Part 15

Walaupun Bagio duduk bersebelahan dengan Yuri di jok penumpang bagian tengah, karena ternyata ada supir khusus yang mengemudikan kendaraan itu, namun tidak banyak yang bisa diperbincangkan oleh mereka di perjalanan.

Yuri hanya sekedar memberikan bayangan garis besarnya saja kepada Bagio, tentang bagaimana sistem kerja di dalam agensi permodelan, yang mengajak Bagio bekerja sama di dalamnya.

Akan tetapi, dari semua penjelasan Yuri yang hanya sebagian kecil itu, bisa dipahami oleh Bagio dengan baik.

Yuri juga memberikan Bagio sedikit pujian, karena Bagio yang dengan usianya yang sudah terlambat, tapi masih bisa menarik perhatian dari pemilik agensi.

Menurut penuturan Yuri, untuk menjadi seorang model, biasanya sudah dimulai dari usia yang masih sangat belia.

Bahkan, ada yang sudah mulai ikut kelas modeling, sejak usianya belum mencapai sepuluh tahun.

Dengan demikian, Bagio hampir genap 23 tahun dalam hitungan hari ke depan, tentu dianggap sebagai sebuah keberuntungan, yang tidak sembarang orang bisa mendapatkan kesempatan yang sama sepertinya.

Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 3 jam, mereka tiba di sebuah gedung tinggi bertuliskan SM Management, di bagian depannya.

Tanpa berlama-lama lagi, Bagio dibawa Yuri masuk ke dalam gedung, hingga ke dalam lift dan Yuri menekan tombol angka 18.

Cukup mengherankan bagi Bagio, ketika melihat situasi di dalam gedung yang seharusnya adalah sebuah kantor.

Karena walaupun di luar sudah gelap malam, tapi kesibukan orang-orang di dalam gedung itu, seakan-akan tidak terpengaruh oleh waktu.

Masih banyak orang yang berlalu-lalang di dalam gedung, dan terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.

Dan, di antara orang-orang di dalam sana, Bagio bisa melihat sebagian orang yang bertubuh ekstra tinggi, yang kurang lebih mirip-mirip dengan postur tubuh Bagio, jika dibandingkan dengan orang lain yang berada di sana.

Tapi, rata-rata orang-orang yang bertubuh tinggi yang bisa dilihat Bagio, tampak seperti orang yang sedang sakit dan kurang gizi.

Dengan tubuh yang sangat kurus, sampai seolah-olah hanya tulang berbalut kulit, hingga wajah mereka terlihat cekung.

Sampai-sampai, saking kurusnya, di bagian sekeliling mata mereka yang menghitam dan tenggelam, membuat orang-orang itu tampak seperti sedang melotot, saat mereka melihat ke arah Bagio.

"Anda masuk ke dalam sana!" Yuri menunjuk ke salah satu pintu berbahan kaca sama seperti dinding yang mengelilinginya. "Tugas saya sudah selesai. Anda nanti akan diurus oleh orang lain. Senang bertemu dengan anda."

Yuri masih menyempatkan untuk bersalaman dengan Bagio, sebelum dia meninggalkan Bagio di depan pintu ruangan yang diarahkannya tadi, agar Bagio masuk ke dalamnya.

"Tok! ... Tok! ... Tok!" Bagio lantas mengetuk pintu ruangan itu, dan tetap berdiri menunggu sampai dia diizinkan untuk masuk.

"Iya! Masuk saja!"

Setelah mendengar sahutan dari bagian dalam ruangan, Bagio lalu membuka pintu, dan bergegas masuk ke dalamnya.

"Permisi!" ucap Bagio.

Terlihat di dalam sana, seorang wanita paruh baya, berwajah blasteran, dengan penampilan yang lebih berkelas jika dibandingkan dengan Yuri, sedang berdiri di depan meja sambil memegang beberapa lembar kertas.

Wanita itu kemudian memandangi Bagio, dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya, dengan tatapan penuh selidik.

Bagio akhirnya tersadar, kalau dia sekarang ini, walaupun memakai kemeja dan celana panjang bahan, tapi dia hanya mengenakan sandal jepit sebagai alas kakinya.

"Silahkan duduk!" ujar Wanita itu, lalu pergi duduk di kursi di balik meja. "Siapa namamu?"

"Terima kasih! Nama saya, Cahyo Bagio." Segera Bagio menyebut namanya, setelah dia duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerja wanita paruh baya itu.

"Hmm ... Oh, iya! Saya baru ingat. Kamu yang disarankan oleh Karenina. Pantasan wajahmu rasanya familiar," ujar wanita itu.

"Nama saya, Sally Harper. Saya pemilik agensi ini," lanjut wanita itu memperkenalkan dirinya sendiri. "Siapa yang menjemputmu tadi? ... Yuri?"

"Iya," jawab Bagio singkat.

"Santai saja, tidak perlu terlalu kaku," kata Sally. "Apa Yuri sudah menjelaskan, tentang bagaimana jika bekerja di bawah manajemen agensi ini?"

"Kata Yuri tadi, dia hanya menjelaskan garis besarnya saja. Jadi, kalau saya mau tahu semuanya secara mendetail, saya bisa membacanya di lembaran kontrak kerja saja," sahut Bagio.

"Hmm ... Anak itu—Yuri—selalu saja tidak mau berbicara banyak." Sally tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sally kemudian mengambil gagang telepon di atas meja kerjanya, lalu tampak seperti sedang menghubungi seseorang di sana.

Bagio tidak memperhatikan dengan baik, apa yang sedang dibicarakan Sally di telepon itu, sampai Sally berhenti bicara dan meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya.

"Tunggu sebentar!" Sally kemudian kembali terlihat sibuk melihat lembaran kertas, yang sempat dia lepaskan ke atas meja tadi, ketika Bagio datang.

"Tok! ... Tok! ... Tok!" Tidak berapa lama Bagio menunggu, kemudian terdengar bunyi ketukkan di pintu ruangan itu.

"Masuk!" ujar Sally, tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas di tangannya, dan baru mengangkat wajahnya ketika orang yang mengetuk pintu tadi, masuk dan menyapanya.

"Madam!" kata seorang laki-laki yang mirip-mirip dengan Yuri, yang sekarang sudah berdiri di dekat meja kerja Sally.

"Cahyo bisa ikut dengannya. Dia yang akan membantu menjelaskan semuanya," kata Sally memberikan arahan.

"Baik, Bu!" sahut Bagio sambil berdiri. "Saya permisi dulu!" Bagio kemudian menyusul laki-laki yang diarahkan Sally kepadanya, untuk dia ikuti, setelah Sally Harper menganggukkan kepalanya.

Segera setelah melewati pintu, laki-laki itu kemudian mengajak Bagio pergi ke salah satu ruangan, dan menyerahkan lembaran kertas bertuliskan perjanjian kontrak, sambil menjelaskan isinya.

Dari apa yang Bagio baca, dia tidak akan bisa langsung bekerja, melainkan harus dikarantina selama kurang lebih satu bulan, sambil mempelajari banyak hal tentang modeling.

Jam kerja yang kemungkinan besar tidak menentu, harus dimaklumi oleh Bagio, karena semua pekerjaan yang akan Bagio lakukan nanti, bergantung pada permintaan dari klien.

Kontrak berjangka selama satu tahun, dengan persentase pendapatan yang diatur oleh pihak agensi, tertulis dengan jelas di dalam lembaran kertas itu.

Bukan hanya tentang pendapatan saja.

Di dalam situ juga tertera penalti akan kerugian pihak manajemen yang harus diganti oleh Bagio, jika Bagio membatalkan kontrak secara sepihak, atau jika Bagio menolak pekerjaan yang sudah diatur oleh pihak agensi.

"Kalau anda menyetujui kontrak ini, maka anda bisa memberi tanda tangan anda di situ." Laki-laki itu menunjuk bagian paling bawah dari lembaran kertas yang paling terakhir.

Tanpa ada sedikitpun rasa ragu, Bagio lantas menerakan parafnya di bagian yang sudah di sediakan untuknya, di atas lembaran kertas perjanjian kontrak itu.

"Okay! Sebentar saya simpan perjanjian kontrak ini."

Laki-laki yang sedari tadi bersama Bagio di dalam ruangan itu, kemudian memasukkan map yang berisi lembaran kertas tadi ke dalam sebuah lemari arsip.

"Selamat bergabung di SM Management!" ucap laki-laki itu, sambil mengulurkan tangan kanannya, dan berjabat tangan dengan Bagio di situ.

"Ayo ikut dengan saya!" ajak laki-laki itu lagi, lalu berjalan, sampai keluar dari pintu depan gedung, bahkan sampai ke pelataran parkir. "Anda bisa ikut di mobil ini yang akan mengantarkan anda ke tempat karantina"

"Baik. Terima kasih, untuk semuanya," ujar Bagio, dan bergegas masuk ke dalam mobil.

"Sama-sama," sahut laki-laki itu, lalu berbalik dan beranjak pergi dari sana, sementara mobil yang Bagio tumpangi, juga berlalu pergi dari pelataran parkir gedung itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!