Hari ini Alleo datang ke kafe untuk menemui sahabatnya. Salah satu sahabat kecilnya tiba-tiba datang ke indonesia dan ingin langsung menemuinya. Aneh dan harus dipertanyakan, dia sendiri yang berbicara padanya kalau dia tidak akan kembali lagi ke indonesia tapi, sekarang dia malah balik ke indonesia. Bukannya tidak senang akan kedatangannya, kedatangannya yang mendadak membuatnya pusing, harus mengutamakan pekerjaan ataukah sahabatnya.
"Hello, udah lama?"
Alleo mendongkak, menatap kesumber suara. Meneliti orang yang berada dihadapannya ini dari atas kepala sampai ujung sepatu, bertanya-tanya dalam hati apakah dia ini sahabatnya?
"Lo beneran Revandra?"tanya Alleo memastikan.
Orang itu menggeleng tak pasti. "Bukan! Saya, Adiano,"ucap orang itu memperkenalkan diri.
Alleo memutar kedua bola matanya malas. "Iya! Revandra Adiano, puas?"
"Belum puas, sebelum saya melihat anda tertawa,"kata orang itu sambil duduk dikursi.
Alleo mengeluarkan tawanya yang sejak tadi ditahan. Sifat dia ternyata masih sama, konyol dan aneh.
"Anjir! Lo bener-bener gak cocok ngomong baku!"
"Ah, iyaya, kaku banget udah lama gue gak ngomong pake bahasa indonesia."
"Sok gaya lo! Bagaimana pun ini tempat kelahiran lo!"cibir Alleo sambil menoyor kepala Revan.
"Iya tau kok bang,"ucap Revan melas.
"Bang? Tumben banget manggil gue pake embel-embel,"cetus Alleo.
"Udah sadar bang, kan gue lebih muda 1 tahun dari lo."
"Alah! Gak pantes lo manggil gue abang."
"Aneh! Gue manggil lo sopan malah gak mau,"pungkas Revan.
"Udah lah! Males gue bahas itu, bye the way lo ke indo mau ngapain? Bukannya lo dulu pernah bilang kalau lo ngak mau balik ke indo lagi ya?"
"Gue-"ucap Revan menggantung.
"Gue mau nyari adik gue,"lanjutnya mengeluarkan ekspresi sedihnya.
"Adik? Lo punya adik?"tanya Alleo penasaran, yang ia tahu, Revan tidak mempunyai adik.
"Gue punya Le, kita satu ayah tapi beda ibu,"jawab Revan.
"Dia tinggal sama ayah lo kan? Yaudah hubungin aja ayah lo."Alleo memberi usul sambil menaik turunkan alisnya.
Revan mengusap wajahnya gusar. Mengingat tentang adiknya, hatinya merasa berkecamuk sedangkan Alleo masih menunggu Revan menyetujui usulnya. Mereka sama-sama terdiam dalam keheningan, selama beberapa menit mereka diam. Bagi Revan itu hal yang biasa saja tetapi bagi Alleo, keheningan adalah rivalnya.
"Mereka udah ninggalin adik gue selama bertahun-tahun dan gue baru tahu, kalau sebenernya gue itu punya adik--"
Satu hari sebelumnya.
Revan pulang ke Indonesia, seteleh ia tahu dari mamah-nya kalau sebenarnya ia mempunyai adik. Rasa semangat yang meledak-ledak, ia ingin cepat-cepat bertemu dengan adiknya.
Sesampainya di rumah ayahnya. Ia masuk kedalam rumah tanpa memencet bel, padahal ia tahu apakah benar ini rumah ayahnya atau bukan. Ayahnya yang sedang makan bersama dengan istrinya pun kaget.
"Revan?!"
Revan tersenyum, kemudian memeluk ayahnya. Ia sangat merindukan sosok ayah, bertahun-tahun dirinya tidak bertemu dengan ayah. Alasannya cukup logis, ia sibuk dan tidak bisa meninggalkan mamahnya sendirian disana. Setelah memeluk ayah, ia menyalimi ibu tirinya.
Matanya mencari-cari seorang gadis tapi sepertinya dia sedang tidak ada di rumah. Ayah merasa kebingungan begitu pula dengan sang ibu tiri.
"Kau sedang mencari apa Rev?"tanya Ayah.
"Hm... adik kecilku mana?"
Bagai petir yang menyambar langit yang tenang. Ayah merasa gelagapan, terlihat dari raut wajah ayah yang semula tenang menjadi tegang. Revan mengamati ibu tirinya, dia menangis. Ada apa sebenarnya?
"Ada apa Bun? Kenapa nangis? Adikku mana?"tanya Revan pada ibu tirinya.
"Dia-dia-adikmu... hm,"ujar ibu tirinya gugup.
"Sudah kami tinggalkan!"tegas ayah.
