Zahra mulai mengembangkan talenta putrinya. Sedikit demi sedikit ia mulai menggali kemampuan yang dimiliki oleh putrinya. Karena ia bisa melihat langsung saat ia belajar di sekolah membuat wanita itu lebih mudah menemukan bakat dan kegemaran putrinya.
Mulai dari hobinya menggambar, kesukaannya pada olahraga lari dan kelebihannya pada bidang study matematika dan bahasa Inggris.
Ia mulai memperdalam pelajaran Matematika dan mulai aktif mengajaknya berbicara bahasa Inggris untuk mengembangkan kemampuan bahasanya.
Sedangkan untuk menggambar, ia selalu memberikan media pembelajaran yang menarik agar putrinya bisa mengasah bakat gambarnya.
Kalau untuk bakat olahraga ia mempercayakan kepada guru olahraganya. Kebetulan guru olahraga Zalika begitu care terhadap putrinya.
Ia sudah mulai senang karena Zalika sudah mulai ada perubahan saat di dalam kelas. Ia mulai tenang dan bisa mengikuti pelajaran meskipun masih belum fokus saat gurunya menyampaikan pelajaran.
Melihat putrinya sudah mulai ada perubahan, Zahra perlahan mulai melepas putrinya agar bisa belajar Mandiri tanpanya. Meskipun ia sudah tak mengawasi di dalam kelas ia masih stand by di luar kelas meskipun sambil mengerjakan tesisnya.
Ia merasa bahagia saat tahu jika putra kecilnya mulai mengalami peningkatan. Karena itu menandakan perjuangannya tidak sia-sia mengajarinya selama ini. Secara tidak langsung Tuhan sudah mengabulkan semua permohonannya selama ini. Zahra berjanji akan terus mencatat setiap perkembangan putrinya agar ia bisa melakukan feed back kepada Zalika.
Meskipun ia harus bolak-balik ke kelas karena putrinya selalu menghampirinya saat ia kesulitan namun Zahra tak pernah mengeluh. Ia malah semakin bersemangat karena itu menandakan respon putrinya yang mulai membaik.
Karena kesibukannya mengerjakan Tesis, dan keinginannya membuat Zalika mandiri membuat gadis kecil itu mengalami penurunan nilai akademiknya.
Bu Dina sengaja menggunakan momen penurunan prestasi akademik Zalika untuk menekan Zahra agar memindahkan putrinya ke sekolah Luar Biasa (SLB).
Zahra yang merasa Zalika semakin berkembang saat di rumah maupun di tempat terapi, ia malah sedikit kecewa saat melihat putrinya Justru tak berkembang di Sekolahnya. Ia lebih sibuk menggambar daripada mengerjakan tugas dari Bu Dina.
Bukan hanya tak mengerjakan tugas, Bu Dina semakin marah karena Zalika tak pernah mau sekalipun mendengarkan saat ia berceramah.
Seperti hari ini Bu Dina Terlihat duduk di bangkunya sambil menjelaskan materi pelajaran. Selesai menerangkan materi wanita itu kemudian meminta anak-anak untuk mengerjakan latihan soal yang ada di buku modul.
Beberapa orang siswa tampak mendatanginya untuk bertanya cara mengerjakan soal tersebut.
Karena hampir semua siswa bertanya, ia kemudian menyuruh mereka untuk duduk kembali dan menjelaskan cara mengerjakannya di papan tulis.
"Apa sekarang kalian sudah paham!" seru wanita itu
"Paham Bu!" sahut para siswa serentak
Bu Dina langsung duduk kembali setelah memberikan penjelasan. Wanita itu hanya melirik kearah Zalika yang masih sibuk menggambar tanpa mau memberitahu tugas yang harus ia kerjakan.
Melihat Hal itu Zahra hanya mengelus dada, ia sengaja tak masuk ke kelas karena ingin melihat bagaimana reaksi Bu Dina saat Zalika tak mengerjakan tugasnya.
Tidak lama Bu Dina berkeliling untuk memeriksa tugas para siswa. Saat melihat Zalika masih sibuk menggambar, ia segera keluar untuk memanggil Zahra. Ia kemudian memberitahunya jika Zalika tak mau mengerjakan tugas darinya.
