Sesuai jadwal yang telah diatur, pagi ini Bagio akan berolahraga, dengan dibimbing oleh pelatih khusus, agar mencapai target bentuk tubuh yang diwajibkan oleh agensi.
Bagio kelihatannya memang harus membiasakan diri, untuk membiarkan tubuhnya dilihat dari jarak dekat, dan disentuh oleh orang asing.
Karena sebelum memulai olahraganya, Bagio diminta untuk menanggalkan semua pakaiannya, hingga hanya tertinggal selembar segitiga pengaman, lalu tinggi badan Bagio kemudian diukur.
Berat badannya pun ditimbang, dan lingkar dari hampir seluruh bagian tubuhnya, diukur memakai alat pengukur yang berbentuk seperti pita panjang.
Dan, semua dari hasil pengukurannya, tampak dicatat di dalam selembar kertas yang ada di dalam map.
"Okay! Sudah selesai!" kata seorang laki-laki yang mengukur bagian demi bagian tubuh Bagio, dan meminta agar Bagio memanggilnya dengan sebutan Coach.
"Kamu bisa memakai pakaianmu lagi! ... Tapi—" Coach tiba-tiba menghentikan kalimatnya, ketika Bagio memegang celana pendeknya dan hampir memakainya kembali.
Coach kemudian terlihat berjalan pergi, ke bagian paling belakang ruang olahraga, hingga akhirnya dia tidak terlihat lagi, setelah melewati pintu yang ada di sana.
Bagio yang sudah memakai pakaiannya kembali, hanya bisa berdiri terdiam di situ, sambil menunggu Coach kembali dari bagian belakang ruang olahraga.
Ketika Coach kembali, dia terlihat memegang sepasang pakaian olahraga berbahan nilon, dan sepasang sepatu olahraga, lalu menyerahkannya kepada Bagio.
"Cepat ganti pakaianmu! ... Kamu tidak mungkin berolahraga dengan memakai pakaian seperti itu!" ujar Coach, sambil memandangi badan Bagio.
Lagi-lagi, Bagio menanggalkan pakaian yang baru saja dia pakai, dan segera menggantinya dengan setelan pakaian olahraga, yang barusan diberikan oleh Coach kepadanya.
"Ayo kita mulai pemanasan!" Coach lalu memberikan contoh gerakan yang harus ditiru Bagio, yang menurut Bagio seperti gerakan senam wajib di sekolah dasar.
Setelah melakukan semua gerakan untuk beberapa waktu lamanya, Coach kemudian menyuruh Bagio untuk berlari di atas sebuah alat, yang disebut treadmill.
"Dalam satu bulan, kamu harus menurunkan lima sampai sepuluh kilogram, dari berat badanmu yang ada sekarang ini!" ujar Coach, yang berdiri di samping Bagio.
Semakin lama Bagio di atas treadmill, menurut Bagio, lantai dari benda itu terasa bergerak semakin cepat, setelah Coach menekan tombol yang ada di bagian depan Bagio.
Mau tidak mau, Bagio juga ikut mempercepat langkahnya, karena rasanya dia akan jatuh terjerembab, jika dia tidak mengikuti irama dari alat itu.
***
Sesi jadwal untuk berolahraga benar-benar menguras tenaga Bagio, hingga keringatnya yang bercucuran, sanggup membasahi hingga ke bagian kakinya.
Kurang lebih lima jam Bagio berolahraga tanpa banyak jeda untuk beristirahat, sampai sesi olahraga itu berakhir.
Bagio terbiasa melakukan pekerjaan kasar, namun berolahraga dengan berbagai macam jenis dan gaya seperti itu, rasanya masih jauh lebih melelahkan.
Tanpa sarapan, karena di dalam dapur umum hanya tersedia kopi hitam tanpa adanya gula, di jam sekarang ini, Bagio sudah benar-benar merasa kelaparan.
Akan tetapi, Bagio tidak bisa segera makan, malah di suruh mandi kembali, dan menunggu sampai makan siangnya diantar ke Dorm.
Ketika makan siangnya sudah siap, makanan yang disediakan untuknya, tidak ada yang dimasak dengan cara digoreng.
Sepotong dada ayam kukus, dan beberapa sayuran rebus, tanpa nasi, dan rasanya benar-benar tawar, seolah-olah garam berharga sangat mahal, hingga tidak bisa ditambahkan walaupun sedikit ke dalam makanannya.
'Makanan yang cocok untuk menurunkan berat badan', begitu kira-kira kata Coach tadi.
Porsi makanan seperti itu tentu tidaklah mengenyangkan, namun karena rasanya yang tidak cocok sama sekali di lidah Bagio, membuat makanan itu membuatnya tidak selera makan.
Tenggorokannya memang menolak untuk makan lebih banyak, tapi tidak dengan lambung Bagio yang masih terasa lapar.
Dengan meminum banyak air putih kosong, Bagio berusaha menghentikan gerakan lambung dan ususnya, yang menimbulkan bunyi yang nyaring.
Tidak mengherankan kalau para model yang lain terlihat seperti kerangka berjalan, kalau makanan mereka dibatasi hingga seketat itu.
Gula, garam, goreng-gorengan, roti, dan nasi, menjadi sesuatu yang terlarang, di dalam maupun di luar Dorm, bagi mereka yang bekerja sebagai model.
Apalagi bagi Bagio yang harus menurunkan berat badan dalam jumlah banyak.
Selain makanannya yang dibatasi, Bagio juga harus berolahraga ekstra, untuk membakar lemak yang masih tersisa di bawah kulitnya.
Sempat beristirahat sebentar setelah makan siang, Bagio kemudian lanjut ke sesi berikutnya, yaitu belajar berpose, dan memperbaiki postur tubuhnya, agar bisa terlihat seperti model profesional.
***
"Kalau orang biasa ingin mengambil potret dirinya, maka fotografer mungkin akan mencari sisi terbaiknya. Tapi, tidak demikian bagi seorang model....
... Semua sisi dari dirinya harus terlihat bagus, saat diambil gambarnya, ataupun saat orang hanya sekadar melihatnya begitu saja."
Pelatih yang akan mengajarkan Bagio banyak hal tentang bagaimana menarik perhatian orang, menjelaskan kepada Bagio, sambil mendorong punggung Bagio, dan menahan posisinya.
Sebenarnya, di dalam ruangan itu ada beberapa orang model yang lain, tapi saat ini, Bagio mendapatkan perhatian lebih dari pelatih, karena Bagio yang sama sekali belum mengerti apa-apa tentang menjadi model.
"Berdiri, duduk, berjalan, berlari, melompat, menoleh ke kiri ataupun ke kanan. Gerakkan apa saja yang dilakukan oleh seorang model, harus senantiasa terlihat menarik....
... Begitulah caranya bagi seorang model itu memperlihatkan tanggung jawabnya, agar bisa menjual atau mempromosikan produk yang dipercayakan kepadanya. Mengerti?"
Pelatih yang adalah seorang wanita, dan memperkenalkan dirinya dengan nama Zetty, melanjutkan penjelasannya kepada Bagio.
"Jangan membungkuk! Berdiri dan berjalanlah dengan tegak dan percaya diri! Angkat dagu dan pandangan mata yang lurus ke depan!
... Seolah-olah kamu sedang mengarah ke sebuah tujuan yang pasti, dan tidak akan terganggu ataupun terpengaruh, dengan segala sesuatu yang ada di sekitarmu!"
Sambil memberi arahan, Zetty memperbaiki semua postur tubuh Bagio yang dianggapnya tidak sesuai dengan standar.
Zetty kemudian memberikan contoh berdiri dan berjalan yang baik, dengan mempraktekkannya secara langsung di depan Bagio.
Zetty bahkan memperlihatkan bagaimana berpose yang baik, agar Bagio bisa menarik perhatian orang-orang yang melihatnya.
Menghabiskan waktunya selama lima jam, Bagio berada di ruang khusus itu, untuk berlatih bersama beberapa orang model yang lain, sambil melihat bayangannya sendiri di pantulan cermin.
Berdiri, duduk, berjalan, semua gerakan yang dicontohkan oleh Zetty, dicoba Bagio agar sebisa mungkin sesuai dengan arahan dari pelatihnya itu.
"Tidak harus selalu dibawah pengawasan saya. Kamu bisa berlatih sendiri, setiap kali ada kesempatan. Atau kamu bisa juga melihat itu!" Zetty menunjuk ke arah video yang tampil di televisi, yang ada di salah satu sudut ruangan.
"Setahu saya, di ruang santai ada layar televisi yang memutar berulang-ulang, bagaimana gaya dari para model internasional, saat mereka sedang di catwalk, atau saat mereka sedang melakukan sesi pemotretan....
... Jangan merasa bosan untuk menonton dan mempelajari gerak-gerik mereka, kalau kamu memang bersungguh-sungguh ingin menjadi seorang model. Okay?!" lanjut Zetty.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments