"Sayang, ayah kamu harus pulang, kalau tidak nanti kamu tidak bisa ketemu lagi sama ayah," ucap Zahra membuat Lika perlahan melepaskan pelukannya
"Tapi aku masih kangen sama ayah," jawabnya sedih
Gadis itu terlihat begitu sedih melihat kepergian Dirga, tentu saja hal itu membuat Dirga juga ikut merasa sedih melihatnya.
Bukan hanya Dirga yang berat meninggalkan putrinya namun juga Zahra ikut bersedih melihat kesedihan di wajah putrinya.
Gading yang juga memperhatikan mereka dari kejauhan segera menghampiri Zalika saat melihat Dirga sudah meninggalkan rumah Zahra.
"Lika emang kangen banget ya sama ayah?" tanya Gading
Zalika langsung mengangguk mengiyakan ucapan Gading.
"Kamu mau peluk papah?"
Lagi-lagi gadis itu mengangguk saat Gading kembali bertanya padanya.
"Kalau gitu kamu boleh kok peluk Om, anggap aja Om ini papah kamu,"
"Memangnya Om mau jadi papahnya Lika?" jawab Zalika balik bertanya
"Mau dong, siapa yang gak mau punya anak pinter dan cantik kaya kamu,"
"Kalau gitu, Om harus tinggal di sini sama Lika,"
"Oh siap," jawab Gading langsung memeluk Zalika
"Gimana kalau Lika sekarang ikut Om jalan-jalan?"
"Kemana?"
"Terserah Lika mau jalan-jalan kemana?"
Zalika terlihat menggaruk-garuk kepalanya, "Gimana kalau kita main ke taman, tapi Om harus gendong Lika di atas pundak," jawab Zalik
"Siap, apapun permintaan tuan putri hamba siap melaksanakannya," Gading kemudian jongkok dan Zalika langsung naik keatas pundaknya.
Mereka kemudian berjalan menuju ke taman kota yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal Zahra.
Kesedihan Zalika membuat Zahra dan Gading berusaha menghibur putrinya dengan mengajaknya bercerita sepanjang jalan.
Gading menghentikan langkahnya di depan kedai es krim. Ia membeli tiga buah eskrim dan melanjutkan perjalanannya menuju ke taman kota. Sepanjang perjalanan Gading mulai bercerita hal-hal lucu hingga membuat Zalika tertawa mendengarnya.
Melihat senyum di wajah putri kecilnya membuat Zahra sedikit lega. Setidaknya Gading berhasil mengusir kegalauan hati Zalika yang merindukan sosok ayahnya.
*******
Siang itu Zalika berusaha menghubungi Dirga, seperti pesan ayahnya ia mencoba menghubunginya karena ia ingin bertemu dengannya.
Namun meskipun berkali-kali ia menghubungi ayahnya, tetap saja Dirga tak menjawab telponnya.
"Ayah bohong, katanya aku bisa menelponnya kapan saja, tapi kenapa ia tak menjawab telpon aku," gerutu Zalika
Gadis kecil itu kemudian terpikirkan untuk menemui Dirga di kantornya.
"Kenapa aku tidak menemui ayah di tempat kerjanya saja, aku yakin dia pasti sedang sibuk makanya dia tak bisa menemui aku. Baiklah kalau begitu aku akan datang ke kantor ayah untuk membantunya," Zalika menghentikan sebuah taksi.
Sebagai anak yang Genius, tidak sulit bagi Zalika untuk menemukan tempat kerja Dirga.
"Kita mau kemana dek?" tanya sopir taksi
"Bahri Group tower," jawab Zalika
Sang sopir mengangguk kemudian memutar mobilnya menuju ke alamat tujuan.
Setibanya di Gedung Bahri Group, Zalika segera turun diikuti oleh sopir taksi yang sengaja mengikutinya karena ia belum membayar ongkos taksinya.
"Bapak nanti minta saja ongkos taksinya sama ayah aku," ucap Zalika setibanya di lobby Gedung
"Memangnya siapa nama ayah kamu?"
"Dirga Bahri,"
Sang Sopir kemudian meminta kepada receptionist untuk memanggil Dirga Bahri agar membayar ongkos taksi putrinya.
Tidak lama Dirga keluar dan tampak terkejut melihat kedatangan putrinya Zalika.
"Ayah!" seru Zalika langsung berlari memeluknya
"Iya sayang, tunggu bentar ya ayah bayar ongkos taksi kamu dulu,"
Selesai membayar ongkos taksi putrinya Dirga langsung mengajak Zalika masuk ke ruangannya.
"Kenapa kamu datang ke kantor ayah, nanti kalau mamah nyari gimana?"
"Aku kangen ayah, lagian aku udah bilang sama Om Gading kalau aku mau ketemu ayah di sini,"
"Om Gading?"
"Iya Om Gading itu temennya mamah, katanya dia mau jadi ayahnya Lika,"
Ada gurat kekecewaan dalam diri Dirga saat mendengar ucapan putrinya.
"Kenapa kamu gak izin sama mamah?"
"Karena mamah pasti gak setuju, dia pasti larang aku ketemu ayah. Tapi kalau Om Gading dia gak pernah marah dia selalu izinin aku kalau mau ketemu ayah asal aku kasih tahu dia," jawab Zalika
Gading, sepertinya aku pernah mendengar nama itu, apa dia lelaki yang sedang dekat dengan Zahra?
Saat keduanya sedang asyik bermain tiba-tiba Merry masuk ke ruangan itu.
Melihat Zalika ada di ruangan itu membuat wanita itu langsung memarahinya.
"Jadi benar yang dikatakan oleh Delia, selama ini kamu ternyata diam-diam menemui anak cacat itu!"
"Ibu tolong jaga bicaramu, bisakah kau memilih kata-kata yang lebih halus saat berbicara dengan putriku. Dia ini anak normal bu bukan cacat!" sahut Dirga
"Normal dari mananya, memangnya ada anak normal yang berperilaku seperti dia. Meskipun ia memiliki banyak prestasi tetap saja tidak akan pernah merubah kodratnya sebagai anak cacat atau anak gak normal!" sahut Merry
"Sekarang cepat usir dia atau aku yang akan menyeretnya keluar dari kantor ini. Aku tidak mau orang-orang tahu kalau dia adalah keturunan keluarga Bahri yang terhormat!" hardik Merry
"Cukup ibu cukup!" seru Dirga begitu kesal dengan perangai ibunya yang selalu mendominasi kehidupannya
"Aku sudah muak dengan semua yang ibu lakukan padaku, aku terpaksa menelantarkan anak dan istriku karena dirimu. Tapi sekarang aku sadar, jika harta tak selamanya membuat hidupku bahagia," ucap Dirga segera menggendong Zalika dan pergi meninggalkan ibunya.
"Dirga tunggu!" seru Merry langsung mengejarnya
"Kalau kau berani meninggalkan gedung ini, maka aku akan mencoret namamu dari kartu keluarga Bahri, aku ingin lihat apa kau bisa hidup tanpa uang dan kedudukan!"
"Ingat Dirga cinta itu hanya sementara, memangnya Zahra akan tetap mencintaimu saat kau tidak mempunyai apa-apa, jangan bodoh pakai otakmu!" seru Merry
Dirga menghentikan langkahnya, saat mendengar ucapan ibunya.
Melihat Dirga berhenti membuat Merry langsung menarik Zalika turun dari gendongan Dirga.
"Hei kamu, dengar aku baik-baik, jangan pernah mendatangi putraku lagi hanya untuk mendapatkan simpati darinya. Asal kau tahu kau ini bukan anaknya. Tidak mungkin kan seorang Dirga Bahri yang begitu sempurna bisa memiliki anak yang gak normal seperti dirimu, jadi jangan temui dia lagi atau aku akan memberikan pelajaran kepada ibumu!" seru wanita itu membuat Zalika seketika menangis tersedu-sedu
"Anak genius seperti dia memang tak pantas menjadi anak seorang pengecut seperti Dirga Bahri. Dan asal anda tahu jika Zalika adalah anak normal, justru yang gak normal itu adalah anda. Bagaimana bisa wanita yang merasa dirinya terhormat tapi tidak bisa memakai bahasa yang benar saat berbicara dengan anak kecil. Seharusnya anda itu mengajari ia perkataan yang bagus bukan malah mencontohkan kata-kata kasar padanya, apa itu normal??" seru Dirga tampak begitu emosi saat melihat Merry memperlakukan Zalika dengan kasar
Ia kemudian menggendong anak itu dan membawanya pergi meninggalkan Bahri tower.
Sementara itu, seorang wartawan diam-diam meliput aksi kejam Merry terhadap cucunya hingga menjadi headline news di semua media online dan televisi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Mariaangelina Yuliana
ada iya seorang nenek modelan kek gitu😡
2024-07-15
1
Ani Ani
siapa lah Kau tengok nasi kau
2024-06-30
0
Shinta Dewiana
kenapa merry yg pegang peranan ya bahri nya kemana....nnk biadap...baguslah dirga msh ada hati tuk anaknya...
2024-05-04
3