"Aku juga mau, Kak! Aku mau!" Giliran suara boneka Sella yang berseru riang di dekat Emma.
Emma lalu merasakan saat boneka Sella ikut melompat ke atas punggung nya. Sehingga kini, Emma ditunggangi oleh dua boneka arwah.
Emma lalu berusaha meraih boneka di punggung nya dengan satu tangan nya. Sebuah usaha yang dilakukan nya dengan susah payah karena beban tubuh kedua boneka itu benar-benar terasa berat bagi Emma.
Emma bahkan harus kembali tersungkur di atas lantai. Namun ia tak menghiraukan rasa sakit yang dirasakan nya. Emma merasa harapan nya bangkit kala ia berhasil memegang kepala salah satu boneka di punggung nya itu.
Emma tadinya berniat untuk membuang boneka itu dari atas punggung nya. Namun besetan benda tajam, yang Emma duga adalah pisau yang dipegang Cello telah melukai pergelangan tangan nya.
Seketika itu pula, Emma merasakan nyeri berdenyut di pergelangan tangan kiri nya.
Darah segar pun mengalir deras dari luka di tangan Emma, yang ternyata cukup dalam.
Lagi-lagi Emma mengabaikan rasa sakit nya. Ia kembali meraih boneka di punggung nya. Namun usaha nya itu harus terhenti saat Emma merasakan rambut nya ditarik dengan sentakan kuat.
"Arrggh!"
Gabruk. Kepala Emma lagi-lagi terantuk ke atas lantai granit yang keras. Kali ini, benturan nya sangat kencang sehingga membuat Emma tak bisa segera menjernihkan kepala nya dari rasa pusing yang melanda.
Terlebih dengan darah yang masih terus mengucur deras dari luka di tangan nya. Makin lemas lah jadi nya Emma.
Dalam hitungan menit, Emma pun kehilangan kesadaran nya segera.
***
"Kalian harus berhati-hati! Akhir-akhir ini, sangat sulit untuk mencari nanny pengasuh bagi kalian, tahu!"
Samar-samar Emma mendengar suara Ibu Sofia berbicara tak jauh dari nya.
Emma ingin membuka kedua mata, namun rasa pusing di kepala nya benar-benar menahan nya untuk tetap terpejam.
"Sudah. Sekarang, kalian tidur lah! Semoga saja kondisi Emma akan lekas pulih," imbuh Ibu Sofia lagi.
Emma lalu merasakan jeda beberapa saat, sebelum akhirnya ibu Sofia kembali bicara.
"Jangan dulu! Bagaimana kalau dia ketakutan lagi?! Tunggu lah sampai luka di tangan nya membaik. Oke, Dears?" Tutur ibu Sofia lagi.
Ia terdengar seperti sedang bermonolog dengan diri nya sendiri, menurut Emma.
Emma ingin melihat, dengan siapa ibu Sofia sedang berbicara. Akan tetapi Emma masih merasa kepala nya begitu berat. Jadi ia menyerah pada rasa pusing itu. Hanya pendengaran nya saja yang tetap ia fungsikan untuk mendengarkan suara di sekitar nya.
Kemudian Emma mendengar suara pintu tertutup. Dan setelah menunggu beberapa saat lagi, ia tak lagi mendengar suara siapapun bicara di dekat nya. Baru saat itu lah Emma membuka kedua mata nya.
Kini ia berada di sebuah ruangan putih yang cukup luas. Ruangan asing yang tak pernah Emma masuki.
Emma lalu teringat kembali dengan semua kejadian yang menimpa nya baru-baru ini.
Dimulai sejak ia menerima kartu pengenal dari Mei Chan, menelpon ibu Sofia, datang ke villa Grandhill seorang diri, menerima pekerjaan sebagai nanny, hingga akhirnya ingatan nya sampai ke tragedi terkait boneka arwah yang telah membuat nya terkapar lemah seperti sekarang ini.
Seketika itu pula Emma mencoba untuk bangkit duduk. Akan tetapi sesuatu yang terasa dingin menahan pergelangan tangan dan juga kaki nya.
Emma lalu melihat, kalau saat ini keempat tangan dan kaki nya itu telah ditahan oleh borgol yang menahan nya tetap berada di atas sebuah kasur kecil.
Kasur ini mirip seperti yang dipakai untuk menahan pasien pengidap sakit jiwa yang pernah Emma lihat di televisi.
Menyadari kalau lagi-lagi ia telah ditahan dan tak bisa lari kemana-mana, Emma pun seketika menangis.
"Hiks.. Mama.. tolong Emma, Ma.."
Emma memanggil sang ibunda yang saat ini mungkin sedang khawatir menunggu kabar telepon dari nya.
Sebelum pergi dengan koper berisi baju menuju villa ini, Emma memang sempat berpamitan pada Retno, sang ibunda.
Kepada Retno, Emma berkata kalau ia akan menghubungi ibu nya itu begitu ia selesai membereskan perlengkapan pribadi nya di kamar tempat nya bekerja.
Itu berarti baru kemarin sore ia bertemu dan berbincang dengan sang Mama.
Kini, Emma sudah merasa sangat rindu pada sang Mama. Rasa nya ia telah lama tak menjumpai wajah teduh milik ibu nya itu.
"Mama.. Emma sakit, Ma.." lagi-lagi Emma melirihkan tangis.
Ia benar-benar merasa nasib nya begitu sial karena kini ia harus ditahan di villa mewah yang mengandung horor paling mengerikan ini.
Emma terutama menyesalkan nasib nya yang harus menjadi bulan-bulanan dua boneka arwah yang telah berbuat jahat kepada nya.
Cklek.
Emma mendengar suara pintu yang hendak terbuka. Dan ia pun bergegas kembali memejamkan kedua mata nya.
Ia tak ingin siapapun yang hendak masuk ke kamar itu menyadari kalau ia sudah tersadar.
Tak lama kemudian, Emma mendengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat inya. Setelah hening beberapa lama, Emma lalu mendengar seseorang bicara.
"Bangun lah, Nona Emma. Saya mendengar suara Non Emma menangis tadi. Jadi tak ada guna nya bila Nona pura-pura tidur saat ini," Emma mengenali suara itu.
Itu adalah suara ibu Hara, Asisten rumah tangga di villa Grandhill ini.
Emma akhirnya membuka kedua mata nya secara perlahan. Dengan was-was, ia memperhatikan ibu Hara lekat-lekat.
Wajah ibu Hara terlihat teduh dengan senyuman iba yang kini terpatri di wajah nya yang mulai dimakan renta.
Melihat wajah ibu Hara, Emma jadi teringat dengan wajah ibu nya sendiri.
Emma pun memberanikan diri untuk menyampaikan kehendak nya pada ibu Hara.
"Ibu.. Emma minta tolong.. bisa kah ibu menolong Emma pergi dari sini? Emma ingin pulang, Bu.. Emma takut.. apa ibu tahu kalau ibu Sofia itu.."
Emma terhenti sesaat. Ujung mata nya ia lirikkan ke arah pintu. Khawatir ada seseorang yang ia takutkan ada, tiba-tiba muncul dari pintu itu.
"..gila.." bisik Emma kemudian.
"Maksud Nona Emma?" Tanya ibu Hara dengan pandangan bingung.
"Itu loh, Bu.. tentang dua anak nya ibu Sofia.. dua boneka itu.." ungkap Emma sambil berbisik lagi.
"Itu.. maaf, Nona. Saya tak bisa bicara banyak. Khawatir ada telinga yang ikut mendengar perbincangan kita. Saya ke sini hanya untuk mengantarkan sup ayam ini. Silahkan Non Emma makan," ucap Bu Hara dengan terburu-buru.
"Gimana saya mau makan kalau kedua tangan saya dikunci ke pinggiran besi kasur ini, Bu?" Emma mengeluh protes.
"Tenang, saya membawa kunci nya kok, Non," ungkap Bu Hara kemudian.
Mendengar itu, sebuah harapan untuk bisa terbebas dari rumah ini pun segera melambung di benak Emma.
Sayang nya belum sempat ia berkata apa-apa, ibu Hara melanjutkan kembali ucapan nya.
"Tapi saya hanya diberikan kunci untuk borgol di tangan saja, Non. Jadi jangan minta saya untuk membuka borgol yang di kaki juga. Karena saya tak memegang kunci nya.." ungkap ibu Hara kemudian.
Ibu Hara pun segera membuka borgol yang mengunci tangan Emma ke kasur.
"Makan lah yang banyak, Non. Agar Non Emma lekas sehat lagi," tutur ibu Hara perhatian.
Selanjutnya, wanita itu pun segera berlalu dari kamar itu. Meninggalkan Emma yang menatap sosok nya dengan harapan yang pupus lah sudah.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Rini Antika
kasihan Ema, smg km kuat Ema
2022-12-16
2
Astuty Nuraeni
kenapa nggak di piara sendiir, kenapa harus numbalin orang lain.. kan keselll
2022-12-12
1
Astuty Nuraeni
kasian bgt sih, tolongin Emma doong
2022-12-12
1