Part 4

Atas desakan dari Kartono, dan beberapa pekerja sawah yang bersama Bagio di pondok itu, Bagio menyetujui untuk bergaya dan diambil gambarnya oleh Karenina.

Ke kiri dan ke kanan, duduk dan berdiri, memasang dan melepaskan caping dari kepalanya, bolak-balik Bagio berpose di bawah arahan Karenina, yang seakan tidak puas hanya dengan memotret satu atau dua foto dari Bagio.

Naik di pematang sawah, turun ke lumpur sawah, bahkan bibit padi yang seharusnya sudah bisa hidup dengan tenang, ikut-ikutan jadi objek foto yang dicabut lalu ditanam kembali oleh Bagio, sampai lemas akar-akarnya.

Tanpa sengaja, Bagio yang berpose di dekat aliran irigasi, terpeleset jatuh terjerembab ke dalam air, lalu dia pun buru-buru berdiri.

Tapi, raut wajah Karenina tetap serius, meskipun penonton aksi Bagio yang lain, sudah kehabisan nafas karena tertawa.

Kausnya yang basah, memperlihatkan otot perut Bagio yang bisa meluluhkan hati para kaum hawa, dan menyegarkan mata semua pecinta perut sixpack. Ehhem! ... Ehhem!

Akan tetapi, Karenina tetap terlihat tenang, dan justru tetap santai menyimpan bayangan Bagio menggunakan kamera fotonya.

"Bang! Apa besok saya bisa memotret abang lagi?" Karenina memperlihatkan beberapa hasil jepretannya kepada Bagio. "Abang fotogenik."

Bagio terheran-heran melihat hasil foto yang bisa langsung dilihat di kamera milik Karenina itu, karena biasanya, setahu Bagio, hasil foto hanya bisa dilihat jika sudah dicetak di atas lembaran kertas khusus foto.

Bentuk tubuh Bagio, memang terlihat keren di foto-foto itu, tapi tidak dengan wajahnya.

Cambang dan kumis yang terlalu tebal dan panjang, membuatnya mirip seperti gambar manusia purba Homo Sapiens, yang ada di buku ilmu pengetahuan alam SMP.

Sembari melihat-lihat gambar dirinya di kamera, Bagio yang meraba-raba bulu cambang dan kumisnya, juga memikirkan permintaan Karenina yang ingin memotretnya lagi di keesokan hari.

"Asalkan saya sudah selesai bekerja, adek bisa mengambil gambar saya besok," jawab Bagio.

"Tapi ... Apa itu fotogenik?" Bagio benar-benar merasa asing dengan kata itu, dan daripada mati penasaran, memang lebih baik kalau Bagio menanyakan artinya, kan?

"Abang terlihat bagus kalau di foto," jawab Karenina, singkat namun mudah dimengerti.

"Ooh...." Bagio manggut-manggut mengerti.

"Kenapa, bang?" tanya Karenina heran.

"Eh! Saya pikir fotogenik itu maksudnya saya terlihat unik." Bagio menunjuk cambang di wajahnya.

"Hmm ... Kurang lebih seperti itu artinya, bang ... Jarang-jarang loh, bang, bisa ada orang yang dipotret, lalu semua hasilnya kelihatan bagus."

Kelihatannya, Karenina bukan wanita yang gampang tersenyum, wajahnya datar saja dan tampak serius, saat berbicara dengan Bagio.

"Kalau abang memotongnya, mungkin hasilnya jadi jauh lebih bagus." Karenina menurunkan pandangannya ke dagu Bagio, seolah-olah dia sedang menunjuk ke arah cambang bagio dengan matanya.

"Wajah abang akan terlihat lebih jelas, tanpa ada penghalang," lanjut Karenina.

Lagi-lagi, Bagio manggut-manggut mengerti.

Rasanya, tidak akan ada ruginya kalau Bagio memotong habis semua rambut di wajahnya, dipanjangkan juga tidak ada gunanya.

Mana tahu, saat Bagio mencukur habis bulu cambang dan kumisnya, lalu Karenina akan tersenyum melihatnya.

Heh! Apa yang Bagio pikirkan sekarang ini?

Ckckck ...! Macam-macam saja....

Hidung pesek Sarimunah saja masih meninggalkan Bagio, apalagi hidung penggaris segitiga siku-siku macam Karenina?!

Bagio! Jangan coba-coba bermimpi aneh-aneh!

Berharap sedikit? Boleh ... Aah! Sudahlah!

Lebih baik Bagio memperhatikan baik-baik, apa yang sedang dilakukan Karenina dengan jari-jari lentiknya, karena sudah bukan kamera fotonya yang bertuliskan Canon dan di salah satu sudutnya tertera EOS 5DS R saja yang diutak-atik olehnya.

Karenina terlihat sibuk menggeser-geser tampilan layar ponsel yang berwarna-warni, yang baru kali itu bisa dilihat oleh Bagio.

Di kampung Bagio, sudah ada beberapa orang, termasuk ayah Sarimunah dan Sarimunah yang memiliki ponsel, tapi rata-rata tampilan layar ponsel mereka masih seperti kalkulator, tidak berwarna dengan ukuran layar yang kecil.

"Bang! ... Abang mendengar yang saya bilang tadi?"

Dengan pertanyaannya, Karenina menyentak Bagio yang sempat melamun, melihat banyaknya foto-foto yang ada di tampilan layar ponsel Karenina.

"Hah? Apa?" Bagio gelagapan.

"Beberapa dari hasil foto abang, saya posting di Instagram," jawab Karenina.

Posting? Instagram?

Bagio kelihatannya masih perlu banyak belajar dengan kata-kata yang baru, yang tidak pernah didengarnya sebelumnya.

"Apa itu Instagram?" tanya Bagio bingung.

"Ini, bang!" Karenina memperlihatkan layar ponselnya kepada Bagio.

"Saya posting di sini.... Jadi, nanti foto-foto abang bisa dilihat banyak orang. Followers-ku sudah banyak, bang!" lanjut Karenina lagi.

Karenina memang memperlihatkan tulisan 'Instagram' yang ada di layar ponselnya, lengkap dengan beberapa foto Bagio yang tampil di situ, tapi Bagio masih tidak paham dengan apa maksud semuanya itu.

Walaupun tidak mengerti, malu rasanya kalau harus bertanya kepada Karenina hingga berulang-ulang, jadinya, Bagio manggut-manggut saja, seolah-olah dia mengerti akan apa yang dia lihat.

"Nah! Lihat, bang ...! Sudah mulai ada orang yang suka dengan foto abang!" ujar Karenina bersemangat, sambil menunjuk ke salah satu bagian di tampilan layar ponselnya.

Di bagian bawah foto Bagio yang ditunjuk Karenina, tertera '219 Suka' dan masih bertambah angkanya saat Bagio memelototinya.

Untuk beberapa saat, Karenina yang berdiri di dekat Bagio, hanya terdiam dengan pandangan matanya yang mengarah lurus ke depan.

Entah Karenina saat itu hanya sedang melamun saja, atau ada sesuatu yang sedang dia pikirkan.

Lama kelamaan, Bagio yang kakinya pegal karena berdiri terdiam terlalu lama, mau tidak mau, harus menyadarkan Karenina yang tenggelam dalam pikirannya sendiri. "Dek!"

"Eh! Iya, bang?" Karenina tampak tersentak ketika Bagio menegurnya.

"Apa sudah selesai?" tanya Bagio pelan.

"Bang! ... Apa abang mau saya potret semi profesional? Saya butuh foto-foto untuk tugas kuliah saya," kata Karenina.

"Tapi akan butuh banyak waktu, bang. Paling tidak, sehari atau dua hari....

...Kita harus memulai pemotretannya sejak pagi, sambil mencari lokasi yang bagus, agar saya bisa mendapatkan hasil foto yang terbaik....

... Kalau abang setuju, nanti saya berikan sedikit uang. Maafkan saya, bang. Saya harap abang tidak tersinggung. Saya benar-benar butuh bantuan abang," lanjut Karenina.

Bagio terdiam sambil memikirkan permintaan Karenina baik-baik, karena tadinya kalau hanya dipotret saat Bagio sudah selesai bekerja, tentu tidak jadi masalah.

Tapi, kalau sampai sehari dua hari Bagio tidak bisa bekerja, dan hanya sibuk dipotret saja, tentu Bagio harus berpikir dua kali.

Apalagi, untuk besok hari, Bagio sudah menyetujui permintaan untuk menanam padi, di sawah milik salah satu warga.

"Bisa saja, dek. Tapi, tidak bisa besok. Saya sudah terlanjur berjanji untuk menanam padi di lahan sebelah sana." Bagio menunjuk ke arah salah satu sawah yang masih terjangkau penglihatan.

"Kalau mulai besok lusa? Apa abang sudah bisa?" tanya Karenina tampak memaksa.

"Hmm ... Kayaknya bisa saja," jawab Bagio.

Tanpa Bagio mencukur cambangnya, cukup dengan persetujuannya saja, Karenina sekarang ini sudah bisa tersenyum lebar dan terlihat senang.

"Okay! Terima kasih, bang!" ujar Karenina. "Eh! Bang! ... Abang rumahnya di mana? Apa saya bisa ke sana nanti malam?"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!