Part 10

Sesuai dengan perjanjian yang telah direncanakan mereka semalam.

Sesaat setelah dia terbangun subuh tadi, Bagio yang lantas mengisi perutnya dengan sarapan, lalu bergegas mandi dan menunggu kedatangan Karenina dan Yanto, sembari duduk di teras depan rumahnya.

Bubuk kopi hitam yang diseduh dengan air mendidih, menjadi penghangat badan Bagio yang sempat kedinginan, karena harus mandi di pagi-pagi buta.

Belum habis cairan kopi Bagio dari dalam gelasnya, Karenina dan Yanto sudah terlihat berjalan masuk di pekarangan rumah Bagio.

Tidak seperti saat Karenina memotret Bagio di sawah waktu itu, kali ini bukan hanya sebuah kamera yang bergantung di lehernya.

Satu buah tas berukuran cukup besar, dan satu buah tas berukuran sedang, memenuhi tangan kiri dan kanan Karenina.

Begitu juga Yanto yang membawa benda berbentuk segi empat persegi panjang dengan ukuran yang cukup besar, dan sebuah tongkat berkaki tiga.

"Biar saya yang bawa tasnya, dek," ujar Bagio yang hendak bertukar barang bawaan, dengan Karenina.

Bagio kemudian menyodorkan kantong plastik berisi pakaian ganti yang diberikan oleh Karenina semalam. "Adek bawa ini saja."

Sebenarnya, semalam mereka sempat membicarakan, kalau Karenina ingin pergi ke lokasi air terjun dengan memakai mobil pribadi, yang dia bawa ketika kembali dari kota kemarin.

Akan tetapi, menurut Bagio memakai kendaraan bermotor beroda empat itu percuma saja, karena kendaraan itu hanya bisa dipakai sampai di ujung jalan pedesaan.

Sedangkan untuk mencapai sungai yang jadi tujuan mereka, hanya ada jalan setapak di antara rimbunnya pepohonan, yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan yang lebar seperti mobil.

Dengan demikian, jadilah mereka bertiga hanya berjalan kaki saja ke lokasi air terjun.

Setelah dia menenteng tas yang tadinya dibawa oleh Karenina, barulah Bagio mengerti kenapa Karenina ingin memakai mobil untuk pergi ke lokasi pemotretan.

Tas Karenina yang berukuran cukup besar yang dibawa Bagio dengan tangan kanannya, terasa cukup berat, seolah-olah sedang membawa bebatuan di dalamnya.

"Apa isinya ini, dek?" tanya Bagio penasaran.

"Berat ya, bang? ... Sini! Saya pegang tali satunya," ujar Karenina, lalu menjulurkan sebelah tangannya untuk meraih salah satu dari tali tasnya.

"Tidak perlu, dek. Saya hanya penasaran dengan isinya saja." Bagio tidak memberi kesempatan bagi Karenina untuk ikut membantu menenteng tas itu.

"Itu kamera foto, serta peralatan tambahannya," sahut Karenina.

"Saya tidak tahu bagaimana keadaannya di sana. Jadi, daripada saya salah membawa kamera lalu tidak cocok untuk dipakai di tempat itu, mau tidak mau, saya membawa beberapa jenis kamera sekaligus," lanjut Karenina.

"Sejak kapan adek suka memotret?" tanya Bagio berbasa-basi.

"Umm ... Sejak saya masih di sekolah dasar. Awalnya hanya untuk main-main saja. Tapi, ketika saya masuk di sekolah menengah pertama, ayahku membelikan sebuah kamera profesional....

... Sejak saat itu, saya jadi serius untuk menjadi fotografer. Makanya saya mengambil kuliah jurusan fotografi, agar bisa menjadi seorang fotografer profesional," jawab Karenina.

"Nina bahkan sudah punya studio foto sendiri, bang," kata Yanto menimpali. "Enak kalau memiliki orang tua yang mendukung penuh, seperti orang tuanya Karenina."

"Oh iya, bang! Saya tidak pernah melihat orang lain di rumah abang. Orang tua abang, di mana?" tanya Yanto.

"Kedua orang tua saya sudah meninggal dunia," jawab Bagio.

Seketika itu juga, raut wajah Yanto dan Karenina berubah drastis.

Bahkan, Karenina sempat menendang kaki Yanto, seolah-olah dia merasa tidak senang, karena pertanyaan yang Yanto ajukan kepada Bagio.

