 tahun, Ayah dan Bunda-nya pergi dari rumah meninggalkannya seorang diri. Setelah kejadian kelam beberapa tahun yang lalu.

"Bu-bu-bunda ma-ma-maafin S-sasa hiks," ucap Sasa memeluk bunda dari belakang.

"A-ayah j-j-jangan pergi."

Bunda mendorong tubuh Sasa keras, membuat Sasa tersungkur dilantai.

"Kamu tahu Sasa!? Kami malu punya anak seperti kamu!! Kamu hanya bisa mempermalukan kami, enyahlah kau dari dunia ini!"teriak bunda.

"Sasa kami akan mengirimkan semua kebutuhan kamu, cukup ketikan pesan pada kami semua kemauanmu akan datang kesini"kata Ayah.

"Hiks... t-t-tapi S-s-s--"

"Cukup Sa! Ayah gak mau dengar suaramu lagi!" sela ayah kemudian pergi meninggalkan Sasa sendirian.

Hidupnya indah bukan? Seindah api yang sudah melahap kertas dengan sangat cepat. Membakar semua kebahagiannya tak tersisa, kini hanya kesedihan, kesedihan dan kesedihan.

Pernah ia sesekali untuk mencoba loncat dari balkon apartemen dilantai 31 milik ayahnya, yang sudah resmi menjadi miliknya sekarang. Saat kakinya hampir saja menaiki perhalang, hatinya kembali mengatakan kalau bunuh diri bukan cara yang terbaik. Hanya menambah beban orang ketika jasadnya hancur tak dikenali.

Ia tersenyum miris kembali menatap langit. Mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu disana.

Bulan aku lelah,

Bintang aku lelah,

Bisakah kalian menghiburku?

Bisakah kau menarikku keatas langit?

Buat aku menghilang bulbin

Buat aku benar-benar pergi dari dunia ini!

                                                 -Dianas

Tanpa sepengetahuan Diana, dibalik pohon seseorang sedang mengawasinya. Orang itu membidikan kamera ke arah Diana setelah itu dia tersenyum manis, bukan! Bukan karena dia bahagia melihat Diana menangis tapi dia sangat kagum melihat orang sekuat Diana.

"Diana,"gumamnya.

OoO

Angin pagi menepis kulitnya, walau begitu Diana tetap bersemangat kesekolah menaiki motor matic kesayangannya. Sebenarnya ia malas untuk mengendari sepeda motor, ia takut mereka membuat ulah pada motornya. Bulan lalu saat ia membawa motor ke sekolah, pulang-pulang dua ban-nya kempis, mangkanya sekarang ia sedikit trauma akan kejadian itu.

Sesampainya di gerbang, ia tersenyum pada pak Jen. Ingin menyapa tapi ia tidak bisa, rasanya sangat konyol jika pagi-pagi ia sudah mengeluarkan suara buruknya.

"Selamat pagi nak Dian, tumben neng Dian bawa motor?" tanya Pak Jen pada Diana.

"Pe-pe-pengen aja," jawabnya singkat sambil tersenyum.

"Tenang saja nak Dian, pak Jen gak akan biarin motor nak Dian kenapa-kenapa lagi"

"Ma-makasih p-pak."

Diana memakirkan motornya di samping motor pak Jen. Ia yakin kali ini tidak ada yang berani merusak motornya lagi.

Sekolah masih sepi, ia sengaja datang pagi sekali untuk mengulang materi fisika untuk berjaga-jaga siapa tahu hari ini fisika ulangan mendadak.

Bruakk

Diana menelan salivanya kasar, ia telah menabrak orang. Matanya tertutup karena tidak ingin melihat wajah orang yang memarahinya. Mulutnya berusaha untuk mengucapkan kata maaf.

'Maaf'

'Maaf'

'Maaf'

'Maaf aku ngak sengaja'

"M-m-maaf," ucapnya kemudian langsung berlari sekencang mungkin menghindari orang yang telah ia tabrak.

"Aneh," gumamnya.

OoO

"Hei Thapki!! Ayo nyanyi di depan!"

Diana menggeleng, tanda ia tidak mau mempermalukan dirinya sendiri. Ia bangkit dari duduknya, melenggangkan kakinya berniat untuk kabur dari mereka namun seseorang menarik lengannya keras.

"Mau kabur lo huh!!!" teriak Dessi.

Ia hanya tersenyum, menatap Dessi.

"Jangan sok manis deh lo! Coba Rin, gimana cara dia ngomong!" kata Dessi menoleh ke salah satu temannya.

"A-a-aku T-t-thapki y-y-yang g-gagap." Salah satu dari mereka memperagakan bagaimana Diana berbicara.

Semua orang yang menonton tertawa terbahak-bahak. Karin memperagakan cara berbicara Diana dengan sangat baik, mirip sekali seperti Diana yang sedang berbicara. Diana tersenyum manis, ia sangat beruntung bisa menghibur mereka walau mereka tertawa diatas penderitaannya.

Diana berlari keluar dari ruang kelasnya. Menahan air mata yang ingin sekali menerobos keluar. Tangannya bergetar, menaiki satu persatu tangga tanpa memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya kalau berlari sambil menaiki tangga.

Rooftop, di sinilah dirinya berada. Kadang, seseorang bisa lelah karena menanggung terlalu banyak masalah yang dipikulnya. Terlintas kata 'loncat' menari-nari di otaknya. Diana menggeleng, sia-sia saja kalau ia melompat di sini karena gedung sekolah ini hanya ada tiga lantai, tak akan membuatnya meninggal jika ia nekat untuk melompat dari sini.

"Kak!" panggil seseorang dari arah belakang.

Diana membalikan tubuhnya, menatap sendu kearah orang itu. Orang itu mendekatinya, memberikan sebatang bunga mawar putih kepada Diana.

"Ini kak, ada yang ngasih bunga ini buat kakak, katanya pengagum rahasia," ujar orang itu kemudian pergi begitu saja.

Ia mengamati bunga mawar putih itu. Hatinya bertanya-tanya, siapa yang telah memberikannya bungga? Apa ini hanya sebuah jebakan untuknya? Ia mengambil  Sebuah surat berwarna biru muda tergulung bersama pita merah.

Hai cantik, ini aku bulbin, sahabat kamu...

Bunganya cantik kan? Iya cantik seperti hati dan wajah yang sedang membaca surat ini...

Semangat ya:) bubin yakin kamu pasti kuat

Sahabatmu

-BulBin

Diana tersenyum senang, menghirup aroma bungga mawar itu dalam-dalam. Apakah benar ini dari bulan dan bintang? Rasanya tidak mungkin, bulan dan bintang hanya ada diatas mereka tidak mungkin mereka turun kebawah hanya untuk menitipkan sebatang bunga mawar.

Hanya sebatang bunga mawar dan secarik surat, ia sudah bahagia melebihi apapun sekarang. Senyumnya terus terpancar pada wajah cantiknya, menyinari sorot kebahagian bagi siapa pun yang melihatnya.

Setelah Diana benar-benar turun, seseorang keluar dari tempat persembunyiannya. Dia tersenyum bahagia, akhirnya dia berhasil membuat wanita kuat itu tersenyum nyata bukan palsu lagi. Dia berdoa, semoga dia bisa membuat wanita itu terus tersenyum, bukan senyum palsu melainkan senyum ketulusan.

Dia mengambil handphonenya, mencari-cari nomor untuk dihubungi. Tak butuh waktu lama, nomor itu sudah ditemukannya.

"Halo paman Jaya, paman bisa kan? Mengawasi gadis itu pulang ke rumah dengan selamat?"

"........"

"Paman aku ingin paman mengawasi dia sampai benar-benar masuk ke dalam rumah."

"......."

"Baiklah paman terimakasih banyak."

Tut

"Aku datang Diana Saskia, aku datang sebagai Langitmu," gumamnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terpopuler

Comments

ega cempluk

ega cempluk

Dari pertama baca udh Meweek...😭😭😭😭
Ya Allah.... kasian bgt

2022-09-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!