Sepulang dari sekolah Zahra, langsung membuat rencana pembelajaran untuk mengajar di kelas Zalika. Ia sengaja memilih media pembelajaran yang ringan dan menyenangkan.
Meskipun Zahra belum pernah mengajar siswa Sekolah Dasar, namun ia berusaha membuat rencana pembelajaran yang menyenangkan untuk anak-anak sekolah dasar. Ia bahkan mencari tahu metode pembelajaran yang sesuai untuk anak-anak berkebutuhan khusus seperti putrinya. Agar Zalika mau fokus mengikuti pelajaran saat ia mengajar nanti.
Meskipun ini adalah pengalaman pertamanya mengajar anak SD namun ia sangat optimis.
Pagi itu semua wali murid yang penasaran berkumpul di depan kelas sengaja ingin menyaksikan bagaimana Zahra mengajar di kelas.
Mereka langsung berbisik-bisik saat melihat kedatangan Zahra dan Zalika.
"Sombong sekali dia, aku penasaran apa ia benar-benar bisa mengajar lebih baik daripada Bu Jessi."
"Kita lihat saja, apa dia masih berani mendongakkan kepalanya setelah mengajar nanti,"
Bell tanda masuk berdering keras membuat anak-anak langsung berlarian masuk ke kelasnya masing-masing.
Zahra mengambil nafas sejenak sebelum ia memulai pelajaran.
"Selamat pagi anak-anak?"
"Pagi,"
"Perkenalkan nama Ibu Zahra, hari ini ibu akan menggantikan Bu Jessi mengajar di kelas kalian, apa kalian sudah siap belajar?" tanya Zahra
"Siap!"
"Ok, kalau begitu yuk ketua kelas pimpin doa dulu,"
Seorang ketua kelas kemudian memimpin doa untuk memulai kegiatan pembelajaran hari itu. Selesai berdoa, Zahra kemudian melakukan ice breaking sebelum memulai pelajaran. Anak-anak terlihat begitu antusias saat mengikuti gerakan yang di pandu oleh Zahra.
Selesai melakukan ice breaking tak lupa ia memberikan motivasi dan penguatan agar para siswa bersemangat dalam belajar.
Ia kemudian memutarkan sebuah video sebagai pengantar pembelajaran hari itu. Semua siswa terlihat antusias saat mengamati video pembelajaran tersebut.
Bahkan mereka begitu antusias hingga sesi pembelajaran berikutnya mereka terlihat begitu aktif dalam sesi tanya jawab.
Bu Jessi begitu tercengang melihat semua siswanya begitu fokus saat melihat Zahra memaparkan tujuan pembelajaran hari itu.
Berbekal pengalaman mengajarnya ia akhirnya berhasil mengajar di kelas Zalika.
Tidak seorangpun siswa yang tidak mendengarkan ia, saat sedang mengajar termasuk Zalika.
Zalika yang biasanya sibuk menggambar pun tampak antusias menyimak penjelasan darinya. Rafiq yang biasanya selalu jalan-jalan juga tampak tenang duduk di kursinya.
Dilan yang biasanya selalu tak bisa mengerjakan tugas-tugasnya hari itu berhasil menyelesaikan tugasnya meskipun tidak mendapatkan nilai sempurna.
Bukan hanya Bu Jessi yang tercengang melihat bagaimana Zahra mengajar bahkan kepala sekolah tak percaya melihat kemampuan mengajar wanita itu
Bahkan anak-anak tetap masih mau belajar meskipun bel pulang sudah berdering.
"Bu Zahra besok ngajar lagi kan?" tanya seorang siswa
"Tidak sayang, kan Ibu hanya menggantikan Bu Jessi hari ini saja,"
"Kenapa bukan Bu Zahra aja yang ngajarin kita. Aku lebih suka belajar sama Ibu karena ibu pakai video jadi aku gak ngantuk,"
"Iya, kalau Ibu saat kami tanya langsung jawab, tapi kalai bu Jessi kami dicuekin saat nanya, makanya aku suka males kalau di suruh ngerjain tugasnya,"
"Bagaimanapun cara Ibu Jessi mengajar tetap saja kalian harus patuh dan hormat sama beliau. Dengarkan saat Beliau sedang menjelaskan dan kerjakan semua tugas yang diberikan olehnya, baru itu namanya murid yang budiman. Apa kalian paham?"
"Paham Bu!"
"Baiklah, kalai begitu sekarang kita siap-siap pulang yuk,"
Selesai mengajar Ibu kepala sekolah memanggil Zahra ke ruangannya.
Wanita itu tahu betul jika Zahra pasti seorang guru. Karena tidak mungkin ibu rumah tangga biasa bisa mengajar sebaik itu.
"Kalau boleh tahu dulu ibu mengajar dimana?" tanya kepala sekolah membuka obrolan
"Saya mengajar di sekolah swasta Bu," jawab Zahra
"Kenapa berhenti?"
"Karena anak saya membutuhkan perhatian lebih dari saya, sedangkan saya seorang single parents jadi ya terpaksa saya memilih berhenti demi merawat anak saya,"
"Wah mulia sekali hati ibu, apa anda ada keinginan mengajar lagi?" tanya kepala Sekolah
"Sebenarnya ada sih bu, hanya saja saya belum bisa melepaskan putriku, jadi mungkin saya akan mengajar lagi jika ia benar-benar bisa dilepas sendiri,"
"Memangnya dia sudah menjalani terapi?"
"Alhamdulillah sudah bu, semoga saja tahun ini ia bisa lulus jadi tidak perlu terapi lagi."
"Aamiin, kalau ibu berniat mengajar lagi, bisa hubungi saya. Kebetulan saya sangat tertarik dengan kemampuan mengajar ibu yang menarik dan tidak membosankan,"
"Kalau masalah gaya mengajar sebenarnya semua guru bisa menjadi guru yang menarik, tinggal bagaimana mereka mau tidak melakukannya. Karena menjadi seorang guru yang menarik itu perlu persiapan, perencanaan, jadi tidak asal mengajar. Maaf kalau saya terlalu banyak bicara," ucap Zahra
"Yang anda katakan semuanya benar Bu, dan saya suka guru yang terus terang seperti anda,"
Setelah Zahra pergi, kepala sekolah kemudian iseng-iseng mencari tahu tentang Zahra untuk menjawab rasa penasarannya terhadap wanita itu.
Ia sangat terkejut saat tahu jika Zahra adalah guru terbaik se Jakarta.
"Pantas saja ia begitu menguasai kelas, ternyata dia adalah guru terbaik di Jakarta. Bagaimana ia bisa begitu rapi menyembunyikan identitasnya, bahkan ia tak pernah menyombongkan dirinya apalagi membanggakan dirinya di depan orang lain??"
Setelah kejadian hari itu, Bu Jessi langsung bersikap baik kepada Zahra. Ia bahkan mau memperhatikan Zalika saat belajar.
Berkat Zahra wanita itu mulai sadar jika penting menjadi guru yang menarik agar siswa-siswanya respek terhadap dirinya.
Kini para wali murid yang biasanya nyinyir mulai diam dan tidak mempermasalahkan tentang Zalika.
Zahra mulai lega saat semua teman-temannya mulai menerima putrinya. Mereka bahkan mau bermain dengannya saat istirahat.
Keberhasilannya dalam mempengaruhi paradigma teman-teman Zalika untuk menerimanya membawa Zahra berhasil mendapatkan predikat cumlaude dalam sidang tesisnya.
Ia berhasil menyingkirkan Delia yang merupakan rival sekaligus mantan sahabat karibnya.
Wanita itu begitu kesal saat melihat Zahra mendapatkan penghargaan atas tesisnya yang berhasil menjadi tesis terbaik di angkatannya.
Nama Zahra bahkan di ukir di prasasti kampus.
Bukan hanya tesisnya yang berhasil mendapatkan penghargaan. Bahkan buku hasil karyanya menjadi buku best seller dengan penjualan tertinggi mengalahkan buku-buku dari penerbit ternama.
Zahra bahkan diundang oleh sebuah media untuk berbagi pengalaman bagaimana cara menangani anak berkebutuhan khusus.
Kemunculan Zahra di beberapa media membuat Delia semakin kesal, belum lagi Merry yang mulai membanding-bandingkan dirinya dengan zahra.
Karena begitu kesal ia sengaja mendatangi kediaman Zahra dan diam-diam membakar rumah itu saat semua orang terlelap.
Beruntung satpam komplek dan warga lainnya berhasil menyelamatkan Zahra dan Zalika dari kebakaran di rumahannya.
Karena rumahnya hangus terbakar membuat Gading memintanya untuk menempati apartemennya.
Zahra yang terpaksa menerimanya karena tak punya pilihan lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Eka Novariani
penyakit iri delia suatu saat akan membakar dirinya sendiri.
2024-11-17
0
Uthie
liat aja.. orang jahat selalu akan terima Karmanya 😡😡😡
2024-09-21
0
Sabaku No Gaara
tunggu akhir mu💣💣💣
2024-08-11
0