Semua siswa tampak tenang dan antusias saat mengerjakan ujian akhir sekolah hari ini.
Sama dengan yang lainnya hari itu Zalika juga tampak antusias mengerjakan soal ujiannya.
Zahra tersenyum senang melihat anaknya bisa mengerjakan ujian tanpa bertanya lagi padanya.
Tidak butuh waktu lama, Zalika mampu menjawab soal-soal ujiannya hanya dalam waktu kurang dari setengah jam.
Bu Dina memeriksa jawaban Lika,
Dia benar-benar anak yang genius, meskipun dia tidak memperhatikan saat aku sedang menjelaskan, tapi semuanya terekam baik dalam memorinya.
Dina terus memandangi Zalika yang kembali menggambar setelah selesai mengerjakan soal ujiannya.
Hari pertama ujian akhir semester berhasil di lalui Zalika dengan baik. Zahra kemudian mempersiapkan hari kedua dengan kembali memberi latihan kepada Zalika setelah pulang sekolah.
Selesai belajar di rumah Zahra mengajak putrinya jalan-jalan ke taman untuk mencari udara segar.
Hari itu ada beberapa mahasiswa yang sengaja memberikan fasilitas mewarnai gambar gratis untuk anak-anak pengunjung taman.
Zalika langsung berlari ke stand tersebut dan meminta untuk ikut mewarnai.
Gadis itu begitu bersemangat hingga mewarnai banyak gambar. Karena bosan mewarnai ia kemudian meminta sebuah kertas kosong dan mulai menggambar.
Melihat gambar Zalika yang tak beraturan membuat Zahra menyuruh anaknya berhenti menggambar dan memberinya buku bacaan. Namun Zalika tidak mau.
Gadis kecil itu justru marah dan mengamuk saat Zahra kembali memintanya untuk membaca buku.
Zalika yang mulai menarik kerudung ibunya dan terus memukulinya hingga menggigitnya. Zalika yang mulai tantrum membuat Zahra sedikit kewalahan menghadapinya.
Semua pengunjung taman menatap kearahnya, Zahra kemudian melakukan tindakan yang sudah dipelajarinya dari para terapis saat menghadapi Zalika yang sedang tantrum.
Meskipun banyak yang mencibirnya karena terlalu kejam, ia tak perduli. Baginya itu adalah cara yang tepat dan tidak melukai putrinya secara fisik ataupun psikis meskipun secara kasat mata terlihat sedikit kejam.
Setelah memiting Zalika, Zahra kemudian menenangkan putrinya dengan memberinya segelas air putih dan mencoba menasihatinya.
"Sayang kalau main di tempat umum itu harus gantian ya, kan kasian teman-teman yang lain tidak kebagian kertas buat gambar atau mewarnai kalau Lika mewarnai semuanya. Jadi harus gantian, jangan semua diwarnai, ok?"
Lika mengangguk menanggapi ucapan ibunya.
"Lika malu gak dilihatin banyak orang?" tanya Zahra
"Malu??"
"Kalau malu gak boleh ngamuk lagi kalau lagi main di taman,"
"Iya," jawab Lika singkat
"Lika sayang gak sama mamah?"
"Sayang,"
"Kalau sayang Lika boleh gak mukulin mamah, gigitin mamah?"
Zalika langsung menggelengkan kepalanya.
"Sekarang kalau Lika lagi marah tidak boleh mukulin mamah ya, apalagi gigitin mamah kecuali Lika gak sayang sama mamah, kan kasian mamah mamahnya kesakitan, tuh lihat tangan mamah sampai biru digigit Lika," Zahra memperlihatkan tangannya yang lebam karena digigit oleh putrinya
Zalika kemudian mengusap tangan itu dan meniupnya.
"Kalau Lika berbuat salah harus minta...."
"Maaf,"
"Good, sekarang ayo minta maaf sama mamah," ucap Zahra meminta putrinya untuk meminta maaf
"Mamah maafin Lika," ucap gadis kecil itu
"Iya sayang mamah maafin, tapi jangan diulangi lagi ya?"
Lika langsung mengangguk merespon ucapnya.
Zahra kemudian memeluknya erat, "Anak pintar," ucapnya kemudian mencium pipi putrinya dengan gemas
"Ade suka gambar ya," Tiba-tiba seorang pria paruh baya menghampiri mereka
Lika hanya diam mematung, melihat anaknya tak merespon ucap pria itu Zahra kemudian memancingnya agar mau merespon, "Sayang, om nanya kamu suka menggambar atau tidak?" tanya Zahra
"Suka,"
"Jawabnya ke omnya ya sayang bukan ke mamah,"
"Suka," jawab Zalika menatap lelaki itu
"Mau gak menggambar sama Om?" tanya pria itu
Zalika langsung mengangguk,
Pria itu kemudian memberikan sebuah papan lukis lengkap dengan kuas dan juga cat airnya.
"Sekarang kamu boleh menggambar apapun di kanvas ini," ucap pria itu dengan wajah berseri-seri
"Bilang apa sayang sama Omnya," ucap Zahra
"Makasih,"
"Sama-sama nak,"
Zalika kemudian mulai menggambar dengan imajinasinya.
Melihat Zalika mulai mencorat-coret papan lukisnya membuat Zahra berusaha mengarahkan putrinya menggambar sesuatu yang berbentuk.
"Lika bisa kan gambar bunga atau pemandangan di taman?" tanya Zahra membuat Lika langsung mengangguk
"Kalau begitu kamu bisa kan gambar bunga atau pemandangan di taman, gambar kupu-kupu atau binatang lain yang ada di sini juga boleh, yang penting jangan gambar yang gak jelas. Sayang kan kalau kanvas sebagus ini hanya kamu corat-coret. Lagian Omnya pasti mau kamu melihat gambar Lika yang bagus, jadi...bisa kan Lika gambar yang lain?" ucap Zahra
"Iya," jawab Lika kembali mencorat-coret papan lukisnya
"Tidak apa-apa Ibu, saya lebih suka bila dia menggambar sesuatu sesuai dengan imajinasinya daripada menggambar sesuatu yang biasa seperti bunga, rumah, binatang, atau benda-benda lain yang biasa digambar anak-anak pada umumnya. Dengan begitu putri ibu akan memiliki ciri khas dalam menggambar dan bisa membentuk karakternya," ucap pria itu
"Iya sih pak, tapi anak saya berbeda pak, jadu jangan kecewa jika nanti hasil gambarnya tidak sesuai imajinasi anda," jawab Zahra
"Justru karena saya melihat anak anda berbeda membuat saya tertarik untuk melihat hasil karyanya. Sebenarnya dari tadi saya memperhatikan dia saat menggambar di stand mahasiswa saya, dan saya lihat gambarnya unik, jadi saya ingin melihat gambarnya lebih detail dengan kanvas itu,"
"Alhamdulillah kalau anda mengerti keadaan putriku," jawab Zahra
Pria itu kemudian mendekati Zalika dan mengamati hasil lukisannya.
"Maaf ya pak kalau hasilnya jelek," ucap Zahra
Zalika yang sudah selesai melukis memberikan hasil lukisannya kepada pria itu.
"Siapa bilang ini lukisan jelek, ini adalah lukisan abstrak terbaik yang pernah saya lihat," jawab Pria itu
"Kamu menggambar apa nak?" tanyanya mendekati Zalika
"Mamah," jawabnya singkat
Ia kemudian menanyakan lagi makna warna-warna yang anak itu tuangkan dalam kanvasnya. Zalika menunjuk warna merah kemudian mengekspresikan raut wajah marah.
Pria itu kemudian menjelaskan makna gambar yang dilukis oleh Zalika kepada Zahra. Wanita itu begitu tersentuh saat mengetahui ternyata putrinya selalu memperhatikan gerak-geriknya selama ini.
"Dia mengekspresikan perasaan anda selama ini saat bersamanya, mulai dari sedih, marah, senang, bahkan khawatir,"
"Tidak aku sangka kamu tahu kalau mamah sangat mengkhawatirkan mu saat ia berada di sekolah?"
"Kalau anda tidak keberatan, silakan datang ke sanggar seni lukis saya. Kebetulan saya juga mengajar seni lukis dan putri anda boleh bergabung jika mau. Saya melihat bakat menulisnya sangat besar, bahkan karya seni lukis abstrak ekspresionis ini masih jarang, jadi sayang kalau tidak di kembangkan," ucap pria itu kemudian memberikan kartu namanya
"Jangan khawatir, aku akan memberikan les gratis untuk putri anda. Untuk lukisannya boleh saya bawa untuk dipamerkan di galeri seni lukis saya?. Kebetulan nanti malam saya akan mengadakan pameran seni lukis di galeri saya, kalau ibu mau datang silakan," imbuhnya
"Silakan saja kalau anda ingin membawanya, Insya Allah saya datang ke pameran anda, dan terimakasih sudah memberitahuku tentang bakat putriku,"
"Sama-sama Bu,"
Malam Harinya Zahra mendatangi pameran seni lukis Heru Laksono, Yang merupakan salah seorang dosen seni lukis di sebuah universitas ternama di Jakarta.
Zahra bahkan tak mampu menyembunyikan rasa bangga sekaligus terharu saat Heru memberitahukan kepadanya jika lukisan Zalika di tawar dua ratus juta oleh seorang kolektor lukisan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Lilik Rudiati
kerreeeen❤️👍👍👍
2024-11-18
0
Uthie
Kereeennnnn 👍👍👍👍👍😏
2024-09-21
0
Sabaku No Gaara
WAOW!!!
2024-08-11
0