Diantar Pulang

"Emm.. bangun.. kita udah mau sampai.. ayo turun?"

Reno membangunkan Emma yang tertidur lelap.

"Kita..udah sampai, Ren?" Tanya Emma yang masih terlihat linglung.

Emma lalu tersentak saat menyadari kalau ia telah bersandar di bahu Reno ketika terlelap tadi. Dengan malu, Emma buru-buru meminta maaf.

"Maaf..aku ketiduran. Jadi gak sadar tadi udah.."

Emma meremas sebagian kain piyama yang ia kenakan. Mata nya tak berani memandang langsung mata Reno.

'Benar-benar memalukan! Dia itu mantan kamu, Emm! Bisa-bisa nya kamu asik senderan ke Reno!' Emma menegur diri nya sendiri.

"Gak apa-apa. Yuk turun, kita udah sampai di transit berikut nya nih," ajak Reno seraya berdiri.

Kedua nya pun segera berdiri untuk bersiap-siap turun. Namun ketika bus hendak berhenti, ia melewati polisi tidur sehingga bus pun agak terlonjak.

Emma yang belum pulih kesadaran nya usai tertidur pun hampir tak bisa menjaga keseimbangan nya. Ia hampir saja tersungkur ke lantai bus.

Beruntung tangan Reno sigap menangkap pinggang Emma. Sehingga wajah Emma yang manis itu selamat dari benturan ke sekian kali nya.

Merasa malu karena lagi-lagi ia terlalu dekat dengan Reno, Emma pun buru-buru melepaskan genggaman tangan nya pada jaket Reno yang tadi refleks ia pegang.

"Sorry.. aku gak sengaja! Tadi itu.."

Lagi-lagi Emma kehilangan kata-kata. Entah kenapa lama tak bertemu dnegan mantan kekasih nya itu membuat Emma jadi lebih bodoh dari biasa nya.

"Gak apa-apa, Emm.. aku ngerti kok.." sanggah Reno menenangkan Emma.

Setelah bus benar-benar berhenti, Reno pun terlebih dulu keluar dari dalam bus. Tapi tidak sebelum ia mengucapkan kalimat yang membuat jantung Emma berdentum-dentum.

"Mau sengaja juga gak apa-apa. Buat kamu, aku mah iya aja deh.." bisik Reno yang hanya bisa di dengar oleh Emma saja.

Emma tertegun dengan apa yang baru saja didengar nya tadi.

"Jadi turun gak, Neng? Kalau enggak, tolong duduk lagi. Ada yang mau turun soal nya," tegur kenek bus kepada Emma.

"Emm? Ayo turun!" Giliran Reno lah yang memanggil Emma dari luar pintu bus.

Emma tersentak kaget dan buru-buru keluar dari bus.

Kali ini, ia tak lagi menerima uluran tangan Reno yang ingin membantunya keluar dari bus.

"Gak apa-apa. Aku bisa sendiri, kok," ucap Emma dengan wajah dibuat sedatar mungkin.

Reno sekilas menatap sedih pada tangan nya yang tak disambut Emma. Namun kemudian ia menyadarkan diri nya sendiri. Kalau saat ini hubungan keduanya memang seperti dua orang asing yang tak saling mengenal.

Meskipun dulu pernah bersemi bunga-bunga cinta di antara kedua nya.

***

Reno dan Emma lalu menaiki taksi menuju rumah Emma langsung. Kali ini, Reno lah yang membayar nya. Ia memaksa Emma untuk menerima pertolongan nya itu.

Dan Emma pun tak bisa juga menolak nya. Karena uang ongkos yang ada dalam saku nya tak akan cukup untuk mengantarkan nya sampai ke rumah nya.

Saat menaiki taksi, waktu sudah mendekati subuh.

Emma memilih untuk diam di sisa perjalanan mereka. Dan ia bersyukur karena Reno pun tak lagi mencecarnya dengan berbagai pertanyaan tentang dari mana ia pergi dengan penampilan berantakan.

Teringat dengan rambut nya yang berantakan, Emma pun tanpa sadar meraih kepala nya dnegan satu tangan nya.

"Tadi ada banyak daun dan ranting di rambut kamu. Tapi udah aku bersihin kok waktu kamu tidur di bus," ungkap Reno dengan jujur.

Emma mengerjap sekali.

"Makasih," sahut Emma berkomentar.

