Part 9

Bagio baru saja selesai mandi dan berpakaian, ketika Kartono datang, dan menyerobot masuk ke dalam rumah Bagio tanpa permisi.

Bagio memandangi Kartono dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya, dengan rasa heran, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kartono kelihatannya benar-benar berdandan malam ini, dengan memakai setelan baju koko, yang pernah dilihat Bagio, dikenakan Kartono saat lebaran kemarin.

Rambut Kartono yang pendek cepak tentara, tampak mengkilap dengan minyak kemiri untuk rambut.

Entah berapa kali semprotan parfum Casablanca yang menyengat yang dipakai oleh Kartono, hingga Bagio merasa agak pusing, saat aromanya merasuk ke dalam indera penciuman Bagio sekarang ini.

"Bagaimana? Aku terlihat keren, kan?" tanya Kartono percaya diri.

"Kenapa kau berpenampilan seperti ini?" Bagio balik bertanya.

"Eh! Ada cewek yang datang sama-sama Yanto, kan?!" Kartono tampak ingin memastikan.

"Iya. Lalu, kenapa?" tanya Bagio bingung.

"Tentu saja, supaya dia bisa tertarik melihatku!" Kartono tersenyum, sambil berkali-kali menggerakkan kedua alisnya, naik turun dengan cepat.

Lagi-lagi, Bagio menggeleng-gelengkan kepalanya, karena rasa tidak percaya, dengan apa yang baru saja didengarnya dari Kartono.

"Huuffft ...!" Bagio mendengus pelan. "Ada-ada saja kau ini."

"Hehehe!" Kartono tertawa kecil, namun tetap terlihat sangat percaya diri.

Bagio melihat penampilan dirinya sendiri di depan cermin.

Celana pendek dan kaus oblong, sama seperti penampilan biasanya saat dia hanya di rumah saja.

"Selamat malam! ... Bang! ... Bang Bagio!"

Mendengar suara yang berasal dari depan rumahnya, Bagio jadi tahu kalau Yanto sudah datang.

Dengan terburu-buru, Bagio berjalan ke bagian depan rumahnya, sambil disusul oleh Kartono dari belakangnya.

"Selamat malam, bang!" sapa Yanto dan Karenina bersamaan.

"Malam! Silahkan masuk!" Bagio balas menyapa. "Silahkan duduk!"

Karenina dan Yanto yang terlihat membawa beberapa bungkusan kantong plastik di tangan mereka, kemudian menyodorkan dua kantong plastik kepada Bagio.

Sedangkan kantong plastik yang lain, diletakkan mereka ke atas meja yang ada di teras rumah Bagio itu, sembari Yanto dan Karenina duduk di kursi.

Bagio menyambut kantong plastik pemberian mereka. "Apa ini?"

"Itu pakaian untuk dipakai abang untuk berfoto besok," jawab Karenina. "Abang coba dulu! Biar saya lihat. Karena saya hanya mengira-ngira saja ukurannya."

Bagio hampir berjalan masuk kembali ke dalam rumah untuk mencoba pakaian yang diberikan oleh Karenina, ketika dia mengingat keberadaan Kartono yang belum diperkenalkannya kepada Karenina.

"Dek! ... Ini teman saya. Namanya Kartono," kata Bagio, sambil menunjuk Kartono yang berdiri di dekatnya.

Kartono lalu berjalan menghampiri Karenina yang berdiri dari tempat duduknya, dan saling berjabat tangan.

"Karenina."

"Kartono."

Karenina dan Kartono, saling menyebutkan nama masing-masing di situ, sebelum Karenina duduk kembali, dan Kartono juga ikut duduk di salah satu kursi yang kosong.

"Saya tinggal ke dalam dulu," ujar Bagio.

Bagio lalu berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah, setelah mendengar Yanto dan Karenina yang menyahut hampir bersamaan, "Iya, bang."

Di dalam kamarnya, Bagio mengeluarkan semua isi dari bungkusan kantong plastik.

Terlihat di sana, kalau ada beberapa lembar kemeja lengan pendek polos dan ada juga yang bermotif kembang-kembang, dan celana pendek yang berbau harum khas pakaian baru.

Kalau hanya melihat dan meraba bahan kain dari pakaian itu, kemungkinan pakaian itu berharga cukup mahal.

Bagio bisa menduga demikian, karena bahan kain kemeja yang terasa lembut, dan meski kainnya terlihat tipis, namun tidak menerawang.

Dan itu terbukti, setelah Bagio menemukan label harga dari salah satu kemeja, yang bernilai lebih dari tujuh lembar uang kertas berwarna biru.

Bagio menggeleng-gelengkan kepalanya.

Berharap saja kalau ukuran pakaian itu cocok di badan Bagio, karena kalau tidak, maka Karenina hanya membuang-buang uang saja.

Salah satu kemeja dipakai Bagio, sambil menahan nafas, dan ternyata, ukurannya pas di badan Bagio.

Begitu juga dengan salah satu celana pendek yang dia coba pakai.

Seakan-akan, Karenina bisa menebak tanpa meleset, ukuran tubuh Bagio, hanya dengan melihatnya saja.

Bagio tersentak. Eh!

Apa jangan-jangan, Karenina juga bisa menebak ukuran yang 'itu' juga?

Bagio menggigit bibirnya sendiri, menahan diri agar tidak tertawa. Benar-benar hebat, kalau Karenina sampai bisa menebak dengan benar.

Aaarrrghh! Apa yang sedang dipikirkan Bagio sekarang ini?

Bagio mengedipkan matanya berkali-kali dengan cepat, untuk mengembalikan kesadarannya, lalu berjalan kembali ke teras depan rumahnya.

Saat Bagio melewati pintu depan, seketika itu juga, Karenina menghampiri Bagio, dan memandangi Bagio dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya.

Karenina mengangguk-anggukkan kepalanya, dan seakan-akan tampak puas dengan apa yang dilihatnya.

"Ukurannya pas.... Abang tingginya berarti kurang lebih seratus delapan puluh lima, sampai seratus sembilan puluhan centi, ya?!" ujar Karenina.

"Saya tidak tahu, dek. Saya tidak pernah mengukur tinggi badan saya," jawab Bagio.

"Bagaimana adek bisa menebak ukuran baju saya?" lanjut Bagio yang penasaran.

"Umm ... Pacar saya, bang. Saya mengambil contoh ukurannya, karena postur tubuhnya mirip-mirip dengan abang," jawab Karenina.

Seperti baru saja disambar geledek, raut wajah Kartono tampak kusut dan lemas, setelah mendengar perkataan Karenina, ketika Bagio melirik ke arahnya.

"Maaf, dek. Tapi, saya jadi penasaran. Kenapa tidak memakai pacar adek saja yang jadi modelnya?" tanya Bagio.

"Profesinya memang model. Tapi, justru itu saya tidak bisa memakainya. Karena wajahnya sudah terlalu sering dilihat di mana-mana."

Karenina menjawab pertanyaan Bagio, sambil berjalan kembali ke tempat duduknya. "Saya butuh wajah yang baru."

Bagio manggut-manggut mengerti.

"Apa saya perlu mencoba semua pakaian tadi?" tanya Bagio.

"Tidak perlu. Cukup satu itu saja, karena semuanya sama ukurannya," jawab Karenina yang sudah duduk di kursinya.

Bagio hampir ikut duduk di kursi, namun dia terpikir untuk segera mengganti pakaiannya saja dulu.

"Saya ganti baju dulu, ya?!" kata Bagio.

Lalu, tanpa menunggu tanggapan Karenina, Bagio kembali berjalan masuk ke dalam rumah, dan berganti pakaian dengan pakaiannya sendiri.

Ketika Bagio kembali ke teras depan rumahnya, di atas meja terlihat beberapa kaleng minuman bersoda, dan lengkap dengan beberapa macam camilan.

Bagio kemudian mengambil tempat duduk di salah satu kursi kosong, yang bersebelahan dengan Karenina.

Sedangkan Yanto dan Kartono yang juga duduk bersebelah-sebelahan, sudah tampak asyik berbincang-bincang santai di situ.

"Besok pagi, abang tunggu saja di sini. Nanti saya yang datang menemui abang. Barulah kita pergi ke air terjun yang abang bilang," ujar Karenina.

"Apa jauh dari sini? ... Air terjunnya. Apa jauh dari sini?" lanjut Karenina.

"Hmm ... Kurang lebih hampir satu jam, dengan berjalan kaki," jawab Bagio.

Karenina lalu membuka salah satu kaleng minuman yang di ambilnya dari atas meja, kemudian menyesap cairan di dalamnya sedikit.

"Di minum, bang! Jangan sungkan-sungkan! Saya membelinya cukup banyak, sedangkan teman-teman saya yang lain, sudah kebagian semua," ujar Karenina.

"Terima kasih," ucap Bagio, lalu mengambil satu kaleng minuman untuk dirinya sendiri.

"Apa di sekitar sini ada yang bisa menyiapkan makan siang untuk tiga orang?" tanya Karenina.

"Tapi, sekalian mengantarkannya ke lokasi pemotretan. Jadi kita tidak perlu pulang, hanya untuk makan siang. Saya ingin memaksimalkan waktunya, agar bisa selesai dalam satu hari saja," lanjut Karenina.

Bagio terdiam sebentar, sambil memikirkan pertanyaan Karenina.

Di kampung itu, hanya ada pedagang makanan yang berjualan sejak petang, dan tidak ada yang berjualan di siang hari.

Kalaupun ada, hanya menjual mie instan dan gorengan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!