Obrolan Soal Menikah

Emma dan Susi melalui perjalanan pulang mereka dalam diam. Kedua nya tak menyangka dengan kejadian ganjil yang lagi-lagi mereka alami setengah jam yang lalu di rumah Ustadz Untung.

Susi mengantarkan Emma sampai depan rumah nya.

"Mau nginep dulu gak, Sus?" Tawar Emma.

"Gak usah, Emm. Besok aku masuk kerja soal nya," sahut Susi dengan senyuman kaku.

Keduanya lalu terdiam untuk beberapa saat. Hingga Emma lah yang kembali memecahkan keheningan di antara keduanya.

"Makasih ya udah mau nganterin aku ke tempat tadi.. yah, walaupun.."

Emma tak melanjutkan ucapan nya lagi. Mendadak ia teringat pada perbincangan mereka dengan Eyang Untung. Atau lebih tepat nya lagi adalah dengan sosok hantu dari kakek tersebut.

"Maaf ya, Emm. Aku sama sekali gak tahu kalau beliau ternyata udah meninggal. Tapi beneran, aku gak nyangka banget sama kejadian tadi. Menurut kamu, itu tadi beneran hantu nya bukan sih?" Tanya Susi dengan raut bingung.

Emma mengedikkan bahu.

"Gak tahu juga deh, Sus. Tapi aku pernah dengar. Katanya kalau orang udah meninggal, roh nya ya udah gak ada lagi di dunia ini," ujar Emma.

"Terus yang tadi itu? Apa dong?" Tanya Susi sambil meringis.

"Penampakan yang menyerupai almarhum itu umumnya dilakuin sama jin qorin. Jin yang menyertai almarhum semasa hidup nya.. seingat ku sih begitu.." ujar Emma sambil meringis pula.

"Gitu ya.. berarti yang tadi itu.. setan.. eh, jin qorin nya Eyang Untung ya?" Gumam Susi dari atas jok motor.

"Hmm.. gak tahu juga deh.. aku juga bingung, Sus," jawab Emma.

"Terus kata-kata Kakek tadi soal mata ghaib kamu yang udah dia tutup itu beneran gak ya?" Tanya Susi lagi.

Lagi-lagi Emma menggelengkan kepala.

"Nah. Aku lebih gak ngerti lagi deh soal itu, Sus. Paling aku bakal tahu setelah malam ini. Kira-kira aku bakal ngalamin kejadian aneh lagi atau enggak ya?" Emma balik merenung.

"Semoga sih beneran ya, Emm," komentar Susi.

"Aamiin.. kamu mau nginep dulu gak malam ini? Temanin aku, Sus. Biar kamu tahu juga ucapan Kakek tadi beneran kejadian atau enggak.." seloroh Emma membujuk.

Susi langsung melotot ke arah Emma.

"Maksud kamu, kamu mau ajakin aku uji nyali gitu? Lagi?! Dih.. enggak usah lah, Emm. Makasih ya. Kejadian tadi aja masih bikin aku ngeri.. lagian kamu kan tinggal berdua sama Mama kamu. Jadi mending malam ini kamu tidur berdua aja dulu sama Mama kamu!" Susi memberi usulan.

Emma seketika menyukai ide Susi tersebut.

"Benar juga katamu, Sus! Nanti malam aku minta temanin Mama aja deh kalau gitu!" Seru Emma dengan nada lebih riang.

"Udah dulu deh ya. Aku mau balik dulu. Udah malam ini.." pamit Susi.

Saat itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Susi masih harus menempuh waktu setengah jam perjalanan menuju rumah nya.

"Yaudah. Hati-hati ya, Sus. Makasih lho udah bantuin aku selama ini!" Ucap Emma berterima kasih.

"Iya. Sama-sama, Non.. aku senang kok bantuin kamu, Emm.." jawab Susi.

Gadis itu lalu menghidupkan mesin motor nya. Namun sebelum ia melaju pergi, Susi sempat menyampaikan kalimat terakhir nya.

"Soalnya kamu sering traktirin aku makan pizza sih.. hihihi.." seloroh Susi yang langsung melesat pergi dengan motor nya.

Di depan teras, Emma menatap kesal pada kawan karib nya itu. Namun tak lama.

Emma lalu tersenyum kecil dan bergumam pelan.

"Dasar pizza lover!" Umpat Emma sambil terkekeh pelan.

Selanjutnya Emma mengetuk pintu dan masuk ke dalam rumah.

Begitu masuk, ia langsung membersihkan tangan, kaki dan wajah nya di kamar mandi. Kali ini ia melakukan nya sendiri tanpa perlu ditegur terlebih dulu oleh Retno.