"Maafkan saya, bang," ucap Yanto pelan dan tampak penuh penyesalan.

"Tidak apa-apa. Orang tua saya sudah meninggal sejak saya masih di sekolah dasar. Jadi, saya sudah terbiasa dan tidak terlalu mengingat sedihnya lagi."

Bagio berbicara seperti itu, untuk menenangkan Yanto, agar Yanto tidak perlu terlalu merasa bersalah.

Bagio lalu mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka. "Yanto mengambil kuliah jurusan apa?"

"Teknik sipil," jawab Yanto.

"Hmm ... Maafkan saya, bang. Tapi, saya penasaran. Berapa usia abang sekarang?" lanjut Yanto.

"Bulan depan, genap dua puluh tiga," jawab Bagio.

"Hmm ... Usia kita selisih dua tahun kalau begitu. Saya genap dua puluh satu, beberapa bulan yang lalu," sahut Yanto.

"Kalau Karenina, usianya baru dua puluh tahun," lanjut Yanto.

"Siapa yang bertanya?" Karenina menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Memangnya, apa masalahnya kalau aku memberi tahu usiamu?!" Yanto tampak ngotot menyahut Karenina.

Walaupun begitu, Karenina tetap terlihat tenang, dan tidak lantas menanggapi gaya keras kepala yang diperlihatkan oleh Yanto.

"Nina yang paling muda di antara kami teman seangkatannya, bang. Tapi, dia juga yang kelihatannya akan berhasil menjadi orang sukses duluan," lanjut Yanto.

"Yanto ...! Bicara apa kamu ini?!" Lagi-lagi, Karenina terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Jangan percaya dengan perkataan Yanto. Saya hanya terlihat beruntung, karena ada kesempatan saja," kata Karenina pelan.

"Nina hanya merendah, bang. Bayangkan saja. Kami teman-temannya masih menunggu uang saku dari orang tua, tapi Nina sudah punya penghasilan sendiri," sahut Yanto.

Percakapan mereka sambil berjalan, sanggup membuat perjalanan mereka bertiga tidak terlalu terasa lamanya.

Suara air yang jatuh dari ketinggian yang tadinya hanya samar-sama, sekarang sudah bisa terdengar dengan jelas.

Dan rasanya, tidak sampai sepuluh menit kemudian, mereka sudah tiba di pinggir sungai, dengan air bersih yang berkelimpahan mengalir jatuh dari atas tebing.

Karenina dan Yanto tampak takjub dengan tempat itu, sampai-sampai Yanto berkata, "Tidak ada penyesalan, jauh-jauh berjalan kaki ke sini."

Tempat itu memang indah, dengan daerah sekitarnya yang masih asri, dan belum terkena efek pembangunan yang merusak.

"Abang berganti pakaian. Saya akan mempersiapkan pemotretan di sebelah situ lebih dulu," kata Karenina memberi arahan.

Karenina menunjuk ke bagian hilir sungai, di mana air mengalir yang menghantam bebatuan kali berukuran besar, yang terlihat semakin deras, hingga menghasilkan buih-buih air berwarna putih bersih.

Tanpa berlama-lama lagi, Bagio menuruti perkataan Karenina, dan pergi berganti pakaian di antara pepohonan yang ada di dekat sungai.

Ketika Bagio kembali menghampiri tempat Karenina berdiri, wanita itu tampak belum selesai menata peralatan kerjanya.

Karenina terlihat masih sibuk memasang sesuatu di salah satu kamera fotonya, yang berukuran sedikit lebih besar, jika dibandingkan dengan kamera yang dia pakai untuk memotret Bagio di sawah waktu itu.

Sedangkan Yanto, terlihat asyik bermain air di antara bebatuan sungai.

Meskipun Karenina masih sibuk, namun dia masih sempat memandangi Bagio sebentar, seolah-olah sedang menilai penampilan Bagio di situ.

"Abang naik di atas batu itu!" Karenina yang memegang kamera foto dengan sebelah tangannya, menunjuk ke batu kali berukuran besar, di dekat tempat Yanto bermain air.

"Yanto! Cukup main-mainnya!" Karenina menegur Yanto, yang masih bertingkah kekanak-kanakan di dalam air. "Ambil papan reflektornya ... Sekarang!"

Walaupun dengan wajahnya yang cemberut, Yanto masih mau menuruti perintah Karenina, dan segera beranjak keluar dari sungai.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!