Part 3

Fajar yang merekah yang ditandai dengan suara ayam-ayam jantan yang berkokok bersahut-sahutan, waktunya bagi Bagio untuk bangun dan bersiap-siap untuk pergi bekerja di sawah.

Segelas seduhan kopi hitam, sepiring sisa nasi semalam berlauk ikan asin goreng, menjadi sarapan yang lebih dari cukup untuk memberikannya tenaga, agar bisa bekerja menanam padi, sampai ke siang nanti.

Cukup dengan memakai celana pendek dan kaus tanpa lengan, Bagio sudah siap untuk bergulat di lumpur.

Bagio masih sempat memelototi selembar kalender, yang berhiaskan wajah sepasang calon Bupati yang tersenyum lebar di bagian atas angka-angka tanggal dan bulannya, sebelum dia beranjak pergi dari rumahnya.

Masih 5 bulan lagi barulah setoran di pegadaian akan lunas.

Kalau begitu, sudah 4 tahun 7 bulan, Bagio harus bekerja ekstra, namun hasilnya hanya bisa dipakai sedikit untuk membeli kebutuhan harian yang benar-benar penting dan mendesak.

Sampai-sampai pakaian dalamnya pun sudah tipis menerawang, namun Bagio belum bisa membeli yang baru.

Semua hasil kerja kerasnya hanya demi melunaskan hutang berbunga, yang jika ditotal-total jumlah keseluruhannya, lebih dari dua kali lipat dari jumlah hutang yang sebenarnya.

Namun Bagio sama sekali tidak menyesali keputusannya untuk melakukan pinjaman, demi kesehatan kakeknya.

Walaupun kakek dari Bagio akhirnya lelah berjuang dan kembali menghadap Yang Kuasa, tapi Bagio tetap bersyukur, karena dia sudah diizinkan untuk mendapat kesempatan agar bisa berbakti kepada orang yang merawat dan membesarkannya.

Dengan dirinya yang masih terlilit hutang, Bagio jadi tidak bisa terlalu menyalahkan Sarimunah, yang menjadi ragu untuk menikah dengannya.

Wajar saja kalau Sarimunah mungkin merasa khawatir, karena untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri saja Bagio masih kesulitan, apalagi jika harus menanggung biaya berumah tangga.

Sejujurnya, Bagio juga ragu untuk menikah, tapi karena terburu-buru ingin menghapus kesepian yang melanda di setiap hari-harinya, Bagio nekat melamar sang kekasih.

Sudahlah!

Bagio yakin kalau dia sudah jadi orang sukses, maka para wanita dengan sendirinya akan mendekat padanya, dan Bagio tinggal memilihnya saja.

Ketika Bagio berjalan keluar dari rumahnya, rombongan anak-anak muda yang tampak sebaya dengannya, juga terlihat berjalan mendekat dari ujung jalan.

Kelihatannya, anak-anak mahasiswa yang akan melakukan kuliah kerja nyata dengan membantu warga, juga mengarah ke lokasi yang sama dengan Bagio, ke areal persawahan.

Walaupun Bagio tidak mengenal mereka, tapi rasa malu saat melihat penampilan pemuda-pemudi itu, cukup mengganggu harga diri Bagio yang senilai satu lembar uang biru sehari.

Sehingga, tanpa memperdulikan debu yang terangkat di belakangnya, Bagio mempercepat langkahnya, agar tercipta jarak yang semakin jauh antara dirinya dan para rombongan mahasiswa.

***

Setelah berjam-jam, Bagio, Kartono, dan beberapa orang pekerja lain berjalan mundur, akhirnya sebagian besar jumlah bibit padi yang terlentang di pematang sawah, sudah berdiri tegak menantang langit.

Sudah waktunya bagi semua orang yang bekerja bersama-sama menanam padi, untuk istirahat dan menikmati makan siang yang disediakan oleh pemilik sawah.

Cacing di dalam perut Bagio yang kehabisan camilan, sama berisiknya dengan usus dalam perut Kartono, yang sejak tadi dilanda badai petir.

Nasi putih hangat dari gabah padi yang baru digiling, sesendok sayur lodeh, sambal goreng campuran dari tempe, tahu dan ikan teri, masih ditambah lagi dengan sepotong belut bakar, memenuhi piring berbahan logam.

Siapa yang tidak akan mensyukuri berkat Yang Kuasa, jika bisa mengenyangkan perut dengan menu makanan semewah itu?

Kelihatannya, tidak ada satupun dari mereka yang ada di situ yang merasa tidak puas, dan lupa untuk bersyukur pada Tuhannya.

Makanan dengan menu lengkap seperti itu, menjadi salah satu keuntungan bagi Bagio, kalau bekerja di lokasi sawah orang lain, selain dia juga yang bisa segera mendapatkan uang, tanpa perlu menunggu hingga waktu panen tiba.

Itu sebabnya, saat tidak ada yang mendesak yang perlu dikerjakan di lahan sawahnya, Bagio pasti menerima tawaran untuk bekerja di lahan orang lain.

Bukan cuma bekerja di areal persawahan saja.

Bagio juga mau menerima apa saja tawaran kerja serabutan yang disodorkan kepadanya, sehingga Bagio bisa melakukan banyak pekerjaan kasar yang biasa diperlukan di perkampungan.

Menggali sumur baru atau mencuci sumur lama, memetik buah kelapa, membantu tukang untuk pembangunan rumah, buruh angkut, benar-benar apa saja, asalkan ada yang memintanya bekerja, maka Bagio akan mengerjakannya dengan senang hati.

Hasilnya, selain memiliki banyak keahlian untuk pekerjaan kasar serabutan dan mendapatkan uang tambahan, badan Bagio yang tingginya di atas rata-rata pemuda yang seusia dengannya, jadi lebih kekar berotot, lengkap dengan perutnya yang macam roti sobek.

Jika saja Bagio tinggal di kota, maka Bagio dengan postur tubuhnya dan wajah yang mirip-mirip dengan ras Timur Tengah, mungkin Bagio bisa jadi model iklan untuk minuman berprotein tinggi.

Tidak percaya, kalau Bagio sebenarnya berwajah tampan, dan memiliki bentuk tubuh yang bagus?

Mau buktinya? ... Okay!

Matahari masih belum bersembunyi di balik perbukitan di bagian Barat pedesaan, namun Bagio, Kartono, dan beberapa pekerja lain sudah beristirahat di pondok sawah.

Semua bibit yang tadinya masih rebahan santai di pematang sawah, sekarang sudah berdiri tegak dan siap untuk berperang melawan cuaca dan hama pengganggu.

Dua orang pemuda dan seorang pemudi, terlihat berjalan mendekat ke pondok yang menjadi warung kopi gratisan bagi Bagio, Kartono dan buruh harian yang lain.

Bekas lumpur yang hanya dicuci asal-asalan di aliran air irigasi, tidak menghalangi Bagio untuk mendapat perhatian lebih dari pemudi yang membawa kamera foto bersamanya.

Masih kurang yakin? ... Okay, lanjut!

"Selamat Sore! Permisi! Abang-abang! Pakde-pakde!" Salah satu dari pemuda-pemudi yang menghampiri pondok, lantas menyapa para penghuni pondok.

"Selamat sore!"

Bagio dan semua yang bernafas yang disapa barusan, menyahut secara serentak.

"Maaf mengganggu waktunya. Tapi, teman saya ini—" Pemuda itu kemudian menunjuk ke arah pemudi, yang sekarang sedang tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

"... Ingin meminta izin kepada abang—" Pemuda itu, kali ini menunjuk ke arah Bagio.

"... agar bisa dipotret," lanjut pemuda itu, menjelaskan maksud mereka mendatangi pondok sawah itu.

Bagio tidak segera menjawab, melainkan memandangi Kartono dan orang-orang di dalam pondok, yang sekarang sedang menatapnya dengan tatapan heran.

"Nama saya Karenina!" Pemudi yang ingin mengambil gambar Bagio, memperkenalkan diri, sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Bagio.

"Bagio."

Malu-malu karena tangannya yang masih terlihat agak kotor, Bagio menyambut tangan kecil dan halus dari Karenina, lalu ikut menyebutkan namanya sendiri.

"Maafkan saya, bang! ... Kalau abang izinkan, saya ingin sekali agar bisa memotret abang, dengan berlatar belakang persawahan."

Walaupun Karenina berbicara dengan suaranya yang sangat lembut, namun dia tampak sangat yakin dengan apa yang menjadi tujuannya menemui Bagio.

Bagio melihat pakaian, dan tampilan keseluruhan dari dirinya sendiri yang bisa dijangkau oleh matanya, dengan rasa ragu.

"Abang terlihat bagus," ujar Karenina, seolah-olah dia bisa membaca pikiran Bagio.

Terpopuler

Comments

Dul...😇

Dul...😇

realita kehidupan di kampung 👍

2023-03-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!