"Lihat saj tuh Bu, masa Lika lebih malah sibuk menggambar daripada mengerjakan tugas dari saya, padahal saya sudah menerangkan caranya di depan kelas!" tutur Bu Dina dengan nada tinggi
"Bagaimana Zalika mau mengerjakan tugas jika Ibu tak memberitahunya. Ibu...jika anak yang lain saja masih bertanya saat ibu memberikan tugas bagaimana dengan Zalika. Dia itu anak berkebutuhan khusus yang harus mendapatkan perhatian lebih dari siswa lainnya. Jadi kalau ibu mau Zalika mengerjakan semua tugas yang ibu berikan padanya, maka ibu juga harus memberitahunya lagi secara pribadi bukan klasikal. Seperti yang sudah saya ucapkan sebelumnya kalau tidak ada bayi yang bisa langsung berjalan. Mereka harus belajar merangkak dulu, merambat, di titah baru jalan. Sama dengan Zalika, ia tidak bisa langsung bisa memperhatikan ibu saat mengajar atau mengerjakan tugas-tugas dari ibu, karena semuanya perlu proses. Jadi beritahu dia jika ada tugas, bukan hanya menyampaikan di depan kelas tapi ibu perlu memberitahu Zalika lagi dengan lebih detail, karena di hanya akan mengerjakan tugas jika sudah diberitahu beberapa kali Bu. Jadi jangan pernah mencoba mendiamkan atau mengabaikan dia karena dia baru bisa paham setelah kita menjelaskannya beberapa kali. Itulah kenapa Zalika sering keluar dari kelas selama ini, dia hanya minta saya menjelaskan tentang bagaimana cara mengerjakan tugasnya karena ia tak tahu cara mengerjakannya. Pasti Ibu bertanya, kenapa dia tidak bertanya kepada Ibu???, karen ia tahu ibu tidak akan menjelaskan kepadanya. Sekarang saya mohon bantuan dari anda untuk membantu saya dalam menjadikan Zalika mandiri," ucap Zahra menjelaskan panjang lebar
Dina hanya diam mematung mendengarkan ucapan Zahra.
Memang selama ini Bu Dina selalu mengacuhkan Zalika. Ia tak pernah berusaha menjelaskan kembali tugas yang diberikannya kepada Zalika.
Namun tetap saja diperlukan kesabaran ekstra untuk mengajari Zalika.
Dan Bu Dina bukanlah tipe orang yang sabar dalam mengajari Zalika.
Karena kewalahan menghadapi sikap Zalika kemudian meminta Zahra untuk memindahkan Zalika ke sekolah luar biasa.
"Sekarang ibu lihat sendiri kan kalau Zalika itu gak bisa mendengarkan saya, buktinya sudah saya sudah menjelaskan tugasnya ia masih tak mau mengerjakan tugasnya," ucap Dina
"Tidak bisa begitu dong ibu, Zalika tidak mengerjakan tugas karena tidak mengerti apa yang harus dilakukan," jawab Zahra
Ia kemudian segera menyuruh putrinya untuk mengerjakan tugas.
Ia bahkan berhasil membuat Zalika mampu mendapatkan nilai seratus setelah menyelesaikan tugas tersebut.
"Tapi tetap saja Zalika mendapatkan nilai bagus karena anda yang mengajarinya, coba anda tidak mengajarinya pasti dia tidak akan mendapatkan nilai karena mengacuhkannya," seru Dina
"Ok, kalau begitu aku akan menantang ibu untuk bertaruh. Jika Zalika bisa mendapatkan nilai seratus setelah saya tinggal maka aku ingin ibu mulai merubah sikap ibu terhadap putri saya, kedua ibu harus minta maaf kepada Zalika karena selama ini sudah mendiskriminasi kan dirinya. Dan sebaliknya jika Zalika tidak bisa mendapatkan nilai bagus setelah ini, maka saya akan memindahkan Zalika ke sekolah luar biasa jika memang setelah ini tidak ada perubahan dalam diri Zalika!" seru Zahra membuat semua orang langsung terkejut mendengarnya.
Bu dina langsung mengangguk setuju. setelah mendengar tantangan Zahra.
Semoga saja Zalika Keluar dari sini!
To be continued
Hangan lupa tinggalkan like komen kalian jika suka dengan Novel ini. semoga kalian suka dengan cerita Zahra.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Fatimah Bajari
bu dina jadi guru pasti ada orang dalam plus nyogok
2025-03-10
0
Chusnul Cholifah
semangat buat Zahra perjuangan seorang Ibu
2024-12-29
0
Lilik Rudiati
kayaknya guru nyogok lulusnya
2024-11-18
0