Part 5

Beberapa potong ubi jalar ungu yang diambil dari pekarangan di bagian belakang rumahnya, sudah direbus hingga matang.

Dan sebagian kecil sisa umbi dari tanaman merambat itu, dimatangkan dengan digoreng menggunakan minyak kelapa, oleh Bagio.

Dengan harapan, jamuan sederhana yang dia persiapkan, cukup untuk menjadi camilan sambil berbincang-bincang dengan Karenina dan seorang temannya, nanti malam.

Sepulang dari sawah tadi, Bagio berjalan pulang bersama-sama dengan Karenina dan kedua teman lelaki Karenina.

Bagio sudah menunjukkan di mana letak rumahnya, yang bisa dengan mudahnya ditemukan oleh pemuda-pemudi itu, karena masih berada di satu arah, ke tempat di mana pemuda-pemudi itu menginap.

Menurut penuturan Karenina, sambil berjalan tadi sore, Karenina ingin membicarakan sesuatu dengan Bagio, tentang pemotretan yang akan mereka lakukan.

Mungkin, Karenina ingin meyakinkan Bagio, kalau dia tidak sedang bermain-main saat meminta Bagio menjadi model untuknya.

Atau, mungkin saja Karenina ingin agar mereka bisa lebih akrab, agar tujuan Karenina bisa berjalan dengan lancar.

Karena, bagi Bagio, percakapan mereka di jalan pulang tadi, sudah lebih dari cukup, tapi Karenina masih tetap ingin berkunjung ke rumah Bagio.

Setelah melihat kedatangan Karenina dan seorang rekan sekolahnya, seketika itu juga, Bagio merasa agak ragu untuk menyajikan teman minum teh, yang kelihatannya terlalu sederhana.

"Selamat malam, bang!"

Secara serentak, baik Karenina maupun teman lelakinya, menyapa Bagio yang duduk menunggu mereka di teras depan rumahnya.

"Selamat malam, dek!" Bagio berdiri dari kursinya, lalu memberikan kesempatan bagi Karenina dan temannya, untuk masuk ke teras dan mengambil tempat duduk yang kosong. "Silahkan duduk!"

"Mau minum apa?" tanya Bagio menawarkan, sambil tetap berdiri.

"Sepertinya, kedatangan kami hanya merepotkan abang saja ... Air kosong juga tidak masalah kok, bang!"

Karenina dan rekannya yang sudah duduk, tampaknya memang tidak terlalu memusingkan, dengan apa yang akan disajikan oleh Bagio.

Terbukti, ketika Bagio meletakkan ubi jalar yang dipersiapkannya tadi, dengan tiga gelas teh hangat, Karenina dan rekannya tanpa terlihat ragu, masing-masing segera mengambil sajian Bagio dari atas meja.

"Terima kasih, bang!"

Karenina yang mengambil ubi yang direbus, dan rekannya yang mengambil menu gorengan, lagi-lagi secara serempak, mengucapkan rasa terima kasih mereka atas sajian Bagio.

Tidak berapa lama, Karenina yang sudah menghabiskan sepotong ubi jalar yang diambilnya, kemudian membuka percakapan.

"Sebenarnya, saya merasa tidak enak, kalau membicarakan masalah bayaran untuk pemotretan abang....

... Makanya, saya meminta waktu abang malam ini, agar kita bisa membicarakannya, tanpa perlu didengarkan oleh orang banyak."

Karenina lalu meminum sedikit teh dari gelasnya.

"Sejujurnya, walaupun semi profesional, tapi hasil foto kita nanti, bukan hanya menjadi bahan untuk tugas kuliah saya saja....

... Rencananya, saya ingin bekerja sama dengan kenalan saya yang ada di luar negeri. Jadi, foto-foto abang nanti, akan dipajang di galeri miliknya," lanjut Karenina.

"Hmm ... Jadi, maksudnya apa, dek?" tanya Bagio.

"Begini, bang! ... Saya minta maaf sebelumnya, tapi saya mau bicara jujur saja. Terus terang, saya tidak mau kalau nanti saat foto-foto itu berhasil terjual, lalu abang merasa dirugikan....

... Jadi, saya lebih suka kalau kita membuat perjanjian, agar abang tidak mempermasalahkan tentang royalti dari foto-foto abang nanti," jawab Karenina.

Walaupun Karenina tampaknya sudah berusaha menjelaskan kepada Bagio, tapi Bagio masih tetap tidak mengerti.

Sehingga, Bagio hanya bisa terdiam untuk beberapa waktu lamanya.

"Apa abang tidak mengerti?" Karenina seakan-akan bisa membaca pikiran Bagio saat itu.

Bagio menggelengkan kepalanya. "Tidak, dek."

"Abang jadi modelnya, kan?! Jadi, saya akan memberikan abang bayaran sebagai model. Dengan begitu, hasil fotonya nanti akan jadi milik saya....

