Di rumah sakit, Emma berjumpa dengan Bu RT Hanin.
"Ibu RT.." Emma menyapa wanita seumuran ibu nya itu.
"Emma!" Ibu RT memeluk singkat Emma.
"Mama sekarang di mana?" Tanya Emma dengan kecemasan yang tak bisa ia sembunyikan.
"Tenangkan diri mu,Emma. Mama mu baru saja dipindahkan ke ruang ICU," jawab Bu RT dengan nada menenangkan.
"Gimana kejadian nya sih, Bu?" Tanya Emma kalut.
"Kejadian nya cepat banget. Menurut tukang gorengan yang jualan di seberang warung Teh Ceceu, Bu Retno (Mama Emma) baru saja selesai menyebrang dari arah warung. Tapi dia malah ditabrak mobil yang dikendarai ngebut. Posisinya waktu itu Mama kamu memang belum sampai di pinggir jalan, sih, Emm. Jadi lah akhirnya dia tertabrak mobil itu cukup kencang," papar bu RT menjelaskan.
"Terus kondisi Mama gimana ya, Bu? Kata Gofur, Mama ngeluarin banyak darah ya??" Tanya Emma yang semakin panik.
"Tenanglah, Emm. Kita tunggu saja kabar selanjutnya dari dokter ahli nya ya! Berdoa saja. Semoga Bu Retno akan segera pulih dan tak mengalami luka dalam," ujar Bu RT menyampaikan harapan nya.
"Aamiin.." Emma mengaminkan dengan suara lirih.
Sayang nya, setengah jam kemudian, penantian Emma di depan ruang ICU itu belum juga berakhir. Bahkan hingga satu jam, dua jam, dan tiga jam kemudian, Emma masih juga duduk menunggu di depan ruang ICU.
Bu RT telah pamit kepada Emma sekitar setengah jam yang lalu. Beliau pulang tepat saat waktu menunjukkan pergantian hari.
Jadilah akhirnya Emma tinggal berdua saja dengan Reno. Meski begitu, Emma hampir melupakan keberadaan Reno di samping nya.
Beberapa kali Reno menawarkan air mineral dalam botol kepada Emma. Namun gadis itu menolak pemberian Reno dengan pandangan kosong.
Emma begitu diliputi oleh rasa cemas nya terhadap kondisi sang Mama. Sehingga ia mengabaikan kerongkongan nya yang terasa sedikit kering.
"Emm, minumlah dulu! Lalu tidurlah. Biar aku temani kamu di sini. Jadi nanti kalau dokter nya udah keluar dari ruang ICU, aku akan bangunin kamu. oke?" Reno memberikan usulan.
Emma menggeleng dalam diam. Ia tak henti menatap lekat pintu ruangan ICU di depan nya itu.
Emma tak bergeming meski Reno telah sering menyodorkan makanan dan minuman kepada nya. Karena yang jadi fokus perhatian nya saat ini adalah kondisi sang Mama.
Sekitar dua jam kemudian, pintu ruangan ICU akhirnya terbuka. Itu berarti telah lima jam lamanya Emma menunggu di luar pintu.
Dengan segera Emma berdiri dan menghampiri seorang dokter wanita yang baru saja keluar dari ruang ICU.
"Bagaimana kondisi Mama, Dok? Mama baik-baik saja kan?" Tanya Emma dengan mendesak.
"Maaf, Saudara adalah..?" Tanya Dokter perempuan itu.
"Saya putri nya, Dok! Jadi, gimana kondisi Mama saya?" Tanya Emma kembali.
"Saat ini Pasien masih dalam kondisi kritis. Kami sudah berupaya melakukan pertolongan pertama dengan sebaik mungkin. Akan tetapi ada beberapa tulang rusuk yang patah akibat benturan saat tabrakan. Naas nya pecahan itu melukai juga organ hati korban," papar dokter panjang lebar.
"Jadi, maksud nya apa itu, Dok? Mama saya akan baik-baik aja kan, Dok?" Tanya Emma penuh harap.
"Hh.. mari ikut saya ke ruangan, Nona. Saya akan jelaskan lebih rinci lagi di sana," jawab Dokter wanita itu dengan raut yang lebih serius dari sebelum nya.
Tanpa pikir panjang, Emma langsung mengikuti dokter Liani. Begitu lah nama yang tertera di id card yang tergantung di leher nya.
Di belakang Emma, Reno masih mengikuti dalam diam.
Seorang diri, Emma pun masuk ke dalam ruangan dokter Liani. Sementara Reno menunggu nya di luar.
Selama lima belas menit Emma berada di dalam ruangan itu. Dan ketika ia keluar, Reno melihat wajah Emma yang terlihat pucat tiba-tiba.
Pandangan Emma pun kosong. Gadis itu langsung terduduk di bangku panjang yang ada di luar ruangan. Kemudian ia menyurukkan kepala nya di bawah tangan. Secara perlahan, isak tangis pun keluar dari mulut Emma.
"Emm? Syuutt.. it'll be okay, Emm.. it will be okay.." hibur Reno sambil mengusap punggung Emma berulang-ulang.
Sekitar sepuluh menit lama nya Emma dalam posisi seperti itu. Ketika ia selesai menangis dan mengangkat wajah nya, kedua mata gadis itu telah membengkak merah jadi nya.
Emma mengusut sedikit ingus yang meler keluar dengan lengan sweater yang ia kenakan.
"Thanks, Ren.. kamu masih ada di sini.. thanks banget ya.. hiks.." tutur Emma dengan pandangan yang masih tertunduk.
Sebenar nya gadis itu merasa malu karena lagi-lagi ia menunjukkan kondisi lemah nya di hadapan Reno.
Bagaimana pun juga Reno adalah mantan kekasih nya. Emma sebenar nya ingin menjaga jarak dengan Reno. Jika bisa malah ia tak ingin bersinggungan lagi dengan pemuda itu. Namun..
"Sama-sama, Emm.. aku akan selalu siap untuk jadi sandaran kamu di kala susah dan senang. Trust me!" Seru Reno dengan tatapan meyakinkan.
Emma tak menyahut lagi selama beberapa waktu. Dan Reno pun membiarkan Emma menikmati kediaman nya itu.
Baru sekitar lima menit kemudian lah, akhirnya Emma kembali bicara.
"Dokter menemukan sel kanker di hati Mama. Ukuran nya lumayan besar. Hampir mengkontaminasi 10 persen hati Mama. Kata dokter, sayang banget kanker nya baru ketahuan sekarang.." tutur Emma bercerita.
"Maaf, kalau boleh tahu, kanker Tante Retno memang nya sudah stadium berapa?" Tanya Reno hati-hati.
"Stadium 2.." jawab Emma dnegan nada lemas.
"Stadium 2, Ren! Dan aku baru tahu sekarang! Gak tahu juga deh Mama sebelumnya udah tahu atau belum. Tapi menurutku sih Mama sendiri gak sadar sama kondisi tubuh nya sendiri," jelas Emma.
"Memang nya sebelum-sebelum nya gak ada gejala-gejala apa gitu, Emm?" Tanya Reno lagi.
"Aku..gak tahu, Ren.. aku.. gak sadar.. aku anak yang durhaka banget ya sama Mama? Mama ku sakit aja aku bisa telat tahu begini..!" Sesal Emma sambil kembali mengurai air mata.
Reno langsung menarik Emma ke dalam pelukan nya. Dengan penuh kasih, pemuda itu mengusap punggung Emma berulang-ulang.
"Ini bukan salah kamu, Emm. Kamu gak salah apa-apa.." hibur Reno.
"Enggak, Ren. Jelas banget aku tuh salah.. aku abai sama kondisi Mama. Selama ini mungkin aku sering lihat Mama muntah-muntah atau sakit perut. Tapi Mama bilang itu cuma sakit lambung aja. Dan aku cuek bebek sama kondisi Mama, Ren. Jelas banget kalau aku tuh gak peduli sama Mama. Aku anak yang durhaka..!" Sesal Emma sambil meraung sedih.
"Syuut.. it will be okay, Emm.. semuanya akan baik-baik saja. Tetap husnudzon sama Allah ya?" Reno mengingatkan Emma.
"Aku gak tahu Ren.. gimana nanti saat Mama sadar? Aku harus bilang gimana ke Mama soal penyakit nya itu? Kenapa penyakit itu menimpa Mama? Kenapa enggak aku..?!"
Reno menutup mulut Emma dengan telunjuk nya.
"Syuut.. jangan ngomong yang aneh-aneh. Sekarang yang bisa kita lakuin adalah berdoa dan kasih support terbaik ke Tante Retno. Jadi jangan malah down gini dong, Emm. Oke?" Hibur Reno kembali.
Emma menatap sendu ke dalam mata cokelat nya Reno. Ia tak menyahut apa-apa lagi atas ucapan pemuda di depan nya itu.
Yang ada dalam pikiran Emma saat ini adalah, 'Dari mana aku bisa mendapatkan uang untuk pengobatan Mama nanti? Jumlah yang disebutkan oleh Dokter Liani tadi sangat besar sekali.. sepanjang hidup ku ini, aku sama sekali tak pernah bermimpi bisa memiliki uang sebanyak itu.. Ya Tuhan..!' gumam Emma dalam hati.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Astuty Nuraeni
emm jangan bilang nanti kamu mau ngasih cello lagi
2022-12-28
1
Astuty Nuraeni
kayaknya dah tau deh.. mama kan sering nyuruh emma nikah mungkin karena mama takut nggK sampai umur sampe anakny nikah
2022-12-28
1
Astuty Nuraeni
duh kasian mama
2022-12-28
1