"Kalau begitu, saya akan menitipkan dua angels ini pada kamu ya, Emm. Ikuti saja semua keinginan mereka. Mereka selalu tahu apa yang mereka inginkan," tutur ibu Sofia lebih lanjut.
Emma melotot ngeri saat melihat Ibu Sofia kembali menurunkan dua boneka arwah itu ke atas lantai.
Selanjutnya, tanpa merasa aneh usai melihat tubuh Emma yang terikat tali, ibu Sofia langsung berlalu pergi begitu saja. Tentunya setelah ia kembali menutup pintu kamar nya lagi.
Akhirnya kini di kamar itu hanya tinggal Emma dan dua boneka itu saja. Emma bergidik ngeri kala dua boneka arwah itu kembali berjalan mendekati nya.
'Klik. Klak. Klik. klak.'
Begitulah suara yang Emma dengar saat kedua boneka itu melangkah ke arah nya.
"Mmm!! Mmmm!!" Emma kembali berusaha melepaskan diri. Sayang nya usaha nya itu berakhir gagal.
"Tenang lah, Kak.. kami hanya ingin mengajak mu bermain-main saja," Boneka Sella berkata dengan suara kekanakan nya.
Sayang nya Emma tak merasa terhibur dengan ucapan boneka perempuan itu. Ia justru ingin menangis saat itu jua.
Terlebih saat Sella kembali meraih sejumput rambut Emma lalu mencaci nya asal.
Sebuah senandung nina bobo keluar dari mulut sang boneka yang terkatup rapat.
"Niina boboo.. oohh..niina boboo...kalau tidak boo bo. Digiigit nyaamuukk.."
Mendengar senandung itu, sekujur bulu roma Emma langsung saja berdiri.
Siapa juga yang tak akan merasa ngeri, bila ia di nina bobo kan oleh sebuah boneka hidup?! boneka arwah, lebih tepat nya lagi!
"Hiks..hiks..." Air mata Emma mengalir keluar tanpa bisa ia cegah. Keringat dingin pun kian deras mengucur di sekujur tubuh.
"Kau membuat nya menangis, Sell.. kita bermain yang seru-seru saja ya, Kak? Permainan yang menyenangkan! Qiqiqiqiii.."
Kali ini gantian boneka Cello yang bicara. Kekehan tawa dari boneka itu mengingatkan Emma pada film "Boneka, ku Sayang" yang pernah ia tonton bersama Susi.
Dalam film boneka arwah itu, tokoh boneka lelaki nya adalah boneka paling jahat yang senang memburu dan membunuh para korban nya.
Dan kini Emma seperti sedang melihat sosok boneka jahat itu dalam diri boneka Cello. Terutama dengan seringai lebar yang selalu tersungging di wajah nya yang kaku.
'Susi!! tolong aku!' Emma meracaukan permohonan dalam hati.
"Malam ini, kita bermain kuda-kuda an saja ya, Kak. Aku akan melepaskan ikatan tali di tangan mu itu."
Emma lalu memperhatikan saat boneka Cello berdiri di pinggir kanan nya. Fokus Emma hanya pada pisau tajam yang kini Cello pegang di tangan kanan nya.
'Arghg!' Emma mengaduh dalam hati.
Saat tiba-tiba saja tubuh nya dibalik begitu saja oleh tangan kecil Cello. Entah darimana kekuatan besar itu berasal. Tapi yang jelas boneka Cello mampu menggulingkan tubuh Emma yang terikat kencang.
Dan Emma tadi mengaduh kesakitan karena dahi nya terantuk lantai cukup keras.
"Ikatan ini cukup kencang. Dia memang paling terampil mengikat-ikat," Emma mendengar gumaman Cello begitu dekat di belakang nya.
Sementara Sella masih bersenandung sambil mencaci kecil rambut Emma. Entah sudah cacian yang ke berapa kali nya.
Beberapa saat kemudian, Emma merasa ikatan di tangan nya terlepas.
Merasa ada harapan untuk melarikan diri, ia pun bergegas bangun dan beringsut menjauh ke tepi dinding.
Emma kemudian langsung membuka lakban yang menutup mulut nya. Ia lalu berusaha melepaskan ikatan yang masih membelit pergelangan kaki nya.
Sementara melakukan itu, kedua mata nya menatap was-was pada dua boneka yang berada tak jauh di depan nya.
Kedua boneka itu terlibat perbincangan sendiri.
"Salah mu, Cell! Kau terlalu cepat melepaskan nya! Sekarang kakak cantik ini kan jadi bisa lari!" Boneka Sella mendumel kesal.
Kedua tangan mungil boneka Sella kini berkacak pinggang.
Sikap berkacak pinggang nya boneka Sella itu sebenar nya akan terlihat menggemaskan. Jika saja boneka Sella tak bisa bergerak dan bicara dengan sendiri nya.
"Tenang saja. Dia tak akan bisa pergi ke mana-mana. Bukan kah selalu ada dia yang menjaga rumah ini?" Ucap boneka Cello dengan nada yakin.
Kini kedua boneka itu melangkah mendekati Emma bersama-sama. Sehingga Emma yang masih kesulitan membuka ikatan tali di kaki nya pun langsung saja berteriak kencang.
"Tidak! Tolong jangan mendekat!" Jerit Emma menyuarakan keinginan nya.
Ketika jarak antara kedua boneka itu dengan Emma hanya berkisar satu meter saja, Emma akhirnya memutuskan untuk berdiri.
Dengan kaki yang masih terikat menyatu, Emma melompat-lompat menuju pintu.
"Hihihi.. kakak ini lucu sekali ya, Cell! Lihat lah! Dia mirip seperti kelinci!"
Emma mendengar boneka Sella bicara di belakang nya.
Ia mengacuhkan tawa di belakang nya. Karena kini Emma memfokuskan diri untuk segera menjauh dari dua boneka itu.
"Ya.. kelinci yang malang. Karena jelas, ia tak akan bisa kembali pulang. Qiqiqiqi.." imbuh boneka Cello kemudian.
Emma merasakan jantung nya berpacu semakin cepat. Ini bukan hanya disebabkan oleh rasa letih usai melompat-lompat. Namun lebih dikarenakan rasa ngeri yang menjerat benak dan pikiran nya saat itu juga.
Emma ingin mengulang waktu. Ke masa saat ia hendak menghubungi nomor ibu Sofia. Ia menyesal telah menerima tawaran pekerjaan ini.
Gaji yang besar dari pekerjaan ini dirasa Emma tak sepadan dengan apa yang harus ia alami saat ini.
Emma bahkan tak yakin, bila ia masih bisa melihat matahari di keesokan hari.
"Tolong!! Tolong!!" Emma berteriak meminta tolong.
Emma agak nya lupa sedang di mana ia berada saat ini. Nyatanya ia berada di rumah inang si boneka arwah. Jadi jerit pertolongan nya itu tak mendapatkan sahutan dari penghuni lain di rumah itu.
Kini Emma hampir mencapai pintu. Sayang nya ketika tangan nya baru meraih gagang pintu, ia merasakan sesuatu melompat ke atas punggung nya.
Sebuah lompatan yang langsung meninggalkan jejak nyeri di punggung nya yang kecil.
Ternyata itu adalah boneka Cello.
"Aku ingin bermain kuda-kuda an, Kakak.. jadi, merangkak lah seperti kuda sekarang juga!" Titah Cello di dekat telinga Emma.
Kemudian Emma merasakan beban tubuh Cello tiba-tiba menjadi sangat berat. Sehingga ia pun langsung tersungkur jatuh ke atas lantai.
Emma merasa pusing karena kepala nya lagi-lagi terbentur dengan cukup kencang. Dan tadi hidung nya pun ikut terbentur pula.
Emma menduga dengan sangat yakin, kalau hidung nya akan patah bila ia terjatuh sekali lagi seperti tadi.
"Nah.. sekarang, merangkak lah, Kakak cantik! Jadi lah seekor kuda yang baik! Qiqiqiii.." gumam Cello di dekat telinga Emma.
Emma sebenar nya ingin kembali bangkit. Ia baru bisa merubah posisi jadi merangkak. Namun ia kesulitan untuk membangunkan tubuh nya berdiri.
Beban tubuh Cello di punggung nya benar-benar terasa berat menurut Emma. Ia seperti sedang ditunggangi oleh manusia sebenar nya.
'Ya Tuhan! Tolong aku!' lagi-lagi Emma menjeritkan tangis nya dalam hati.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Rini Antika
serem bgt sih
2022-12-10
1
mom mimu
hadeuhh Kak Mell bulu kuduk ku udah berdiri semua ini 😬😬😬
2022-12-08
1
Rohid Bee
Mana tengah malam bacanya.
2022-12-07
1