Eyang Untung

Akhirnya selepas maghrib, Emma dan Susi jadi pergi ke rumah ustadz.

Benar kata Susi, perjalanan menuju rumah ustadz tersebut memakan waktu hampir satu jam lama nya. Letak nya ada di pelosok kota. Di wilayah kumuh melewati gang-gang kecil perumahan.

"Kamu yakin ini rumah ustadz nya, Sus?" Tanya Emma yang terlihat sangsi saat melihat kawasan tempat Susi memberhentikan motor nya.

"Iya. Ini. Kenapa memang nya?" Tanya Susi yang kini memimpin Emma berjalan di depan.

"Kok kawasan nya padat banget ya? Gak ada halaman-halaman nya gitu," jawab Emma yang mengikuti Susi di belakang.

Jalan yang mereka lewati tak lebih dari satu meter panjang nya. Jadi Emma dan Susi tak bisa berjalan sisian saat memasuki gang lain yang lebih sempit. Motor Susi pun tadi mereka titipkan di salah satu rumah warga.

"Mene ke teheng.. tapi nanti di rumah ustadz nya ada halaman nya kok. Jadi nanti kalau kamu mau main bola atau gulat-gulatan juga bisa tuh di sana!" Seloroh Susi asal.

Emma menoyor bahu Susi dari belakang.

"Kampret kamu, Sus!"

"Tuh, kita udah mau sampe!" Seru Susi tiba-tiba.

"Yang mana rumah nya?" Tanya Emma sambil melongokkan kepala nya ke depan.

"Nih, yang ini.."

Susi lalu memasuki sebuah halaman rumah bercat hijau. Rumah ini letak nya di ujung jalan. Tak ada rumah lagi yang terlihat di sebelah rumah yang dituju oleh Susi ini.

Namun Emma langsung merapatkan diri ke Susi saat ia menengok lurus ke depan, tepat nya ke sisi kanan rumah tersebut. Karena hamparan kuburan terlihat berbaris rapih di lahan tersebut.

Pandangan Emma lalu tertarik pada sebuah pohon beringin besar yang ada di pertengahan pemakaman. Akar-akar gantung nya terlihat bergoyang-goyang seperti tersibak angin. Padahal jelas-jelas Emma tak merasakan adanya angin berhembus pada malam itu.

Buru-buru Emma mengalihkan pandangan nya kembali ke teras rumah yang dituju oleh kaki nya. Ia tak mau bila ia tak sengaja melihat penampakan apapun yang sedang bergelantungan pada akar-akar tersebut.

'Hii.. ngerii!' seru batin Emna.

"Assalamu'alaikum!" Sapa Susi ke penunggu rumah.

Tak ada sahutan dari dalam rumah. Rumah nampak sangat sepi menurut Emma.

"Gak ada orang, Sus? Beneran ini bukan rumah nya?" Tanya Emma.

"Iya. Aku jelas inget rumah nya yang ini. Sebelahan sama pemakaman soal nya!" Seru Susi dengan nada yakin.

"Assalamu'alaikum! Permisi!" Sapa Susi mengulang.

Setelah jeda beberapa lama, lagi-lagi tak ada sahutan dari dalam rumah.

"Gak ada orang nya kali, Sus?" Tebak Emma.

"Bentar dulu napa, Emm. Yang sabar dong. Siapa tahu ustadz nya lagi wiridan. Atau ke mushola. Belum lama Ini kan baru lewat adzan isya!" Tegur Susi.

"Hmm.. bisa jadi juga sih. Terus gimana nih?" Tanya Emma bingung.

"Yaudah. Kita tungguin aja dulu tuh di teras nya. Sayang juga kan kalau kita langsung balik," sahut Susi.

Keduanya lalu duduk menunggu di kursi plastik yang ada di teras rumah hijau tersebut.

Emma beberapa kali menepok nyamuk yang mengerubung di kuping nya. Sementara Susi terlihat anteng tak terganggu nyamuk sama sekali.

"Dih.. perasaan ini nyamuk banyak banget. Ngerubung di kuping aku melulu lagi. Kamu kayak nya enggak digangguin sih, Sus?" Tanya Emma keheranan.

"Ya iyalah enggak. Aku kan udah pakai lotion anti nyamuk," jawab Susi sdengan enteng nya.

"Hah? Kapan kamu pakai nya? Mana bagi sini! Gak solider banget deh. Temen dikerubungin nyamuk. Gak bagi-bagi lotion!" Gerutu Emma sambil menodong Susi.

"Tadi pas kita baru turun dari motor. Aku langsung pake lotion," jawab Susi lagi.

"Curang! Kenapa gak bagi-bagi sih, Sus?" Protes Emma merajuk.

"Sengaja. Biar kamu ngerasain dikerubungin nyamuk. Soal nya waktu pertama aku ke sini juga aku dikerubungi nyamuk. Jadi solider banget kan aku. Karena biarin kamu punya pengalaman yang sama kayak aku dulu. Hihihi.." Susi terkikik geli.

"Dasar kampret! Punya teman kejam banget sih!" Rutuk Emma kemudian.

"Hahaha. Tenang Emm.. nih aku sisain kok lotion nya buat kamu.."

Susi lalu menyerahkan botol kecil lotion anti nyamuk dari dalam saku nya kepada Emma.

Sambil mengerucutkan bibir nya, Emma pun langsung mengolesi lengan, leher dan kuping nya dengan lotion tersebut.

Setelah itu, nyamuk-nyamuk pun tak lagi bernyanyi di dekat telinga nya.

Setelah setengah jam menunggu, kedua nya mulai kesal dan tak betah.

"Kita balik aja dah yuk! Makin malam nih. Pak ustadz nya gak balik-balik sih dari mushola. Apa lagi ada riungan kali ya?" Emma kembali menebak.

"Iya kali ya. Yaudah lah. Kita balik aja yuk!" Sahut Susi seraya bangkit dari kursi.

Akan tetapi, ketika mereka baru keluar dari halaman dan hendak melewati jalan gang menuju tempat kedatangan mereka tadi, suara panggilan dari belakang mereka langsung menghentikan langkah kedua nga.

"Tunggu!" Panggilan suara seorang pria.

Emma dan Susi seketika menoleh.

"Pak ustadz!" Sapa Susi segera.

Susi lalu menarik tangan Emma untuk mendekati ustadz yang terlihat sudah udzur tersebut.

"Assalamu'alaikum, Ustadz! Maaf kami datang kemalaman. Sebenar nya kami sudah menunggu hampir setengah jam an tadi di teras rumah Pak Ustadz," papar Susi menjelaskan.

Emma hanya mengangguk-angguk sambil mengamati penampilan ustadz sepuh di depan nya.

Bisa dibilang, ustadz tersebut sudah kakek-kakek. Ia mengenakan koko putih, sarung putih dan juga peci putih. Sebuah senyuman ramah tersampir di wajah nya yang terlihat cerah.

"Panggil saja saya Eyang.. Dan, Ya. Saya tahu tujuan kalian datang kemari. Terutama setelah saya melihat rekan ghaib yang mengikuti kalian ke sini," ucap Eyang Untung masih sambil tetap tersenyum.

Emma dan Susi saling berpandangan. Keduanya tak mengerti dengan ucapan sang Eyang.

Susi lah yang kemudian memberanikan diri untuk bertanya pada Eyang.

"Maaf.. maksud nya rekan ghaib itu apa ya, Eyang?" Tanya Susi.

Eyang Untung memberikan Susi senyuman yang lebih lebar baru kemudian menjawab pertanyaan nya.

"Ya itu tadi. Makhluk halus yang jauh-jauh datang bersama kalian ke sini. Dia yang sekarang sedang memperhatikan teman mu yang satu ini lekat-lekat. Sepertinya ada yang makhluk halus itu inginkan dari teman mu ini," jawab Eyang Untung dengan enteng nya.

Seketika itu juga bulu roma Emma dan Susi langsung merinding ngeri.

"Makh..makhluk halus ngikutin saya, Eyang??" Tanya Emma dengan suara cicitan.

Eyang Untung lalu menatap Emma kemudian. Dan Emma menangkap iba pada pandangan Eyang di depan nya itu.

"Hmm.. kamu sepertinya cukup istimewa, anak muda. Aura di tubuh mu menarik perhatian para makhluk halus. Jika kamu bisa mengendalikan apa yang sudah diwariskan pada mu sejak turun temurun itu, kamu akan bisa membuka dan memanfaatkan mata ghaib mu dengan sebaik mungkin," tutur Eyang Untung menasihati.

"Saya enggak ngerti Eyang. Kalau bisa malah saya gak mau ngerti sama soal yang begituan. Saya mau nya hidup saya damai-damai aja gitu, Eyang. Gak mau diusik sama makhluk halus. Mohon bantuan dari Eyang.." ujar Emma meminta bantuan.

"Hm.. begitu? Sebenar nya mata ghaib mu sudah setengah terbuka. Sepertinya terbuka secara tak sengaja dalam kejadian baru-baru ini. Tapi masih mungkin juga sih untuk menutup nya. Jadi kamu benar ingin ditutup saja?" Tanya Eyang Untung meyakinkan.

Emma langsung mengangguk cepat. Walaupun sebenar nya ia tak begitu paham soal pembahasan tentang mata ghaib ini.

"Hmm.. Begitu ya. Baiklah.."

Lelaki sepuh itu lalu mengulurkan tangan nya ke arah wajah Emma. Beliau lalu menyapukan tangan nya ke wajah Emma tanpa menyentuh nya.

Saat didekati tersbeut, Emma lalu merasakan hawa dingin menerpa wajah nya. Dan setelah itu, ia tak lagi merasakan apa-apa.

"Nah. Sudah saya tutup. Tapi saya sarankan, kamu jangan pergi ke tempat terakhir kamu pergi seminggu yang lalu. Sepertinya di tempat itu lah mata ghaib mu tak sengaja dibuka," tutur sang kakek menasihati.

Emma melongo heran.

"Su..sudah, Eyang?" Tanya Emma tak percaya.

"Ya sudah. Makhluk halus yang mengikut kalian ke mari juga sudah saya suruh pulang ke asal nya. Dia gak akan mengikuti kamu lagi. Kecuali kalau kamu yang datang mengunjungi rumah nya," jawab Eyang Untung.

"Al..alhamdulillah.. terima kasih Eyang!" Ucap Emma merasa lega.

"Sekarsng, kalian pulang lah. Tak baik bila malam-malam anak gadis keluyuran. Dan kamu, Nak. Berhati-hati lah saat melewati tikungan," ucap Eyang Untung kepada Susi.

"Huh? I..iya Eyang! Saya akan berhati-hati," jawab Susi.

Emma dan Susi pun kemudian pamit dengan hati yang tak merasa enak. Tak enak nya adalah karena Eyang Untung tak mau menerima amplop yang disodorkan oleh Emma.

Katanya, "sedekahkan saja, Nak. Uang itu tak lagi berguna untuk saya."

Alhasil Emma dan Susi pun pamit dengan membawa kembali amplop tersebut.

Di perjalanan mengambil motor Susi, keduanya mengucap terima kasih pada bapak pemilik rumah yang mereka titipi motor Susi.

"Makasih ya, Pak. Udah boleh parkir di sini," ucap Susi dan Emma hampir bersamaan.

"Sama-sama, Neng. Memang nya Neng-Neng ini habis dari rumah siapa?" Tanya Bapak itu perhatian.

"Itu Pak. Habis dari rumah di samping pemakaman. milik Ustadz Untung," jawab Susi.

"Ooh.. mau ngelayat ya? Pasti tadi sepi kan di rumah nya? Soal nya acara selamatan Eyang Untung diadain di rumah anak nya sih.." jawab bapak tersebut dengan santai nya.

Seketika itu pula Emma dan Susi terkejut setengah mati.

"Maksud Bapak? Ngelayatin siapa?" Tanya Susi dengan ekspresi yang terlihat pucat seketika.

"Lho? Bukan nya kalian ini mau ngelayatin almarhum Eyang Untung ya? Kejadian nya memang dadakan banget sih. Tapi dari kemarin juga banyak yang datang ke tiga harian nya Eyang Untung.." jawab Bapak itu lagi.

"Eyang Untung itu yang rumah nya di ujung gang ini, bukan, Pak?!" tanya Susi memastikan.

"iya. yang sampingan sama pemakaman tua itu lho, Mbak. Mbak nya katanya habis dari sana kan barusan?" tanya si Bapak dengan raut bingung.

Pikirnya mungkin Emma dan Susi ini gadis yang plin plan.

"Jadi.. ustadz Untung itu.. udah meninggal pak?!" Tanya Emma terkejut.

"Lha iya. Ini udah hari ke lima nya beliau meninggal."

Jawaban dari bapak tersebut seketika membuat tungkai kaki Emma dan Susi terasa lemas.

