Hati Diana hancur, padahal ia sudah percaya pada Alterio tapi ternyata dia sama saja seperti yang lainnya. Ia meruntuki kebodohannya, kenapa bisa ia dengan cepatnya langsung percaya terhadap orang yang baru ia kenal.
Panas terik matahari menyinari seluruh tubuhnya, tak peduli kulit yang akan terbakar. Tak lama kemudian langit menjadi gelap, angin berhembus kencang menerpa rambut yang sudah berantakan. Suara guntur mulai menggelegar, bersamaan itupula air hujan menguyur bumi.
Bodoh, ia sangat bodoh! Kenapa ia menunjukan air matanya ke orang-orang yang sama sekali tak pernah memikirkan perasaannya. Tak biasanya ia mengalirkan air matanya ketika dibuly, hanya karena ada Alterio disana, dengan gampangnya ia menangis?
"AKU SENANG KAU MENANGIS BERSAMA HUJAN!"teriak seseorang membuat Diana menoleh.
Dia, Alterio Langit ikut serta menikmati derasnya air hujan. Ntah kenapa, melihat wajah Alterio membuatnya merasakan sakit, tangannya bergetar, mulutnya terkunci rapat, tak bisa mengutarakan amarahnya.
Alterio mendekati Diana hingga jarak antara keduanya terlihat dekat, sekitar dua jengkal lengan Diana jarak mereka.
"Kamu tahu? Aku senang kamu menangis, kamu tahu kenapa?"
Hatinya mengatakan kalau ia harus pergi dari hadapan Alterio tapi kakinya melekat bagai lem yang sudah merekat. Ia diam, menundukan kepalanya.
"Karena aku pengen kamu berani! Aku pengen kamu mengeluarkan semua kesedihanmu keorang bukan kebulan ataupun bintang! Karena mereka tak akan mendengar sampai kapanpun!"ucap Alterio sedikit keras menyaingi derasnya air hujan.
Diana kaget, tentu saja dirinya kaget. Hanya ia yang tahu soal dirinya, bulan, dan bintang, yang selalu menumpahkan kesedihannya pada gelapnya langit malam. Air matanya dan air hujan yang turun, bercampur aduk diwajahnya.
"A-a-aku ben-benci s-semuanya!!"
"Keluarkan Star keluarkan! Keluarkan apa yang selama ini kamu pendam...."
"A-aku ben-benci ka-kamu lang-langit! Ak-aku ben-benci!"teriak Diana menatap tajam Alterio.
"A-a-aku pi-pi-pikir ka-kamu b-beda! Ta-tapi ter-ternyata kamu s-sama aja hiks...."
Alterio diam, menyimak semua keluh kesah Diana.
"A-a-aku ng-ngak per-per-pernah na-nangis d-di de-de-depan me-me-mereka! Tap-tapi ke-kenapa sa-saat a-a-ada ka-kamu, a-aku ja-jadi le-le-lemah hiks..."
"Se-semua o-o-orang em-emang ka-ka-kayak gini! Se-semua o-orang jahat! Bah-bahkan orang t-tuan a-aku ju-juga ning-ninggalin aku karena ma-malu,"
"A-aku ng-ngak ku-kuat lang-langit! Ak-aku ngak kuat! Aku mau pergi aja, aku peng-pengen sa-sama tu-tuhan!"
Dengan sekali gerakan, Alterio menarik Diana kedalam dekapannya. Memeluknya erat, seakan takut kehilangan. Diana hanya diam, menangis dipelukan Alterio, sungguh ia sangat lemah sekarang.
"Jangan... jangan tinggalin Langit, Bintang,"bisik Alterio tepat ditelinga Diana.
"Ka-kamu ta-tahu apa soal La-langit, Bintang dan B-bulan?"
"Aku sudah bilang, aku ini Langit, aku tahu semua tentang kesedihanmu,"ucap Alterio,"kita teman, aku janji aku akan selalu menjadi langitmu,"lanjutnya.
"Jangan menangis Star, cahayamu nanti menghilang"
Diana tersenyum di pelukan Alterio. Walau tersembunyi, Alterio tahu kalau Bintangnya sedang tersenyum dan senyumnya tulus.
OoO
Alterio Langit, itulah namanya. Sikapnya yang pemarah dan kejam, tak akan mengampuni siapapun yang telah melukai orang yang disayangnya. Semua keinginannya dapat terpenuhi, apapun yang dia inginkan sekejap mata ada dihadapannya. Ketika sikapnya berubah, karena seorang gadis yang selalu menangis di taman pada malam hari. Setiap hari ia selalu mengamati gadis itu dari kejauhan, setiap malam sabtu, ia selalu menyempatkan dirinya ketaman untuk mendengarkan suara gadis itu.
Hanya gadis itu, dirinya tahu arti sebuah penderitaan. Hanya gadis itu, dirinya bisa mengerti bagaimana rasanya dijauhi oleh semua orang dan hanya gadis itu, ia meminta kepada kakaknya untuk merebut sekolah yang ditempati gadis itu dengan begitu ia bisa mengendalikan orang-orang yang suka membuly Bintangnya.
Diana Starla Saskia. Ya itu adalah nama gadis itu, gadis itu sengaja tidak mengakui nama tengahnya karena dia beranggapan kalau dia tak pantas di panggil Starla, dia bukan bintang yang bisa mengeluarkan cahayanya sendiri tanpa bantuan orang lain tapi sebenarnya dia memang bintang, dia bisa mengeluarkan cahayanya sendiri, dia bisa hidup tanpa orang tua dan teman, dia bahkan dijauhi oleh masyarakat.
Dirinya memang tak mempunyai orang tua lagi sekarang, mangkanya ia mengerti bagaimana rasanya hidup tanpa orang tua. Ia bersyukur, lebih baik ia benar-benar kehilangan orang tua daripada hilang karena pergi dan dibuang, seperti, Diana Starla.
"Makasih bang,"ucap Alterio.
"Tidak masalah, abang akan lakukan apapun demi kamu"balasnya.
"Abang tidak berniat untuk menikah?"tanya Alterio pada abangnya.
Alleonard-abang Alterio meletakan cangkirnya ke meja. " Tidak Ter, abang tidak ingin menikah,"jawabnya.
Alterio menggeleng pelan. Tidak percaya atas ucapan yang dilontarkan Alleo, diumurnya yang sudah hampir kepala tiga, dia tidak ingin menikah.
"Pada dasarnya perempuan itu harus dihormati dan memang pantas dihormati, aku hanya takut aku tidak bisa membahagian wanitaku nanti"
Alleo sangat menghargai perempuan, Alleo juga tidak bisa melihat perempuan menangis karena seorang laki-laki. Ia menyakiti perempuan sama saja ia menyakiti ibu dan adiknya diatas sana, ia berjanji dalam hati ia tidak akan pernah menyakiti perempuan. Alterio sangat kagum pada sang kakak, tapi soal tidak menikah, sepertinya kakaknya itu salah besar. Di dunia ini, seseorang hidup secara berpasangan dan membuat keluarga kecil yang bahagia.
"Abang ingin bertanya padamu Ter, bagaimana bisa kau mengenal Diana?"tanya Alleo penasaran.
Alterio menatap Alleo, bagaimana dia bisa tahu Diana? Apa Alleo sudah mengenal Diana?
Alleo terkekeh melihat raut wajah kebingungan Alterio. Sebenarnya Alterio sudah mengenalnya berapa lama, sampai-sampai dia tidak tahu aktifitas kecil sang adik.
"Kau baru mengenalku Ter? Aku sering mengawasimu, kamarmu penuh dengan fotonya,"canda Alleo.
"Tero tidak suka diawasi bang... aku sudah bilang berulang kali bilang! Aku bukan anak kecil!"cetus Alterio.
"Tidak tidak Boys, aku hanya mencari tahu tentang gadis itu saja,"terangnya.
Alterio menghembuskan nafasnya kasar. Kadang, Alleo bersikap posesif padanya, kadang juga dia mengengkangnya walau secara halus, tapi Alterio yakin, Alleo seperti itu hanya mengkhawatirkannya. Setelah kejadian meninggalnya adik perempuan satu-satunya, Alleo bersumpah kali ini ia tidak akan lengah lagi menjaga adiknya. Alterio, hanya dia orang yang menjadi sosok keluarganya.
"Abang sudah mengorek informasi tentang gadis itu Ter--"
"Aku tidak akan membiarkan Abang menghinanya sedikitpun!"sela Alterio cepat.
Alleo berdecak. "Kau salah Ter, kau tahu, apapun yang terjadi abang tidak akan menyakiti perempuan... dia, dia gadis yang baik, sebelum kau bertemu dengannya, aku duluan yang bertemu dengannya."
"Abang suka padanya?"tanya Alterio sinis.
"Abang tidak suka Ter, sekalipun abang suka, aku akan mengalah demimu,"jawabnya santai,"abang hanya kagum padanya, dia wanita yang sangat kuat"
"Dia tidak sekuat yang terlihat bang, dia berulang kali ingin bunuh diri karena tidak kuat menanggung beban,"
Dari setahun yang lalu, Alterio mencari tahu semua hal tentang Diana. Ia pernah memergoki Diana yang ingin menyayat urat nadinya sendiri, tapi untung saja ART dirumah Diana menghentikan aksi bunuh diri Diana.
"Alterio, ingatlah satu hal, dia gadis yang sangat lemah, jangan pernah main-main dengannya atau kau sendiri yang akan berhadapan denganku,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments