Part 12

Sambil menunggu makan siang mereka diantar, Karenina menyarankan agar mereka kembali beristirahat sebentar.

Bagio dan Yanto berbaring di atas rerumputan, sedangkan Karenina terlihat sibuk di laptopnya.

"Kenapa tidak dibuatkan akses jalan yang baik ke tempat ini?"

Entah Yanto memang ingin mendapatkan jawaban dari Bagio, atau hanya sekedar melontarkan pertanyaannya begitu saja.

Air sungai yang benar-benar jernih, hingga bebatuan kecil di bagian dasarnya bisa terlihat dengan jelas.

Pepohonan di sekitarnya menjadi tempat berteduh dari teriknya sinar matahari, dan menghasilkan oksigen berlimpah yang menyegarkan pernapasan.

Jika saja pemerintah daerah mau mengelola tempat itu dengan baik, maka tempat itu akan menjadi salah satu destinasi wisata, yang bisa menarik perhatian wisatawan.

Selain tempat itu bisa menghasilkan tambahan pendapatan daerah, masyarakat di sekitarnya juga bisa mendapatkan peluang usaha baru untuk menambah penghasilan, dengan memanfaatkan kesempatan adanya pengunjung yang datang ke situ.

Tapi, berbanding sama dengan keuntungan yang mungkin didapatkan, tentu saja ada resiko kerusakan ekosistem, jika tempat itu dibuka secara besar-besaran untuk umum.

Mengingat siaran berita di televisi, yang memperlihatkan banyaknya tempat wisata yang dipenuhi dengan sampah.

Belum lagi tangan-tangan nakal yang tidak bertanggung jawab, yang bisa merusak tanaman asli yang tumbuh di sekitarnya.

"Pasti ada alasannya, mengapa tempat ini seolah-olah disembunyikan dari orang luar." Karenina berkata-kata, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.

"Hidden Gems!" celetuk Yanto, lalu menoleh ke arah Bagio. "Permata tersembunyi."

Bunyi gemerisik dari semak belukar di dekat mereka, menarik perhatian semua orang untuk melihat ke arah datangnya suara.

Kartono terlihat berjalan menerobos di antara sela-sela rerumputan setinggi pahanya, sambil membawa dua set rantang, dan menjepit gulungan tikar di ketiaknya.

"Sudah lama menunggu? Maaf. Ibuk sudah lama kelar memasak, tapi aku tadi masih memanen kelapa," ujar Kartono.

"Kenapa kamu lewat dari situ?" tanya Bagio.

"Eh! Kamu mau aku lewat dari sana?" Kartono menunjuk ke arah jalan setapak, yang biasa jadi jalur untuk di lalui orang-orang yang pergi ke tempat itu. "Bakalan tambah lama kalian menunggu."

"Apa nggak sakit, bang?" tanya Yanto, sambil memandangi betis Kartono yang terlihat banyak luka goresan dengan sedikit darah, bekas terkena helaian rumput ilalang.

"Kalau sekarang nggak. Nanti baru terasa gatal," jawab Kartono enteng, kemudian menggelar tikar di atas rerumputan, dan meletakkan susunan rantang-rantang makanan ke atasnya.

"Kau sudah mengecek Tutut tadi?" tanya Bagio yang baru teringat akan perangkap keong sawah yang mereka pasang kemarin sore, sambil membantu Kartono menata rantang di atas tikar.

"Sudah. Lumayan, dapatnya seember penuh," jawab Kartono.

"Eh! Apa abang membawa keongnya yang sudah matang?" Yanto yang penasaran, kemudian memeriksa isi bagian demi bagian rantang.

"Belum. Lama proses masaknya. Apalagi, tadi ibuk sibuk memasak untuk makan siang ini. Paling nggak, besok baru kita bisa menyantapnya."

Jawaban dari Kartono, sanggup membuat raut wajah kecewa terpasang di wajah Yanto. "Sabar ...! kamu pasti bisa mencicipinya besok," lanjut Kartono.

Aroma harum dari masakan buatan ibunya Kartono, tampaknya memancing selera makan dari semua yang ada di situ, hingga semuanya tanpa terkecuali, segera mendekat ke tikar, dan bersiap-siap untuk makan.

"Tadi ibuk memberi tambahan makanan untuk saya, karena saya tidak sempat makan di rumah. Tidak apa-apa kalau saya makan bersama-sama kalian?" tanya Kartono sambil menatap Karenina.

"Tentu saja, bang! ... Mari makan!" Ucapan Karenina seakan-akan menjadi aba-aba, agar semua dari mereka mengambil makanannya masing-masing.

Gulai daun singkong, orak-arik tempe, ikan nila goreng, ditambah lagi dengan sambal terasi, bukan hanya Bagio, Kartono, dan Yanto saja yang makan dengan lahap, Karenina pun terlihat menikmati makanannya.

"Apa kalian sudah selesai mengambil foto?" tanya Kartono, lalu menyuapkan makanannya tanpa memakai sendok.

"Belum. Masih ada beberapa sesi lagi." Karenina tampak seperti kepedasan, sampai-sampai keringat terlihat membasahi keningnya. "Yanto! Tolong ambilkan air minum!"

Yanto yang melihat Karenina yang tampak panik, bergegas berdiri dan mengeluarkan beberapa botol air mineral dari dalam tas, dan meletakkannya ke atas tikar.

"Terima kasih!" ucap Karenina, lalu buru-buru meneguk air mineral, langsung dari botolnya.

"Kamu sudah selesai memanen kelapa?" tanya Bagio, sambil memandangi Kartono.

"Sudah. Ternyata hanya beberapa pohon saja yang perlu dipanen." Kartono tampak kecewa, saat menjawab pertanyaan Bagio barusan.

Wajar saja kalau Kartono merasa tidak puas, karena biasanya, kalau hanya sedikit buah kelapa yang dipetik, maka bayarannya tentu juga sedikit. Syukur-syukur, kalau diberi upah 30 ribu.

"Oh, iya! ... Dek!" Kartono yang tampak seolah-olah baru teringat akan sesuatu, menatap Karenina, sambil berusaha mengeluarkan sesuatu dari kantong celana pendeknya.

"Uang yang adek titipkan pada saya semalam, terlalu banyak. Ibuk menyuruhku mengembalikan sisa uangnya." Kartono menyodorkan gulungan uang kepada Karenina.

"Eh! Tidak usah, bang! Tidak apa-apa. Biar untuk ibunya abang saja," sahut Karenina, dengan mendorong pelan tangan Kartono, yang mengarah kepadanya.

"Beneran? Masih banyak loh, sisanya!" ujar Kartono seakan-akan tidak percaya dengan perkataan Karenina.

"Iya, bang. Ambil saja! Saya justru berterima kasih, karena ibu abang Kartono bisa membantu menyiapkan makan siang," sahut Karenina.

"Waaah! ... Terima kasih banyak, dek!" Kartono yang tampak senang, berucap sambil tersenyum lebar.

"Sama-sama, bang!" sahut Karenina.

***

Setelah semua sudah selesai makan, dan sempat beristirahat sejenak, Karenina lalu melanjutkan sesi pemotretan Bagio.

Masih sama seperti yang sudah-sudah, Bagio belum bisa berpose sendiri, dan tetap menunggu arahan dari Karenina.

Akan tetapi, setelah mendekati ke sore hari, dan menurut Karenina menjadi sesi terakhir, Bagio yang awalnya berpakaian lengkap, kini dipotret dengan bertelanjang dada.

Bukan itu saja, Bagio juga harus berpose sambil basah-basahan di air terjun.

Terang saja, Bagio jadi malu dan ragu, namun Karenina meyakinkan kalau Bagio terlihat bagus, dan tidak perlu ragu untuk menunjukkan bentuk tubuhnya.

Begitu juga Yanto, yang tidak henti-hentinya memberi semangat kepada Bagio, agar tetap percaya diri di depan kamera.

Sebelum gelap, Karenina yang kelihatannya sudah puas mengambil gambar Bagio, menghentikan sesi pemotretan hari itu, dan mengajak semua untuk segera pulang, sekalian membuat janji untuk bertemu di rumah Bagio lagi nanti malam.

***

Di teras depan rumah Bagio, Karenina memperlihatkan semua hasil foto-foto yang diambil mereka seharian tadi.

Menurut Karenina, pemotretan itu sudah cukup, dan dia akan kembali ke kota besok pagi.

"Pakaiannya sudah saya cuci. Tapi, kalau besok pagi, tentu pakaian-pakaian itu masih belum kering," ujar Bagio.

"Tidak perlu memikirkan itu, bang! ... Pakaian itu biar untuk abang saja." Karenina lalu terlihat mengeluarkan selembar amplop dari dalam tas yang dia bawa, dan menyerahkannya kepada Bagio.

"Mudah-mudahan, abang tidak kecewa dengan jumlahnya. Saya benar-benar berterima kasih, karena abang sudah mau menjadi model untuk foto saya," lanjut Karenina.

"Sama-sama, dek," sahut Bagio, yang menerima amplop itu, tanpa melihat isinya.

"Oh, iya! Saya ingin memastikan ulang, kalau mungkin abang mau jadi model profesional. Apa abang tertarik?" Karenina tampak menatap Bagio lekat-lekat.

"Belum tahu, dek," jawab Bagio ragu.

"Hmm ... Kalau berminat, abang bisa memberitahu Yanto. Nanti saya akan mencoba membantu abang, agar bisa mendapat pekerjaan menjadi model sungguhan," ujar Karenina.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!