Part 19

Tidak terasa, sudah sebulan Bagio menghabiskan waktunya, dengan melakukan rutinitas berulang di dalam Dorm.

Tekad Bagio yang ingin bekerja bersungguh-sungguh, menjadikannya berlatih dengan bersungguh-sungguh pula.

Zetty bahkan memberikan pujian kepadanya sejak satu minggu yang lalu, karena perkembangan kemampuan Bagio yang signifikan.

Namun Zetty mengingatkan kepada Bagio, kalau pujiannya itu, bukan berarti Bagio sudah bisa berpuas diri, melainkan untuk memberi semangat lebih, agar Bagio semakin gigih untuk berusaha, berlatih dan belajar, agar menjadi semakin lebih baik lagi ke depannya.

Begitu juga dengan hasil berolahraga, yang dilakukan Bagio selama satu bulan ini.

Meskipun makanannya diatur, dan olahraganya dilakukan secara intens, tapi kelihatannya Bagio tidak menjadi kurus seperti model yang lain.

Tubuh Bagio sekarang hanya jadi semakin berbentuk, dan lebih padat dengan otot yang merata, yang membuat kulit di seluruh bagian tubuhnya tampak lebih kencang.

Tidak ada cekungan di wajah Bagio, yang bisa membuatnya terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.

Justru Bagio terlihat jauh lebih baik, karena dengan kulitnya yang sekarang lebih terawat, dan tidak ada lagi bagian yang berbeda warna, karena terbakar sinar matahari.

Dengan diajari oleh Dirga, Bagio meminta orang di agensi untuk membelikannya beberapa barang, yang dia butuhkan untuk merawat kulitnya.

Hand and Body Lotion, pelembab wajah, krim kaki, krim tangan, ini dan itu, bermacam-macam jenisnya, yang bahkan sebagian besar barang yang disebutkan oleh Dirga, Bagio belum pernah mendengarnya, apalagi melihatnya.

Bagio saat itu sempat kebingungan, tentang bagaimana caranya dia akan membayar harga dari semua barang-barang itu, karena dia yang belum memiliki penghasilan, dan tidak membawa cukup uang ketika dia datang ke Dorm.

Tapi menurut Dirga, salah satu kelebihan yang ada di agensi Madam Sally itu adalah, model bisa minta dibelikan kebutuhannya, dan pembayaran untuk semua belanjaannya, nanti dipotong dari pendapatan si model.

Dirga juga mengajarkan Bagio cara pemakaian barang-barang itu satu persatu, sekalian menjelaskan bahwa Bagio harus rutin menggunakannya, kalau mau hasilnya cepat terlihat.

Setelah melakukan perawatan yang teratur, kulit Bagio yang aslinya berwarna kuning langsat, terlihat jauh lebih bersih, dan wajahnya terlihat jauh lebih segar daripada sebelumnya.

Untuk keseluruhan penampilan Bagio, kini sudah bisa dibilang terlihat sama seperti hasil foto yang diambil oleh Karenina waktu itu.

Mungkin dalam beberapa waktu ke depan, jika Bagio tetap mempertahankan gaya hidupnya yang rutin berolahraga, tidak memakan makanan yang digoreng, dan melakukan perawatan kulit yang teratur, maka Bagio akan terlihat jauh lebih tampan lagi.

Oh, iya! Makanan!

Dari yang awalnya Bagio kesulitan memakan makanan yang disediakan oleh agensi, sekarang ini, lidahnya sudah terbiasa dengan makanan yang hanya direbus atau dikukus.

Bagio bahkan sudah bisa menyadari, kalau sebenarnya makanannya selama ini ada rasa garamnya, tapi kadarnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan makanan yang dimasak orang pada umumnya.

***

Hari ini Bagio sudah mulai menerima pekerjaan di luar.

Tidak ada waktu baginya pagi itu untuk berolahraga, namun Coach sudah memberitahu Bagio, kalau dia bisa datang ke Gym kapan saja, saat dia sudah selesai bekerja.

Coach juga mengingatkan, agar Bagio tetap harus bisa menyisihkan sedikit waktunya untuk berolahraga, nanti sebelum beristirahat.

Dengan alasan, kalau sampai Bagio tiba-tiba berhenti berolahraga, maka efeknya mungkin akan buruk bagi tubuh Bagio.

Jadi walaupun waktunya tidak sama seperti biasanya, namun Bagio harus tetap berolahraga setiap hari, dan menurunkan intensitas olahraganya secara perlahan-lahan.

Bagio yang sudah mandi, kemudian duduk di ruang berkumpul santai, sambil menunggu kedatangan jemputan orang dari agensi, yang bertanggung jawab mengurus jadwal kerja Bagio.

Disebut ruang berkumpul, tapi selama Bagio tinggal di Dorm itu, ruangan itu selalu saja kosong, dengan layar televisi yang menyala terus menerus walaupun tidak ada orang yang menontonnya.

Kebetulan, tampilan yang ada di layar televisi, memperlihatkan sesi pemotretan dari seorang model profesional.

Sedangkan setahu Bagio, pekerjaan pertamanya hari ini, adalah sesi pemotretan iklan untuk produk edisi terbaru yang dikeluarkan oleh penyedia pakaian jadi, dari salah satu merk lokal ternama, yang spanduk iklannya pernah dilihat Bagio, dipajang di papan reklame di pinggir jalan.

Dengan demikian, Bagio terfokus melihat gerak-gerik dari sang model yang tampak percaya diri, dan berusaha mengingatnya dengan membayangkan, kalau model yang berpose itu adalah dirinya sendiri.

"Cahyo Bagio! Anda sudah siap?" Seorang wanita berusia di sekitar dua puluh tahunan, terlihat berdiri di dekat Bagio.

"Iya," jawab Bagio, sambil buru-buru berdiri dari tempat duduknya.

"Namaku, Hana. Mulai sekarang, aku yang akan bertanggung jawab untuk mengurus jadwal kerjamu. Ayo kita pergi sekarang!" ajak Hana, lalu berbalik dan berjalan pergi dari situ.

Bagio segera menyusulnya, dan berjalan bersama-sama dengan Hana, hingga keluar dari Dorm, dan memasuki mobil yang tampak siap untuk mengantar mereka pergi.

***

Menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit sampai mereka tiba di tujuan, Hana terlihat sibuk membaca lembaran kertas yang sedari dipegangnya.

Di dalam sebuah gedung yang tidak tahu berapa banyak lantai yang tersedia di sana, Bagio hanya mengikuti langkah Hana ke mana dia pergi, tanpa banyak berbicara.

Sampai mereka tiba di ruangan yang luas tanpa sekat, dan terisi beberapa orang yang terlihat sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

Peralatan untuk pemotretan yang terlihat di sana cukup banyak ragamnya, tampak sudah tertata rapi, dan siap untuk dipergunakan.

Begitu juga pakaian-pakaian yang terlihat bergantung di gantungan besi panjang, yang jumlahnya cukup banyak.

Latar belakang dinding putih yang dikelilingi oleh beberapa lampu sorot, dan di depannya terlihat satu kamera foto berukuran besar yang terpasang di tripod, sudah bisa diduga oleh Bagio, kalau dia nanti akan berpose di situ.

"Ikuti saja arahan mereka!" ujar Hana, lalu terlihat sibuk menghubungi seseorang di ponselnya, sambil berjalan menjauh dari Bagio.

"Kamu modelnya, ya?!" Seseorang tiba-tiba menghampiri Bagio.

"Iya," jawab Bagio.

"Ke sebelah sini!" Orang itu mengajak Bagio, agar ikut dengannya.

Bagio lalu disuruh untuk duduk di salah satu kursi, kemudian mulai dirias wajahnya dan ditata rambutnya, oleh tiga orang sekaligus, dengan penerangan ekstra, menggunakan satu lampu sorot yang mengarah langsung ke wajahnya.

Tanpa ada cermin, Bagio tentu tidak akan tahu bagaimana rupanya setelah selesai dirias. Namun yang penting menurut Bagio, kalau tidak mungkin dia akan di dandan hingga mirip seperti seorang perempuan.

Dengan begitu, Bagio jadi tidak terlalu memikirkan apa yang sedang dilakukan penata rias, di wajah dan rambutnya.

Sembari Bagio di rias, dari ujung matanya, Bagio bisa melihat, kalau di salah satu kursi yang tidak jauh dari tempat Bagio duduk, ada seorang wanita yang diperlakukan sama seperti Bagio.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!