... Nanti, kalau foto-foto abang saya jual lagi, abang tidak bisa menuntut uang tambahan dari hasil penjualan foto-foto itu," kata Karenina memperjelas perkataannya yang awal tadi.

Bagio akhirnya memahami maksud dari Karenina.

Kalau begitu, anggap saja Bagio menjual bayangan dirinya kepada Karenina, dan setelah itu, entah mau diapakan nantinya, tinggal terserah apa yang menjadi keinginan Karenina saja.

Apakah foto-foto itu akan dijualnya, atau hanya untuk tugas kuliah, karena Karenina sudah menjadi pemiliknya, dan dia bisa menggunakannya dengan sesuka hatinya.

"Bagaimana, bang? Apa abang setuju?" Pertanyaan Karenina yang tiba-tiba, membuyarkan lamunan Bagio.

"Terserah adek saja," jawab Bagio.

"Pastikan dulu, bang! Apa abang setuju atau tidaknya."

Karenina tampaknya tidak terima kalau Bagio hanya menjawab asal-asalan seperti itu, dan bersikeras untuk mendapatkan kepastian dari Bagio.

"Iya, saya setuju saja," sahut Bagio.

"Bagus! Kalau begitu, saya besok akan kembali ke kota untuk mengambil beberapa properti tambahan," ujar Karenina bersemangat.

"Dimakan, dek!" kata Bagio menawarkan sajiannya lagi. "Maaf. Saya hanya bisa menyiapkan ini saja."

"Jangan bilang begitu, bang! Ubinya enak, kok!" kata teman lelaki Karenina.

"Oh, iya! Saya dari tadi main makan dan minum saja. Padahal, saya bahkan belum memperkenalkan diri saya," lanjut teman lelaki Karenina. "Nama saya, Yanto."

"Bagio." Dengan saling menjabat tangan, Bagio ikut memperkenalkan dirinya sendiri.

"Kalian akan melakukan KKN di desa ini untuk berapa lama?" tanya Bagio berbasa-basi.

"Kurang lebih dua bulan, bang ... Tapi, tidak dengan Karenina. Dia hanya ikut ke desa ini, untuk mencari objek foto," jawab Yanto.

Karenina yang sedang menikmati potongan ke-dua dari ubi jalar rebusnya, lalu mengangkat pandangannya dan melihat Bagio.

"Saya berbeda jurusan kuliah dengan mereka. Tapi karena beberapa dari mereka saya kenali sejak SMA, jadi, saya tidak malu untuk bergabung," kata Karenina menimpali.

Terlihat tidak kalah lahap jika dibandingkan dengan Karenina, Yanto tampaknya menyukai ubi jalar goreng yang diberikan Bagio.

"Karenina memang berbakat di bidang fotografi. Dia menjadi mahasiswa satu-satunya, yang berhasil mengikuti program pertukaran pelajar ke Jepang," ujar Yanto, lalu menyantap sisa potongan ubi yang masih tertinggal di tangannya.

"Ah! Yanto hanya melebih-lebihkan saja tuh, bang!" bantah Karenina. "Benar-benar kebetulan saja, saya bisa ikut program itu."

"Berapa lama Karenina tinggal di Jepang?" tanya Bagio.

"Hmm ... Beberapa bulan saja," jawab Karenina. "Oh, iya! Rencananya, foto-foto abang nanti akan dipajang di galeri kenalanku di Jepang, bang!"

Seumur-umur, Bagio hampir tidak pernah keluar dari perkampungan itu.

Bahkan, untuk pergi ke kota saja, Bagio baru beberapa kali saja pernah melakukannya.

Sedangkan kalau memang benar demikian, maka hal itu sudah cukup membanggakan bagi Bagio, karena meskipun hanya bayangannya saja, tapi bisa pergi sampai ke luar negeri.

"Ukuran baju dan celana abang, nomor berapa?" Karenina tampak memandangi Bagio, dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya.

"Kenapa, dek?" tanya Bagio heran.

"Tadi saya sudah bilang, kalau besok saya akan pergi mengambil properti tambahan, kan?! Nah! Semua perlengkapan yang akan dipakai abang saat pemotretan, itu termasuk dalam properti, bang....

... Abang tidak perlu khawatir tentang pakaian dan hal-hal semacam itu. Karena itu sudah menjadi tanggung jawab saya, yang harus menyediakannya," jawab Karenina.

"Ooh ...! Saya tidak ingat ukuran baju saya, dek ... Maklum, sudah lama saya tidak pernah membeli baju yang baru," jawab Bagio malu-malu.

Seketika itu juga, Karenina dan Yanto dengan raut wajah datar mereka, saling bertatap-tatapan untuk beberapa waktu lamanya.

Catat! Bagio bukan sedang mencari belas kasihan, atau hanya berpura-pura menyedihkan.

Bagio hanya berbicara terus terang, daripada asal sebut ukuran, lalu hanya mempersulit Karenina yang mempersiapkannya, saat ukuran pakaiannya nanti tidak muat, atau kebesaran.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!