Rumah baru dan akan menciptakan suasana baru. Suasana bahagia tiada tara, terisi oleh suara tawa Revan dan Mamah. Revan benar-benar menjaga Diana, dia tidak akan membiarkan adiknya terluka untuk sepersekian kalinya.
Hari ini Revan menghantarkan Diana pergi ke sekolah. Meski Diana sudah melarang Revan untuk tidak melarangnya tapi tetap saja dia keras kepala, apalagi Mamah yang selalu menyetujui Revan.
"Ma-makasih kak,"ucap Diana lembut menampilkan senyum manisnya.
"Belajar yang rajin! Kalau ada yang berani nyakitin kamu, telpon kakak langsung, oke?"
"Iya kak. Bye,"ucap Diana melambai-lambaikan tangan pada Revan.
Revan tersenyum, tak lama kemudian, mobil yang dikendaraan oleh Revan melaju kencang hingga akhirnya mobil itu hilang dari pengheliatannya.
Dari jauh Pak Jen tersenyum kearahnya. Kakinya melangkah kearah Pak Jen, sudah menjadi kebiasaannya setiap pagi ia menyempatkan diri untuk menyapa Pak Jen.
"Selamat pagi Neng Dian,"sapa Pak Jen.
Diana tersenyum. "Pa-pagi juga pak Jen,"balas Diana ramah.
"Seneng banget kayaknya, dianterin siapa tadi Neng?"tanya Pak Jen.
"Eh, it-itu pak... kakak Dian,"jawab Diana gugup.
Pak Jen mengerutkan dahinya merasa heran. "Neng punya kakak?"tanya Pak Jen.
Diana mengangguk cepat. "I-iya, ta-tapi ki-kita beda ibu."
Pak Jen ber'oh' ria. Sejujurnya ia masih bingung dan penasaran, selama ini ia tidak pernah mendengar ataupun melihat kalau Diana mempunyai seorang kakak. Sebaiknya rasa penasarannya ditutup rapat-rapat, ia tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan Diana.
"Tumben gak bareng Alter?"tanya Pak Jen mengalihkan pembicaraan.
Diana menepuk keningnya. Ia lupa tidak mengabari Alterio kalau dirinya pindah rumah. Dengan cepat ia mengambil Handphone disaku roknya. Terlihat 10 pesan dan 5 panggilan tak terjawab dari Langit.
"Stars?"
Diana membalikan badannya. Melihat Alterio berlari kearahnya, ada rasa senang sekaligus khawatir didalam dirinya. Senang karena melihat Alterio dan khawatir karena Alterio mungkin datang ke rumahnya.
"Ma-ma-maaf Lang,"ucap Diana pelan.
"Kenapa minta maaf Stars? Aku hanya khawatir,"kata Alterio, wajahnya terlihat khawatir.
"Ak-aku lupa ngabarin kamu, sebenernya ak-aku pindah rumah,"jelas Diana.
"Pindah?"
Diana mengangguk. "Ka-kak aku nyuruh aku pindah rumah,"jawab Diana.
"Kakak?"
"I-iya ak-aku ng-ngak tahu kalau sebenernya aku itu punya kakak, aku baru tahunya kemarin. Aku dengan kakakku itu beda i-ibu,"jelas Diana.
Sebenarnya Alterio sudah tahu kalau kakak Diana datang ke Indonesia, hanya saja ia ingin Diana sendiri yang berbicara. Kakaknya sudah memberitahunya lebih awal, bahwa sahabatnya ternyata adalah kakak Diana. Ia senang, karena yakin, kalau hari-hari Diana akan lebih cerah.
"Ayo kita ke kelas, hari ini ada ulangan harian Kimia,"ajak Alterio dibalas anggukan oleh Diana.
-OoO-
Suara bel istirahat kedua berbunyi sangat nyaring, memekakan telinga semua warga sekolah. Apalagi untuk kelas XI Mipa 2 yang dekat sekali dengan pengeras suara, membuat Bulan berteriak-teriak memaki si pemencet bel.
Bukan hanya sipemencet bel, tapi semua orang yang membuat kerusuhan didepannya pun akan terkena makian dari Bulan. Alterio menarik lengan Diana agar sedikit menjauhi Bulan. Bulan yang tahu kalau Diana menjauhpun langsung menatap tajam kearah Alterio.
"Jangan dideketin Stars, iblisnya lagi keluar."bisik Alterio yang mungkin terdengar oleh Bulan.
"Alter! Lo kalo mau ngejauh-ngejauh aja sono dari gue jangan ajak-ajak Bintang!"ketus Bulan berdiri dari duduknya.
"Gue gak mau ya, sahabat gue pingsan gara-gara kena omelan lo!"ujar Alterio.
"Ya emang Bintang sahabat lo doang huh? Sahabat gue juga kali!"balas Bulan.
"Emang Stars mau ngakuin lo sebagai sahabat?"tanya Alterio meledek.
