Dorm, begitu kata orang yang mengantar Bagio, menyebut tempat karantina yang akan jadi tempat tinggal Bagio selama setahun.
Dan, dalam sebulan pertama, Bagio tidak akan diizinkan ke mana-mana, dan benar-benar hanya beraktifitas di dalam tempat itu.
Dari sedikit penjelasan yang Bagio dengarkan, di Dorm itu, Bagio nanti akan tinggal bersama beberapa orang sekaligus, yang sama-sama bekerja menjadi model bagi agensi SM.
Bukan hanya usia yang beragam, jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan juga tidak dipisahkan, dan bercampur di dalam satu bangunan Dorm.
Bahkan, kamar tidur pun tidak dibeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan, seolah-olah semua orang yang tinggal di dalam Dorm, memiliki jenis kelamin yang sama.
Semalam, Bagio sempat diajak berkeliling oleh Andi, orang yang bertanggung jawab di Dorm.
Andi memperlihatkan ruangan demi ruangan yang tersedia di tempat itu, untuk menunjang kebutuhan para penghuninya, agar bisa melakukan segala sesuatunya sesuai jadwal.
Ada tempat untuk berkumpul santai, tempat berolahraga dengan peralatan yang hampir lengkap tersedia di dalamnya, tempat berlatih melenggak-lenggok yang dikelilingi dengan cermin sebagai dindingnya, dapur umum, kamar mandi umum, hingga kamar tidur yang dipakai oleh empat orang sekaligus dalam satu ruangan.
Sambil berkeliling, Bagio bertemu dengan penghuni Dorm yang lain.
Tidak banyak dari para model yang ada di sana yang sempat berkenalan dengan bagio, karena menurut Andi, sebagian besar dari penghuninya sudah mulai menerima pekerjaan di luar.
Bahkan untuk sementara ini, hanya Bagio sendiri saja yang menjadi penghuni, yang masih harus melalui masa karantina sepenuhnya.
Andi juga menyerahkan selembar kertas jadwal kepada Bagio, yang berisikan kegiatan yang wajib Bagio lakukan di setiap harinya, dengan jam-jam yang sudah diatur sedemikian rupa.
"Jangan sampai terlambat! Satu kegiatan terlewatkan, maka bisa mengacaukan jadwal yang lain."
Begitu kata Andi malam tadi, saat Bagio menerima lembaran kertas, dan memperhatikan semua yang tertulis di dalamnya, sambil berdiri di depan pintu kamar.
Seharusnya, di dalam kamar yang akan ditempati oleh Bagio, berisikan tiga orang model termasuk Bagio, namun dua orang penghuni yang lain, belum kembali ke Dorm saat itu, sampai Bagio tertidur di sana.
***
Dengan cepat, Bagio bangkit dari tempat tidurnya, lalu melihat ke sana kemari, seolah-olah masih sedang bermimpi, dan masih merasa tidak bisa percaya pada kenyataan, akan tempat di mana dia berada sekarang ini.
Ruangan yang asing, dengan empat buah tempat tidur yang berjejer, dan hanya berbataskan lemari-lemari laci kecil, di setiap sela kosong di antara ranjang-ranjang itu.
Sambil mengumpulkan kesadarannya, Bagio melihat jam yang berukuran besar yang menempel di dinding, sembari mengingat-ingat akan apa yang terjadi semalam.
Kalau tidak salah, di sela-sela tidurnya, Bagio sempat mendengar suara dua orang laki-laki yang memasuki kamar, tempat Bagio tidur.
Akan tetapi, karena Bagio masih sangat mengantuk, dia tidak membuka mata untuk melihat pemilik suara-suara itu, dan tetap melanjutkan tidurnya.
Yang anehnya, di pagi hari ini, hanya ada satu tempat tidur saja yang tampak terisi, sedangkan dua tempat tidur yang lain, masih tetap terlihat kosong.
Bagio tidak mau berlama-lama memikirkan hal itu, dan segera mengambil peralatan mandi dari dalam laci di samping tempat tidurnya, lalu bergegas pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap sebelum kegiatan paginya dimulai.
Kamar mandi terbuka untuk umum itu, benar-benar terbuka.
Selain dinding yang memisahkan antara ruangan untuk laki-laki dan perempuan, di dalam kamar mandi itu tidak memiliki sekat pembatas, yang bisa menjadi penghalang pandangan mata dari masing-masing orang yang mandi di sana.
