Part 18

"Bagaimana harimu?"

Dirga yang tiba-tiba muncul entah dari mana, lantas mengambil tempat duduk di dekat Bagio, lalu mencomot satu potong buncis rebus dari dalam piring makan milik Bagio.

"Aku tidak tahu harus bilang apa," jawab Bagio pelan, sambil memaksakan untuk memakan makan malamnya, dan dibantu menelan makanannya dengan dorongan air putih.

"Sekalinya kamu bukan hanya orang baru, tapi benar-benar baru hari ini kamu tinggal di sini, ya?" ujar Dirga. "Aku tadi melihatmu di gym."

"Iya," jawab Bagio singkat.

"Sudah berapa lama kamu jadi model?" tanya Dirga.

"Aku baru mau mencoba," jawab Bagio.

"Benarkah ...? Hebat juga kamu ini! Baru memulai jadi model, tapi langsung diterima di agensi ini," ujar Dirga.

"Tidak sehebat itu. Aku dibantu oleh seorang kenalan yang mengambil fotoku, beberapa minggu yang lalu," sahut Bagio.

Dirga tampak manggut-manggut seolah-olah mengerti.

"Kelihatannya kamu kesulitan—" Dirga menunjuk ke piring makan Bagio dengan pandangan matanya.

"Agensi ini sudah yang paling bagus mengurus model-modelnya, jika dibandingkan agensi lain," lanjut Dirga.

Dirga lalu bersandar di kursinya dan sedikit menurunkan bokongnya dari dudukan kursi, hingga kakinya bisa menjulur lurus ke depan.

"Agensi lain, cuma mau modelnya kurus, pintar berpose, bisa menghasilkan uang yang banyak, tapi mereka tidak mau tahu apa yang menjadi kendala bagi modelnya," ujar Dirga.

"Apa kamu sudah lama jadi model?" tanya Bagio penasaran.

"Lumayan. Sudah delapan tahun, kalau tidak salah," jawab Dirga enteng. "Tapi, aku baru bisa gabung di agensi ini, kurang lebih setahun."

"Kalau begitu, pengalamanmu sudah banyak," celetuk Bagio.

Bagio memaksakan untuk menghabiskan suapan terakhir makanannya, lalu buru-buru minum air.

"Pffftt ...! Tidak enak, ya?" Mungkin Dirga mengerti, kalau Bagio kesulitan untuk memakan makanannya, sampai-sampai dia tertawa tertahan melihat tingkah Bagio.

"Sebenarnya kalau ada rasa garam biar sedikit, makanan ini lebih baik dari pada yang biasa aku makan di rumahku di kampung," kata Bagio.

Sisa air yang membasahi ujung mulutnya, disambar Bagio dengan punggung tangannya, lalu berdiri dan mencuci piring bekas makannya di bak cuci piring.

"Lama-lama juga terbiasa. Itu masih mendingan. Coba kamu bayangkan kalau kamu makan gorengan, atau Junk Food....

... Ditambah lagi, jam makan yang tidak beraturan, tapi kamu diharuskan agar tetap kurus. Bagaimana kira-kira?" ujar Dirga.

Bagio yang sudah selesai mencuci piringnya, lalu kembali duduk di kursinya yang tadi. "Bukannya gorengan dilarang?"

"Iya, memang dilarang. Tapi, kalau kamu sudah di lokasi kerja, mau tidak mau, kamu hanya akan makan makanan yang disediakan di sana," jawab Dirga.

"Di peragaan busana tadi saja, makanannya hanya ada kentang goreng dan ayam goreng tepung....

... Lebih baik aku tidak makan, daripada aku harus memuntahkannya lagi, atau berolahraga ekstra, hanya untuk membakar kalori dari makanan sampah itu," lanjut Dirga terlihat kesal.

Kalau berolahraga masih masuk di akal, tapi kalau memuntahkan makanan yang sudah dimakan, rasanya hal itu benar-benar aneh bagi Bagio.

"Apa memang ada yang makan, lalu memuntahkannya lagi?" tanya Bagio bingung.

"Anoreksia. Apa kamu pernah dengar?" ujar Dirga.

Bagio menggelengkan kepalanya. "Tidak."

"Gara-gara mau badannya tetap kurus, tapi makanan yang disediakan hanya makanan berkalori tinggi, rata-rata model jadi terbiasa untuk memaksa memuntahkan makanannya lagi," kata Dirga menjelaskan.

Walaupun Bagio bisa memaklumi tujuan dari para model, tapi menurut Bagio, penjelasan dari Dirga tetap saja masih terdengar menjijikan.

"Apa kamu tidak lapar?" tanya Bagio.

"Tadi siang aku cuma makan apel. Orang dari agensi yang belikan," jawab Dirga. "Tapi kalau untuk malam ini, aku tadi sudah memesan makanan online. Sebentar lagi, paling-paling juga sudah diantar."

Baru saja Dirga selesai bicara, ponselnya tiba-tiba berbunyi, dan Dirga tampak buru-buru menjawab panggilan yang masuk.

"Halo!" sapa Dirga, dengan ponsel menempel di telinganya.

"..."

"Iya, iya. Tunggu sebentar, aku keluar!" Dirga lalu terlihat menyimpan ponselnya lagi, ke dalam saku jaketnya.

"Aku ke depan dulu! Makanan pesananku sudah datang," ujar Dirga yang sudah berdiri.

"Okay!" sahut Bagio.

Dirga kemudian berjalan pergi dari ruang makan yang di gabung dengan dapur umum, meninggalkan Bagio kembali jadi seorang diri saja di sana.

Tidak ada lagi yang perlu Bagio lakukan sekarang ini.

Tadi, pakaiannya sudah dicuci menggunakan mesin cuci, yang diajarkan cara pemakaiannya oleh salah satu model yang ada di Dorm itu.

Walaupun sebenarnya sudah merasa sedikit lelah karena latihan sepanjang siang sampai petang tadi, namun Bagio masih malas untuk pergi berbaring di dalam kamarnya.

Jadinya Bagio tetap duduk di situ, sampai akhirnya Dirga terlihat berjalan kembali, sambil menenteng kantong plastik di tangannya.

Dirga kembali duduk di kursinya tadi, lalu membuka dan mengeluarkan isi dari kantong plastik, ke atas meja makan.

"Aku tadi memesan sup jagung. Kamu mau mencobanya? Tapi, jangan berharap ada rasa apa-apa, selain rasa jagung dan lada," ujar Dirga menawarkan, sambil tersenyum.

"Tidak, terima kasih. Aku sudah kenyang," sahut Bagio menolaknya.

"Aku memesan makanan di rumah makan langgananku. Jadi, mereka sudah tahu kalau tidak boleh memakai garam, ataupun penyedap rasa," kata Dirga, lalu mulai menyuapkan sup dengan sendok plastik ke mulutnya.

"Apa selama jadi model, tidak boleh makan garam?' tanya Bagio penasaran.

"Tidak. Tentu saja tidak. Kalau metabolisme mu bagus, kamu bisa makan apa saja, tanpa takut berat badanmu bertambah....

... Lain lagi denganku. Aku tidak bisa salah makan, berat badanku bisa bertambah gila-gilaan. Makanya, aku tetap diet ketat," jawab Dirga.

Bagio manggut-manggut mengerti.

"Berapa banyak berat badanmu yang harus dihilangkan?" tanya Dirga.

"Kata Coach tadi, sekitar lima sampai sepuluh kilo," jawab Bagio.

"Sedikit," kata Dirga, lalu memandangi Bagio dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya. "Kamu berarti ditargetkan jadi model iklan, atau model untuk pemotretan saja, ya?"

"Aku kurang tahu," sahut Bagio jujur.

"Kalau jadi model catwalk, paling tidak, kamu harus menurunkan berat badanmu sekitar lima belas sampai dua puluh kilogram," kata Dirga.

"Hah?" Bagio rasanya tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Iya. Apa kamu tidak memperhatikan sekurus apa aku tadi, waktu kita mandi sama-sama?" tanya Dirga.

Bayangan tentang pekarangan Dirga yang bersih, kembali melintas di kepala Bagio, hingga membuat wajahnya terasa agak panas karena malu.

Bagio menggelengkan kepalanya. "Tidak."

"Coba kamu perhatikan model yang lain! Kalau mereka ditargetkan untuk jadi model peragaan busana, mereka pasti sangat kurus. Jangankan lemak, otot pun hampir tidak ada," kata Dirga.

"Berapa usiamu?" tanya Dirga buru-buru, dan tampak menautkan kedua alisnya, hingga membentuk lipatan di keningnya.

"Dua puluh tiga," jawab Bagio.

Dirga terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya. "Pantas saja!"

"Untuk jadi model catwalk, usia maksimal yang dianggap produktif, adalah dua puluh lima tahun. Dengan usiamu yang sekarang, jadi tanggung kalau dipersiapkan jadi model peragaan busana seperti itu," lanjut Dirga menjelaskan.

"Lalu, berapa usiamu sekarang?" tanya Bagio.

"Hehehe ...! Walaupun aku kelihatan tua, tapi aku baru sembilan belas tahun," jawab Dirga sambil tertawa kecil.

Bagio memperhatikan baik-baik wajah Dirga, dan memang Dirga terlihat lebih tua dari usia aslinya, namun Bagio tidak mau mengutarakan penilaiannya, dan memilih untuk diam saja.

Terpopuler

Comments

Halimahnst

Halimahnst

keren

2025-01-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!