***

Terpopuler

Comments

Astuty Nuraeni

Astuty Nuraeni

kalau aku pasti dah pingsan

2022-12-22

1

Astuty Nuraeni

Astuty Nuraeni

jadi apa tadi hantuu

2022-12-22

1

Astuty Nuraeni

Astuty Nuraeni

cello kah.. ih aku jadi tercello cello

2022-12-22

1

lihat semua
Episodes
1 Awal Mula
2 Lowongan Pekerjaan
3 Bermain
4 Menjadi Tahanan
5 Terbebas
6 Bertemu Reno
7 Diantar Pulang
8 Nasihat Mama
9 Ke Mall
10 Kejadian Ganjil
11 Kesambet
12 Kedatangan Susi
13 Galaknya Mama
14 Eyang Untung
15 Obrolan Soal Menikah
16 Bermain ke Rumah Inge
17 Reuni SMA
18 Ditinggal Susi
19 Mama Kecelakaan
20 Diagnosa Dokter
21 Ancaman ibu Sofia
22 Surat Perjanjian Baru
23 Harapan Mama
24 Kata Hati Emma
25 Membuat Kenangan
26 Kembali Lagi
27 Ucapan Selamat Datang
28 Bekerja pada Orang Gila
29 Tanda Terima Kasih
30 Siapa itu Celia?
31 Diam nya Sella dan Cello
32 Harapan Retno
33 Harapan di Penghujung Subuh
34 Terang Hari
35 Perselisihan di Dapur
36 Persiapan Makan Malam
37 Kekenyangan
38 Terjebak di Taman Labirin
39 Dunia Mimpi
40 Tinggal Sendiri
41 Rudolf
42 Buah Pengingat
43 Air Terjun Pelupa
44 Terbangun
45 Chat dengan Reno
46 Cello Marah
47 Pagi Merona
48 Sarapan Duluan
49 Terhipnotis
50 Hampir tenggelam
51 Perbincangan Monolog dengan Cello
52 Cerita Bi Hara
53 Rahasia
54 Kebenaran
55 Wanita Gila Yang Sebenarnya
56 Satu Kamar
57 Sein
58 Kemunculan Susi
59 Hal Ganjil
60 Susi Koma?
61 Kebenaran tentang Susi
62 Confession
63 Kenangan Saat Putus
64 Janji Reno
65 Siluet
66 Kisah Hidup Pak Kiman
67 Masuk Perangkap
68 Candaan Reno
69 Mengunjungi Susi
70 Kesimpulan Emma
71 Menjenguk Mama
72 Prakata Retno
73 Bertemu Mei
74 Ditodong Menikah
75 Ke KUA Yuk!
76 Ketidaksabaran Celia
77 Pulang
78 Canda dan Tawa
79 Spirit Susi
80 Susi Bercerita
81 Minta Tolong Mbak Kunti
82 Boneka Emma
83 Bertemu Sella dan cello lagi
84 Pasar Ghaib
85 Godaan Berat
86 Nasihat Perawat Asing
87 Psikolog atau Ustadz?
88 Penjelasan Ustadz Adam
89 Diganggu Celia
90 Kembali Bangun
91 Main Petak Umpet
92 Lorong Rahasia
93 Pak Kiman?!!
94 Permainan Seru
95 Ancaman pak Adda
96 Bermain di Luar
97 Berhasil Kabur
98 Bantuan dari Sein
99 Bertemu Sella
100 Foto Kimanto
101 Persiapan Menjemput Emma
102 Dimarahi Hantu
103 Curhat Kuyang dan Kunti
104 Arahan dari Kakek Asing
105 Misi yang Tuntas
106 Reno Datang
107 Pelet Bi Hara
108 Rencana Reno
109 Sella Marah
110 Tertangkap Lagi
111 Kedstangan Reno
112 Mengalahkan Pak Adda
113 Pertolongan yang Lain
114 Keluar dari Ruang Rahasia
115 Sofia Mati
116 Meninggalkan Reno
117 Malam Berkabut
118 Kiman Tersadar
119 Pemuda Aneh
120 Bertemu Rudolf di Pasar Ghaib
121 Terbangun di Rumah Sakit
122 Kebenaran tentang Pak Kiman
123 Berkunjung ke Rumah Megah
124 Sella dalam Wujud Manusia
125 Wali Pengganti
126 Mengunjungi Susi
127 Bertemu dalam Mimpi
128 Permintaan Terakhir
129 Akhir yang Bahagia
130 Promosi Genre TEEN
131 Promosi Genre Rumah Tangga
Episodes

