Bismillahirohmanirohim.
"Ingat pesan ibu dan bapak Bal, perlakukan Azizah dengan baik, sekarang dia tanggung jawabmu, ajak dia dijalan kebenaran, jangan ajak dia di jalan kemaksiatan. Ajak dia di jalan yang Allah ridhoi " ucap Heri mengelus punggung Iqbal dengan lembut.
Iqbal mendengarkan apa yang bapaknya katakan, sambil mencium punggung tangan bapaknya dengan takzim. Disana Iqbal mengangguk setiap menjawab ucapan bapaknya, dia sudah tak bisa berkata-kata lagi.
"Azizah itu wanita yang baik, dia Insyaallah akan menjadi istri solehah, istri yang selalu bisa menyenangkan suaminya" ucap Heri lagi.
"Ingat Bal di dalam rumah tangga itu harus memiliki akhlak, suami memiliki porsinya sendiri begitu juga istri memiliki porsinya sendiri" lalu Heri menoleh pada Azizah yang masih menunggu giliran untuk sungkem denganya.
"Dan untuk kamu Azizah, seorang istri itu paling gampang masuk surga yang penting taat pada suaminya dan tak meninggalkan syariat Allah. Insya Allah surga tempatnya" tutur Heri, Azizah mengangguk paham lalu dia kembali memperhatikan Iqbal.
"Untuk kamu Iqbal, jangan kamu kira kamu seorang suami akan masuk ke dalam surga-Nya, tidak begitu juga konsepnya, surga itu malah Iqbal. Yang namanya suami itu harus mendidik istrinya ke jalan Allah, peringati dia dengan lembut. Jika dia berbuat salah, boleh memukul istri jika dia salah, di dalam surat annisa ayat 34 sudah diterangkan, tapi jangan kamu salah arti pahami apa isi ayat tersebut"
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اَلرِّجَا لُ قَوَّا مُوْنَ عَلَى النِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَاۤ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَا لِهِمْ ۗ فَا لصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ ۗ وَا لّٰتِيْ تَخَا فُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَا جِعِ وَا ضْرِبُوْهُنَّ ۚ فَاِ نْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَلِيًّا كَبِيْرًا
ar-rijaalu qowwaamuuna 'alan-nisaaa-i bimaa fadhdholallohu ba'dhuhum 'alaa ba'dhiw wa bimaaa angfaquu min amwaalihim, fash-shoolihaatu qoonitaatun haafizhootul lil-ghoibi bimaa hafizholloh, wallaatii takhoofuuna nusyuuzahunna fa'izhuuhunna wahjuruuhunna fil-madhooji'i wadhribuuhunn, fa in atho'nakum fa laa tabghuu 'alaihinna sabiilaa, innallaha kaana 'aliyyang kabiiroo
"Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha Tinggi, Maha Besar."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 34).
"Disitu dikatakan perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka. Ingat yang pertama dikatakan disitu nasehati dia terlebih dahulu, tidak langsung memukul. Lalu jika dia tak mendengarkanmu juga. Tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang) ingat Iqbal yang kedua tak langsung memukul, pertama beri dia nasehat terlebih dahulu, jika dia tak mendengarkan juga maka pisah ranjang"
"Yang ketiga barulah pukul mereka. Disini bukan kamu memukulnya dengan sepuasmu, bukan kamu pukul sampai menyiksanya sampai menyakiti fisik dan batinnya. Tapi pukul hanya sekedar untuk membuat dia sadar. Apakah Nabi Ayub memukul istrinya dengan begitu kejam, saat dia bernazar pada Allah jika dia sembuh dari penyakitnya, dia akan memukul istrinya 100 kali?" saat sudah menjelaskan panjang lebar kini Heri bertanya pada anaknya itu.
"Tidak bapak, dengan petunjuk dari Allah karena Nabi Ayub tak sanggup memukul sang istri, Allah memberikan keringanan, Allah menyuruh Nabi Ayub untuk mengumpulkan 100 lidi yang dijadikan satu, lalu Allah memerintah pada Nabi Ayub untuk memukul istrinya satu kali dengan 100 lidi tersebut yang sudah disatukan, jadilah Nabi Ayub sudah memukul istrinya 100 kali dengan pelan menggunakan lidi yang tadi" tutur Iqbal menjawab ucapan bapaknya, penuturan Iqbal membuat Azizah mengembakan senyum dibalik cadarnya.
