Delia tampak terdiam saat Merry terus memarahinya karena gagal meraih predikat cumlaude saat wisuda. Meskipun ia sangat menginginkan memiliki menantu seorang profesor tapi bukan profesor abal-abal. Ia menginginkan seorang menantu yang genius dan membanggakan karena memiliki prestasi.
"Bagaimana kau bisa dikalahkan oleh Zahra yang miskin, andai aku tahu kau ternyata hanya seorang sampah, aku tidak akan pernah menyetujui pernikahan mu dengan Dirga," gerutu Merry
"Kalai hanya mengandalkan wajah cantik saja, bahkan gelandang di jalan saja bisa aku bikin cantik dengan uang yang aku miliki. Jangan pernah membanggakan kecantikan mu di sini karena kami tidak butuh menantu cantik atau tampan tapi yang kami butuhkan adalah prestasi," imbuhnya
Tentu saja Delia merasa kesal saat dirinya dibandingkan dengan Zahra, terlebih saat Merry menghinanya sebagai seorang sampah.
Malam itu juga Delia meninggalkan rumahnya untuk menenangkan dirinya yang mulai muak dengan perlakuan keluarga milyader tersebut.
Ia sengaja menghentikan mobilnya di depan rumah Zahra. Delia tahu jika Zahra sudah tertidur karena lampu rumahnya sudah padam. Lingkungan komplek yang sepi membuat Delia terpikir untuk melakukan sesuatu terhadap Zahra.
"Sepertinya hidupku akan lebih aman, dan nyaman jika kau tidak ada di dunia ini. Dengan begitu aku tidak akan dibanding-bandingkan lagi dengan dirimu oleh mertuaku,"
Delia kemudian turun dan memotong kabel listrik di beranda rumah Zahra hingga terjadi konsleting listrik.
Melihat percikan api mulai membesar membuat wanita itu langsung pergi meninggalkan kediaman Zahra.
Sementara itu, Zalika yang terbangun karena kehausan berteriak saat melihat api berkobar membakar ruang tamunya. Gadis kecil itu membangunkan ibunya. Zahra yang terkejut saat melihat rumahnya sudah di kepung si Jago merah langsung menggendong putrinya keluar melalui pintu belakang.
Satpam komplek yang melintas langsung memanggil warga lainnya untuk membantu memadamkan api yang membakar kediaman Zahra.
Pagi harinya Gading terkejut saat mengunjungi kediaman sahabatnya tersebut.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau rumahmu terbakar?"
"Aku tidak mau merepotkan kamu, selama ini aku sudah banyak merepotkan kamu jadi aku tak mau menambah beban kamu lagi," jawab Zahra
"Kenapa sih kamu masih saja keras kepala, kamu tidak kasian apa dengan anak kamu?" ucap Gading menatap wajah lelah Zalika
"Kamu bisa bertahan hidup seperti ini, tapi tidak dengan putrimu. Dia lelah, dia butuh istirahat. Dan dia hanya bisa beristirahat di tempat yang nyaman bukan di emperan rumah seperti ini. Ayolah Za, jangan samakan aku dengan sahabat kamu yang lain yang sudah membuang mu. Aku sama sekali tidak merasa terbebani saat kamu meminta bantuan ku, justru sebaliknya. Aku senang jika bisa membantu mu," ucap Gading
Zahra tampak berkaca-kaca saat mendengar ucapan Gading. Wanita itu berusaha menahan tangisnya yang sudah hampir tumpah.
Melihat Zahra yang mulai rapuh membuat Gading langsung memeluknya, "Maafkan aku jika sudah membuatmu sedih, percayalah aku akan selalu ada saat kamu membutuhkan aku. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu apapun yang terjadi padamu,"
"Terimakasih Ding, sudah mau menjadi temanku meskipun aku dalam keadaan terpuruk sekalipun,"
Gading kemudian menggendong Zalika dan mengajak Zahra ke rumahnya.
Kali ini Zahra tak bisa menolak tawaran Gading saat melihat putrinya yang tampak lelah karena tak bisa tidur semalaman.
"Kamu bisa tinggal di apartemen ini sementara waktu sampai rumah kamu selesai di renovasi. Untuk bimbel kamu, gunakan saja ruko milikku yang ada di lantai bawah," ucap Gading
"Terimakasih banyak Gading, aku gak tahu lagi harus gimana untuk membalas semua kebaikan kamu," jawab Zahra
"Tetaplah menjadi Zahra yang kuat dan tegar, Itulah cara kamu membalas kebaikan aku," ucap Gading membuat Zahra langsung memeluknya
Semenjak menggunakan ruko di sebuah apartemen usaha Bimbel yang di rintis oleh Zahra mulai mengalami kemajuan. Kink siswanya semakin bertambah banyak karena kebanyakan siswa yang bimbel di sana berhasil masuk ke Sekolah Favorit atau Perguruan tinggi Negeri.