Tinggalkan? Apa maksud mereka? Ia sama sekali tidak mengerti. Apa mereka akan setega itu meninggalkan anak kandung mereka sendiri, ah, sepertinya sangat tidak mungkin.
"Tinggalkan?"
"Ya! Dia sudah kami tinggalkan sejak umur dia 9 tahun,"jelas Ayah.
Deg
9 tahun
9 tahun
9 tahun
9 tahun
Berkali-kali ia merapalkan dua kata itu. Mencerna setiap kata yang diucapkan oleh ayahnya sekali lagi, siapa tahu, dia salah mengartikan. Berarti sudah 7 tahun adiknya tinggal tanpa orang tua, sendirian. Refleks telapak tangannya mengepal, marah, kesal, emosi sekarang bercampur aduk menjadi satu.
"Ada alasan yang jelas?"tanya Revan dingin.
"Dia gagap! Dia hanya bisa mempermalukan kami! Kami tidak kuat mendapatkan celaan dari tetangga dan kerabat kami!"teriak Ayah.
Revan tertawa, hanya itu? Api kemarahan didalam dirinya semakin berkobar-kobar. Bagaimana bisa orang tua meninggalkan anaknya hanya dengan alasan malu. Kakinya refleks menendang meja makan sampai piring-piring bergeser dan berjatuhan.
Ibu tiri Revan menangis histeris sedangkan ayahnya menggeram marah. Hendak menampar anaknya tapi dengan cekatan Revan menahan tangan ayahnya.
"Orang tua GILA!"umpat Revan.
"Bagaimana bisa kalian meninggalkan anak kalian apalagi dia masih bocah! Umur 9 tahun bisa apa? Masak saja tidak bisa!"cerocos Revan.
"Tap--"
"Apa! Kalian malu punya anak seperti dia kan? Bukan hanya kalian, anak kalian juga malu! Kekurangan itu bukan keinginannya,"potong Revan cepat.
Untuk kedua kalinya ia memotong ucapan ayahnya. Yang pertama, karena bunda dan ayahnya bercerai dan yang kedua, sekarang. Masabodo dengan kata durhaka, ia marah, sangat marah. Mereka salah, tega sekali mereka meninggalkan adik kecilnya.
"Kurang-"
"Apa! Kalian mau maki saya! Kalian tidak punya cermin? Ngaca dulu sebelum memaki saya, kalian sudah benar atau belum."lagi dan lagi Revan memotong ucapan ayahnya.
"Dia sekolah atau tidak?"tanya Revan dingin.
"Dia sekolah, walau kami meninggalkan dia, kami tetap mengirimkan uang."
"Hentikan mengirim uang pada adik saya! Biar saya yang mengurus dia, tapi ingat! Setelah dia sukses nanti jangan harap kalian mengaku-ngaku sebagai orang tua. Saya tidak akan mengizinkan kalian bertemu dengan adik saya walau hanya sekedar bertatap wajah dan saya berjanji! Adik saya akan sukses melebihi saya!"
"Sebelum saya pergi, saya minta foto adik saya."
Ibu tirinya mengangguk mengeluarkan foto tersebut di dalam dompetnya. Revan memandangi foto tersebut, sebuah foto berukuran 4×6 bergambar anak kecil usianya kira-kira 8 tahunan.
Selain foto, Revan juga meminta alamat rumah adiknya tinggal. Setelah mendapatkan apa yang ia mau, ia pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua yang sedang termenung.
Alleo benar-benar menyimak cerita Revan. Sedikit bibirnya bergumam, berfikir bagaimana menyikapi Revan. Cerita Revan tadi sepertinya tidak asing lagi baginya, entah kenapa pikirannya sekarang ini tertuju pada satu orang. Orang itu adalah Diana, adik yang diceritakan oleh Revan sama persis dengan Diana, dia mempunyai kekurangan itu dan juga ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.
"Gue bisa liat fotonya?"tanya Alleo, dibalas anggukan oleh Revan.
Revan menyerahkan sebuah foto pada Alleo. Alleo tersentak kaget, benar dugaannya, dia adalah Diana. Tak cukup lama baginya mengenali foto itu, walau difoto itu Diana berumur 8 tahun, ia masih bisa mengenalinya.
"Diana,"gumam Alleo pelan.
"Apa? Lo tahu?"
"Ya, cewe terkuat yang pernah gue liat,"jawab Alleo.
"Tunggu apalagi! Ayo temui adik gue!"
"Sorry Van, gue gak bisa. Ada urusan di kantor,"sela Alleo.
"Ngak papa Le, thanks ya,"ucap Revan.
"Jangan pernah nangisin dia ya Van, nanti ade gue ngebogem lo,"canda Alleo sambil terkekeh.
"Ade lo? Alter? Dia suka sama ade gue."tebak Revan yang langsung mengenai sasaran.
"Yap! Dia yang udah menggembalikan senyum Diana,"kata Alleo sambil menepuk bahu Revan kemudian pergi dari hadapan Revan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments