"Aaaaarrgrgghhhhh!!!" Emma menjerit sejadi-jadi nya saat pintu bilik tempat nya berada terbuka sendiri.
"Eh, maaf! maaf ya Kak!"
Brak.
Pintu spontan kembali tertutup. Dan Emma sempat melihat seorang wanita muda dengan wajah menahan malu telah menutup pintu bilik tempat nya berada.
Emma langsung saja terdiam.
Secara perlahan, Emma mulai bisa mendengar banyak suara orang dengan berbagai aktivitas di luar bilik sana.
Suara kucuran air dari wastafel, suara mengobrol beberapa wanita, juga suara benda yang terjatuh.
Masih sambil berjongkok di atas kloset, Emma memelototi pintu bilik di depan nya. Sementara indera pendengaran nya menangkap suara obrolan di luar sana.
"Memang nya ada orang, Nin?" Ucap suara 1.
"Iya Le. Tahu deh. Padahal tadi gue udah ketok-ketok. Tapi karena gak ada jawaban, ya maka nya Gue buka aja langsung. Eh, tahu nya malah ada orang!" Ucap suara 2.
"Kurang kencang kali Lo ngetok pintu nya?" Sahut suara 1 lagi.
"Ya ampun, Lea. Masa iya gue kudu ngegedor-gedor pintu nya sih? Kayak nya diketok pelan juga kedengaran kali! Eh, tapi tahu gak? Masa tadi cewek yang di dalam tuh aneh gitu deh, Le!" Tutur suara 2.
"Aneh gimana sih?" Tanya suara 1.
"Ya aneh aja. Masa dia jongkok di atas kloset yang ketutup sih? Ngapain coba? Udah gitu, muka nya kayak ketakutan gitu. Rasa-rasa habis lihat hantu aja!" Papar suara 2.
"Karena ngelihat muka Lo kali! berarti elo lah hantu nya! Hihihi.." seloroh suara 1.
"Sialan! Elo tuh setan nya! Muka seleb kayak gini lo bilang muka setan. Lha muka Elo yang pas-pasan gitu, berarti apa dong? Lo jadi kunti nya ya?!" Balas suara 2.
"Idih.. amit-amit. Udah ah! Jangan ngomongin soal dedemit. Entar yang ada, datang beneran, lagi!" Sanggah suara 1.
"Yaudah. Tuh yang itu udah kosong tuh. Gue ke dalam dulu ya bentar," ucap suara 2.
"Iya udah sana. Gue juga mau touched up dulu nih. Bedak udah pada luntur.." seloroh suara 1.
Brak.
Terdengar suara benda terjatuh tiba-tiba. Dan suara 1 pun kembali terdengar.
"Aduduh! Bedak gue! Makin hancur nih," keluh suara 1.
Detik selanjutnya, Emma tak lagi menghiraukan suara-suara berisik di luar bilik nya. Ia masih menetralkan debur jantung nya yang masih berdentum kencang.
Secara perlahan percakapan dua wanita tadi mulai dicerna oleh benak Emma.
'Apa maksud nya itu? Dia bilang tadi udah ketok-ketok pintu? Tapi aku sama sekali enggak dengar. Justru aku yang panggil-panggil orang di luar untuk bukain pintu yang macet, tapi malah gak ada yang mau nolongin!' gumam Emma sendirian.
Merasa bingung dengan apa yang barusan terjadi, Emma pun jadi pusing sendiri.
Lalu ia teringat dengan pintu bilik nya yang tadi sempat macet.
'eh! Mumpung lagi ada banyak orang, aku minta tolong lagi aja deh!' lanjut Emma dalam hati.
Emma pun turun dari atas kloset. Baru juga ia hendak berteriak meminta tolong, saat tangan nya memutar handel hingga pintu terbuka.
"Ehh? Kebuka?"
Emma keluar dari bilik toilet nya dnegan paras bingung. Tapi tak lama. Karena ia lalu mendapati dua orang wanita muda melihatnya dengan tatapan aneh.
Emma menduga kalau salah satu dari wanita itu adalah dia yang tadi sempat membuka pintu toilet nya.
Merasa sedikit malu sekaligus juga kesal karena tadi teriakan pertolongan nya tak disahut, Emma pun langsung berlalu pergi tanpa meninggalkan senyuman bagi kedua nya.
Samar-samar Emma mendengar cibiran di belakang nya.
"Idih. Sombong bener!"
Emma abai pada suara miring di belakang nya. Dan tetap lanjut melangkah menuju pulang.
***
Sepanjang perjalanan pulang, Emma masih memikirkan kejadian di toilet mall tadi.
Emma tak habis pikir, kenapa wanita tadi mengatakan kalau dia sudah mengetok-ketuk pintu nya sebelum membuka pintu. Padahal jelas-jelas Emma lah yang sudah berteriak dan menggedor pintu untuk meminta tolong membukakan pintu.
Emma merasa kesal dengan kebohongan yang diucapkan wanita tadi.
Tapi kemudian pikiran Emma mengingatkan nya untuk membandingkan suasana toilet sebelum dan sesudah wanita itu membuka pintu.
Seingat Emma, sebelum wanita tadi membuka pintu, suasana toilet begitu sepi. Ya. Memang Emma mendengar suara aliran air di wastafel. Tapi ia tak mendengar suara orang berbincang-bincang di luar bilik.
Sementara setelah wanita tadi membuka pintu, tiba-tiba saja suasana menjadi ramai.
Emma juga teringat dengan hawa dingin yang sempat dirasakan tengkuk nya saat ada di toilet tadi.
Tanpa sadar, Emma pun mengusap tengkuk nya kembali berkali-kali.
Saat ini, Emma sedang berjalan melewati gang kecil menuju rumah nya. Saat itu jarum jam di tangan Emma menunjuk pukul 6 lewat 15 menit. Itu artinya masih masuk waktu maghrib.
Suasana jalanan tampak lengang. Karena semua orang masih ada di dalam rumah masing-masing atau pun juga di mushola pada waktu sekarang ini.
Emma menggegaskan langkah nya. Semilir angin dingin malam ini menusuk kulit lengan nya yang tak tertutupi lengan baju.
Apalagi tiba-tiba saja Emma merasakan hawa dingin kembali menusuk kulit di tengkuk nya. Makin cepatlah Emma melangkah.
Akan tetapi, tiba-tiba saja sesuatu terjatuh ke atas kepala Emma. Dengan spontan ia pun meraih benda yang terjatuh di rambut nya itu.
Begitu Emma melihat apa yang terjatuh, ia langsung melemparkan benda itu ke tanah dan bergidik ngeri.
"Belatung! Hii! Dari mana coba itu?!" Umpat Emma yang segera mengusap-usapkan rambut nya agar bersih dari jejak belatung di rambut nya tadi.
Perjalanan nya pun jadi terhenti selama beberapa detik selagi ia mengusap-usap kepala nya.
Baru setelah yakin kalau tak ada lagi jejak belatung di kepala nya saja lah akhirnya Emma kembali berjalan.
Namun belum lama ia berjalan, saat kepala Emma merasakan sesuatu terjatuh menimpa nya lagi. Dengan heran Emma kembali meraih benda yang barusan terjatuh.
Lagi-lagi Emma langsung membuang benda yang dipegang nya. Karena itu adalah belatung lagi.
Emma mendongakkan kepala nya ke atas. Ia heran akan darimana datang nya belatung-belatung itu.
Sambil kebingungan memikirkan tentang asal belatung, Emma kembali lanjut berjalan. Namun kemudian guyuran belatung dalam jumlah yang banyak segera menjatuhi kepala Emma.
"Aaarrgghh!!!"
Seketika itu pula Emma terlonjak kaget dan mengibaskan rambut nya berkali-kali.
Emma yakin kalau kejadian ini adalah hal yang tak wajar. Jadi tanpa pikir panjang, ia pun segera melesat lari menuju rumah nya.
Saat itu jarak yang harus ditempuh Emma masih sekitar 100 meter lagi.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Astuty Nuraeni
astaga, auto pingsan kalau aku mah
2022-12-12
1
Lee
q ksih 🌹 biar kak mel smngat update..💪💪🤗
2022-12-11
1
mom mimu
ishhhh... kak Mell ngeri plus geli nih, gak kebayang di hujani belatung
2022-12-10
1