Bu Dina tersenyum melihat Zalika yang masih sibuk menggambar saat teman-temannya mulai mengerjakan tugas darinya.
Ia kemudian berjalan menghampirinya dan menyuruhnya mengerjakan tugas. Namun seperti biasa Zalika tak merespon saat seseorang hanya memberikan perintah sekali saja.
Bu Dina kemudian terlihat panik dan sangat kesal saat ia sama sekali tidak di respon oleh gadis kecil itu.
Ia kemudian keluar memanggil Zahra dan mengajaknya masuk kedalam kelas.
"Sekarang ibu lihat sendiri kan kalau Zalika itu gak bisa mendengarkan saya, buktinya sudah saya sudah menjelaskan tugasnya ia masih tak mau mengerjakan tugasnya," ucap Dina
"Tidak bisa begitu dong ibu, Zalika tidak mengerjakan tugas karena tidak mengerti apa yang harus dilakukan, harusnya ibu memberitahunya lebih dahulu," jawab Zahra
"Sudah, aku sudah memberitahukan di depan kelas juga memberitahunya secara pribadi," jawab Dina dengan bangganya
"Benar, tapi dia tidak bisa langsung paham hanya dengan sekali mendengar. Ibu harus mengulang perintah itu sebanyak tiga kali atau lebih, baru dia bisa merespon ibu. Mungkin ibu sering melihat saya berkali-kali menjelaskan kepada Dina saat ia ada tugas dari Anda bukan, nah dengan begitu baru dia akan mengerjakan tugasnya,"
"Cape dong kalau gitu, kan murid saya banyak bukan hanya dia saja. Kalau Ibu maunya kaya gitu ya Lika harus sekolah di sekolah khusus yang muridnya hanya 5 sampai 6 siswa saja," jawab Dina
"Kenapa harus sekolah di SLB kalau putri saya bisa belajar di sekolah umum," jawab Zahra
Ia kemudian segera menyuruh putrinya untuk mengerjakan tugas.
Ia bahkan berhasil membuat Zalika mampu mendapatkan nilai seratus setelah menyelesaikan tugas tersebut.
"Tapi tetap saja Zalika mendapatkan nilai bagus karena anda yang mengajarinya, coba anda tidak mengajarinya pasti dia tidak akan mendapatkan nilai karena mengacuhkannya," seru Dina mencibirnya
"Ok, kalau begitu aku akan menantang ibu untuk bertaruh. Jika Zalika bisa mendapatkan nilai seratus setelah saya tinggal maka aku ingin ibu mulai merubah sikap ibu terhadap putri saya, kedua ibu harus minta maaf kepada Zalika karena selama ini sudah mendiskriminasi kan dirinya. Dan sebaliknya jika Zalika tidak bisa mendapatkan nilai bagus setelah ini, maka saya akan memindahkan Zalika ke sekolah luar biasa jika memang setelah ini tidak ada perubahan dalam diri Zalika!" seru Zahra membuat semua orang langsung terkejut mendengarnya.
Bu dina langsung mengangguk setuju. setelah mendengar tantangan Zahra.
Semoga saja Zalika Keluar dari sini!
Dina terus mendoakan agar Zalika mendapatkan nilai jelek di setiap pelajaran, agar gadis itu segera pindah dari sekolah tersebut.
Sore itu, Zahra sengaja mengajak putrinya berolahraga. Selain ia mengajarkan putrinya bersosialisasi ia berharap dengan melakukan workout di luar akan menguras energi putrinya agar bisa lebih fokus saat ia belajar dengannya.
Benar saja, Zalika terlihat fokus dan tenang saat Zahra mulai memberikan pelajaran tambahan untuknya.
Ia sengaja menggunakan metode pengajaran yang menyenangkan dengan menggunakan alat peraga yang disukai oleh putrinya.
Zalika bahkan mau menyimak video yang ia tayangkan sampai selesai. Hasilnya begitu mencengangkan, Zalika akhirnya mampu menjawab semua pertanyaan yang sudah dipersiapkan Zahra untuk mengukur kemampuan kognitifnya.
"Andai saja Bu Dina menggunakan metode pembelajaran yang menyenangkan, mungkin Zalika dan siswa lainnya akan lebih fokus belajar dan tidak akan jenuh selama pelajaran.
Untuk sementara waktu Zahra menyingkirkan rasa khawatirnya kepada teman-teman Zalika yang mengalami kesulitan belajar. Karena ia ingin fokus mengurus putrinya dulu agar bisa mendapatkan nilai sempurna di semua mata pelajaran.
Pagi Harinya Bu Dina mulai memperhatikan Zalika, ia selalu memberikan pengarahan kepada anak itu saat ia memberikan tugas kepadanya.
Kini Zalika tak lagi bolak-balik memanggil Zahra saat harus mengerjakan tugas darinya.
Bukan tanpa alasan ia tiba-tiba begitu baik dan perhatian dengan Zalika. Ia hanya tidak mau Zahra masuk ke dalam kelas untuk membantunya mengerjakan tugas-tugasnya.
Coba kita lihat kemampuan Lika tanpa ibunya. Aku yakin dia pasti akan mendapatkan nilai jelek jika tidak ada ibunya.
Zahra begitu terharu melihat perhatian Bu Dina hingga menitikkan air mata.
"Alhamdulillah Ya Allah akhirnya Bu Dina mau mengerti keadaan Zalika juga,"
Kini ia bisa lebih tenang dalam mengerjakan tesisnya meskipun sesekali ia tetap melihat keadaan putrinya di dalam kelas. Zahra memang tak lepas tanggung jawab meskipun Bu Dina sudah memintanya untuk tidak menunggunya di sekolah, ia tetap memilih stand by di depan kelas untuk mengawasi putrinya.
Ia takut terjadi sesuatu dengannya, atau ia mendapatkan kesulitan saat belajar.
Bu Dina tidak menyangka jika Zalika benar-benar mendapatkan nilai sempurna meskipun ibunya sudah tak menunggunya di dalam kelas.
Wanita itu kemudian memutar otaknya untuk mengetahui kemampuan sebenarnya Zalika.
"Aku yakin dia hanya kebetulan saja mendapatkan nilai seratus karena siswa lain juga banyak yang mendapatkan nilai seratus,"
Ia kemudian memberikan sebuah tugas lain yang lebih sulit.
Dan kali ini ia sengaja tidak menjelaskan lagi tugasnya kepada Lika. Ia hanya menjelaskan di depan kelas lalu pergi.
Bukan hanya Zalika yang kesulitan mengerjakan tugas darinya, namu. juga siswa lain begitu kesulitan hingga mereka harus bolak-balik keluar kelas hanya untuk bertanya kepadanya.
Tidak lama Bu Dina kembali ke kelas dan menjawab satu persatu pertanyaan siswanya.
Melihat Zalika yang terabaikan saat ia berusaha bertanya membuat Zahra berusaha masuk kelas untuk membantu menjelaskan kepadanya, namun Bu Dina langsung melarangnya.
"Biarkan Zalika belajar mandiri Bu, insya Allah saya akan menjelaskan sama dia, hanya gantian," jawab wanita itu
Ia kemudian menyuruh Zalika untuk duduk dan mengerjakan tugasnya.
Tidak lama ibu kepala sekolah masuk untuk melakukan penilaian mengajar kepada Bu Dina.
Zahra mulai paham kenapa Bu Dina melarangnya masuk, sebagai sesama guru ia tahu jika saat melakukan assessment (penilaian) seorang guru harus fokus mengajar jadi ia tak mau mengganggunya dengan berada di dalam kelas.
Ia terus mengamati gerak-gerik Zalika di dalam kelas selama proses assessment. Ia takut putrinya akan berulah saat Bu Dina melarangnya menggambar dan menyuruhnya memperhatikan ia saat sedang berceramah.
Di luar ekspektasi hari itu Zalika terlihat tenang bahkan mau bertanya saat ada sesi tanya jawab. Tentu saja hal itu membuat kepala sekolah tercengang dengan perkembangan Zalika.
Meskipun sedikit kecewa, tetap saja Bu Dina masih memiliki kartu as untuk menjatuhkan Zalika agar pindah ke SLB, tentu saja dengan nilai tugas hari ini.
Selesai àcara penilaian, ia kemudian mengambil lembar kerja siswa dan mengoreksinya. Tak lupa ia membagikan hasilnya di depan kepala sekolah.
Aku yakin kali ini Zalika pasti dapat nilai jelek,
Namun lagi-lagi Bu Dina harus merasa kecewa saat melihat Zalika mendapatkan nilai seratus di pelajaran matematika.
Padahal aku tak memberitahukan cara mengerjakannya tapi kenapa dia bisa dapat nilai seratus, padahal teman-temannya tidak satupun yang mendapatkan nilai seratus.
Kini wanita itu harus bersiap meminta maaf kepada Zalika dan Zahra karena sudah memperlakukannya dengan tidak adil selama ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Uthie
Makanya sadar diri anda sbg Guru yg harusnya jadi Teladan yg baik...bukan malah guru Julid dan diskriminatif 😡😡
2024-09-21
0
Sabaku No Gaara
kudu wajib harus mesti itu minta maaf
2024-08-11
0
Ani Ani
Kau mamg patut mintak maaf
2024-06-30
1