"Nah, gitu dong. Kalau habis dari luar memang harusnya langsung bersih-bersihin diri, Emm.." seru Retno memuji Emma.

"Iya, Mama ku yang cantik.. Emma sekarang udah sadar kok!" Sahut Emma dengan bangga nya.

"Memang nya kalian habis dari mana sih? Katanya mau beli pizza. Tapi kok lama banget?" Tanya Retno menyelidik.

Emma sedikit gelagapan. Ia memang tadi pamit ijin pada Retno untuk pergi bersama Susi. Ia tak menjelaskan pergi ke mana mereka berdua. Karena Emma tahu, mestilah nanti Mama nya akan mencereweti nya kembali.

'Ngapain pergi ke rumah orang pinter? Kalau mau berobat, ke ustadzah Harisah juga kan bisa. Beliau juga udah ahli agama di kampung ini. Gak usah jauh-jauh ke rumah orang yang ngaku-ngaku ustadz segala!' begitu kiranya ucapan Retno bila mengetahui tempat tujuan Emma yang sebenar nya.

"Mm.. habis jalan-jalan aja sih, Ma. Tapi tenang! Kita gak jajan banyak kok! Emma kan lagi berhemat!" Imbuh Emma terburu-buru.

"Gitu.. terus, kamu udah shalat isya belum?" Tanya Retno.

Emma seketika mendesah kalah, dilanjut menggelengkan kepala. Wajah nya tertunduk menatap lantai.

"Belum, Ma.."

"Kalau gitu, mending kamu langsung shalat isya sana! Jangan tidur duluan!" Retno menasihati.

"Memang nya kenapa gak boleh tidur dulu, Ma?" Tanya Emma.

"Kata Ustadzah Harisah juga, ada lima waktu tidur yang dilarang menurut hadits nabi saw." Retno mulai berceramah.

"Kata nya, kita dilarang tidur selepas subuh, sesudah shalat ashar dan menjelang maghrib, sebelum menunaikan shalat isya, sesudah makan, dan juga tidur seharian penuh! Jangan sampai kita tidur di waktu-waktu tersebut. Karena itu demi kesehatan kita sendiri," papar Retno panjang lebar.

"Ooh.. tapi, nanti habis shalat isya, Emma boleh tidur sama Mama ya?" Mohon Emma tiba-tiba.

"Ngapain kamu pingin tidur sama Mama, Emm? Gak biasa-biasanya," tanya Mama keheranan.

"Yahh.. pingin tidur bareng Mama aja gitu. Boleh ya Ma? Boleh ya?" Bujuk Emma yang kini bergelayut manja di lengan kanan Retno.

"Ya udah. Tapi shalat isya dulu sana! Mama mau nyiapin bahan-bahan jualan buat besok," imbuh Retno kemudian.

"Asiikk! Makasih Mama ku yang Cantik, Baik dan Tidak sombong!" Puji Emma sambil menciumi pipi Retno berkali-kali.

"Dih, Emm.. kamu tuh udah gede. Masa masih suka gelayutin Mama sih? Buruan cari pacar sana yang bisa kamu gelayutin. Mama udah pegel digelayutin kamu terus," seloroh Retno kemudian.

"Ih.. Mama.. kok nyuruh Emma pacaran sih? Kan kata Bu Ustadzah Harisah, pacaran itu gak boleh, Ma..!" Emma berlagak serius menegur Retno.

Retno pun jadi terkekeh dibuat nya.

"Hahahha. Maksud Mama tuh, kamu buruan cari suami.. kalau nanti kalian udah nikah kan, kamu bisa asik pacaran halal sama suami kamu itu, Emm.. jangan gelayutin Mama terus..!" Imbuh Retno kembali.

"Mulai deh ngebahas itu lagi. Emma kan udah bilang ke Mama. Emma belum siap nikah. Nanti aja lah. Lagian umur Emma baru juga 20 tahun. Masih muda banget lah Ma.." Emma mencebik kesal.

"Memang nya kamu mau siap nikah umur berapa, sih, Emm?" Tanya Retno sambil tersenyum kecil.

"Mm.. 25 tahun lumayan sedang, lah, Ma.." jawab Emma dengan nada sangat yakin.

"Duhh.. jangan kelamaan gitu dong, Emm.. 22 tahun aja lah. mama udah pingin nimang cucu soal nya. Tiap hari ngejualin cemilan untuk anak-anak sekolah, bikin Mama jadi pingin bikin cemilan buat anak kamu. Cucu Mama sendiri!" Retno menyampaikan harapan nya.

Menanggapi ucapan sang Mama. Emma bergegas bangun dan kembali ke kamar mandi.

"Emma mau shalat isya dulu deh ya, Ma. Keburu mata ngantuk nanti.." ujar Emma yang melarikan diri dari pembahasan soal menikah.

Retno menyadari keengganan Emma untuk membincangkan masa depan nya itu. Ia pun geleng-geleng kepala berkali-kali. Sebelum akhirnya pergi ke dapur untuk menyiapkan bahan dagangan nya untuk besok hari.

***

Terpopuler

Comments

🔵◡̈⃝︎☀MENTARY⃟🌻

🔵◡̈⃝︎☀MENTARY⃟🌻

Makin Seru Kk
Perjuangan Ucup Mampir

2023-01-05

1

Lee

Lee

Bilang aja emma, klo jodohnya oppa Taehyun mau lah. apa cha eunwo.. no mikir lg gasskeun.. haha😆

2022-12-14

1

mom mimu

mom mimu

jurus yg paling jitu, menghindar saat di desak nikah 🤣🤣🤣

2022-12-13

1

lihat semua
Episodes
1 Awal Mula
2 Lowongan Pekerjaan
3 Bermain
4 Menjadi Tahanan
5 Terbebas
6 Bertemu Reno
7 Diantar Pulang
8 Nasihat Mama
9 Ke Mall
10 Kejadian Ganjil
11 Kesambet
12 Kedatangan Susi
13 Galaknya Mama
14 Eyang Untung
15 Obrolan Soal Menikah
16 Bermain ke Rumah Inge
17 Reuni SMA
18 Ditinggal Susi
19 Mama Kecelakaan
20 Diagnosa Dokter
21 Ancaman ibu Sofia
22 Surat Perjanjian Baru
23 Harapan Mama
24 Kata Hati Emma
25 Membuat Kenangan
26 Kembali Lagi
27 Ucapan Selamat Datang
28 Bekerja pada Orang Gila
29 Tanda Terima Kasih
30 Siapa itu Celia?
31 Diam nya Sella dan Cello
32 Harapan Retno
33 Harapan di Penghujung Subuh
34 Terang Hari
35 Perselisihan di Dapur
36 Persiapan Makan Malam
37 Kekenyangan
38 Terjebak di Taman Labirin
39 Dunia Mimpi
40 Tinggal Sendiri
41 Rudolf
42 Buah Pengingat
43 Air Terjun Pelupa
44 Terbangun
45 Chat dengan Reno
46 Cello Marah
47 Pagi Merona
48 Sarapan Duluan
49 Terhipnotis
50 Hampir tenggelam
51 Perbincangan Monolog dengan Cello
52 Cerita Bi Hara
53 Rahasia
54 Kebenaran
55 Wanita Gila Yang Sebenarnya
56 Satu Kamar
57 Sein
58 Kemunculan Susi
59 Hal Ganjil
60 Susi Koma?
61 Kebenaran tentang Susi
62 Confession
63 Kenangan Saat Putus
64 Janji Reno
65 Siluet
66 Kisah Hidup Pak Kiman
67 Masuk Perangkap
68 Candaan Reno
69 Mengunjungi Susi
70 Kesimpulan Emma
71 Menjenguk Mama
72 Prakata Retno
73 Bertemu Mei
74 Ditodong Menikah
75 Ke KUA Yuk!
76 Ketidaksabaran Celia
77 Pulang
78 Canda dan Tawa
79 Spirit Susi
80 Susi Bercerita
81 Minta Tolong Mbak Kunti
82 Boneka Emma
83 Bertemu Sella dan cello lagi
84 Pasar Ghaib
85 Godaan Berat
86 Nasihat Perawat Asing
87 Psikolog atau Ustadz?
88 Penjelasan Ustadz Adam
89 Diganggu Celia
90 Kembali Bangun
91 Main Petak Umpet
92 Lorong Rahasia
93 Pak Kiman?!!
94 Permainan Seru
95 Ancaman pak Adda
96 Bermain di Luar
97 Berhasil Kabur
98 Bantuan dari Sein
99 Bertemu Sella
100 Foto Kimanto
101 Persiapan Menjemput Emma
102 Dimarahi Hantu
103 Curhat Kuyang dan Kunti
104 Arahan dari Kakek Asing
105 Misi yang Tuntas
106 Reno Datang
107 Pelet Bi Hara
108 Rencana Reno
109 Sella Marah
110 Tertangkap Lagi
111 Kedstangan Reno
112 Mengalahkan Pak Adda
113 Pertolongan yang Lain
114 Keluar dari Ruang Rahasia
115 Sofia Mati
116 Meninggalkan Reno
117 Malam Berkabut
118 Kiman Tersadar
119 Pemuda Aneh
120 Bertemu Rudolf di Pasar Ghaib
121 Terbangun di Rumah Sakit
122 Kebenaran tentang Pak Kiman
123 Berkunjung ke Rumah Megah
124 Sella dalam Wujud Manusia
125 Wali Pengganti
126 Mengunjungi Susi
127 Bertemu dalam Mimpi
128 Permintaan Terakhir
129 Akhir yang Bahagia
130 Promosi Genre TEEN
131 Promosi Genre Rumah Tangga
Episodes

