Karenina menepati janjinya untuk membantu mencarikan pekerjaan sebagai model bagi Bagio.
Setelah kurang lebih dua minggu Karenina kembali ke kota, dan Bagio yang menitipkan pesan kepada Yanto, kalau Bagio mau menjadi model profesional, malam tadi, Yanto menemui Bagio di rumahnya.
"Abang besok jangan ke mana-mana, ya?! Soalnya ada agensi yang akan datang ke sini. Hanya saja, saya tidak diberitahu jam yang pasti kapan mereka akan tiba."
Begitu kata Yanto kepada Bagio, meneruskan pesan yang dikatakan oleh Karenina lewat sambungan telepon.
Jadilah hari ini, Bagio tidak melakukan pekerjaan apapun di luar rumah, dan hanya menunggu kedatangan orang yang akan mempekerjakannya sebagai seorang model.
Sudah hampir jam tiga siang, kesabaran Bagio mulai berganti dengan kegelisahan.
Akan tetapi keyakinan Bagio seketika itu juga kembali, ketika Yanto yang berjalan dari arah areal persawahan, terlihat mendatangi rumahnya, sambil tersenyum lebar.
Dan tidak berapa lama kemudian, menyusul sebuah kendaraan pribadi yang datang dari arah yang berlawanan.
Yanto tidak segera menemui Bagio, melainkan tampak berbincang-bincang sebentar dengan orang yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Itu utusan dari pihak agensi. Abang mau bicara sendiri atau mau saya temani?"
Yanto segera memberitahu siapa yang jadi penumpang di dalam mobil berkaca hitam pekat, yang bagian dalamnya tidak terlihat dari luar, sesaat setelah dia menginjakkan kakinya di teras rumah Bagio.
"Maaf merepotkan. Sepertinya kamu tadi dari sawah, ya?!" ujar Bagio.
"Iya. Tidak masalah. Tidak ada lagi yang bisa saya lakukan di sana. Teman-temanku juga sebentar lagi pulang." Yanto kemudian duduk di salah satu kursi teras yang kosong, yang digeser Bagio mendekat ke arahnya.
"Selamat sore!" Orang yang tadinya berjalan menyusul di belakang Yanto, segera menyapa Bagio, sambil mengulurkan tangan kanannya. "Yuri. Agensi model, SM Management."
Aroma harum dari laki-laki yang memperkenalkan dirinya dengan nama Yuri, yang adalah utusan dari sebuah agensi model, masih bisa tercium jelas walaupun mereka sedang berada di ruangan terbuka.
Yuri seorang laki-laki yang berpenampilan sangat modis, bahkan kelihatannya di wajahnya pun juga memakai sedikit riasan, sampai-sampai Bagio tidak bisa menilai, berapa kira-kira usia dari laki-laki yang berjabat tangan dengan Bagio sekarang ini.
Walaupun Yuri tampak berpenampilan keren dan berkelas, namun dia sama sekali tidak terlihat risih, ketika melihat penampilan Bagio saat ini, yang hanya memakai celana pendek dan kaus oblong usang.
"Bagio." Sambil berjabat tangan, Bagio ikut memperkenalkan dirinya sendiri. "Silahkan duduk! Biar saya buatkan minum dulu!"
"Oh, terima kasih. Tapi anda tidak perlu repot-repot. Saya sudah terlalu banyak minum," kata Yuri, lalu duduk di teras rumah Bagio, bersebelahan dengan Yanto.
"Apa anda sudah siap?" tanya Yuri, sambil menatap Bagio yang baru saja ikut duduk di situ.
"Eh! Maksudnya?" Bagio kebingungan.
"Maafkan saya. Saya sudah kebiasaan untuk bicara to the point, dan tidak terbiasa untuk berbasa-basi, karena waktu sangat berharga bagi pekerjaan saya....
... Jadi kita langsung saja. Apa anda sudah siap untuk ikut dengan saya sekarang?" Yuri mengulang pertanyaannya beserta dengan penjelasannya.
"Maafkan saya. Tapi, kelihatannya ada sedikit kesalahan pahaman. Saya pikir kita hanya akan berbincang-bincang di sini saja. Jadi, saya belum melakukan persiapan, untuk segera bepergian," jawab Bagio.
Yuri menoleh ke sampingnya dan menatap Yanto.
"Eh! Saya juga tidak tahu kalau kalian akan langsung pergi membawa bang Bagio," ujar Yanto, seakan-akan bisa membaca pikiran Yuri.
"Berapa lama sampai anda bisa siap untuk pergi bersama saya?" tanya Yuri yang kembali melihat Bagio.
"Apa kita akan bepergian dalam waktu yang lama?" Bagio balik bertanya.
"Rencananya begitu. Kalau anda tidak setuju dengan kontraknya, maka anda bisa di antar pulang ke sini, paling lambat dalam tiga hari ke depan....
... Tapi kalau anda mau bekerja di bawah agensi kami, tentu anda sudah tidak perlu lagi untuk kembali ke sini," jawab Yuri menjelaskan.
"Hmm ... Apa anda bisa menunggu kurang lebih selama dua jam? Saya masih harus mengurus sesuatu," sahut Bagio ragu-ragu.