Updated 131 Episodes

1
Awal Mula
2
Lowongan Pekerjaan
3
Bermain
4
Menjadi Tahanan
5
Terbebas
6
Bertemu Reno
7
Diantar Pulang
8
Nasihat Mama
9
Ke Mall
10
Kejadian Ganjil
11
Kesambet
12
Kedatangan Susi
13
Galaknya Mama
14
Eyang Untung
15
Obrolan Soal Menikah
16
Bermain ke Rumah Inge
17
Reuni SMA
18
Ditinggal Susi
19
Mama Kecelakaan
20
Diagnosa Dokter
21
Ancaman ibu Sofia
22
Surat Perjanjian Baru
23
Harapan Mama
24
Kata Hati Emma
25
Membuat Kenangan
26
Kembali Lagi
27
Ucapan Selamat Datang
28
Bekerja pada Orang Gila
29
Tanda Terima Kasih
30
Siapa itu Celia?
31
Diam nya Sella dan Cello
32
Harapan Retno
33
Harapan di Penghujung Subuh
34
Terang Hari
35
Perselisihan di Dapur
36
Persiapan Makan Malam
37
Kekenyangan
38
Terjebak di Taman Labirin
39
Dunia Mimpi
40
Tinggal Sendiri
41
Rudolf
42
Buah Pengingat
43
Air Terjun Pelupa
44
Terbangun
45
Chat dengan Reno
46
Cello Marah
47
Pagi Merona
48
Sarapan Duluan
49
Terhipnotis
50
Hampir tenggelam
51
Perbincangan Monolog dengan Cello
52
Cerita Bi Hara
53
Rahasia
54
Kebenaran
55
Wanita Gila Yang Sebenarnya
56
Satu Kamar
57
Sein
58
Kemunculan Susi
59
Hal Ganjil
60
Susi Koma?
61
Kebenaran tentang Susi
62
Confession
63
Kenangan Saat Putus
64
Janji Reno
65
Siluet
66
Kisah Hidup Pak Kiman
67
Masuk Perangkap
68
Candaan Reno
69
Mengunjungi Susi
70
Kesimpulan Emma
71
Menjenguk Mama
72
Prakata Retno
73
Bertemu Mei
74
Ditodong Menikah
75
Ke KUA Yuk!
76
Ketidaksabaran Celia
77
Pulang
78
Canda dan Tawa
79
Spirit Susi
80
Susi Bercerita
81
Minta Tolong Mbak Kunti
82
Boneka Emma
83
Bertemu Sella dan cello lagi
84
Pasar Ghaib
85
Godaan Berat
86
Nasihat Perawat Asing
87
Psikolog atau Ustadz?
88
Penjelasan Ustadz Adam
89
Diganggu Celia
90
Kembali Bangun
91
Main Petak Umpet
92
Lorong Rahasia
93
Pak Kiman?!!
94
Permainan Seru
95
Ancaman pak Adda
96
Bermain di Luar
97
Berhasil Kabur
98
Bantuan dari Sein
99
Bertemu Sella
100
Foto Kimanto
101
Persiapan Menjemput Emma
102
Dimarahi Hantu
103
Curhat Kuyang dan Kunti
104
Arahan dari Kakek Asing
105
Misi yang Tuntas
106
Reno Datang
107
Pelet Bi Hara
108
Rencana Reno
109
Sella Marah
110
Tertangkap Lagi
111
Kedstangan Reno
112
Mengalahkan Pak Adda
113
Pertolongan yang Lain
114
Keluar dari Ruang Rahasia
115
Sofia Mati
116
Meninggalkan Reno
117
Malam Berkabut
118
Kiman Tersadar
119
Pemuda Aneh
120
Bertemu Rudolf di Pasar Ghaib
121
Terbangun di Rumah Sakit
122
Kebenaran tentang Pak Kiman
123
Berkunjung ke Rumah Megah
124
Sella dalam Wujud Manusia
125
Wali Pengganti
126
Mengunjungi Susi
127
Bertemu dalam Mimpi
128
Permintaan Terakhir
129
Akhir yang Bahagia
130
Promosi Genre TEEN
131
Promosi Genre Rumah Tangga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!