"Aku yakin dia laki-laki yang baik Ya Rabb" batin Azizah.
Heri belum selesai menasehati anak tunggalnya itu dia kembali berucap. "Iqbal suami itu nahkoda dalam bahtera rumah tangga, kamu tau bahtera itu apa namanya? Bahtera itu namanya perahu, dan perahu itu sudah pasti ada setirnya. Tergantung bagaimana nahkoda kapal ini bisa lurus, kapal ini bisa kekanan, kapal ini bisa kekiri, ada batu karangan dia pasti tau ada ombak dia juga pasti tahu (Habib Rifky alaydrus). Seperti itulah suami yang soleh mampu membian rumah tangganya dengan benar dan baik, bukan mengobrak abrik rumah tangganya sendiri"
"Jangan kamu gunakan Firman Allah Subhanahu Watt 'Alaa surat Annisa ayat 34 itu sebagai dalil kamu bisa memukul istrimu, telaahi dulu dan pelajar dulu, baru kamu bisa menggunakannya, di zaman sekarang ini banyak orang yang salah mengartikan ayat tersebut"
Heri membuang nafas kecil setelah puasa memberikan nasihat pada Iqbal, ada perasaan lega di hatinya setelah menyampaikan apa yang dia tahu pada Iqbal.
Setelah Iqbal selesai sungkeman dengan Heri, kini giliran Azizah yang melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan Iqbal. "Bapak Zizah minta doa restu dari bapak dan ibu, Zizah minta ridho kalian" tutur Azizah lembut, sambil mencium punggung tangan mertuanya.
Heri menatap menantunya dengan tatapan sedih. Dia elus pucuk kepala menantunya yang tertutup hijab sempurna. Heri tak biasa berkata dia kasihan dengan kehidupan Azizah yang sudah yatim piatu sejak kecil.
"Zizah ibu dan bapak ridho akan pernikahan kalian, ibu dan bapak akan selalu mendoakan pernikahan kalian, samawa nak"
"Aamiin" sahut Azizah saat Heri mengatakan, samawa. Yang berarti sakinah mawadah warohmah.
Sakinah dalam rumah tangga itu adalah ketika kita melihat kekurangan pasangan kita, namun kita bisa menjaga lidah kita agar tidak mencelanya.
Sedangkan mawaddah ketika melihat kekurangan pasangan kita, namun kita mampu memilih untuk menutup sebelah mata atas kekurangan pasangan kita dan membuka sebelah mata lain untuk kita berfokus pada kelebihannya bukan pada kekurangan pasangan kita.
Sementara Warohmah itu ketika kita mampu menjadikan kekurangan pasangan kita sebagai ladang amal untuk kita. Sungguh luar biasa pernikahan itu.
Pernikahan itu bisa menyatukan kedua insan yang tadinya haram untuk bersama, kini menjadi halal untuk terus berdua, bahkan menjadikan ladang pahala untuk sepasang suami istri di dalamnya.
Bahkan disaat suaminya marah pun seorang istri bisa mencari pahala di sana, dengan menegakan suaminya, membuat suaminya senang adalah suatu pahala bagi seorang istri.
Dulu kamu yang tak pernah mengenalnya, setelah menikah, kamu bahkan boleh menikmatinya, sungguh luar biasa pernikahan itu, bahkan dengan menikah kita dapat menyempurnakan separuh agama kita.
Yang lebih indahnya lagi dalam pernikahan sudah menjadi sunnah Nabi Muhammad SAW. Bahkan di dalamnya masih banyak sunah-sunnah beliau yang lainnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
nobita
alhamdulillah... makasih ya thor... baca novel sambil belajar agama... author nya berwawasan agama
2024-05-31
0
Tati Suwarsih Prabowi
Masya Allah...nasihat yg indah
2022-12-14
1