Ia bahkan sering mengajak Zalika ke tempat bimbel saat dia sedang mengajar sehingga tak perlu menitipkan anak itu kepada Gading.
Promosi dari mulut ke mulut membuat Bimbel itu semakin di kenal oleh orang-orang. Bahkan rata-rata yang menjadi siswa bimbelnya adalah anak-anak orang kaya karena memang biaya bimbel di tempat Zahra relatif mahal. Tapi meskipun begitu ia tetap memberikan bimbel gratis untuk anak-anak yang tidak mampu tapi memiliki prestasi.
"Keren Za, memang jika kita punya usaha bisnis tetap saja kita harus beramal agar bisnis kita semakin maju," ucap Gading begitu bangga saat tahu Zahra memberi bimbel gratis untuk anak-anak orang tidak mampu.
Suatu ketika Zahra terkejut saat keponakannya, anak dari Anin mendaftar di bimbelnya.
Ia tak menyangka jika Anin mendaftarkan anaknya padahal setahu dia Gerald keponakannya adalah anak yang cerdas.
"Zahra??" Anin terlihat begitu panik saat melihat sosok Zahra di depannya
"Jadi bimbel ini punya kamu??" tanyanya dengan nada gusar
"Iya," jawab Zahra singkat
Melihat Guru bimbel tersebut adalah Zahra Anin segera membatalkan rencananya untuk mendaftarkan putranya di bimbel tersebut.
Gerald yang bersikeras untuk belajar di sana tidak mau pergi. Anak itu tetap mau belajar di sana meski harus diajari oleh Zahra.
"Memangnya kenapa si mommy kalau tante Za yang ngajarin Gerald?"
"Apa mommy gak tahu kalau semua anak-anak di kelas Gerald masuk ke bimbel ini, bahkan alumni dari bimbel ini selalu bisa masuk UI mom, jadi please deh jangan mencampur adukkan urusan keluarga kalau mom pengin Gue masuk kampus elite di Jakarta!" seru Gerald
"Kita bisa cari guru lain yang lebih hebat yang bisa bikin kamu masuk UI. Kamu tahu kan apa pun bisa dilakukan oleh keluarga Bahri agar kamu bisa masuk universitas itu!"
"Gue gak mau lagi kalau mom pakai cara kotor, Gerald malu mom selalu dibully saat di sekolah. Meskipun guru-guru selalu belaian gue karena keluarga kita kaya, tetap aja Gerald lebih bangga jika bisa masuk universitas itu dengan usaha Gerald sendiri bukan karena uang Keluarga Bahri!"
"Meskipun mommy gak setuju, Gue tetep akan ikut bimbel ini," imbuh Gerald
Karena keadaan putranya yang memerlukan seorang guru bimbel membuat Anin terpaksa meminta bantuan Zahra secara pribadi.
"Baiklah kalau begitu,"
Anin kembali masuk dan menemui Zahra. Ia kemudian memberitahukan alasan ia mendaftar putranya di bimbel itu.
"Jujur sebenarnya gue gak mau meminta bantuan lo, karena gue merasa sudah sering mendzolimi lo saat menjadi istri Adik gue Dirga. Tapi apapun akan dilakukan oleh seorang ibu demi anaknya bukan??. Tapi lo tahu kan gimana perlakuan keluarga Bahri saat melihat seseorang yang kurang dimata mereka pasti akan di bully habis-habisan, aku tidak mau putriku mendapatkan perlakuan seperti itu, jadi aku mohon sama kamu bantu Gerald. Aku akan melakukan apapun yang kau minta asal kamu mau menerima dia sebagai muridmu," ucap Anin
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Syafira Putri
iya selalu mengulang dan kata" na kurang pas kk ku sayang masak sama ibu sendiri Lo gue
2024-10-02
1
Rafinsa
kan terulang lagi... di bab sebelumnya idah ditulis kalo delia membakar rumah Zahra tapi Zahra selamat... di bab ini di tulis lagi tapi dengan alur yg berbeda . liuer euy....
2024-09-27
0
Uthie
Makanya jangan pada SOMBONG 😡😡😡
2024-09-21
0