Yuri kelihatannya tidak bisa menunggu selama itu, tampak jelas di wajahnya kalau dia ingin segera buru-buru pergi dari desa itu.
"Kamu bisa jalan-jalan saja dulu denganku. Tidak akan terasa lama menunggu, kalau kamu melihat-lihat kampung yang masih asri ini," ajak Yanto, agar Yuri memberikan kesempatan untuk Bagio bersiap-siap.
"Hmm ... Okay! Tolong jangan sampai tertunda lagi," sahut Yuri sambil menatap bagio, kemudian ikut berdiri bersama Yanto yang sudah berdiri lebih dulu.
Bersamaan dengan Yanto dan Yuri yang beranjak pergi dari rumahnya, Bagio juga segera mengemas baju ganti yang dia butuhkan saat dia ikut bersama Yuri nanti.
Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Bagio untuk mempersiapkan pakaiannya, karena dia hanya mengemas beberapa lembar pakaian, yang menjadi pemberian Karenina waktu itu.
Bagio kemudian pergi menemui Kartono, yang setahu Bagio, teman laki-lakinya itu sedang bekerja di lahan sawah milik salah satu tetangga mereka.
Kebetulan, ketika Bagio tiba di sawah tempat Kartono bekerja, Kartono dan beberapa orang pekerja yang lain, terlihat sudah selesai melakukan pekerjaan mereka, dan hanya duduk-duduk beristirahat di pondok sawah.
Bagio lalu mengajak Kartono untuk ikut ke rumahnya, sambil menjelaskan tentang rencananya yang akan ikut dengan utusan dari agensi permodelan.
"Katanya, kalau aku setuju dengan kontrak yang mereka ajukan, maka aku akan langsung tinggal di sana," ujar Bagio.
"Terus! Kira-kira bagaimana nanti?" tanya Kartono.
"Mungkin aku akan menanda tangani kontrak itu. Karena menurutku, kalau Karenina sampai membuatku bisa berhubungan dengan orang-orang dari agensi itu, kemungkinan besar agensi itu cukup baik dalam penilaiannya," jawab Bagio.
Dalam pembicaraan mereka saat ini, Bagio juga meminta bantuan dari Kartono untuk mengelola sawahnya, jika dia memang jadi menanda tangani kontrak, dan tidak kembali ke kampung itu untuk sementara waktu.
Dan kelihatannya, Kartono sama sekali tidak keberatan dengan permintaan Bagio.
Kartono bahkan menyetujui perjanjian, bahwa hasil dari sawah Bagio yang akan dikelola oleh Kartono nanti, akan dibagi rata untuk mereka berdua.
Sebenarnya, Bagio sudah menawarkan agar Kartono mendapat 70 persen dari hasil sawah itu, tapi Kartono bersikeras, kalau separuh dari keseluruhan hasilnya saja sudah lebih dari cukup untuknya.
Kartono bahkan mengajukan dirinya dengan sukarela, untuk membantu Bagio merawat rumahnya, selama Bagio tidak berada di kampung.
Rasanya semua rencana itu bisa berjalan dengan lancar, tapi tidak dengan setoran hutang yang menjadi beban pikiran bagi Bagio.
Uang pemberian Karenina, ditambah dengan sedikit uang dari tabungan Bagio, memang bisa untuk membayar satu kali tagihan.
Lalu, bagaimana kelanjutannya? Sedangkan tagihan yang harus Bagio bayarkan, masih tiga kali lagi.
Apa mungkin mulai bulan depan nanti, Bagio sudah bisa langsung mendapatkan bayaran? Tentu saja hal itu belum ada kepastiannya.
Akan tetapi, lagi-lagi Kartono memberikan harapan dan semangat, bahwa kalaupun Bagio belum bisa mengirimkan uang, maka Kartono akan menalangi tagihan hutang Bagio, menggunakan tabungan Kartono.
"Nggak perlu kau memikirkan apa yang ada di kampung ini. Aku akan mengurus semua peninggalan almarhum kakekmu dengan baik....
... Begitu juga masalah uang, nggak perlu kau khawatirkan. Saat panen nanti, hasilnya sudah bisa untuk menutupi hutangmu itu....
... Cukup kau ingat pesanku. Berusahalah dengan bersungguh-sungguh, agar kamu bisa berhasil, dan aku juga bisa ikut merasa bangga padamu," kata Kartono berpesan kepada Bagio.
Bagio dan Kartono masih berbincang-bincang, tapi Yanto dan Yuri, sudah terlihat berjalan kembali memasuki halaman rumah Bagio.
Sebelum Bagio ikut masuk ke dalam mobil bersama Yuri yang akan membawanya pergi ke dunia baru, Bagio masih sempat mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Kartono dan Yanto hingga berkali-kali.
"Sampai jumpa lagi, bang!" ujar Yanto setengah berteriak, sambil melambaikan tangannya.
"Okay! ... Terima kasih!" ucap Bagio, yang ikut melambaikan tangannya ke arah Yanto dan Kartono, yang masih berdiri di halaman rumah Bagio.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments