Part 7

Bagio yang selama ini hanya mempercayakan rambutnya diutak-atik oleh Kartono secara gratisan, kelihatannya telah meremehkan tangan si tukang pangkas yang tampak lemah.

Meskipun kacamata yang dipakainya melorot hingga hampir ke cuping hidungnya, keahlian memangkas dari si pria tua itu masih patut diacungi jempol, setelah Bagio melihat hasilnya di kepala Yanto.

Walaupun demikian, Bagio masih merasa sedikit horor, ketika pisau cukur yang bergetar karena tangan si pemegangnya, mendekat ke bagian leher Bagio.

Dengan sedikit busa cukur yang dibalurkan di hampir separuh wajah Bagio, pisau cukur yang ketajamannya tampaknya sanggup untuk menebang pohon pisang dalam sekali tebasan, perlahan-lahan bergerak di atas kulit wajah Bagio.

Sreet ... Sreet ... Sedikit demi sedikit, rambut cambang dan kumis Bagio dibuang oleh si tukang pangkas, sampai tertinggal kulit yang terasa halus berwarna kebiruan.

Tanpa mengalami cedera sedikitpun, sekeliling rahang hingga ke dekat telinganya, dan di atas bibir Bagio, sekarang sudah bersih dari rimbunnya bulu-bulu maskulin.

Sekarang, rambut Bagio saja yang akan dirapikan.

Atas saran dari Yanto, model rambut Bagio di potong dengan gaya yang tren masa kini, memakai alat cukur listrik yang berjalan-jalan di kepala Bagio.

Rambut Bagio yang lurus, tebal dan hitam, masih ditipiskan sedikit menggunakan gunting rambut khusus. Dan hasilnya?

"Keren, bang!" Yanto tersenyum lebar, sambil mengacungkan dua jari jempolnya ke arah Bagio, yang masih duduk di kursi, yang berhadapan dengan cermin besar.

"Nin! ... Nina!" seru Yanto, mengguncang bahu Karenina.

Dari pantulan cermin, Bagio yang masih dibersihkan sisa-sisa potongan rambut yang jatuh ke bagian bahunya, bisa melihat Yanto yang tampaknya sibuk mengganggu konsentrasi Karenina dari layar ponselnya.

Karenina lalu terlihat mengangkat pandangannya, dan melihat ke arah Yanto. "Ada apa?"

"Itu loh! ... Coba kamu lihat! Abang Bagio, terlihat keren dan ganteng!" Yanto memaksa, agar Karenina segera melihat ke arah Bagio.

Karenina lalu berdiri menghampiri Bagio ke tempat Bagio duduk, kemudian, sambil berdiri di belakang Bagio, Karenina memandangi wajah Bagio di pantulan cermin, dengan tatapan penuh selidik.

"Hmm ... Okay! ... Abang memang ganteng. Tapi ... Maaf, bang. Kenapa tidak dari kemarin-kemarin mencukur janggutnya?" ujar Karenina heran.

Karenina memang tampak mengagumi penampilan baru dari Bagio, tapi reaksi yang terlihat di wajah Karenina, masih jauh lebih menampakkan kebingungannya, daripada kekagumannya itu.

Bagio hanya terdiam, dan memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Karenina.

Tidak mungkin kan, kalau Bagio curhat tentang patah hatinya pada Karenina?! Apalagi, jika dibarengi dengan ujung mata Bagio, yang mungkin akan sedikit basah.... Tidak!

Setelah Bagio sudah selesai dibersihkan dari sisa-sisa potongan rambutnya, mereka tidak lantas segera pergi dari rumah tukang pangkas.

Karenina justru menahan Bagio, agar tetap berdiri di salah satu sudut ruangan itu. "Abang diam di situ sebentar!"

"Matanya lihat ke sana, bang! ... Dagunya angkat sedikit! ... Lagi! ... Lagi! ... Ya, cukup! Tahan sebentar, ya?!"

Kelihatannya, Karenina ingin memotret penampilan baru Bagio di situ, dengan mengarahkan Bagio untuk berpose.

Kilatan lampu dari bagian belakang ponsel, yang bergambar buah apel milik Karenina, beberapa kali terlihat di ujung mata Bagio.

"Okay! Sudah, bang! ... Terima kasih!" ujar Karenina, lalu menatap layar ponselnya.

Sembari Bagio berdiri di dekat pintu keluar, menunggu Yanto dan Karenina, Yanto menepati janjinya untuk membayarkan semua biaya dari jasa yang mereka terima, kepada si tukang pangkas.

Dengan ucapan terima kasih yang bersahut-sahutan dan bergantian mereka katakan, Bagio, Yanto dan Karenina, kemudian beranjak pergi dari tempat itu.

"Kami langsung balik ke tempat kami menginap, ya, bang?!" ujar Yanto. "Terima kasih!"

"Ooh ...! Iya. Saya juga berterima kasih, karena sudah dibayarin ongkos pangkasnya tadi," sahut Bagio.

"Sama-sama, bang!" kata Yanto santai.

Sebelum Bagio berbelok masuk ke dalam pekarangan rumahnya, Karenina menahan langkah Bagio. "Sebentar, bang!"

"Iya. Kenapa, dek?" tanya Bagio, yang berhenti berjalan.

"Abang mau lihat hasil foto tadi?" tanya Karenina.

"Ini!" Karenina kemudian memperlihatkan foto Bagio, di tampilan layar ponselnya.

Meskipun Karenina hanya memotret Bagio memakai kamera ponsel, namun hasilnya sudah bagus, dan Bagio terlihat tampan di situ.

"Kalau bisa, sekedar saran saya, sebaiknya abang rutin mencukur janggut dan kumis abang. Jadi, abang bisa terlihat seperti ini saat dipotret nanti," kata Karenina.

"Oh ... Okay!" sahut Bagio. "Itu saja, dek?"

"Iya, bang," jawab Karenina. "Kami pergi dulu. Terima kasih, bang!"

Yanto dan Karenina kemudian berjalan menjauh, menyusuri jalanan pedesaan, sementara Bagio berjalan masuk ke rumahnya.

Sembari berbaring di atas kasur di dalam kamarnya, Bagio jadi terpikir akan percakapannya dengan Karenina tadi.

Perasaan, sampai kedua pemuda-pemudi itu kembali ke tempat mereka menginap, Karenina tidak menyinggung akan jumlah bayaran yang akan dia berikan kepada Bagio, untuk pemotretan nanti.

Hmm ... Sudahlah!

Kalau pun Karenina hanya memberikan satu lembar uang biru saja, juga tidak apa-apa. Kan, tidak selalu Bagio sampai tidak bekerja, hanya demi diambil fotonya saja.

Apalagi, Bagio belum ada tawaran bekerja yang lain untuk lusa nanti.

Badan yang terasa lelah, perut yang sudah kenyang dengan sepiring nasi, dan sisa lauk makan siang yang diberikan pemilik sawah siang tadi, membuat Bagio bisa tertidur dengan nyenyak malam itu.

***

"Braaaak!" Suatu benda yang rasanya berukuran cukup besar, menghantam atap rumah Bagio, hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring.

Bagio yang terkejut, hingga melompat turun dari atas tempat tidurnya. Apa yang terjadi?

Tidak berapa lama kemudian, terdengar bunyi seolah-olah ada yang berjalan di atas genteng tanah liat, yang menjadi atap rumah Bagio.

Disusul dengan suara ayam yang berkotek, dan suara berisik dari beberapa orang yang berbicara setengah berteriak, di bagian samping dan belakang rumah Bagio.

"Tek, kotek, kotek, koteeek! ... Tek, kotek, kotek, koteeek!"

"Mpeyan nyekel pitik-ee ing kono!"

"Itu, loh! Pitik-ee jalan ke arah sampeyan!"

"Aaaah! Yo wis! Sama-sama saja tangkapnya!"

Di luar, meskipun masih tampak samar-samar, namun cahaya matahari sudah mulai menerangi sebagian kecil pekarangan rumah Bagio, ketika Bagio membuka pintu belakang rumahnya.

Salah seorang anak tetangganya, tampak berdiri di pekarangan rumah, sambil mendongakkan kepalanya, memandangi bagian atas rumah Bagio.

"Ada apa?" tanya Bagio.

"Eh, bang! ... Maaf ngganggu, ya?!" Salah satu remaja laki-laki yang tampak sedikit terkejut melihat keberadaan Bagio di situ, kemudian menunjuk ke arah atap rumah Bagio. "Pitik ibuk e lepas."

Tanpa perlu dimintai pertolongannya, Bagio bergegas ikut turun tangan, membantu anak-anak itu untuk menangkap ayam peliharaan mereka yang lepas, dan kabur ke rumah Bagio.

Setelah melakukan pengejaran yang menguras cukup banyak tenaganya, akhirnya Bagio dan dua rekan satu timnya, berhasil menangkap ayam itu kembali.

"Makasih, bang!" Kedua anak remaja tetangga Bagio itupun berjalan pergi, sambil membawa ayam tangkapan mereka, setelah mengucapkan rasa terima kasih mereka atas bantuan Bagio.

Sekarang ini, matahari sudah menampakkan kemegahannya, dan kalau tidak mau terlambat pergi bekerja, Bagio harus buru-buru pergi ke areal persawahan, tanpa sempat untuk mengisi perutnya dengan makan pagi.

Bagio hanya menikmati segelas air putih kosong, yang sekaligus diminumnya, untuk mengganti keringatnya yang bercucuran gara-gara menangkap ayam tadi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!