"Sama-sama, Emm.. "

Setelah itu, perjalanan kembali sunyi. Hingga taksi yang membawa mereka akhirnya sampai juga di depan gang menuju rumah Emma.

Kini Emma hanya perlu melewati dua tikungan gang kecil lagi sebelum ia bisa kembali ke rumah nya.

Namun begitu ia turun dari taksi, Emma mendengar Reno memanggil nya.

"Tunggu dulu, Em!" Panggil Reno tiba-tiba.

Pemuda yang seumuran dengan Emma itu lalu bergegas keluar dari dalam taksi.

Reno lalu melepas jaket army nya, lalu melingkari nya di pinggang Emma.

Mula nya Emma hendak menampik tangan Reno. Sampai ketika Reno berbisik dan mengatakan kepada Emma lah akhirnya gadis itu terdiam kaku membiarkan Reno melingkarkan jaket nya di sekitar pinggang Emma.

"Kamu lagi M ya? Itu kamu kelihatan di bagian belakang!" Bisik Reno sesaat tadi.

Selesai memasangkan jaket nya pada pinggang Emma, Reno pun kembali mundur dan menjaga jarak dari cinta pertama nya itu.

"Udah selesai. Tapi sebentar. Aku antar kamu sampai depan rumah deh ya?" Tutur Reno kembali.

"Gak usah, Ren! Tinggal jalan sedikit lagi kok. Kamu gak usah anterin aku!" Tolak Emma terburu-buru.

"Gak apa-apa.. sebentar ya! Pak, ini uang nya. Kembali nya ambil aja!" Ucap Reno pada sopir taksi yang telah mengantarkan mereka.

Setelah taksi itu pergi, Emma bergegas berjalan melewati gang kecil di depan nya. Sementara Reno mengikuti Emma dari belakang.

Keduanya menikmati sisa kebersamaan mereka dalam diam.

***

Sesampai nya di depan rumah Emma, lingkungan sekitar masih cukup sepi. Maklum saja, saat itu belum jam enam pagi. Jadi tak banyak yang sudah beraktivitas keluar rumah.

Saat ini pun Emma yakin kalau Mama nya sedang menyiapkan bahan cemilan yang akan ia jual di sekolah dasar dekat rumah.

Begitu Emma sampai di teras rumah, dengan perasaan jengah ia putuskan untuk berbalik dan menyampaikan terima kasih nya kepada Reno.

"Makasih ya, Ren.. untuk semua nya. Maksud ku, untuk air minum.. juga taksi... Dan penampilan ku yang berantakan tadi," Emma yakin kalau ucapan nya itu terdengar sangat bodoh di telinga Reno.

Bisa dilihat dari segaris senyuman tipis yang bisa Emma tangkap di antara rerimbunan jambang dan kumis yang menutupi wajah tampan pemuda itu.

"Iya.. iya. Gak apa-apa. Santai aja, Emm.aku ikhlas kok nolong kamu.. " Reno berkomentar santai.

Satu detik. Dua detik..

Obrolan di antara keduanya lalu terjeda.

Emma tak tahu harus berkata apa-apa lagi kepada mantan kekasih nya itu. Sehingga pada akhirnya ia pun memutuskan untuk langsung masuk saja ke dalam rumah.

"Kalau gitu, aku masuk duluan ya. Oh ya! Jaket ini.."

Emma terlihat bingung dengan jaket milik Reno yang melingkar di pinggang nya. Antara ingin mengembalikan nya segera. Namun itu tak mungkin ia lakukan juga. Khawatir jaket Reno sudah terkena noda darah haid nya.

"Gak apa-apa. Di kamu aja dulu. Nanti kapan-kapan aku ambil ke sini ya?" Ujar Reno dengan nada berharap.

Emma yang masih bingung hanya bisa mengangguk saja, mengiyakan ucapan Reno.

"Udah sana masuk! Sebelum ada tetangga kamu yang lihat. Nanti mereka anggap yang macam-macam lagi.." titah Reno dengan nada lembut.

Emma pun memberikan anggukan kepala sekali untuk Reno. Sebelum akhirnya ia berbalik untuk masuk ke dalam rumah.

Tapi sebelum Emma memegang handel pintu rumah nya, ia sempat mendengar panggilan Reno kepada nya lagi.

"Emm!"

Emma langsung berbalik dan memberikan pandangan tanya kepada Reno.

"Huh?"

"...senang bisa ketemu kamu lagi," ucap Reno dengan tatapan sendu, sebelum akhirnya ia berbalik dan berlalu pergi.

Tinggal lah Emma yang tercenung diam, sambil mengamati punggung kekar lelaki itu. Hingga sosok Reno tak lagi terlihat di tikungan gang sana.

***

Terpopuler

Comments

Rini Antika

Rini Antika

so sweat bgt sih Reno

2022-12-23

1

Rini Antika

Rini Antika

modus aja Ren..🙈

2022-12-23

1

Rini Antika

Rini Antika

gak ap" em kali"..🤭

2022-12-23

1

lihat semua
Episodes
1 Awal Mula
2 Lowongan Pekerjaan
3 Bermain
4 Menjadi Tahanan
5 Terbebas
6 Bertemu Reno
7 Diantar Pulang
8 Nasihat Mama
9 Ke Mall
10 Kejadian Ganjil
11 Kesambet
12 Kedatangan Susi
13 Galaknya Mama
14 Eyang Untung
15 Obrolan Soal Menikah
16 Bermain ke Rumah Inge
17 Reuni SMA
18 Ditinggal Susi
19 Mama Kecelakaan
20 Diagnosa Dokter
21 Ancaman ibu Sofia
22 Surat Perjanjian Baru
23 Harapan Mama
24 Kata Hati Emma
25 Membuat Kenangan
26 Kembali Lagi
27 Ucapan Selamat Datang
28 Bekerja pada Orang Gila
29 Tanda Terima Kasih
30 Siapa itu Celia?
31 Diam nya Sella dan Cello
32 Harapan Retno
33 Harapan di Penghujung Subuh
34 Terang Hari
35 Perselisihan di Dapur
36 Persiapan Makan Malam
37 Kekenyangan
38 Terjebak di Taman Labirin
39 Dunia Mimpi
40 Tinggal Sendiri
41 Rudolf
42 Buah Pengingat
43 Air Terjun Pelupa
44 Terbangun
45 Chat dengan Reno
46 Cello Marah
47 Pagi Merona
48 Sarapan Duluan
49 Terhipnotis
50 Hampir tenggelam
51 Perbincangan Monolog dengan Cello
52 Cerita Bi Hara
53 Rahasia
54 Kebenaran
55 Wanita Gila Yang Sebenarnya
56 Satu Kamar
57 Sein
58 Kemunculan Susi
59 Hal Ganjil
60 Susi Koma?
61 Kebenaran tentang Susi
62 Confession
63 Kenangan Saat Putus
64 Janji Reno
65 Siluet
66 Kisah Hidup Pak Kiman
67 Masuk Perangkap
68 Candaan Reno
69 Mengunjungi Susi
70 Kesimpulan Emma
71 Menjenguk Mama
72 Prakata Retno
73 Bertemu Mei
74 Ditodong Menikah
75 Ke KUA Yuk!
76 Ketidaksabaran Celia
77 Pulang
78 Canda dan Tawa
79 Spirit Susi
80 Susi Bercerita
81 Minta Tolong Mbak Kunti
82 Boneka Emma
83 Bertemu Sella dan cello lagi
84 Pasar Ghaib
85 Godaan Berat
86 Nasihat Perawat Asing
87 Psikolog atau Ustadz?
88 Penjelasan Ustadz Adam
89 Diganggu Celia
90 Kembali Bangun
91 Main Petak Umpet
92 Lorong Rahasia
93 Pak Kiman?!!
94 Permainan Seru
95 Ancaman pak Adda
96 Bermain di Luar
97 Berhasil Kabur
98 Bantuan dari Sein
99 Bertemu Sella
100 Foto Kimanto
101 Persiapan Menjemput Emma
102 Dimarahi Hantu
103 Curhat Kuyang dan Kunti
104 Arahan dari Kakek Asing
105 Misi yang Tuntas
106 Reno Datang
107 Pelet Bi Hara
108 Rencana Reno
109 Sella Marah
110 Tertangkap Lagi
111 Kedstangan Reno
112 Mengalahkan Pak Adda
113 Pertolongan yang Lain
114 Keluar dari Ruang Rahasia
115 Sofia Mati
116 Meninggalkan Reno
117 Malam Berkabut
118 Kiman Tersadar
119 Pemuda Aneh
120 Bertemu Rudolf di Pasar Ghaib
121 Terbangun di Rumah Sakit
122 Kebenaran tentang Pak Kiman
123 Berkunjung ke Rumah Megah
124 Sella dalam Wujud Manusia
125 Wali Pengganti
126 Mengunjungi Susi
127 Bertemu dalam Mimpi
128 Permintaan Terakhir
129 Akhir yang Bahagia
130 Promosi Genre TEEN
131 Promosi Genre Rumah Tangga
Episodes

Updated 131 Episodes

1
Awal Mula
2
Lowongan Pekerjaan
3
Bermain
4
Menjadi Tahanan
5
Terbebas
6
Bertemu Reno
7
Diantar Pulang
8
Nasihat Mama
9
Ke Mall
10
Kejadian Ganjil
11
Kesambet
12
Kedatangan Susi
13
Galaknya Mama
14
Eyang Untung
15
Obrolan Soal Menikah
16
Bermain ke Rumah Inge
17
Reuni SMA
18
Ditinggal Susi
19
Mama Kecelakaan
20
Diagnosa Dokter
21
Ancaman ibu Sofia
22
Surat Perjanjian Baru
23
Harapan Mama
24
Kata Hati Emma
25
Membuat Kenangan
26
Kembali Lagi
27
Ucapan Selamat Datang
28
Bekerja pada Orang Gila
29
Tanda Terima Kasih
30
Siapa itu Celia?
31
Diam nya Sella dan Cello
32
Harapan Retno
33
Harapan di Penghujung Subuh
34
Terang Hari
35
Perselisihan di Dapur
36
Persiapan Makan Malam
37
Kekenyangan
38
Terjebak di Taman Labirin
39
Dunia Mimpi
40
Tinggal Sendiri
41
Rudolf
42
Buah Pengingat
43
Air Terjun Pelupa
44
Terbangun
45
Chat dengan Reno
46
Cello Marah
47
Pagi Merona
48
Sarapan Duluan
49
Terhipnotis
50
Hampir tenggelam
51
Perbincangan Monolog dengan Cello
52
Cerita Bi Hara
53
Rahasia
54
Kebenaran
55
Wanita Gila Yang Sebenarnya
56
Satu Kamar
57
Sein
58
Kemunculan Susi
59
Hal Ganjil
60
Susi Koma?
61
Kebenaran tentang Susi
62
Confession
63
Kenangan Saat Putus
64
Janji Reno
65
Siluet
66
Kisah Hidup Pak Kiman
67
Masuk Perangkap
68
Candaan Reno
69
Mengunjungi Susi
70
Kesimpulan Emma
71
Menjenguk Mama
72
Prakata Retno
73
Bertemu Mei
74
Ditodong Menikah
75
Ke KUA Yuk!
76
Ketidaksabaran Celia
77
Pulang
78
Canda dan Tawa
79
Spirit Susi
80
Susi Bercerita
81
Minta Tolong Mbak Kunti
82
Boneka Emma
83
Bertemu Sella dan cello lagi
84
Pasar Ghaib
85
Godaan Berat
86
Nasihat Perawat Asing
87
Psikolog atau Ustadz?
88
Penjelasan Ustadz Adam
89
Diganggu Celia
90
Kembali Bangun
91
Main Petak Umpet
92
Lorong Rahasia
93
Pak Kiman?!!
94
Permainan Seru
95
Ancaman pak Adda
96
Bermain di Luar
97
Berhasil Kabur
98
Bantuan dari Sein
99
Bertemu Sella
100
Foto Kimanto
101
Persiapan Menjemput Emma
102
Dimarahi Hantu
103
Curhat Kuyang dan Kunti
104
Arahan dari Kakek Asing
105
Misi yang Tuntas
106
Reno Datang
107
Pelet Bi Hara
108
Rencana Reno
109
Sella Marah
110
Tertangkap Lagi
111
Kedstangan Reno
112
Mengalahkan Pak Adda
113
Pertolongan yang Lain
114
Keluar dari Ruang Rahasia
115
Sofia Mati
116
Meninggalkan Reno
117
Malam Berkabut
118
Kiman Tersadar
119
Pemuda Aneh
120
Bertemu Rudolf di Pasar Ghaib
121
Terbangun di Rumah Sakit
122
Kebenaran tentang Pak Kiman
123
Berkunjung ke Rumah Megah
124
Sella dalam Wujud Manusia
125
Wali Pengganti
126
Mengunjungi Susi
127
Bertemu dalam Mimpi
128
Permintaan Terakhir
129
Akhir yang Bahagia
130
Promosi Genre TEEN
131
Promosi Genre Rumah Tangga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!