Kata maaf dari Iqbal

Bismillahirohmanirohim.

Azizah dan Firman mengobrol kayaknya seperti seorang bapak dan anak, sepanjang perjalan menuju ruang kerja Iqbal, Firman selalu mengajak Azizah keponakan nya yang sudah dia anggap seperti anak sendiri mengobrol, sesekali juga Firman akan menyahuti sapaan para karyawannya.

"Jadi selama ini kamu tinggal sendiri, sebelum menikah nak?" tanya Firman memastikan.

"Benar paman, tapi ada ibu dan bapak mas Iqbal yang selalu membantu Zizah" 

"Syukurlah nak masih ada orang baik, paman senang mendengar kamu dikelilingi orang-orang baik" 

Obrolan kedua orang itu yang sudah lama tak bertemu terhenti, ketika Firman memberhentikan langkahnya, tepat di sebuah pintu, yang diatasnya tertera tulisan 'ruang direktur utama' Firman melangkah kakinya masuk diikuti oleh Azizah.

Tapi pandangan yang sama sekali tidak Azizah sangka terjadi di depan matanya, dia berdiri mematung di tempat,  perempuan yang mengenakan niqab itu hampir saja meneteskan air matanya. Saat melihat suaminya hampir saja dicium oleh perempuan lain.

"Apa yang kamu lakukan Olvie!" bentak Iqbal, karena dengan lancangnya Olvie hampir menyentuh bibirnya.

Iqbal maupun Olive belum menyadari kehadiran Azizah dan pak Firman di ruangan itu. 

"Jaga sopan santun kamu Olive! Kamu itu seorang perempuan!" maik Iqbal lagi.

Saat ini matanya sudah memerah menahan marah, jika saja Iqbal tak bisa mengendalikan diri mungkin saja, dia sudah menampar Olive saat ini. Jika Iqbal tak menghargai seorang perempuan mungkin sudah dia tendang Olive saat ini juga.

Selama ini Iqbal selalu sabar menghadapi para karyawan yang seperti Olive, tapi kali ini kelakuan Olive sudah di luar batas.

Iqbal terus beristighfar dalam hatinya, Iqbal merasa bersalah pada Azizah karena tidak bisa menjaga dirinya, Alhamdulillah bibir Olive belum menyentuh bibirnya.

Untung Iqbal segera menyadari pergerakan Olive, melihat Iqbal yang begitu marah, membuat Olive tak berani bersuara, dia menyesali perbuatannya  sendiri.

Azizah yang melihat muka suaminya merah berjalan mendekati Iqbal, Firman tidak bersuara dia ingin melihat tindakan apa yang akan Azizah lakukan.

"Mas" ucap Azizah sambil memegang pergelangan tangan suaminya dengan lembut, tentu saja hal itu membuat Iqbal kaget.

Rasa bersalahnya pada Azizah kembali menjalar kemana-mana, Iqbal yakin Azizah melihat apa yang terjadi. "Sayang" ucap Iqbal menatap Azizah dengan rasa bersalah. "Maaf" ucap Iqbal lagi dengan perasaan sesalnya, Azizah mengelus punggung suaminya untuk menenangkan Iqbal.

Hal itu sontak membuat Olive merasa heran, dia penasaran dengan perempuan yang Iqbal panggil dengan kata 'sayang' setahu Olive selama ini Iqbal tak pernah dekat dengan perempuan manapun.

"Hmmmm" dehem pak Firman yang membuat ketiga orang itu menoleh ke sumber suara.

"Pak Firman" sapa Iqbal dengan sopan, pak Firman mengangguk untuk merespon, sementara Olive sudah ketar-ketir takut pemilik perusahaan itu melihat apa yang telah dia lakukan tadi pada Iqbal.

"Kamu ikut saya Olive!" ucap Firman dengan nada dingin.

Olive tak berani menjawab, dia hanya mengikuti apa yang pak Firman suruh. 

"Matilah aku" Olive menyumpahi dirinya sendiri. 

Walaupun masih kesal pada Olive Iqbal tetap mengantar pak Firman sampai kedepan pintu keluar ruang kerjanya yang diikuti oleh Olive, setelah memastikan jika pak Firman sudah pergi, Olive segera mengunci ruang kerjanya, lalu dia berjalan kesisi Azizah.

Iqbal langsung memeluk istrinya dengan erat. "Maafkan mas Zizah, mas tidak ada niatan membuat sakit hati" sesal Iqbal dalam pelukan istrinya.  

