Part 6

Kelihatannya, ubi jalar yang disiapkan oleh Bagio, tidak kalah enak, jika dibandingkan dengan kentang goreng sebesar jari kelingking yang pernah dibeli Bagio di kota.

Kedua tamunya yang notabene adalah orang kota, menyantap hidangan itu sampai habis tak bersisa, sampai-sampai Bagio pun tidak sempat mencicipinya.

Entahlah ... Apakah memang enak, atau kedua orang itu hanya kelaparan, sebab sekarang ini yang seharusnya sudah jamnya untuk makan malam.

"Bang! Di sekitar sini, apa ada air terjun? Atau mungkin, sungai yang cukup lebar dan berbatu-batu?" tanya Karenina, yang mengangkat kedua alisnya, dan menatap Bagio.

"Ada. Di sebelah Barat desa ini. Di dekat kaki bukit," jawab Bagio. "Di sana ada air terjun, lalu sungai yang mengalir di bawahnya, banyak terdapat batu-batuan kali berukuran besar."

Karenina tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. "Okay! Itu mungkin akan jadi tempat yang bagus."

"Apa abang tidak mau jadi seorang model sungguhan?" tanya Yanto tiba-tiba.

"Eh!" Bagio tidak tahu harus berkata apa.

Jadi model? Bagio? Hmm ... Apa mungkin?

Selain Karenina, siapa yang bisa tertarik menjadikan Bagio jadi model?

Mungkin hanya sekedar keberuntungan saja, hingga Karenina memilih Bagio jadi objek fotonya.

Berhubung orang-orang yang bekerja di sawah, hingga semua warga di kampung pun, memang belum ada yang bisa menyaingi mantapnya bentuk tubuh Bagio.

Ehhem! ... Ehhem!

Ya iyalah ...! Kalau bukan karena bentuk tubuh Bagio, manalah mungkin Karenina mau meliriknya.

Ditambah lagi, bagaimana dengan hasil menjadi model? Apa cukup untuk membayar setoran hutang?

Sudahlah ...! Percaya diri boleh, tapi jangan berlebihan.

Jika bermimpi yang terlalu tinggi, kemudian sampai terjatuh, bukan hanya terasa sakit saja. Bisa-bisa, mengangkat dagunya saja pun, Bagio tidak akan sanggup.

"Di mana ada tempat pangkas rambut di sekitar sini, bang?" tanya Yanto lagi.

"Ooh ... Itu! Di sebelah sana!" Bagio menunjuk ke salah satu arah dengan tangannya. "Kenapa? Mau potong rambut?"

"Iya," jawab Yanto, sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Saya mau memangkasnya sedikit."

"Mau saya antarkan?" tawar Bagio. "Tempatnya agak ke dalam gang."

"Bisa, bang!" ujar Yanto. "Kita pergi sekarang?"

Bagio kemudian berdiri dari tempat duduknya.

"Saya bawa ini ke dalam dulu, ya?!" Bagio menunjuk piring-piring dan gelas yang masih tergeletak di atas meja.

"Okay! Terima kasih, bang. Maaf merepotkan," ucap Yanto yang juga ikut berdiri, dan membantu merapikan meja yang ada di teras Bagio itu.

Hingga Bagio keluar lagi dari dalam rumahnya, setelah membawa peralatan makan yang kotor, Karenina tampak masih sibuk menatap layar ponselnya, dan mengetik-ketikkan sesuatu di sana.

Sedangkan Yanto, terlihat seakan-akan sudah tidak sabar untuk pergi ke tempat pangkas rambut.

"Nin! Kamu ikut nggak?" Pertanyaan Yanto, membuat Karenina tampak tersentak.

"Eh! ... Ke mana?" tanya Karenina bingung. Entah sudah berapa lama Karenina tidak menyadari apa saja yang terjadi di teras Bagio itu

"Ckckck! ... Kamu kalau sudah chat-an, pasti lupa dunia." Yanto menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku mau pangkas rambut. Bang Bagio yang mengantar."

"Ooh ...! Okay! Aku ikut!" Karenina lalu terlihat ikut berdiri dari tempat duduknya, dan bersiap-siap untuk berjalan pergi dari rumah Bagio, bersama-sama dengan Bagio dan Yanto.

"Maafkan saya, bang. Saya bukannya tidak mau menghiraukan abang....

... Saya sedang bertanya dengan rekanku, kalau dia bisa memberi saran untuk tema pemotretan kita nanti," ujar Karenina pelan.

"Tidak masalah, dek. Tidak perlu dipikirkan," sahut Bagio.

Tempat pangkas rambut yang menjadi tujuan Bagio, tidaklah jauh dari rumahnya.

Hanya saja, karena tempatnya yang berada di dalam gang kecil, maka memang tidak terlihat dari jalan utama pedesaan.

Cukup berjalan kaki dengan waktu kurang lebih sepuluh menit, Bagio, Karenina dan Yanto, sudah tiba di sana.

"Malam, paklek!" sapa Bagio, ketika lelaki yang tampak berusia sudah di atas 50 tahunan, terlihat berdiri di depan pintu, menyambut kedatangan mereka bertiga.

"Malam!" Pria tua itu membalas sapaan Bagio, dengan logat kental dari daerah asalnya. "Mau potong rambut?"

"Iya, paklek." Bagio menunjuk Yanto, yang sudah siap untuk dipangkas rambutnya.

"Tojuk (duduk)!"

Tukang pangkas yang sudah berumur itu, lalu mempersilahkan Bagio, Karenina, dan Yanto, untuk masuk dan duduk di dalam rumah yang multi fungsi menjadi tempat pangkas rambut.

Bagio dan Karenina duduk bersebelahan di sebuah bangku panjang, sedangkan Yanto segera duduk di kursi yang menghadap ke depan cermin berukuran besar.

Bagio memandangi Yanto, yang tampak sedang membahas bagaimana model potongan rambut yang Yanto inginkan kepada pria tua itu, sambil Yanto dipersiapkan untuk dipangkas rambutnya.

Ketika Bagio menoleh ke sampingnya, Karenina kembali terlihat tenggelam dalam kesibukannya sendiri, dengan ponsel di tangannya.

Ponsel yang bagus seperti milik Karenina itu, pasti mahal harganya.

Ditambah lagi dengan dua ibu jari yang lentik dengan warna kulit yang putih bersih, yang menari-nari di atas layarnya, membuat ponsel itu jadi semakin tidak terbeli oleh Bagio.

Sebaiknya Bagio kembali melihat Yanto yang sedang dipangkas rambutnya, oleh tangan pria tua yang tampak gemetaran, saat memegang alat cukur rambut bertenaga listrik.

Sekalian Bagio berjaga-jaga, kalau-kalau tangan tukang pangkas terpeleset, lalu malah memotong telinga Yanto. Daripada hanya menatap jari-jari tangan Karenina, yang lama kelamaan hanya akan membuat hati Bagio yang terpeleset.

Eh, salah!

Yang benar adalah perkataan Kartono, kalau anak-anak mahasiswi yang datang ke desa mereka itu cantik-cantik. Contohnya Karenina.

Garis wajah yang modelannya macam Karenina, memang tidak akan bisa ditemukan dengan mudah, di perkampungan di sekitar tempat tinggal Bagio.

Hmm ... Setelah duduk bersebelahan dengan Karenina seperti sekarang ini, barulah Bagio menyadari sesuatu.

Entah parfum apa yang dipakai wanita itu, hingga harumnya bisa membuat Bagio serasa sedang berada di dalam taman bunga.

Wanginya yang lembut, sanggup membuat Bagio berhalusinasi akan sesuatu yang.... Eh!

Bagio tersentak.

Kalau Bagio sekarang bisa mencium aroma Karenina dengan jelas, berarti begitu juga sebaliknya. Karenina juga pasti bisa mencium aroma Bagio.

Perlahan tapi pasti, Bagio harus memastikan kalau tidak ada wangi bawang yang keluar dari bawah lengannya, yang bisa mengganggu penciuman Karenina.

Dengan berpura-pura mengelap wajahnya dengan lengan kausnya, Bagio mengendus lipatan yang menghubungkan lengan atas dan bahunya, yang ditumbuhi rambut yang lebat dan cukup panjang.

Axilla bagian kiri, axilla bagian kanan, diinspeksi hidung Bagio satu persatu, dengan menghirup aromanya dalam-dalam.

Haaa ...! Aman ...!

Tidak ada apa-apa di sana, selain aroma wangi refreshing beauty dari sabun GIV batangan berwarna biru, yang dipakai Bagio ketika dia mandi tadi.

"Bang!" Suara Yanto yang tiba-tiba berseru memanggil Bagio, sambil memandangi Bagio dari pantulan cermin di depannya, sanggup membuat wajah Bagio mendadak terasa panas.

Apakah Yanto mengetahui apa yang sedang dilakukan Bagio barusan?

Kalau memang benar Yanto menyadari jika Bagio sedang mencium aroma di ketiaknya, maka hal itu akan jadi saat-saat yang cukup memalukan.

"Eh! ... I—iya," jawab Bagio ragu.

"Abang mau cukuran, sekalian rapikan rambutnya sedikit?" tanya Yanto menawarkan. "Saya traktir, bang!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!