Part 8

Kelihatannya, sesuai dengan percakapan mereka semalam, kalau Karenina akan pergi ke kota hari itu, sehingga Karenina tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali.

Di antara pemuda-pemudi, anak-anak mahasiswa yang berpencar jadi beberapa kelompok dan tersebar di areal persawahan, hanya Yanto saja yang sempat dilihat oleh Bagio.

"Ada yang memintaku memanen kelapanya besok. Apa kau mau ikut?"

Pekerjaan untuk menanam padi, baru saja selesai dilakukan oleh Bagio, Kartono, dan beberapa pekerja upahan harian yang lain.

Sembari mencuci tangan dan kakinya bersama Kartono di aliran air irigasi, Bagio tidak segera menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Kartono barusan.

Bagio memang belum menceritakan tentang rencananya, yang akan melakukan pemotretan di besok hari bersama Karenina, kepada Kartono.

"Mau ikut nggak?" Mungkin karena merasa kalau Bagio seakan-akan tidak mau menanggapi, pertanyaannya tadi, Kartono lalu mengulang ajakannya lagi.

"Aku nggak ikut," jawab Bagio.

"Eh ...? Kenapa?" Kartono terlihat heran. "Apa kau ada kerjaan lain?"

"Karenina memintaku untuk jadi modelnya, besok," jawab Bagio.

"Karenina ...? Cewek yang memotretmu kemarin?" tanya Kartono, dengan alisnya yang tertaut.

Bagio mengangguk. "Iya."

Kartono manggut-manggut mengerti. "Ooh ...! Pantasan kau mencukur janggutmu ... Dia—Karenina—juga yang menyuruhmu?"

Bagio meraba-raba rahangnya. "Nggak. Ini kebetulan saja."

"Semalam, aku mengantar Yanto memangkas rambutnya. Lalu, Yanto menawarkan agar aku juga memotong rambutku, sekalian cukuran," lanjut Bagio.

Ketika meraba-raba di sekeliling rahang dan di atas bibirnya, saat ini sudah kembali terasa sedikit berduri. Dengan demikian, Bagio harus mencukur rambut wajahnya lagi kalau begitu.

"Siapa Yanto?" tanya Kartono bingung.

"Temannya Karenina. Mereka berdua datang berkunjung ke rumahku tadi malam....

...Membicarakan tentang pemotretan, sekalian bagaimana cara kerjanya, yang mungkin akan memakan waktu sampai dua hari....

... Karenina akan memberikanku bayaran sebagai modelnya, tapi dia belum menyebutkan berapa jumlahnya. Nanti, kami mungkin pergi berfoto di air terjun."

Karena sudah mengenal dengan baik, bagaimana tipe Kartono yang pasti ingin tahu segala sesuatunya, Bagio lalu menjelaskan semuanya dalam satu kali bicara.

Dengan begitu, Kartono tidak perlu bertanya berulang-ulang lagi kepada Bagio.

Kartono mengangguk-anggukan kepalanya, lalu tiba-tiba tampak seperti sedang tersentak. "Ibuk tadi minta dicarikan Tutut (keong sawah)!"

Bagio yang baru saja naik ke atas pematang sawah, lalu berbalik melihat Kartono. "Ada ember di pondokku. Sekalian cari belut, yok?!"

"Okay!" Kartono lalu buru-buru keluar dari aliran irigasi.

Berhubung hari masih belum terlalu sore, Bagio dan Kartono yang sempat mengambil peralatan berburu keong sawah dan belut di pondok sawah milik Bagio, kemudian bergegas mencoba peruntungannya, dengan mencari hewan buruannya, di areal persawahan.

"Kalau dapatnya banyak, nanti aku antarkan ke rumahmu, Tutut yang sudah dimasak ibuk."

Kartono berceletuk, sambil tetap membungkuk mencari keong sawah di dalam lumpur di antara sela-sela tanaman padi.

Kelihatannya, di area yang menjadi tempat pencarian Bagio, baru saja ada yang menangkap belut di sana, sehingga Bagio hanya menemukan beberapa ekor belut saja.

Bagio menyerah untuk mencari belut, dan akhirnya benar-benar terfokus membantu Kartono, untuk mengumpulkan keong sawah.

Tidak jauh berbeda hasilnya dengan mencari belut, keong sawah yang dicari saat sudah sore seperti saat ini, juga tidak membuahkan hasil yang maksimal.

Walaupun sampai dua orang yang mencarinya, namun tidak sampai separuh ember, keong sawah yang bisa mereka temukan.

Bagio dan Kartono yang sama-sama menyerah untuk mencari hewan pengganggu tanaman padi itu, lalu pergi mengambil beberapa lembar daun pepaya, yang tanamannya tumbuh di dekat area persawahan.

Dengan menyebarkan lembaran demi lembaran daun pepaya di bagian pinggir-pinggir sawah, Bagio dan Kartono hanya bisa berharap, kalau besok pagi, mereka bisa mendapatkan banyak keong sawah di perangkap sederhana yang mereka buat.

"Bang! ... Bang Bagio!" Seruan bersemangat dari kejauhan, menarik perhatian Bagio dan Kartono.

Sehingga, baik Bagio maupun Kartono, menoleh ke arah datangnya suara, dan melihat Yanto yang berjalan cepat, setengah berlari, menghampiri ke mana Bagio dan Kartono sedang berada.

"Siapa itu?" tanya Kartono bingung.

Bertepatan saat Bagio hendak menjawab pertanyaan Kartono, Yanto sudah berdiri di dekat mereka.

"Dia ini, namanya Yanto," kata Bagio. "Yanto! Ini temanku ... Namanya Kartono."

Bagio memperkenalkan Kartono dengan Yanto, yang seketika itu juga saling berjabat tangan, meskipun tangan dari keduanya tampak sama-sama kotor dengan lumpur.

"Apa yang sedang abang lakukan?" Kartono tampak penasaran, melihat lembaran-lembaran daun pepaya yang tergeletak di pinggir sawah.

"Itu perangkap untuk menangkap Tutut—" Bagio berhenti bicara secara tiba-tiba.

"... Maksudku, kami meletakkan itu untuk jadi perangkap, yang biasanya dipakai untuk menangkap keong sawah....

... Kalau di situ banyak keong sawah, maka besok pagi, mereka akan banyak yang berkumpul di daun-daun pepaya itu," lanjut Bagio menjelaskan.

Bagio lalu memperlihatkan keong sawah dan beberapa ekor belut, di dalam ember yang dipegangnya, kepada Yanto. "Karena sudah sore, dapatnya tadi hanya sedikit."

"Hmm ... Menarik! Saya tidak pernah tahu, kalau daun pepaya bisa digunakan untuk jadi perangkap keong. Hehe!" sahut Yanto sambil tertawa kecil.

"Apa kamu pernah makan keong sawah?" tanya Kartono.

"Tidak," jawab Yanto. "Apa saya bisa mencobanya, kalau sudah matang?"

"Bisa.... Tapi, tidak hari ini," jawab Kartono sambil menunjuk ke arah ember. "Itu terlalu sedikit untuk dimasak."

"Oh, iya! Apa saya tidak mengganggu pekerjaan abang?" tanya Kartono menatap Bagio.

"Tidak. Pekerjaan kami sudah selesai," jawab Bagio. "Ada apa?"

"Hmm ... Tidak apa-apa, bang. Saya hanya datang, karena penasaran melihat apa yang abang berdua lakukan," jawab Yanto.

"Kalau pekerjaan abang berdua sudah selesai, apa abang sudah mau pulang?" lanjut Yanto buru-buru.

"Iya, rencananya begitu. Mau pulang bareng?" ajak Bagio.

Yanto menganggukkan kepalanya. "Iya, bang."

Mereka bertiga masih menyempatkan diri untuk membersihkan sedikit sisa lumpur di tangan kaki mereka, yang mulai mengering, di aliran irigasi.

Kemudian, mereka berjalan bersama-sama, beranjak pergi dari areal persawahan, dan berniat kembali ke tempat tinggalnya masing-masing.

"Apa saya bisa ke rumah abang nanti malam?" tanya Yanto. "Mungkin Karenina juga sudah kembali dari kota."

"Iya. Silahkan," sahut Bagio.

"Abang tidak perlu repot-repot menyiapkan apa-apa. Saya tadi sudah berpesan kepada Karenina, untuk membeli camilan," ujar Yanto.

"Bang Kartono! ... Nanti datang ke rumah bang Bagio juga, ya?!" lanjut Yanto.

"Okay!" sahut Kartono.

Apakah hanya karena Bagio tidak pernah memiliki kenalan orang kota, tapi rasanya agak mengherankan, saat melihat Yanto yang tampaknya tidak risih, untuk bergaul dengan orang kampung seperti Bagio.

Yanto bahkan bisa berbincang-bincang, dan bersenda gurau dengan Kartono, ketika mereka di jalan pulang itu.

"Saya duluan!" kata Bagio, sambil berbelok ke rumahnya.

"Okay!" Yanto dan Kartono menyahut secara bersamaan.

Masih ada sedikit sisa cahaya matahari, saat Bagio mulai bersih-bersih di rumahnya seperti biasa, namun sebelum pekerjaan rumahnya selesai dia lakukan, matahari sudah benar-benar tenggelam di ufuk Barat.

Bagio buru-buru menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya, dan pergi membersihkan diri, sebelum nanti Karenina dan Yanto datang.

Terpopuler

Comments

Dul...😇

Dul...😇

cerita nya betul betul kehidupan sehari-hari di kampung 👍

2023-03-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!