Hari berikutnya Zahra benar-benar menepati janjinya. Ia berusaha tidak menunggu putrinya di dalam kelas lagi. Meskipun penuh perjuangan karena harus memenangkan putri kecilnya yang tak mau di tinggal, dengan kesabarannya ia mampu meyakinkan Zalika untuk belajar sendiri tanpa ia ada di dalam kelas.
Zalika akhirnya mau ditinggal, dan Zahra hanya mengawasinya dari depan kelas.
Zalika terlihat tak mendengarkan saat Bu Dina menyampaikan materi pelajaran membuat wanita itu kesal dan mendatangi Zahra.
"Katanya dia sudah bisa mengikuti pelajaran tapi kenapa ia masih saja sibuk menggambar dan tak mau mendengarkan saya menyampaikan materi pelajaran!" protes, Dina
"Ia bahkan tak mau ikut mengaji dan menyanyikan lagu Indonesia Raya saat pembiasaan kelas," imbuhnya
"Ibu yang namanya perubahan itu step dari step, tidak ada bayi yang lahir langsung bisa berjalan. Ia akan belajar merangkak dulu, belajar merambat, di titah baru kemudian berjalan. Sama seperti Lika, dia tak bisa langsung bisa mengikuti pelajaran sama seperti teman-temannya karena dia spesial. Dia sudah bisa tenang saja itu sudah merupakan kemajuan Ibu, jadi jangan langsung meminta dia untuk memperhatikan ibu. Jadi beri waktu buat Lika untuk berkembang lagi, aku janji suatu saat ia pasti akan sama dengan siswa lainnya yang mau mendengarkan ibu menyampaikan materi," terang Zahra
Dina kemudian kembali ke kelas dan mulai memberikan tugas kepada para siswa.
Lagi-lagi ia hanya menyampaikan tugas secara lisan tanpa memberikan detail perintahnya, tentu saja hal itu membuat Zalika tetap asyik menggambar di saat siswa lain sudah mulai mengerjakan tugas dari Bu Dina.
Seperti biasa Bu Dina tidak mau memberikan penjelasan kepada Zalika yang memang belum bisa memahami perintah. Ia lebih sibuk memainkan ponselnya dan sesekali menjawab pertanyaan para siswa yang mendatangi mejanya.
Ia memang enggan beranjak dari kursinya sehingga membuat para siswa harus bolak-balik untuk bertanya kepadanya.
Melihat putrinya di abaikan, Zahra kembali masuk ke dalam kelas, ia kemudian memberitahukan kepada Zalika untuk segera mengerjakan tugas dari Bu Dina. Tanpa ia menjelaskan Zalika langsung tahu apa yang harus dikerjakan hanya dengan membaca perintah dari buku modulnya.
Zahra tersenyum bahagia saat tahu putrinya ternyata anak yang pandai, meskipun tanpa arahan dari gurunya, atau mendengarkan penjelasan darinya ia bahkan mampu mengerjakan dengan cepat dan benar semua.
Bu Dina terkejut saat melihat hasil pekerjaan Zalika, meskipun ia tahu kali ini Lika mengerjakan sendiri tanpa bantuan Zahra tetap saja ia tak memberikan apresiasi atas prestasinya.
Berbeda saat siswa lain yang mendapatkan nilai seratus ia Langsung memujinya dan membanggakannya di depan kelas.
"Sabat ya nak, suatu hari nanti dunia akan tahu kalau kamu anak berbakat dan mengakui kehebatan mu," ucap Zahra mengusap air matanya
Baginya ia sudah terbiasa melihat perlakuan diskriminatif orang-orang sekiranya terhadap putrinya. Namun ia tak mau memperlihatkan kesedihannya saat melihat hal itu tepat di depan matanya.
Saat jam istirahat tiba, semua siswa berhamburan keluar menuju ke kantin sekolah. Hanya Zalika satu-satunya yang tetap di kelas dan masih asyik menggambar.
"Kamu gambar apa si sayang, kok kayaknya asyik bener sampai gak mau istirahat?" sapa Zahra mendekati putrinya
Zalika hanya diam tanpa merespon, ia memang tidak bisa langsung merespon setiap ucapan dari lawan bicaranya butuh beberapa kali bertanya agar gadis kecil itu mau merespon pertanyaannya.
"Sayang, kamu lagi gambar apa?" tanya Zahra lagi mencoba memancing reaksinya
"Sayang denger mamah gak?"
Zalika mengangguk.
"Kamu lagi gambar apa?" tanya Zahra lagi
"Game," jawabnya singkat
"Game apa?"
"Game," jawabnya lagi
"Kamu gak mau makan atau jajan?"
"Mau,"
"Kalau gitu berhenti menggambar terus cuci tangan,"
Zalika langsung berlari meninggalkan Zahra untuk mencuci tangannya. Tentu saha Zahra langsung mengejarnya karena takut terjadi apa-apa dengan putrinya.
Melihat banyak teman-temannya mengantri untuk cuci tangan membuat Zalika pergi meninggalkan tempat itu.
"Mau kemana nak, kalau mau cuci tangan di sini!" seru Zahra berusaha menghentikannya
Namun Zalika berlari begitu cepat hingga ia kesulitan mengejarnya. Gadis kecil itu kemudian berhenti di depan ruang guru dan langsung mencuci tangannya di wastafel depan ruang guru.
Dengan nafas terengah-engah Zahra mulai paham kenapa Zalika berlari meninggalkan tempat itu.
Ternyata gadis itu mencari tempat yang sepi dimana di tidak perlu mengantri untuk cuci tangan.
"Subhanallah, ternyata kamu memiliki inisiatif yang luar biasa. Bahkan teman-teman kamu tak terpikirkan untuk mencuci tangan di sini, tapi kamu sudah tahu bagaimana caranya bisa cuci tangan tanpa harus mengantre. Kamu benar-benar genius," ucap Zahra memujinya
setelah selesai mencuci tangannya, Zalika kembali ke kelasnya dan mulai memakan kudapannya.
Bu Dina yang melihat Zalika hanya memakan Snack langsung menghampirinya.
"Bukannya anak seperti dia gak boleh makanan ringan kaya gitu ya, kok dia tetap makan sih. Lagipula kan harusnya dia bawa bekal nasi biar sehat," ucap Bu Dina
"Benar Bu, memang Lika gak boleh makan Snack sembarangan. Ia hanya boleh makan snack yang tidak mengandung terigu atau gluten. Kalau yg ia makan ini kripik singkong sama kentang jadi aman kok. Selain itu alasannya kenapa saya tidak membekalinya nasi karena anak saya sedang diet bu. Dia sudah sarapan dari rumah jadi saya rasa dia gak perlu makan berat lagi karena bisa berpengaruh kepada tenaganya yang bisa berkali-kali lipat dan itu bisa mengganggu konsentrasi belajarnya, jadi sekali lagi maaf bukan karena saya tak mendengarkan perintah ibu untuk membawa nasi tapi karena saya tidak mau membuat anak saya terlalu aktif di kelas itu saja bu," jawab Zahra membuat Bu Dina paham
Selesai makan Zahra kemudian mengajak putrinya untuk keluar bermain. Ia ingin mengajarkan putrinya untuk bersosialisasi. Meskipun Zalika terlihat tak mau berbaur ia tetap menyuruhnya untuk bermain.
Ia kemudian memilih untuk bermain ayunan. Zahra kemudian menjaga putrinya saat ia asyik bermain ayunan. Seorang siswa kemudian menghampirinya dan menemaninya bermain.
Tidak lama beberapa siswa datang dan berebut ayunan. Zahra sudah memperingatkan untuk mengantri tapi mereka tetap berebut, hingga membuat seorang siswa terjatuh dari ayunan saat bermain. Para wali murid menyalahkan Zalika, dan menuntut agar ia dikeluarkan dari sekolah.
Zahra yang tidak terima dengan tuduhan itu, bagaimana mungkin Zalika yang duduk tenang di ayunan bisa menjatuhkan temannya. Karena tuduhan yang tak masuk akal membuat Zahra membela putrinya mati-matian. Ia bahkan menantang balik wali murid yang menuduh putrinya ke kantor polisi.
"Kalau kau benar-benar mempunyai bukti jika Lika yang sudah menjatuhkan anak itu ayo sekarang kita ke kantor polisi!" tantang Zahra
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Uthie
Sebenarnya Guru... jika ia sangat menghargai muridnya.. dan TDK berlaku diskriminatif terhadap murid-murid nya, maka yakin lah.. ia akan selalu diingat oleh murid nya suatu saat nanti 👍👍👍
Apalagi jika si murid jadi orang yg Sukses.... maka yg akan selalu dikenang adalah guru yg bisa menghargai dirinya dulu disaat mkn ada teman-teman nya yg diskriminatif kepadanya 👍👍👍👍
2024-09-21
0
Ani Ani
susah betul nak betul kan hidup
2024-06-30
1
Ayannawidara
ini bu dina g patut jdi guru ya.. pecat sja dy.. guru g bijaksana nihh
2024-06-21
0