Azizah ikut memeluk Iqbal dengan erat.

Air mata Iqbal sudah mengalir membasahi pipinya, dia sangat merasa bersalah pada istrinya itu.

Azizah menenangkan Iqbal terlebih dahulu, dia tahu pasti suaminya merasa bersalah pada dirinya. Sakit? tentu saja hati Azizah merasa sakit saat melihat suaminya hendak dicium oleh wanita lain, apalagi Azizah hampir melihatnya secara langsung.

Azizah ingin menangis, dia juga ingin marah, tapi Azizah tidak tahu harus marah dengan siapa, tidak mungkin dia marah pada suaminya, karena Azizah sendiri tahu jika Iqbal tidak bersalah.

"Tidak mas ini buka salah mas Iqbal, Zizah tahu itu" ucap Azizah sedikit bergetar, dia juga ikut menangis atas apa yang terjadi barusan.

Iqbal dapat merasakan tubuh istrinya yang bergetar, Iqbal menjadi semakin merasa bersalah pada Azizah. "Ya Allah kuatkan lah hamba Engkau yang lemah ini" batin Azizah berusaha menahan tubuhnya yang bergetar.

Iqbal melonggarkan pelukan istrinya, lalu menangkup wajah istrinya yang tertutup niqab, Iqbal tatap mata istrinya dengan penuh penyesalan.

"Huh…." Iqbal membuang nafas kecil. "Maafkan mas sayang, lagi-lagi kata maaf keluar dari mulut Iqbal.

"Sudah mas tidak papa, Azizha tahu ini bukan salah mas Iqbal" Azizah sudah bisa menenangkan dirinya.

Iqbal buka cadar istrinya, disana dia langsung mencium sang istri untuk menebus rasa bersalahnya.

"Mas ini di kantor, kalau ada yang lihat muka Zizah gimana, kalau ada yang lihat kita juga gimana" tegur Azizah pada Iqbal yang asal nyosor.

"Kamu tenang saja sayang, lagi pula ruangan mas sudah mas kunci, tidak akan ada yang melihat kita, dan tidak akan ada juga yang melihat wajah cantik istri mas dibalik cadar ini kecuali mas" ucap Iqbal sambil kembali melakukan kegiatannya.

"Mas Zizah hampir lupa, ayo makan dulu, Zizah itu kesini mau anter mas Iqbal makan siang, kok malah jadi Zizah yang menjadi santapan makan siang mas Iqbal" protesnya.

"Kalau begitu ayo kita makan" ajak Iqbal.

Azizah membuka bekel yang tadi dia buat untuk suaminya. "Kamu perhatian sekali sayang" ucap Iqbal sambil kembali mencuri ciuman di pipi istrinya.

"Zizah lagi pengen aja buatin mas Iqbal bekel, terus juga Zizah ingin main kesini" 

Iqbal menganggukkan kepalanya tanda mengerti, sambil dia mencuci tangannya untuk makan.

"Ets, biar mas suapin" ucap Iqbal saat Azizah menyiapkan sendok untuk dirinya, dia memegang sengaja ingin makan siang bersama suaminya.

"Baiklah" sahut Azizah sambil tersenyum.

Niqab yang Azizah kenakan sudah terlepas sedari tadi, Azizah menaruh niqab itu di sebelahnya. "Mas Iqbal sepertinya jangan makan di kantin kantor ya?" tebak Azizah di sela-sela makannya.

Azizah sudah menerima suapan pertama dari Iqbal. "Kamu tau dari  mana sayang? Kalau mas jarang makan di kantin kantor" ujar Iqbal penasaran.

"Nggak tau dari mana-mana mas, Zizah cuman nebak aja" 

"Oalah, iya mas memang sedari dulu jarang makan di kantin kantor"

"Kenapa?" tanya Azizah sambil kembali menerima suapan dari suaminya, mereka ini makan satu piring berdua.

"Mas hanya malas saja menjadi gosipan banyak orang jika di sana, lalu mas juga malas mendengar orang-orang yang selalu menggosipkan orang lain. Biasanya mas kalau mau makan di kantin kantor setelah kantin sepi barulah mas mau makan disana"

"Ternyata apa yang ibu dan bapak ceritakan pada Azizah benar, sebelum kita menikah mas Iqbal sudah membatasi diri dengan para perempuan" Azizah merasa senang.

Terpopuler

Comments

Tati Suwarsih Prabowi

Tati Suwarsih Prabowi

suami&istri soleha serasi

2022-12-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!