"Yee, emang lo juga dianggap sahabat sama Bintang?"tanya Bulan balik.
"UDAH!"teriak Diana sambil memijit-mijit pelipisnya.
"Emang gak cape apa, teriak-teriak terus!"pungkas Diana.
"Hmm... cape sih,"ucap Bulan menimang-nimang.
"Cih! Bulan Bintang Langit! Alay tau ngak?"ujar seseorang tiba-tiba.
Bulan, Diana serta Alterio menoleh secara bersamaan kearah sumber suara. Bulan berdecak, menatap horor sipembawa masalah, siapa lagi kalau Desintha Humayra. Diana hanya menatap datar Dessi sedangkan Alterio, merasa masabodo dalam situasi apapun toh disini sudah ada Bulan, tanpa melakukan apapun Bulan sudah melakukan hal yang tidak terduga. Jangan salah, Bulan memang cantik dan jarang bicara tapi Bulan bisa jadi orang yang berbahaya jika ada yang mengusik hidupnya.
"Lo ada masalah?"tanya Bulan dingin.
Dessi memutar bolanya malas. "Bulan. Cantik diluar, busuk! Didalem... hati-hati Diana, Bulan itu punya maksud tertentu mangkanya dia mau ngedeketin lo,"ujar Dessi memperingatkan Diana.
Bulan naik pitam, kedua tangannya mengepal. Sebelah tangan Bulan terangkat, bersiap untuk menampar Dessi.
"Percuma Bul, gak guna!"sakras Alterio.
"Iya,"balas Diana menyetujui ucapan Alterio.
Dessi mencibir ucapan Alterio, menatap datar kearah Diana kemudian pergi keluar kelas. Diana, menatap punggung Dessi yang semakin lama semakin menghilang, merasa aneh dari tatapan Dessi, seperti menisyaratkan sesuatu. Tapi apa?
"Ga-gak usah dipikirin Bul, Dessi emang begitu,"ucap Diana pada Bulan.
"Kamu dari kelas 10 dibully Dessi?"tanya Bulan.
Diana menggeleng. "Dari SD Bul,"jawab Diana.
Bulan menganga mendapati balasan yang sakral menurutnya. Dari SD, sekuat apa sebenarnya Diana, bisa tahan dengan orang seperti Dessi. Baru beberapa minggu saja, dirinya sudah tidak tahan akan keberadaan Dessi di kelas apalagi dari SD.
Bukan hanya Bulan yang kaget, tapi Alterio juga kaget. Ia baru tahu kalau Dessi adalah pembully Diana sejak SD.
"kamu tahan?"tanya Bulan.
"Ak-aku lebih baik dibully Dessi daripada mengingat orang tuaku,"jawab Diana.
"Rasanya sakit."sambungnya.
Bulan menyikut Alterio, memberikannya kode agar dia menghibur Diana. Alterio menepuk bahu Diana pelan.
"Jangan sedih Stars, aku dan Bulan akan ada untukmu,"ucap Alterio memberikan Diana semangat.
OoO
"Nonton yu?"ajak Bulan ketika masuk ke parkiran.
"Hm... gak enak sama Mamah. Mamah lagi sendirian di rumah."jawab Diana.
"Oh... yaudah, lusa aja gimana?"
Diana mengangguk. "Ya-yaudah."
"Bulan, aku pulang dulu ya,"pamit Diana pada Bulan.
"Gue juga, Bul,"lanjut Alterio masuk ke dalam mobilnya.
"I-iya hati-hati ya Bin, Al."Bulan melambai-lambaikan tangannya pada Diana.
Bulan tersenyum menatap kepergian Diana dan Alterio. Tak lama kemudian, ia masuk kedalam mobilnya dan menjalankan mobilnya menuju Rumah.
Senyumnya luntur saat melihat rumah yang terlihat sepi. Mamahnya sudah pindah rumah dan Papahnya belum pulang bekerja. Suara sapu lidi tergeser memecah keheningan, ia melihat Pak Didi sedang menyapu halaman.
Alter
Tiba-tiba nama itu terlintas dipikirannya, ia menggeleng pelan, kenapa pikirannya tertuju pada Alterio? Bahkan ia sama sekali tak memikirkan Alterio dari Alterio meninggalkan parkiran sampai saat ini. Kedua sudut bibirnya terangkat, menampilkan senyum manisnya. Alterio mempunyai caranya sendiri untuk membuatnya tertawa walau dengan candaan yang terdengar biasa, dia selalu membuatnya tersenyum.
Bulan merasa seperti super hiro yang selalu ada untuk Diana tapi ia sendiri membutuhkan Alterio untuk menjadi superhironya. Hanya Alterio yang mengerti dirinya, dia selalu memberikan solusi terbaik untuk masalahnya. Salahkan ia ingin Alteiro untuk menjadi superhironya?
"Apa cuma gue yang mikirin dia? Sedangkan dia, mungkin gak mikirin gue,"gumamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments