Dengan air yang disiramkan ke tubuhnya, langsung dari ember bekas cat yang menjadi timba sumur di rumahnya, Bagio mandi sambil berdiri.
"Brrrr!"
Dinginnya air sumur, bukan hanya bisa menyegarkan kepalanya, bahkan lutut Bagio juga bergetar, sampai-sampai tulang keringnya ikut mengeluarkan suara yang tidak kalah nyaring, dibandingkan dengan suara dari mulut Bagio yang menggigil.
Ditemani lampu temaram yang menembus sela-sela bilik bambu dinding dapurnya, Bagio menggosok-gosok badannya dengan sabun mandi batangan, dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya.
Cambangnya yang panjang pun tak luput dari busa sabun. Kalau masih tidak dicukurnya beberapa bulan ke depan lagi, maka bulu cambangnya sudah bisa dikepang dan dipasangkan pita.
Tapi Bagio tidak sedang memikirkan cambangnya, melainkan uang yang akan diambil dari tempat pakde, setelah dia selesai mandi nanti.
Malam ini, kaleng bekas biskuit yang bergambar satu keluarga tanpa ayah yang menjadi celengannya, akan kembali mengkilap di bagian dalamnya.
Sudah waktunya bagi Bagio untuk menyerahkan uang tagihan bulanan, yang akan dititipkan kepada tetangga yang meminjamkan nama baiknya di pegadaian.
"Huuffft ...!" Bagio mendengus kasar.
Bagio tidak mengeluh karena kaleng celengan yang akan kembali berbunyi nyaring, melainkan karena saat dia mengantarkan uang dari celengannya itu, Bagio akan bertandang ke rumah Sarimunah.
Karena ayah dari Sarimunah lah yang menjadi peminjam di pegadaian, mengharuskan Bagio mengantar uang setoran ke rumahnya, satu kali dalam setiap bulannya.
Dengan setoran pegadaian yang masih beberapa bulan lagi baru lunas, membuat Bagio jadi mau tidak mau, untuk melihat wajah Sarimunah selama setoran hutang itu masih harus dibayar oleh Bagio.
Mengingat Sarimunah yang melarikan diri dengan memakai kebaya pengantin, hanya membuat Bagio semakin enggan untuk mencukur cambangnya.
Dan hanya ujung-ujung kumisnya saja yang dipotongnya dengan gunting, agar tidak ikut berenang di dalam kopi, setiap kali Bagio menyesap cairan dalam cangkirnya.
Hasil dari dua kali panen di sawah Bagio yang jadi biaya untuk penghulu, hanya berakhir dengan rasa malu karena batal menikah.
Di depan cermin bawaan yang menempel di lemari pakaian sudah buram, Bagio memakai pakaiannya, dan bersiap-siap untuk berperang batin saat nanti melihat Sarimunah.
Bagio berjalan menyusuri jalan tanah berdebu, sambil diiringi dengan suara anak-anak yang belajar mengaji, yang menggema di toa Masjid.
Dari kejauhan, bunyi cempreng dari knalpot motor, hampir membuat Bagio membatalkan niatnya untuk pergi menemui ayah dari Sarimunah.
Suara dari kenalpot motor RX king itu menandakan, kalau Joyo sepertinya sedang dalam perjalanan untuk ngapel ke rumah Sarimunah.
Dan benar saja dugaan Bagio.
Setelah mengambil uang upah kerjanya dari tempat pakde yang memberinya pekerjaan siang tadi, Bagio bisa melihat Sarimunah dan Joyo sedang bermesraan di teras depan rumah Sarimunah.
Masuk ...? Tidak ... Masuk ...? Tidak....
Di pagar rumah Sarimunah, Bagio benar-benar bimbang untuk terus melangkah masuk, ke halaman rumah yang cukup mencolok di antara pemukiman warga.
Mencolok karena bagusnya rumah itu, juga mencolok karena motor RX king yang terparkir di depannya, ditambah lagi dengan sang mantan yang duduk sambil berpegangan tangan dengan si pemilik motor.
Tapi, mau bagaimana lagi?
Walaupun Sarimunah sudah menyakiti hati Bagio, tapi Bagio tidak mungkin membuat ayah dari Sarimunah yang sudah membantu Bagio di saat genting, kehilangan kepercayaannya.
Ayah dari Sarimunah harus mengantar uang dari Bagio itu besok pagi, karena sudah tanggal jatuh tempo.
"Malam, Sari ...!" sapa Bagio setenang mungkin. "Ayahmu ada?"
"Ada. Masuk saja!" sahut Sarimunah, tanpa mau melihat wajah Bagio.
"Aku masuk, ya, Sari ...!" Bagio bergegas masuk, setelah meninggalkan sandalnya di luar.
Bagio tidak mau berlama-lama di rumah itu, daripada dadanya meletus saking kesalnya, karena meski sedang berbincang dengan ayah dari Sarimunah, gelak tawa centil Sarimunah di teras, masih terdengar sampai ke dalam rumah.
Tapi, daripada pulang ke rumahnya yang kosong dan kesepian, Bagio melanjutkan perjalanannya ke pos siskamling yang ada di ujung jalan.
Sepiring singkong goreng tanpa sambal, satu ceret kopi yang masih mengeluarkan uap dari ujung ceret, sedang dihadapi oleh beberapa orang yang berbungkus dengan sarung bermotif kotak-kotak.
Kartono yang jadi salah satu dari orang yang ada di situ, terlihat bersemangat ketika melihat kedatangan Bagio, dan hampir melompat dari tempat duduknya.
"Lihat ke sana!" Kartono menunjuk ke salah satu rumah warga yang ada di seberang pos siskamling.
Pandangan Bagio spontan mengikuti gerakan tangan Kartono.
Rumah warga yang setahu Bagio sudah lama tidak ditinggali oleh siapa-siapa, saat ini terlihat ramai seperti pasar malam.
Terang benderang dan dipenuhi beberapa orang anak muda yang berpenampilan keren.
"Mahasiswa dari universitas xxx, tinggal di sana sejak siang tadi. Dengar-dengar, katanya mereka akan KKN di kampung kita ini," ujar Kartono menjelaskan.
"Apa itu KKN?" tanya Bagio bingung.
Kartono tampaknya memang hanya sok tahu. Bagio yang bertanya, hanya membuat Kartono kelihatan sama bingungnya dengan Bagio.
"Duduk, Yo!" ajak salah satu warga yang malam ini akan bertugas berjaga di pos siskamling. "Itu dimakan! ... Gelasnya ambil sendiri!" Orang itu menunjuk ke sana kemari.
Sambil duduk bersila di atas lantai pos, sepotong singkong goreng yang ternyata masih hangat, segera digiling gigi-gigi Bagio, sambil menunggu jawaban dari Kartono.
"Kuliah Kerja Nyata."
Salah satu orang di situ membantu Kartono yang hampir merontokkan rambutnya, karena terlalu lama menggaruk-garuk, pusing memikirkan jawaban untuk pertanyaan Bagio.
"Maksudnya apa, pakde?" tanya Bagio lagi, setelah adonan campuran antara singkong yang sudah halus dan ludahnya, melewati tenggorokannya.
"Mereka nanti akan memakai apa yang mereka pelajari di sekolah, untuk membantu warga kampung," orang yang membantu Kartono tadi, kembali memberikan penjelasan.
"Banyak yang cantik!" ujar Kartono bersemangat.
Kartono tampak menaik turunkan alisnya berkali-kali, sambil melirik Bagio dengan ujung matanya.
"Eh! Emangnya kenapa kalau cantik?" sahut Bagio ketus. "Apa kau pikir mereka mau, dengan orang kampungan kayak kita-kita ini?"
"Aaah! Kau merusak kesenanganku saja!" kata Kartono sebal. "Paling nggak kan, kita bisa cuci mata?!"
"Cuci matamu pakai air sawah! Besok, kerjaan kita banyak!" Bagio menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pakde! ... Mereka tinggal di situ, menyewa?" Bagio menatap salah satu warga yang tadi menjelaskan tentang mahasiswa kepadanya.
"Enggak. Mereka diizinkan kepala desa untuk tinggal gratis di situ," jawab orang itu. "Wajar saja ... Mereka juga akan membantu warga secara cuma-cuma."
Bagio yang manggut-manggut mengerti, sepintas melihat kilatan-kilatan cahaya seperti cahaya petir, namun bukan berasal dari langit.
Untuk memuaskan rasa ingin tahunya, Bagio menoleh ke mana kilatan tadi terlihat.
Seorang wanita muda, terlihat memegang kamera foto seperti yang biasa dipakai tukang foto di kampung sebelah, dan memotret beberapa temannya yang sedang bergaya, sambil memberi arahan kepada target fotonya itu.
Walaupun sedang berdiri menghadap ke arah pos siskamling, namun wajah wanita yang mengambil gambar teman-temannya itu, tidak terlihat dengan jelas. Karena cahaya kekuningan dari lampu bohlam yang menggantung di pos siskamling, yang hanya samar-samar menembus ke seberang jalan.
"Kamu nggak mau ngopi?" tanya Kartono tiba-tiba, sambil menuangkan cairan kopi ke dalam satu gelas kaca bermotif kembang-kembang.
"Aku mau ... Tuangkan untukku juga!" Bagio kembali memusatkan perhatiannya pada sajian di atas lantai pos siskamling.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
$uRa
KKN itu .kura kura ninja
2023-01-19
0
$uRa
Bagio ganteng gak tor.....apes juga nasibnya...
2023-01-19
0
$uRa
kirain isinya rengginan...roti legenda itu ..sampai sekarang ayahnya belum di ketemukan
2023-01-19
0