Dengan begitu, Bagio berarti harus mandi bertelanjang, bersama-sama dengan model laki-laki yang lain, tanpa ada privasinya sama sekali.
Bagio menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal, saat melihat pemandangan yang tidak biasa, di dalam kamar mandi itu.
Beberapa penghuni lain yang sudah berada di situ, sedang mandi dengan berbugil ria, tanpa memakai sehelai kain pun, dan berdiri bersebelah-sebelahan, sesuai dengan pancuran yang menggantung di atas kepala mereka.
Semua dari mereka terlihat biasa saja, meskipun buah peach dan lonceng milik mereka yang bergelantungan, bisa dilihat dengan jelas oleh tetangganya.
Mau bagaimana lagi?
Bagio tidak mungkin menunggu sampai mereka semua selesai mandi, dan mereka pergi dari sana, karena bisa-bisa, Bagio terlambat dari jadwalnya.
Akhirnya, meskipun masih dengan perasaan malu-malu, mau tidak mau, Bagio lalu ikut ambil bagian dalam pameran di situ.
Tanpa menoleh ke kiri maupun ke kanan, Bagio segera menyalakan air pancuran, dan mulai menggosok-gosok badannya dengan sabun, di bawah air yang mengalir.
"Orang baru, ya?!" Tiba-tiba, salah satu dari orang yang mandi di situ menegur Bagio.
Karena terlalu gugup saat mandi bertelanjang bersama orang lain, Bagio tidak memperhatikan dengan jelas apa yang dikatakan oleh orang itu. "Eh! ... Apa?"
Orang itu melirik ke bawah perut Bagio sebentar, lalu mengangkat pandangannya, dan melihat ke mata Bagio, "Orang baru, kan?!" katanya sambil tersenyum.
"Eh! ... I—iya," jawab Bagio gelagapan.
Dan seketika itu juga, wajah Bagio terasa panas, saat menyadari kalau tetangga sebelahnya baru saja memandangi sosis jumbo miliknya.
Apa hubungannya antara orang baru dengan sosisnya?
Kenapa orang itu seolah-olah menilai anggota yang lama ataupun yang baru, dari sepotong daging yang bergelantungan bebas itu?
Walaupun Bagio tidak mengutarakan apa yang sedang dipikirkan olehnya, namun orang itu seolah-olah mengerti kalau bagio sekarang sedang kebingungan.
"Kalau sudah lewat masa karantina, tidak akan tersisa sehelai rambut pun di situ." Orang itu kemudian berdiri menyamping, dan menunjuk ke bagian bawah perutnya.
Refleks, pandangan Bagio mengikuti arah yang ditunjuk oleh tangan orang itu.
Jangankan semak belukar yang tebal seperti di halaman Bagio, rumput gajah yang tipis pun tidak terlihat di sana.
Benar-benar mulus seperti kulit bayi, kecuali ukurannya saja yang tidak bisa menyembunyikan fakta, kalau orang itu sudah dewasa.
Bagio sudah mengalihkan pandangannya dari peternakan milik tetangganya, dan sekarang dia hanya menatap lurus ke dinding di depannya.
Namun, bayangan orang di sebelahnya yang masih bisa dilihat dengan ujung matanya itu, menimbulkan rasa penasaran bagi Bagio.
Bagaimana caranya hingga bisa sebersih itu?
Kalau hanya dicukur, tentu masih ada sisa duri-duri kehitaman di sana.
Apa mungkin ...?
"Namaku, Dirga." Orang yang baru saja memperlihatkan area sensitifnya kepada Bagio, lantas memperkenalkan dirinya.
Bagio lalu menoleh ke samping. "Namaku, Bagio."
Dirga kelihatannya sudah selesai mandi, hingga dia tampak memutar keran, hingga air pancuran di atasnya berhenti mengalir.
"Kamu di kamar nomor berapa?" tanya Dirga buru-buru, sebelum dia pergi dari situ.
"Nomor 7," jawab Bagio.
"Aku di kamar nomor 10. Kalau-kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa menemuiku," ujar Dirga. "Aku duluan!"
"Okay!" Bagio masih sempat melihat Dirga yang berbalik lalu berjalan pergi, setelah laki-laki itu melilitkan handuk di pinggangnya.
Bagio juga buru-buru menyelesaikan mandinya, dan beranjak pergi dari sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments