Dimulailah, proses pengambilan gambar Bagio yang berpose di atas bebatuan, selayaknya seorang model profesional, oleh Karenina, dengan dibantu oleh Yanto yang menjadi penata cahaya.
Bagio, sang model dadakan, beraksi dengan menampilkan gaya terbaiknya, di bawah arahan Karenina.
Gaya dada, gaya kupu-kupu, gaya campuran, gaya katak ... Eh! ... Tunggu, tunggu! Rasanya ada yang salah.... Bukan gaya itu!
"Miring sedikit, bang! ... Lagi! ... Okay! Tahan!"
"Kepalanya menunduk! ... Okay! Tahan!"
"Yanto! Tiga puluh derajat ke kiri! Okay!"
"Sebelah tangannya seolah-olah sedang menahan poni, bang! Sikutnya didorong keluar! ... Okay! Tahan!"
"Jangan senyum, bang! Tetap tahan wajah kakunya! ... Matanya pejam! ... Okay! Tahan!"
Siapa yang menyangka, kalau Karenina yang bertubuh kecil, saat memberi aba-aba bagi semua gaya Bagio, ternyata bisa mengeluarkan suara yang nyaring yang menggema, dan mampu menembus berisiknya bunyi air terjun.
Karenina terlihat bersungguh-sungguh dengan apa yang sedang dia lakukan, hingga rambut panjangnya yang diikat ekor kuda, terlihat berayun-ayun di belakangnya, saat dia berpindah posisi berdirinya, di pinggir sungai.
"Okay! Cukup!" ujar Karenina tiba-tiba, lalu memberi arahan baru, "Abang ganti pakaiannya. Pakai kemeja putih yang polos, dengan celana pendek berwarna coklat susu."
Sembari Bagio berjalan meloncati bebatuan kali, untuk kembali ke bagian pinggir sungai, Bagio masih memperhatikan gerak-gerik Karenina.
Karenina terlihat sibuk memasangkan kabel di kamera, lalu ujung kabel yang lainnya dipasangkan ke sebuah alat, yang menurut kata Yanto, benda itu disebut 'Laptop'.
"Komputer portabel. Dipakai Nina untuk memeriksa hasil pemotretan. Bisa sekalian untuk mengedit foto." Begitu kata Yanto tadi, ketika Bagio menanyakan benda apa itu.
Bagio buru-buru mengganti pakaiannya, agar sempat melihat apa yang dilakukan oleh Karenina di laptop, sebelum Karenina memulai pemotretannya lagi.
Setelah berganti pakaian, Bagio yang tidak mau mengotori celananya, kemudian berjongkok di dekat Karenina yang duduk di atas rerumputan.
"Mau lihat hasil sementaranya?" tanya Karenina.
Dan, sebelum Bagio menjawab pertanyaannya, Karenina sudah menggeser sedikit posisi laptop yang dipangkunya, agar Bagio bisa ikut melihat tampilan di layar benda itu.
Di foto-foto yang tampil di layar laptop itu, Bagio terlihat tampan, dan tampak seperti orang lain yang berbeda dari dirinya yang sebenarnya.
Hal itu sangat mengherankan bagi Bagio, karena dia tidak pernah melihat sisi wajah dan tubuhnya yang seperti di foto itu, meskipun dia hampir setiap hari melihat bayangan dirinya sendiri di depan cermin.
Dengan demikian, Bagio jadi mengerti kenapa tukang foto harus memiliki keahlian, hingga harus menambah pengetahuannya dengan bersekolah khusus fotografi, dan bukan hanya sekedar memotret asal-asalan saja.
"Bagus?" tanya Karenina membuyarkan lamunan Bagio.
Bagio mengangguk. "Iya."
Karenina kemudian melipat laptop hingga menutup. "Saya harus menghemat baterainya. Nanti abang bisa melihat sepuasnya, kalau kita sudah pulang."
"Apa kita langsung mengambil foto lagi?" tanya Bagio.
"Kita bisa istirahat sebentar saja dulu. Di dalam tas itu, ada sedikit camilan dan air minum. Abang ambil saja sendiri." Karenina menunjuk sebuah tas yang berukuran sedang, dengan pandangan matanya.
Bagio mengeluarkan dua botol air mineral, dan sekalian membukakan tutup botolnya, lalu memberikan satu botol air itu kepada Karenina.
"Terima kasih," ucap Karenina, sambil menerima botol air mineral dari tangan Bagio, dan segera meneguk isinya sedikit.
"Apa gunanya papan reflektor yang dipegang Yanto?" tanya Bagio penasaran.
"Yang warna perak untuk memantulkan cahaya ke arah yang saya inginkan, agar tidak ada sisi yang gelap di badan abang....
... Sedangkan yang hitam, untuk mengurangi pantulan cahaya matahari dari permukaan air, jadi tidak mengganggu kontras foto," kata Karenina menjelaskan.
"Kalau yang ini—" Karenina lalu menunjukkan ujung tambahan, yang menempel di kamera fotonya.
" ... lensa tambahan, agar saya bisa mengatur tampilan gambar yang ingin saya ambil," lanjut penjelasan dari Karenina, meskipun Bagio tidak bertanya.
"Fotografi kalau cuma sekedar hobi, maka akan jadi hobi yang mahal," celetuk Yanto. "Peralatan yang dibawa Karenina sekarang saja, sudah bisa menghabiskan uang puluhan hingga ratusan juta."
Sambil menatap Yanto lekat-lekat, Karenina menggeleng-gelengkan kepalanya. "Abang Bagio tidak menanyakan harganya."
"Hehe ... Aku cuma mau memberitahunya saja," ujar Yanto, dengan memasang raut wajah bodoh.
"Abang di foto dengan tampilan natural saja, hasilnya sudah bagus. Bayangkan, kalau bang Bagio jadi model sungguhan. Ckckck!...
...Bang Bagio didandani, rambutnya dibuat bergaya, belum lagi pakaian yang keren dan stylish. Hmm ... Entah seperti apa gantengnya....
... Bisa-bisa, abang mungkin akan diajak bekerjasama oleh fotografer-fotografer yang terkenal, dengan bayaran yang lumayan tinggi," ujar Yanto.
"Iya, bang! Benar kata Yanto itu. Kalau abang berminat menjadi model sungguhan, saya mungkin bisa sedikit membantu," sahut Karenina.
"Saya hanya orang kampung. Sekolah saja tidak sampai lulus dari sekolah menengah atas. Apa bisa bermimpi seperti itu?!" ujar Bagio sambil tersenyum.
"Eh! Abang tidak tahu, ya?! Tidak harus bersekolah tinggi, kalau mau jadi seorang model....
... Yang penting penampilan abang menarik, dan paling-paling, sedikit tambahan kursus agar bisa tahu cara berpose yang bagus," kata Yanto.
"Benar kan, Nin?" Yanto seolah-olah ingin mendapatkan persetujuan dari Karenina, atas pernyataan yang dia berikan tadi.
Karenina yang sedang meminum air mineralnya, lalu menganggukkan kepalanya. "Iya."
Karenina mengelap sedikit sisa air yang membasahkan ujung mulutnya dengan punggung tangannya, lalu berkata, "Ayo kita lanjut pemotretannya!"
"Sekarang, abang turun ke sungai! Air terjun yang akan jadi latar belakang fotonya," lanjut Karenina.
Masing-masing dari mereka bertiga kemudian mengambil posisi, dan bersiap-siap untuk melanjutkan sesi fotonya.
Dengan berdiri di bagian sungai yang dangkal, Bagio di minta Karenina untuk memunggunginya.
"Abang berbalik! ... Lalu, kepala abang menoleh ke samping kiri!" kata Karenina.
"Okay! ... Matanya melihat lurus, bang! ... Okay! Tahan!" lanjut Karenina dengan aba-abanya.
Bagio menuruti semua arahan Karenina, tanpa berkomentar apa-apa.
Hasil foto dari pemotretan yang dilakukan oleh Karenina, yang dilihat Bagio di tampilan layar laptop tadi, membuat Bagio bisa lebih menghargai kinerja dan kesungguhan dari Karenina.
Sehingga, yang awalnya Bagio masih malu-malu dan sedikit ragu, kali ini dia mau melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh.
Dengan harapan, kalau hasil fotonya akan jadi lebih bagus lagi, daripada yang awal tadi.
"Bang! ... Basahkan rambut abang!" ujar Karenina.
Ketika Bagio membasahkan rambutnya dengan air sungai, sisa-sisa air dari kulit kepalanya, mengalir di wajahnya, dan Bagio berniat untuk mengelapnya, tapi Karenina segera melarangnya.
"Tidak perlu di lap!"
Karenina kemudian menghampiri Bagio, lalu membuat ibu jari dari tangan kiri Bagio, masuk ke saku celananya, sehingga tangan Bagio seakan-akan sedang bergantung di situ.
Sedangkan tangan kanan Bagio, di buat Karenina seolah-olah Bagio sedang menahan rambutnya, agar tidak menghalangi keningnya.
Begitu juga dengan wajah Bagio, yang diarahkan Karenina, agar menoleh ke sebelah kanan Bagio.
"Dagunya angkat sedikit! Matanya dipejam! ... Okay! ... Tahan!" Karenina setengah berlari kembali ke posisi awalnya, lalu mengambil gambar Bagio lagi.
"Bagus! ... Sekarang tahan posisinya, tapi mata abang dibuka lalu menatap lurus!" ujar Karenina.
Setelah sekian lama mereka melakukan pemotretan di situ, Bagio akhirnya jadi terbiasa dengan arahan Karenina, dan tidak kesulitan lagi untuk mengikuti iramanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Medy Jmb
penasaran deh SM wajah bagyo
2023-03-01
0