Sakit

Diana termenung di dalam kelas, menunggu hujan berhenti. Bel pulang telah dibunyikan dari 10 menit yang lalu, seharusnya ia sudah pulang dan memakan dengan lahap apa yang Mamah janjikan padanya. Saat hujan berasa di dalam kelas, mendengar suara-suara tawa dari orang-orang dan terangnya lampu memberikan kehangatan dalam dirinya. Tanpa jaket dirinya sudah merasakan kehangatan. Suara Bulan yang selalu mengajaknya ngobrol dan Alterio yang sesekali menanyakan'kamu mau makan?'. Ia ingin sekali mengiyakan ajakan Alterio karena sedaritadi perutnya menahan lapar. Tapi jika ia makan, Mamah akan bersedih. Sebelum berangkat sekolah, mamah bilang kalau mamah akan masak banyak.

"Kita pulang yuk?"ajak Bulan.

"Pulang aja sana!"usir Alterio, dibalas cebikan dari Bulan.

"Masih hujan Bulan,"kata Diana sambil melirik ke jendela.

"Kamu ngomong lancar Bin?!"seru Bulan berdiri dari duduknya.

Diana menoleh kearah Alter kemudian beralih ke Bulan. "Emang?"tanya Diana tak percaya.

"Jangan sedih itu kuncinya!"ucap Alterio.

Bulan menoleh kearah Alterio. "Lo tahu darimana?"

"Tau aja,"jawabnya angkuh.

"Nyebelin!"cetus Bulan.

Apakah ucapan Alterio benar? Kalau dirinya bahagia gagapnya akan hilang? Semakin hari gangguan bicaranya semakin membaik, ia menyakini semua ini karena Bulan dan Alterio selalu ada didekatnya, memberinya dukuangan dan semangat.

Hari semakin sore, tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Bulan menyerah! Dia bangkit dari duduknya, mengambil tasnya.

"Bintang! Kamu mau pulang bareng aku? Atau Alter?"tanya Bulan pada Diana.

"Dia bareng gue,"sahut Alterio.

"Beneran Bin?"tanyanya tak yakin.

"Iya Bul, duluan aja,"ujar Diana

"Oke deh."Bulan memberikan jeda pada ucapannya,"Bintang hati-hati ya,"lanjutnya dengan suara berbisik.

"Iya, kamu juga hati-hati,"balas Diana sambil tersenyum.

Bulan benar-benar pergi dan kini di kelas hanya tersisa dirinya dan Alterio. Suara gemercik air mengiringi kecanggungan mereka. Diana diam, begitupun Alterio.

Sesuatu mengalihkan perhatiannya, sebuah buku berwarna biru langit tergeletak di lantai. Alterio menepuk bahu Diana pelan.

"Kita pulang aja Stars, kalau nunggu hujan reda kayaknya sampe malem juga gak bakalan reda,"ajak Alterio.

"Eh... iya, duluan La-lang! Aku mau masukin buku dulu,"ucap Diana.

"Oke deh. Aku tunggu diluar"Alterio keluar dari kelasnya.

Setelah Alterio pergi, sesegera mungkin ia mengambil buku itu. Ia membuka halaman pertama, berisikan biodata sang pemilik buku.

Cahaya Bulan Edarra

Itu nama yang tertera dibuku itu. Ini adalah buku diary, ia tidak menyangka kalau Bulan suka menulis buku diary.

"Stars!"panggil Alterio diluar.

"I-iya Lang, bentar...."Dengan cepat ia memasukan buku itu kedalam tasnya.

                           OoO

Diana menatap buku itu, buku yang pasti sangat rahasia. Ia tidak tahu harus membaca diary Bulan atau tidak. Diana menggeleng pelan, tidak! Ini adalah privasi Bulan.

Saat hendak memasukan buku itu kedalam tasnya, secarik kertas yang berasal dari buku itu terjatuh. Rasa penasarannya yang sudah memuncak, ia pun membaca isi dari kertas itu.

Superhiroku

Andai saja aku tidak bertemu denganmu, aku mungkin tidak sekuat seperti sekarang ini. Aku lemah, tapi aku terlihat kuat dimata orang lain.

Lukaku kini tersembuhkan oleh tawamu.

Tawaku kini muncul karena lelucon darinya.

Sikapmu yang ketus terhadapku, bukan membuatku benci tapi, aku semakin terkagum-kagum terhadapmu.

Kamu adalah matahari untuk orang lain dan untukku,

Jangan tinggalkan aku, aku membutuhkanmu, superheroku.

Teruntuk : Alterio Langit

Diana diam kemudian tersenyum tipis, tak lama senyum itu berubah menjadi awan mendung. Tak ada kebahagian sedikitpun yang terpancar di wajahnya. Seharusnya ia senang, karena Bulan menyukai Alterio. Sebagai sahabat mereka seharusnya ia mendukung mereka bukan? Seharusnya ia senang.

Benar. Alterio adalah matahari, bukan untuk dirinya saja tetapi untuk orang lain juga. Punya hak apa dirinya, berharap Alterio menyukainya.

Tidak! Ia tidak boleh menyukai Alterio. Bulan mencintai Alterio dan Alterio mungkin mencintai Bulan. Tak terasa air matanya turun, membasahi kertas itu. Rasanya sangat sakit, mencintai orang yang dicintai sahabat sendiri.

Ia tidak boleh egois. Sahabat lebih penting, lebih baik merelakan cinta daripada kehilangan sahabat. Ia mempunyai berbagai macam kelemahan dan Bulan, Bulan terlihat sempurna dimatanya, tak sedikitpun kekurangan Bulan terlihat.

Tapi-- ia tidak bisa menjauhi Alterio. Dia orang pertama yang mau berteman dengannya setelah dirinya mempunyai gangguan bicara, memberikannya semangat dan membelanya ketika ia sedang dibully. Bukan salahnya kalau ia mencintai Alterio, dia terlalu baik padanya, selalu memberi perhatian lebih dan menunjukan rasa kepeduliannya.

Ia menoleh menatap sebuah foto yang terpajang di nakas. Fotonya dan Alterio, saat di pasar malam. Didalam foto itu dirinya sedang memegang catton candy dan Alterio sedang memegang dua cone eskrim.

Air matanya terjatuh pada kaca yang menutupi foto itu. Mulutnya mengeluarkan isakan kecil.

Ceklek.

"Saskia?!"

Diana menoleh, mendapati Revan dengan raut wajah yang panik. Revan mendekati Diana, memeluknya erat. Ia tidak tahu ada masalah apa sampai adiknya menangis. Ia meringis, tidak tega melihat adiknya menangis seperti ini.

"Kamu kenapa nangis?cerita sini sama kakak?"

"Hiks... kak, a-aku sedih baca film itu."Diana menunjuk kearah televisi yang menyala.

"Maaf kak, aku udah bohongin kakak,"batinnya.

"Oalah kakak kira apa! Kamu tuh bikin kakak panik aja!"ucap Revan kesal sekaligus lega.

"Ma-maaf kak,"lirihnya.

"Udah! Udah! Kakak mau ke Bandara, kamu mau ikut gak?"ajak Revan.

Diana mengangguk. Revan mau pergi ke London, selama sebulan kedepan ia tidak bisa bertemu dengan Revan.

                           OoO

"Kak,"panggil Diana.

"Kenapa sayang?"

"Ak-aku mau cerita."

"Cerita aja,"sahut Revan.

Diana menggigit bibir bawahnya pelan. "Jadi gini kak, aku punya sahabat namanya Bulan. Nah Bulan itu punya sahabat lagi, dia itu suka sama seorang cowo tapi sahabatnya juga suka sama cowo itu. Bulan milih mundur untuk sahabatnya, menurutnya sahabat itu lebih penting. Menurut kakak, sikap Bulan itu bagaimana?"cerita Diana.

Revan mengetuk-ngetuk dagunya. "Menurut kakak, Bulan itu hanya sebagai perumpamaan,"ucap Revan membuatnya bingung.

"Bulan itu kamu kan?"tebak Revan.

Deg

Tebakan yang sangat tepat. Diana terdiam, bagaimana bisa Revan tahu tentang hal ini? Ia menggeleng, tidak menyetujui ucapan Revan.

"Ng-ngak kak,"elaknya.

"Kamu suka Alterio tapi sahabatmu Bulan juga suka Alterio, benar bukan?"

"Ng-ngak kok kak,"elaknya lagi.

"Kakak salah ya?"beo Revan.

"Iy-iya salah,"jawab Diana lesu.

"Masih butuh pendapat? Merurut kakak, sahabatmu Bulan itu sudah baik karena telah merelakan si cowo itu untuk sahabatnya tapi, kalau cowo itu suka sama Bulan dan Bulannya juga suka sama si cowo itu, Bulan salah. Karena keputusannya itu, dia sudah menyakiti dua hati sekaligus, si cowo itu dan sahabat bulan. Percuma saja kalau Bulan merelakan cowo itu untuk sahabatnya karena cinta itu tidak bisa dipaksakan."

Diana menyimak ucapan Revan. Sangat tidak mungkin bagi Alterio mencintai Diana, Diana yang serba kekurangan. Ia lebih baik mundur daripada menyakiti hati sahabatnya.

"Baiklah Dear, kakak berangkat dulu. Semoga kamu gak bernasib kayak Bulan,"kata Revan sambil tersenyum.

"Maaf kakak sekali lagi Kia bohong, Bulan itu Kia kak dan sahabat Bulan itu Bulan sendiri."batinnya.

"Jangan lupa makannya yang teratur, belajarnya yang rajin kalau bisa kamu jangan kenalan sama cinta, cinta itu indah tapi hanya sesaat."Revan mengelus-elus rambut Diana, kemudian pergi membawa kopernya.

 

 

 

 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!