Updated 131 Episodes

1
Awal Mula
2
Lowongan Pekerjaan
3
Bermain
4
Menjadi Tahanan
5
Terbebas
6
Bertemu Reno
7
Diantar Pulang
8
Nasihat Mama
9
Ke Mall
10
Kejadian Ganjil
11
Kesambet
12
Kedatangan Susi
13
Galaknya Mama
14
Eyang Untung
15
Obrolan Soal Menikah
16
Bermain ke Rumah Inge
17
Reuni SMA
18
Ditinggal Susi
19
Mama Kecelakaan
20
Diagnosa Dokter
21
Ancaman ibu Sofia
22
Surat Perjanjian Baru
23
Harapan Mama
24
Kata Hati Emma
25
Membuat Kenangan
26
Kembali Lagi
27
Ucapan Selamat Datang
28
Bekerja pada Orang Gila
29
Tanda Terima Kasih
30
Siapa itu Celia?
31
Diam nya Sella dan Cello
32
Harapan Retno
33
Harapan di Penghujung Subuh
34
Terang Hari
35
Perselisihan di Dapur
36
Persiapan Makan Malam
37
Kekenyangan
38
Terjebak di Taman Labirin
39
Dunia Mimpi
40
Tinggal Sendiri
41
Rudolf
42
Buah Pengingat
43
Air Terjun Pelupa
44
Terbangun
45
Chat dengan Reno
46
Cello Marah
47
Pagi Merona
48
Sarapan Duluan
49
Terhipnotis
50
Hampir tenggelam
51
Perbincangan Monolog dengan Cello
52
Cerita Bi Hara
53
Rahasia
54
Kebenaran
55
Wanita Gila Yang Sebenarnya
56
Satu Kamar
57
Sein
58
Kemunculan Susi
59
Hal Ganjil
60
Susi Koma?
61
Kebenaran tentang Susi
62
Confession
63
Kenangan Saat Putus
64
Janji Reno
65
Siluet
66
Kisah Hidup Pak Kiman
67
Masuk Perangkap
68
Candaan Reno
69
Mengunjungi Susi
70
Kesimpulan Emma
71
Menjenguk Mama
72
Prakata Retno
73
Bertemu Mei
74
Ditodong Menikah
75
Ke KUA Yuk!
76
Ketidaksabaran Celia
77
Pulang
78
Canda dan Tawa
79
Spirit Susi
80
Susi Bercerita
81
Minta Tolong Mbak Kunti
82
Boneka Emma
83
Bertemu Sella dan cello lagi
84
Pasar Ghaib
85
Godaan Berat
86
Nasihat Perawat Asing
87
Psikolog atau Ustadz?
88
Penjelasan Ustadz Adam
89
Diganggu Celia
90
Kembali Bangun
91
Main Petak Umpet
92
Lorong Rahasia
93
Pak Kiman?!!
94
Permainan Seru
95
Ancaman pak Adda
96
Bermain di Luar
97
Berhasil Kabur
98
Bantuan dari Sein
99
Bertemu Sella
100
Foto Kimanto
101
Persiapan Menjemput Emma
102
Dimarahi Hantu
103
Curhat Kuyang dan Kunti
104
Arahan dari Kakek Asing
105
Misi yang Tuntas
106
Reno Datang
107
Pelet Bi Hara
108
Rencana Reno
109
Sella Marah
110
Tertangkap Lagi
111
Kedstangan Reno
112
Mengalahkan Pak Adda
113
Pertolongan yang Lain
114
Keluar dari Ruang Rahasia
115
Sofia Mati
116
Meninggalkan Reno
117
Malam Berkabut
118
Kiman Tersadar
119
Pemuda Aneh
120
Bertemu Rudolf di Pasar Ghaib
121
Terbangun di Rumah Sakit
122
Kebenaran tentang Pak Kiman
123
Berkunjung ke Rumah Megah
124
Sella dalam Wujud Manusia
125
Wali Pengganti
126
Mengunjungi Susi
127
Bertemu dalam Mimpi
128
Permintaan Terakhir
129
Akhir yang Bahagia
130
Promosi Genre TEEN
131
Promosi Genre Rumah Tangga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!